Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Jalan berdua#


__ADS_3

Beberapa hari kemudian saat Shania masih menunggu hari pertama kuliah, setiap hari dia akan menghabiskan waktu dengan berada di dalam kamar, entah itu belajar ataupun tidur.


Dan Arvin akan menelpon dia di jam-jam tertentu.


Setelah pertunangan itu usai Arvin kini sulit untuk ditemui karena kesibukan mengurus perusahaan miliknya.


Dia melakukan semua itu karena termotivasi dari sang mertua dan calon kakak iparnya.


Jadi setelah ini dia bisa membahagiakan Shania yang memang gaya hidupnya tidak sesederhana yang terlihat.


Shania yang terbiasa hidup glamor tidak mungkin akan mau dibawa hidup sederhana seperti saat ini, tentu saja dia akan meminta ini dan itu untuk kebutuhannya.


Arvin selalu berpikir seperti itu saat ini karena setelah sandiwara perdebatan itu dia mulai mengerti jika calon istrinya itu tidak bisa hidup sederhana.


Arvin yang biasanya selalu santai dalam bekerja kini tidak lagi karena asisten pribadi sang ayah pun sudah tidak muda lagi.


Meskipun sampai saat ini dia tidak memecat pria yang sangat berjasa bagi perusahaan tersebut.


Sudah satu bulan berlalu sejak saat itu Shania kini sibuk dengan kuliahnya semeantara Arvin dengan pekerjaannya.


Tapi komunikasi mereka berjalan dengan baik Arvin selalu menghubungi Shania lebih dulu, saat weekend tiba mereka menyempatkan diri untuk bertemu.


Seperti saat ini, Arvin sudah berada di Mension Kenzie untuk menemui pujaan hati yang kini masih tertidur pulas padahal sudah pukul sepuluh pagi.


Entah tidur jam berapa gadis itu masih terlelap saat Arvin datang.


Sanum yang langsung meminta Arvin naik dan membangunkan Shania saat itu langsung masuk tanpa izin dari Shania.


Pria itu mendekat ke arah rajang yang luas itu terlihat calon istrinya yang tidur sambil memeluk guling di balik selimut tersebut.


"Nyonya Arvin Wijaya jam segini belum tidur."ucap Arvin.


"Heumm,,, ngantuk Yank... aku baru tidur pukul empat pagi."lirih Shania yang kini membuka mata.


"Memang lagi sibuk ngapain sampe begadang seperti itu?."tanya Arvin yang kini berada di hadapan Shania lalu mengecup kening calon istrinya itu.


"Aku ngerjain tugas Yank, setelah lewat jam tidur aku malah tidak mengantuk sama sekali."jawab Shania yang kini malah membenamkan wajahnya di perut kotak-kotak itu karena posisi mereka saling berhadapan dan Shania tengah duduk di tepi ranjang.


Gadis itu memeluk pinggang Arvin.


"Ayo mandi dulu katanya mau jalan."ucap Arvin.


"Yank... kita menikah saja bagaimana? agar kamu bisa bantu aku ngerjain tugas yang seabrek itu."ucap Shania yang memang terdengar konyol itu.


"Jika ingin dibantuin ngerjain tugas tidak perlu menikah juga dosen kamu bisa bantuin itu honey."ucap Arvin.


"Tapi aku ingin seperti ini setiap hari bangun tidur ada kamu disamping aku, aku bisa minta di gendong."ucap Shania.


Arvin langsung menggendong Shania yang masih setia memejamkan matanya di perutnya itu.


"Ayo tuan putri mandi dulu, setelah itu kita jalan-jalan mungpung ada rejeki aku mau traktir makan dan berjalan."ucap Arvin yang selalu merendah dan sederhana.


"Tidak perlu Yank, uangnya ditabung saja untuk nanti setelah kita menikah."ucap Shania.


"Tabungan untuk nanti pun sudah dicadangkan sayang yah meskipun mungkin tidak sebanyak yang kamu miliki tapi aku akan mencoba untuk memenuhi semua kebutuhan istriku ini."ucap Arvin.


