
Sesampainya, apartemen Mikaila dan Arman turun bersama memastikan keamanan wanita itu dan saat ia akan sampai di depan pintu masuk unit apartemen milik Mikaila. Arman langsung berhenti karena melihat buket bunga mawar putih yang diletakkan tepat di depan pintu bersama dengan sebuah kado kecil.
"Apa? itu Arman"tanya Mikaila
Gadis itu, langsung jongkok saat Arman berjongkok memungut sebuah kotak dan juga buket bunga tersebut.
Pria itu, tengah meneliti siapa pengirim dari bunga itu.tapi tidak ada satupun nama di balik bunga ataupun kotak tersebut bahkan tidak ada alamat atau tujuan yang tertera di sana. dan itu pasti dilakukan oleh seseorang yang tahu di mana? Mikaila berada saat ini.
"Masuklah segera di sini sangat berbahaya" ucap Arman, kepada Mikaila.
Gadis itu pun langsung membuka pintu. menempel kan Akses card dan tak sampai beberapa detik pintu pun dibuka nya setelah itu ia langsung masuk kedalam.
Sementara, Arman meminta seseorang untuk berjaga di depan pintu setelah memeriksa kotak tersebut.
Arman, langsung membuang kotak tersebut yang merupakan cemilan kesukaan Mikaila. yaitu sekotak coklat, dan bunga yang terletak di depan pintu masuk tersebut. pria itu tidak ingin menyukai rumah makan coklat tersebut dia yakin untuk pemberian dari Gideon.
Mika yang sudah berada di dalam kamar, dia membuka pintu balkon kamar tersebut.
Dia, berjalan keluar menuju balkon. dia menatap ke arah luar melihat keindahan kota yang cukup ramai.
Gadis itu, menerawang menatap langit entah apa? yang sedang dia pikirkan saat ini.yang pasti ada bulir air mata yang turun dari sudut matanya yang membasahi pipi.
Sementara itu, di tempat lain Gideon kini tengah melakukan hal yang sama. tepatnya di rumah pribadinya sambil berharap semoga Mikaila merasakan rindu yang tengah ia rasakan.
"Tuhan tolong sampaikan rasa rindu ini lewat udara yang tengah ia hirup, lewat langit yang tengah ia tatap aku sangat merindukannya. andaikan saja dia tau, bahwa aku tidak pernah berniat untuk menyakitinya. aku terpaksa melakukan itu untuk melindungi dirinya. mungkin caraku salah tapi hanya itulah salah satunya cara untuk menyelamatkan istriku."lirih Gidion.
Satu minggu telah berlalu, sejak saat itu Gideon masih mengajar di kampus yang sama. dia yang saat ini sudah memutuskan untuk menjadi seorang pengusaha, sekaligus dosen di kampus tersebut.
Dia, memiliki niat untuk memperbaiki pernikahannya dengan Mikaila meskipun jalan yang akan ia tempuh cukup sulit.
Mikaila, pun sudah kembali masuk kuliah dia berusaha untuk bersikap profesional meskipun dia sendiri masih enggan untuk bertemu dengan pria itu.
Gidion, juga bersikap biasa saja. seolah dia tidak mengenal istrinya itu, bahkan Gidion lebih banyak berinteraksi dengan seorang gadis yang menjadi wakil ketua kelas.
Gidion, memberikan tugas kelompok pada seluruh pelajar yang ada di kelas tersebut. setiap kelompok memiliki lima orang anggota, sementara Mikaila tidak masuk kelompok manapun meskipun dia juga harus mengerjakan tugas yang sama.
Setiap anggota diwajibkan untuk menyerahkan tugas itu ke ruangan nya.
Gidion pun mengakhiri materi tersebut sambil meminta ketua kelas untuk datang ke ruangannya untuk mengambil lembar tugas dari tiap-tiap masing kelompok namun Mikaila diwajibkan untuk mengambil lebar tugas itu sendiri.
Mikaila, tidak menunda waktu lagi apapun yang terjadi gadis itu akan mengambil lembar tugas tersebut.
Dia berjalan menuju ruangan dimana Gidion berada di sana.
Tok...
"Masuk"ujar pria itu datar.
