
Zaid pun membawa Aluna kedalam gendongan nya dia berjalan menyusuri pantai itu diikuti oleh beberapa orang anak buahnya yang sedari tadi menjadi fotografer dan juga mengurus semua kebutuhannya.
Aluna kini mengalungkan tangannya di leher Zaid pria yang kini tengah merangkul pinggang nya di tengah terpaan angin sepoi-sepoi dan suara ombak pantai yang tenang karena saat ini airnya sedang surut.
"Zaid kalau suatu hari nanti Luna pergi dari dunia ini, apa? Zaid akan mengenang kebersamaan kita saat ini."ucap Aluna.
"Kamu bicara apa? Luna aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi."ucap pria itu yang langsung menarik Aluna kedalam dekapannya.
Aluna pun memejamkan matanya pelukan hangat itu berlangsung lama hingga akhirnya tubuh Aluna terasa merosot rupanya gadis itu tertidur, Zaid melihat wajah cantik yang meneduhkan jiwa itu.
"Sayang,,, kamu sudah lelah ya kenapa? tidak bilang heumm."ucap pria itu yang kini menggendong Aluna membawa gadis itu kedalam mobilnya.
Zaid membaringkan Aluna di jok penumpang yang kini terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya.
Gadis itu bahkan tidak terganggu sedikit pun hingga akhirnya mereka kembali pulang ke kediaman Zaid.
Sementara itu di Indonesia, tepatnya di Mension Sanum kini tengah terjadi keributan antara Vino dan Gidion yang memaksa masuk karena ingin bertemu dengan kedua putranya Junior dan Junhno.
Kedua putra kembar yang selama ini disembunyikan dari dirinya, Gidion benar-benar tidak terima dengan itu.
Sementara Julia kini tengah menangis sesenggukan karena takut kedua buah hatinya diambil oleh Gidion.
Sanum dan Kenzie mencoba untuk berbicara dengan Gidion agar pria itu tidak bertindak anarkis saat ini.
Kenzie mengerti Gidion merasa sangat marah akan hal itu, tapi mengingat hubungan mereka tanpa status siapapun akan melakukan hal yang sama yaitu menyembunyikan kebenaran dari khalayak ramai.
"Tuan muda Gidion, saya minta anda tenang kita bisa bicara baik-baik."ujar Kenzie.
"Daddy berani menyembunyikan ini dariku Setelah sekian lama, empat tahun aku menanti aku mencari keberadaan Mikaila."ujar pria itu.
"Kau tidak tahu apa? yang terjadi jadi jangan menganggap bahwa dirimu adalah korban dari kebohongan! justru karena perbuatan mu itu istriku hampir tewas jika saja orang lain tidak menemukan dia."ujar Vino yang tidak terima dengan tuduhan itu.
"Lalu apa? setelah itu kau diam-diam menjadi pahlawan kesiangan dan menjebak istriku dalam pernikahan."ujar Gidion.
"Istri,,, apa? kau lupa jika kau sendiri yang pergi meninggalkan dia dan menyerahkan dia padaku, bahkan kau sendiri yang mengirimkan surat perceraian kalian."ucap Vino.
"Aku tidak pernah menceraikan Mika, aku memang meninggalkan dia tapi aku tidak pernah mengirimkan surat cerai."tegas Gidion.
"Apapun itu kau sudah mencampakkan dia, dan kau juga sudah menikah lagi jauh sebelum kau menghamili istri ku Julia!."ujar Vino pria itu berteriak dan hendak menjambak kerah kemeja yang pria itu gunakan tapi Kenzie langsung menghalangi karena dia tahu ingin terjadi baku hantam.
"Stop!! kita bisa bicara baik-baik."bentak Kenzie.
"Aku akan membawa kedua putraku, terserah istriku ikut atau tidak."ucap Gidion.
"Tidak!! mereka putra ku, aku yang merawat dan membesarkan mereka."ujar Vino.
"Itu semua karena kau sengaja menyembunyikan kebenaran tentang mereka, dulu aku pernah bertanya tentang itu! tapi kau menyembunyikan itu dariku."ucap Gidion.