"Aku tidak ingin apapun, sekarang cukup temani aku yang mager ini di rumah sekaligus kamu istirahat Yank, bukanya kamu lelah setelah kesibukan mu itu."ucap Shania yang mulai mengisi bathtub-e.


"Heumm.... baiklah-baiklah sayang ku, aku tunggu di bawah ya, mau menemui daddy dulu."ucap Arvin.

__ADS_1


"Baiklah sayang ku."ucap Shania.


Arvin pun bergegas pergi menuju lantai bawah dimana Kenzie berada saat ini mereka tengah mengadakan kerjasama untuk sebuah Mega proyek yang luar biasa besar itulah kenapa? Arvin selalu sibuk akhir-akhir ini.


Kenzie sengaja memberikan tanggung jawab yang besar terhadap Arvin karena dia ingin calon mantunya itu bisa lebih maju lagi itung-itung sebagai bekal untuk putranya nanti.


Sementara calon ibu mertua kini tengah menyiapkan makan siang untuk keluarga besarnya yang sampai saat ini belum kembali ke Swiss.


Arvin pun bergabung dengan para lelaki yang kini tengah tertawa berjamaah di sana.


Saat ini juga ada Allan yang memang tidak kembali ke Inggris Devan juga tengah berkunjung di sana Adri dan Deswita juga anak menantunya semua menjadi tiga tim.


Tim laki-laki dan tim perempuan sesepuh dan anak muda dari anak cucu mereka kini tengah memenuhi halaman belakang dimana gajebo yang luas itu berada, ditemani para Baby sitter untuk yang masih kecil, sementara yang sudah dewasa sibuk bermain bola dan ada juga yang berenang, harusnya Arvin termasuk disana sudah tapi dia lebih suka bergabung dengan yang lebih tua itung-itung mencari ilmu.


Disana ada Gerald , Kevin dan Kendra ada Allan dan Devan suami Devina dan kedua tentu keluarga yaitu Kenzo dan Adri.


Begitu juga di bagian dapur, ada Mariana Deswita Devina Bintang dan anggun tidak ketinggalan yang punya rumah yaitu Shanum, karena Julia sudah kembali bersama dengan rombongan dan akan kembali saat Gerald dan Anggun mengadakan resepsi pernikahan.


Sementara anak cucu mereka yang kini tengah heboh di belakang sana tidak terhitung jumlahnya.


Arvin masih setia ngobrol dengan keluarga besar Shania hingga saat Shania turun dan kini sudah tampil cantik dengan dress berwarna putih floral.


Tidak lupa dengan handphone yang dibelakang nya terselip black card miliknya yang tidak pernah ia tinggalkan saat bepergian.


"Sudah siap sayang."ucap Arvin.


"Iya, yuk pergi."ucap gadis itu.


"Pamitan dulu Yank...."ucap Arvin yang kini terlihat melirik pada semuanya.


"Males ah keburu terlambat. mom... Dadddy dan semuanya kami pamit dulu mau jalan-jalan."ucap Shania sementara Arvin mengangguk tanda pamit.


Sesampainya di samping mobil Arvin langsung membuat pintu mobil Ferrari miliknya itu.


"Sayang kita mau pergi jalan kemana?."tanya Shania.


"Kemanapun kamu mau honey."ucap Arvin.


"Pergi ke pantai bagaimana?."tanya Shania.


"Boleh juga, tapi bukanya ingin belanja."ucap Arvin.


"Duh yang baru dapat bonus."ucap Shania.


"Heumm... bukan begitu sayang, sebagai seorang calon suami sudah menjadi kewajiban ku untuk memberikan sesuatu semampuku."ucap Arvin.


"Yank, tabung saja setelah itu aku ingin kita segera menikah."ucap Shania.


"Baiklah sayang ku, oh iya... bagaimana? jika kita tinggal di apartemen dulu sebelum aku bisa membangun Mension untuk kita tinggal."ucap Arvin.