"Mr, saya mau mengambil lembar tugas"ucap Mikaila.
"Duduk saya akan menjelaskan semua nya"ucap Gidion.
Dengan sedikit ragu gadis itu pun duduk di kursi depan meja dimana kini Gidion duduk di hadapannya.
Pria itu, menyodorkan lembar tugas yang harus Mikaila kerjakan.
Gidion bahkan tidak bertanya bagaimana kabar Mikaila, atau sekedar basa-basi.
Gidion tau, Mikaila enggan untuk berinteraksi dengan dirinya. hingga akhirnya dia memutuskan untuk bersikap seolah tidak memiliki hubungan apapun dengan gadis itu.
"Apa? semua sudah cukup jelas Mikaila, secara tidak ada pengecualian bagi siapapun kamu harus menyerahkan tugas ini besok."ucap Gidion.
"Baiklah kalau begitu saya permisi Mr."ucap Mikaila.
"Ya silahkan"ucap Gidion.
Gadis itu, pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan lembar tugas di tangannya.
Setelah itu ia langsung pulang menuju parkiran.
"Arman, bantu aku mengerjakan tugas ku"ucap Mikaila yang kini berjalan mendekat ke arah pria yang kini tengah bersandar di samping mobilnya menunggu Mikaila.
"Tugas apa? kelihatannya banyak."ucap Arman.
"Sebenarnya ini tugas kelompok namun aku tidak masuk kelompok manapun karena tidak ada lagi kelompok yang kosong"ucap gadis itu.
"Jadi kau meminta ku untuk masuk kedalam kelompok mu"ucap gadis itu.
"Heumm"jawab Mikaila sambil mengangguk.
"Heumm baik'lah"Jawab Arman.
Arman pun langsung tancap gas, menuju apartemen Mikaila.
Sementara Gidion mengepalkan tangannya saat dia melihat interaksi tersebut.
Mungkinkah Mikaila memiliki hubungan istimewa dengan asisten pribadi nya itu.
__ADS_1
Gidion pun masuk kedalam mobil miliknya hingga akhirnya ia pun tancap gas menuju pulang ke rumahnya.
Sesampainya, di rumah Gidion langsung memberikan tasnya pada pelayan rumah. dia pun berjalan menuju pintu lift untuk naik ke kamarnya. yang berada di lantai 3.
Pria itu, langsung melepaskan dasi dan jas yang ia kenakan, lalu menggulung lengan kemeja tersebut hingga siku lengan ia juga melepaskan jam tangan dan langsung mendekati wastafel, untuk membasuh wajahnya.
Setelah itu, dia menatap dirinya di cermin seburuk itukah dirinya hingga Mikaila enggan untuk menatap dirinya kembali merasa sedih hatinya terasa teriris saat melihat interaksi muka yang lebih intim dengan Arman dibandingkan dengan dirinya saat bersama tadi.
Sampai saat, pelayan masuk kedalam kamar itu.
"Tuan, ada tamu dibawah"ucap pelayan tersebut dengan sopan.
"Siapa?"tanya Gidion.
"Dia bilang bahwa anda tau siapa? dia."jawab pelayan.
"Baiklah tolong suruh dia menunggu."ucap Gidion.
"Baik tuan"ucap Gidion.
Sampai Gidion selesai berganti pakaian dan terlihat sangat santai setelah mandi dan berganti pakaian pria itu pun turun hendak menemui tamu nya.
Pria itu, mematung sejenak setelah melihat istrinya berada di hadapan nya saat ini.
"Ada yang bisa dibantu"ucap Gidion begitu tenang.
"Saya mau menyerahkan tugas yang tadi saya sudah selesai mengerjakan nya"ucap Mikaila.
"Secepat itu, ternyata lama tidak bertemu aku bahkan melewatkan semua"
"Saya langsung mengerjakan tugas itu Mr, saya permisi"ucap Mikaila.
"Mika, tunggu!"ucap Gidion.
"Maaf Mr, jika ada yang salah besok saya perbaiki lagi saya tidak punya waktu saat ini"potong Mikaila.
"Mika!."panggil Dion lagi.
"Maaf Mr, saya sudah ditunggu di luar"ucap Mikaila.
..................