"Karena aku tidak ingin kedua putraku menderita bersama dengan ibu tirinya yang penipu itu."ucap Vino.
"Jangan bicara buruk tentang istriku kau tidak tahu apa-apa?."ucap Gidion.
"Kau pikir aku tidak tahu tentang dia maka kau salah besar, Inara adalah mantan simpanan Om ku dan dia memiliki anak yang kini dibesarkan oleh Tante ku."ujar Vino.
"Jangan pernah memfitnah istriku!."ujar Gidion.
"Terserah kau percaya atau tidak jika dia memang wanita baik-baik maka dia tidak akan pernah menggoda suami orang dan tidak akan pernah merelakan darah dagingnya ditukar dengan uang dan juga kesuksesan."ujar Vino.
"Sudah kukatakan diam, jangan pernah menjelekkan istriku!."jar Gidion lagi.
__ADS_1
"Sudah jangan berdebat lagi, sekarang juga kalian berhenti bicara."ucap Kenzie.
Kenzie pun langsung berkata."Junior dan Junno akan tetap tinggal bersama dengan putriku, sampai saat mereka besar dan bisa memilih mereka akan tinggal dimana itu adalah keputusan mereka. dan sampai saat hari itu datang kalian bisa berbagi waktu untuk membesarkan keduanya."ujar Kenzie keputusan mutlak.
"Baiklah aku setuju."ujar Gidion.
Sementara Vino langsung bergegas pergi menghampiri Julia yang kini masih terisak karena rasa takutnya itu.
"Sayang,,, aku disini tidak akan membiarkan kedua anak kita diambil orang."ucap Vino.
"Aku tidak mau Junior dan Junno dibawa oleh dia, dia sudah memiliki anak dari orang lain."ujar Julia.
"Tidak sayang tidak akan, dia hanya akan menjenguk putra kita saat waktu luang itu jauh lebih baik daripada dia mengambil semuanya."ucap Vino.
Sementara itu di ruangan bermain Gidion tengah menemani kedua putranya itu bermain bersamanya.
Keduanya memang cepat akrab saat Gidion mendekati mereka dengan perhatian dan kasih sayang, keduanya tengah duduk berhadapan bertiga bersama dengan putra Vino yaitu Juan.
Yang menjadi pusat perhatian Gidion adalah putra Vino dan Julia yang begitu mirip keduanya, sementara kedua putranya begitu mirip dengan dirinya.
Apa? mungkin Julia dan Vino saling mencintai, lalu hubungan apa? yang mereka jalani dulu. bahkan Gidion pun masih sangat mencintai Julia hingga saat ini.
Gidion pun memeluk kedua putranya dengan sayang meskipun mereka seolah enggan, atau memang karakter kedua putranya yang super aktif itu.
Gidion masih setia menemani mereka bertiga main hingga sebuah panggilan masuk, Gidion langsung mengangkat panggilan tersebut dan ternyata itu adalah Baby sitter yang menjaga putrinya.
"Ada apa? kenapa Galena menangis."ujar Gidion terlihat tenang.
"Nona muda sedang rewel tuan seharian ini dia sudah berulang kali menangis saya bingung sekarang dia memanggil tuan."ujar gadis itu.
"Sayang,,, Daddy pulang sekarang ya Galen tunggu sama suster dulu ya."ujar Gidion.
"Sampai Daddy harus pulang dulu ya, adik kalian sedang rewel maafkan Daddy ya lain kali kita main lagi."ujar pria tampan itu berwajah indo itu.
Sementara ketiganya hanya mengangguk pelan tanpa berkata apa-apa lagi.
"Honey aku pulang dulu,,, karena aku ada keperluan mendadak, Setelah itu aku akan kembali kemari."ujar Gidion yang kini berpapasan dengan Julia yang hendak memberikan camilan lezat pada ketiga putranya itu.
Gidion hendak memeluk Julia namun wanita itu menghindar.
"Jika ingin pergi silahkan saja, jangan berbuat yang tidak-tidak aku bukan siapa-siapa mu lagi."ujar Julia tegas.