"Heumm.... jangan memaksakan diri jika belum mampu yang.... bukan aku meremehkan mu, tapi aku tidak ingin kamu tersiksa. tenang saja aku bisa hidup sederhana kok asal suamiku ini benar-benar setia dan sangat mencintai ku."ucap Shania.


"Syukurlah."ucap Arvin.


...................


Kini keduanya tengah berada di wisata pantai yang begitu ramai dengan pengunjung, Shania dan Arvin kini tengah berjalan menyusuri pinggir pantai yang indah itu.


"Yang mau ketengah laut gak?."tanya Arvin.

__ADS_1


"Takut disini saja rasanya sangat menenangkan."ucap Shania sambil tersenyum manis.


"Yang,,, setelah kita menikah nanti kamu ingin langsung punya anak atau tidak."tanya Arvin.


"Sedikasihnya saja Yank, kapanpun itu aku tidak akan pernah menolak."ucap Shania.


"Kamu benar sayang yang maha kuasa lebih tau segalanya yang terbaik untuk kita."ucap Arvin.


Arvin pun kini mendekap Shania keduanya saling memejamkan mata merasakan hembusan angin yang kini menerpa mereka.


Shania pun mengajak Arvin untuk berfoto, saat ini keduanya menghampiri seseorang untuk meminta bantuan mengambil foto mereka.


Keduanya melakukan pose romantis dengan view pantai yang indah ada beberapa gambar yang sangat indah terlihat saat ini.


"Fotonya bagus, karena kamu nya sangat cantik sayang ku."ucap Arvin.


Arvin dan Sania kembali ke mobil, rencananya mereka akan makan siang bersama tak jauh dari area pantai tersebut ada sebuah restoran yang menyajikan menu seafood.


Saat keduanya tiba di restoran tersebut mereka langsung memilih lantai 2 untuk bisa menikmati keindahan pantai dan keindahan tempat tersebut .


Shania lanjut meminta foto kepada Arvin di tempat tersebut tapi kini mereka dibantu oleh seseorang yang merupakan seorang fotografer yang tengah berkunjung ke pantai.


Keduanya begitu puas menikmati hasil akhirnya.


Sampai pesanan mereka tiba di meja tersebut, Arvin kini tengah duduk berhadapan dengan Shania.


Gadis itu tengah mengupas lobster sendiri dan tidak mau Arvin bantu karena memang itu sudah tinggal melepaskan cangkang yang sudah di robek sebelumnya.


Arvin sendiri mengambil bagiannya dan dengan itu dia menyuapi Shania.


Gadis itu sempat tertegun saat mendapat perlakuan manis dari Arvin.


"Makanlah sayang kelak kita akan terus seperti ini dalam suka maupun duka, sampai maut memisahkan."ucap Arvin.


"Heumm, terimakasih sayang aku akan melakukan yang terbaik yang aku bisa."ucap Shania.


"Tentu saja Sayang."ucap Arvin.


Pria itu pun kembali tersenyum saat melihat sudut bibir Shania yang kini terdapat sisa saus.


"Bersihkan dulu sausnya nanti makan lagi takutnya kamu kepanasan sayang ku."ucap Arvin.


"Terimakasih sayang aku terlalu bersemangat, karena sudah lama tidak makan seafood selezat ini."ucap Shania.


"Kamu akan dapatkan ini setiap kali kamu mau."ucap Arvin.


"Heumm..... kamu memang yang terbaik honey."ucap Shania.


Sampai mereka selesai makan siang mereka pun lanjut menghasilkan waktu di sebuah pusat perbelanjaan.


Bukan untuk belanja tapi mereka hanya bermain-main karena Shania tidak sedang ingin berbelanja.


Terakhir mereka pun menghabiskan waktu untuk menonton film romantis di sebuah bioskop yang ada di area mall tersebut.


Arvin yang kini tengah fokus menonton film tersebut di ganggu Shania yang kini terbawa suasana.


Gadis itu sesekali akan tersenyum saat membayangkan adegan romantis bersama pasangan yang kini tengah menatap kedepan.


Namun film tersebut terasa cepat berakhir mungkin karena saking romantisnya.

__ADS_1


__ADS_2