Sementara, Gideon menarik dengan lengan Mikaila. gadis itu berbalik menatap Gidion dan berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Gideon.
"Kamu, sudah datang ke sini untuk kembali padaku dan Bukan untuk mengantarkan tugas jadi! selamanya kamu akan tinggal di sini bersamaku, dan aku tidak akan mengizinkan mu pergi lagi."ucap Gideon.
Gideon pun langsung menarik Mikaila. namun sayangnya Gadis itu langsung bisa melepaskan genggaman tangan pria itu.
"Mikaila!!"
Gidion, langsung terjaga dari tidurnya ternyata itu hanya mimpi. bagaimana bisa Gideon berharap jika Mikaila datang ke rumah tersebut.
Sementara, selama ini bahkan Gadis itu tidak berani untuk bertatap muka dengannya.
Mungkinkah, Karena rasa rindu yang semakin membuncah. hingga Gideon bermimpi tentang istrinya saat ini.
Pria itu, langsung mengusap wajahnya kasar. lalu dia turun dari ranjang tersebut.
Ia, berjalan menuju kamar mandi lalu membasuh wajah di wastafel.
"Mikaila kapan kamu akan mengerti bahwa aku sangat mencintaimu. Aku minta maaf karena sudah melukai hatimu! aku tidak bermaksud untuk melakukan itu semua."ucap Gidion.
Pria itu, pun turun menuju lantai bawah untuk mengambil air minum. karena saat malam tiba tidak ada satupun pelayan yang berada di rumah utama tersebut.
Pria itu, akan mengambil minum sendiri. bahkan membuat makanan sendiri, jika saat malam hari ya kelaparan.
Sampai saat dia akan mengambil air dari dalam lemari pendingin dia melihat foto gadis itu berada di hadapannya lagi-lagi Gidion mematung merasa nyeri pada ulu hatinya dia terlalu merindukan gadis itu.
"Mika..."lirih nya.
Sementara saat ini, wanita yang ia panggil pun terjaga dari tidurnya. Mikaila langsung bangun karena merasa tenggorokannya sangat kering, ia meraih gelas air yang ada di atas nakas dan langsung meminumnya.
Setelah itu, ia bangkit dan berjalan menuju ke arah balkon. hatinya langsung teringat pada pria itu.
Pria, yang pernah menjadi suaminya.
Mikaila, merasa heran kenapa? dia menjadi bersikap dingin seperti seakan tak pernah mengenal dirinya.
Namun, Mikaila merasa bersyukur. setidaknya dia akan aman jika tidak berada di sisi beliau, karena sampai saat ini keluarga Gidion masih mengawasi pergerakan nya.
Dan, jika ketahuan oleh keluarga Gideon Mikaila dekat dengan pria itu, maka nyawanya berada dalam bahaya.
Gidion, adalah pria yang sangat ia cintai dulu hingga saat ini.
Mikaila pun, turun menuju lantai bawah ia ingat dengan tugas kelompok yang harus dia kerjakan.
Sesampainya, di ruang televisi ia melihat Arman yang masih tetap fokus dengan laptop di pangkuannya.
__ADS_1
Ternyata, pria itu belum tidur sama sekali sedari sore tadi. sampai saat makan malam tiba.
Dia langsung kembali bekerja setelah itu seperti, tidak pernah mengenal rasa lelah.
Mikaila pun, bergabung di samping Arman. lalu dia meraih tugas yang harus dia kerjakan.
Tapi, saat dia memeriksa semuanya ternyata tugas itu sudah selesai dikerjakan.
Mungkin, Arman yang mengerjakan tugas itu. karena Mikaila tidak sempat mengerjakan semuanya.
Selama beberapa jam saat dia tidur.
"Apa? Semua ini kamu yang mengerjakannya."tanya Mikaila pada Arman
Dia, hanya menjawab dengan anggukan setelah itu dia pun kembali fokus dengan pekerjaannya. yang sudah terbengkalai saat siang hari saat dia menunggu Mikaila di parkiran kampus.
"Terimakasih."ucapkan mikayla.
Gadis itu, pergi menuju pantry yang ada di apartemennya tersebut. lalu ia membuatkan segelas kopi untuk Arman dan langsung ia bawa ke hadapannya.