"Kata siapa? sayang kita tidak ada hubungan kita jelas memiliki hubungan karena kita memiliki kedua putra kita, dan sampai kapanpun hubungan kita adalah sebuah keluarga. aku adalah Daddy mereka dan kau adalah mommy mereka."ujar Gidion sambil tersenyum manis.
.............................
Gidion pun pergi meninggalkan Julia yang kini masih menatap tanpa ekspresi pada Gidion yang hanya terlihat punggungnya saja.
Gidion langsung bergegas pergi meninggalkan rumah tersebut Kenzie pun berbincang dengan Vino tentang rencana kedepannya nanti.
Sementara itu di negara lain.
Zaid kini tengah dibuat kalang kabut karena Aluna tiba-tiba menghilang.
Saat itu dia sedang pergi menuju sebuah tempat yang menjadi markas Zaid, karena terlalu terburu-buru akhirnya dia pun meninggalkan gadis yang masih terlelap itu.
Dalam penjagaan bodyguard nya dan asisten wanita itu.
Tapi saat dia kembali asisten pribadinya bilang bahwa Aluna tidak keluar dari dalam kamar seharian ini malah mereka memberikan sarapan pagi dan makan siang pada Aluna di dalam kamar.
__ADS_1
Zaid sudah mencari Aluna keseluruh penjuru kamar dan setiap sudut rumahnya namun gadis itu tidak pernah ditemukan.
Zaid bahkan sudah menghajar seluruh anak buahnya yang menjaga rumah tersebut.
"Apa? kerja kalian semua heuhhhhh! menjaga seorang gadis saja tidak becus, apa? Aku harus menghabisi kalian semua heuhhhhh!!." ujar gadis itu.
Sementara itu saat Zaid hampir membantai mereka tiba-tiba Luna memeluk Zaid dari belakang.
"Zaid kenapa? tinggalkan Luna."ujar gadis itu.
"Aluna sayang kamu darimana heumm."ujar pria yang kini berbalik menghadap gadis cantik itu.
"Aku ngumpet di bawah ranjang karena Zaid jahat tidak membawa aku pergi."ujar gadis itu.
Zaid hanya mencolek hidung gadis itu gadis itu sambil memberikan isyarat pada kedua gadis itu.
"Kamu sudah belajar nakal sayang."ujar Zaid.
"Luna akan pergi kalau Zaid nakal dan tidak mengajak Luna pergi lagi."ujar Aluna.
"Heumm,,, baik'lah aku janji tidak akan nakal lagi, tadi kamu masih bobo sayangku aku tidak tega untuk membangunkan dirimu."ujar Zaid yang kini menggendong Aluna ala bayi koala.
Pria itu duduk di atas sofa dan Luna kini berada di pangkuannya.
"Apa? sayangku ini sudah mandi heumm."ujar pria itu.
"Ya,, sudah apa? Luna bau."ujar Aluna.
"Heumm,,, tidak sayang justru kamu sangat wangi."ujar gadis itu.
Aluna membenamkan wajahnya di dada bidang Zaid.
"Luna takut di rumah tanpa Zaid, disini juga tidak ada Daddy."ujar gadis itu.
"Heumm,,, baik'lah sayang aku bertanya karena kamu sudah sangat wangi."ujar Zaid.
Pria itu pun akhirnya merasa lega dan rasa lelahnya hilang begitu saja.
Aluna pun masih bergelayut manja di leher pria tampan itu.
"Apa? Zaid punya uang."banyak.
"untuk apa? sayang ku, apa?ada yang ingin Aluna beli."tanya Zaid.
"Aku ingin beli eskrim yang banyak."ujar Aluna.
"Heumm,,, Aluna yakin hanya ingin itu saja."ucap Zaid.
"Heumm,,,"gadis itu hanya mengangguk.
"Baiklah Sayang."jawab Zaid.
Gadis itu pun hendak turun dari pangkuan pria itu, dan berjalan menghampiri seorang pelayan wanita yang kini terlihat membawa nampan berisi minuman.
Aluna mengambil alih nampan tersebut.
Zaid sempat khawatir tapi Aluna malah tersenyum .
"Heumm,,,
__ADS_1