"Ini, kopi untukmu tapi sebaiknya kamu segera tidur bukannya besok akan masuk kerja"ucap Mikaila.
"Kamu yang seharunya tidur, karena kamu besok harus menyerahkan tugas itu dengan susah payah, karena akan ada banyak pertanyaan darinya. semoga kamu bisa menjawabnya dengan lugas dan sebaiknya sebelum ini kamu periksa lagi."ucap Arman mencurigakan.
"Apa? ada jawaban yang belum sempurna!."tanya Mikaila.
"Tidak hanya saja apa? kamu tidak berpikir bagaimana bisa kamu tidak bisa masuk kedalam kelompok, sementara jika ada satu siswa yang tersisa biasanya akan dimasukkan kedalam kelompok terakhir."ujar Arman sambil menatap lekat wajah cantik itu.
"Mungkin saja itu sudah peraturan nya"ucap Mikaila.
"Ya semoga saja tidak ada maksud terselubung di dalam nya"ucap Arman.
"Ya sudah aku kembali ke dalam saja besok jika kamu sibuk bisa minta tolong pada anak buah mu yang seperti robot itu."ucap Mikaila.
"Baiklah."jawab Arman.
Gadis itu seakan tak dihiraukan oleh pria yang kembali fokus pada laptop tersebut.
"Heumm,," lirih Mikaila.
"Sayang masih milik orang."gumam pria itu.
Arman menatap gadis yang kini tengah berjalan masuk kedalam kamar nya.
Sampai keesokan harinya tepat pukul dua siang, Mikaila mendapatkan giliran untuk menyetorkan tugasnya pada Gidion.
Karena semua siswa sudah menyetorkan tugasnya pada dosen nya itu.
"Permisi Mr, saya mau menyetorkan tugas kemarin"ucap gadis itu.
"Silahkan duduk"ucap Gidion yang masih fokus pada laptop nya.
"Ini Mr."kata Mika.
"Coba kamu bacakan seluruh tugas yang saya berikan berikut penyelesaiannya."ucap Gidion datar.
Mikaila pun mulai membacakan satu persatu materi yang menjadi tugasnya itu.
Hingga saat di pertengahan dia menghentikan bacaan nya karena dia melihat sebuah surat cinta yang menempel di sana.
"Kenapa? berhenti apa? tugasnya belum selesai!"tanya Gidion.
"Ah tidak Mr,"jawab Mikaila yang kini hendak menyembunyikan surat cinta tersebut.
Namun, belum sempat ia meraih itu Gidion langsung mengambil alih lembar tugas itu hingga akhirnya ia membuka nya.
"Apa? ini." tanyanya dingin.
"Maafkan saya Mr, itu milik teman saya!"ucap Mikaila.
"Milik teman,, apa? kamu pikir aku buta!"ujar Gidion yang kini langsung bangkit berdiri dan menarik tangan Mikaila.
"Jelaskan apa? ini Mikaila!"ujar Gidion.
"Apa? maksud nya Mr itu urusan pribadi saya"ucap gadis itu.
"Aku bicara sebagai suamimu Mikaila."ucap Gidion.
"Suami!"teriak Mikaila.
"Ya,, aku suamimu dan kau masih istri ku"ucap Gidion.
"Apa? kau lupa dengan ini."tunjuk Mikaila pada pergelangan tangan nya yang masih terdapat bekas luka sayatan meskipun dia sudah berusaha mengobati itu.
"Yank,, aku melakukan itu karena aku ingin melindungi mu dari amukan mereka. asal kamu tahu mereka tidak akan pernah melepaskan mu saat itu jika aku membela dirimu."ucap Gidion lembut.
"Bahkan setelah hubungan ini berakhir pun mereka tidak pernah melepaskan ku,, jadi akhiri semua ini ikuti kemauan mereka! bukan kah selama ini itu yang kamu lakukan. anggap saja kita tidak pernah saling mengenal mulai besok aku akan mengundurkan diri sebagai mahasiswa, dan itu artinya aku berhenti kuliah"ucap Mikaila.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah memberikan mu izin untuk itu"ucap Gidion.
"Terserah!"