Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Gigitan manis#


__ADS_3

Arvin kini tengah mendampingi Shania menerima kelulusannya, dia begitu bangga pada calon tunangannya itu, karena ternyata Shania memang sangat cerdas.


Shania bahkan berhasil menjadi murid paling berprestasi di sekolah tersebut meskipun dia loncat kelas dan itu kurang dari satu tahun.


Mariana yang kini hadir bersama dengan Kenzo pun merasa sangat bangga dengan prestasi cucu perempuannya itu.


Sementara itu di kediaman Kenzie, kini mereka masih mengurus persiapan pesta pertunangan yang menghabiskan dana ratusan milyar itu, disana Shania bahkan akan berganti-ganti gaun dan juga sekaligus mengadakan foto prewedding untuk pernikahannya nanti.


"Sementara Gerald sendiri hanya akan mengadakan resepsi pernikahan tersebut setelah adiknya resmi bertunangan tamu undangan yang sama akan hadir di pesta resepsi pernikahan tersebut.


Anggun sendiri sudah memilik model gaun yang akan dia gunakan di pesta pernikahan tersebut.


Sampai saat itu tiba semua akan tetap merahasiakan semua dari Kenzo. sampai saat nanti saat Kenzo melihat segalanya yang terjadi.


Kenzie pun memutuskan untuk berkumpul bersama keempat buah hatinya, sampai akhir hayat nanti.


Gerald akan tetap menangani perusahaan milik Kenzo, tapi dia akan mengendalikan semua dari jauh meskipun sesekali mereka akan tetap berkunjung ke Swiss untuk menengok kedua orang tua yang kini sudah lanjut usia itu.


Untuk sementara sebelum waktunya tiba Kendra dan Kevin akan tetap berada di sana untuk belajar dan sekaligus menemani kedua lansia yang sampai saat ini memutuskan untuk hidup di negara orang tersebut.


Sementara itu di kediaman Karin, saat ini wanita itu tengah mengamuk karena ternyata Arvin pergi untuk menemani Shania wisuda kelulusan sekolah menengah atas.


Karin tidak menyangka jika saat ini mereka masih bisa bersama saat semua sudah di putuskan bahwa Karin dan Arvin akan menikah.


Mereka akan menganggap bahwa Shania adalah wanita yang tidak punya harga diri, karena terus mendekati calon suami orang.


"Semua ini gara-gara kamu yang tidak becus mendekati Arvin terlebih dahulu, kenapa? kamu selalu kalah dari Shania."ucap sang ayah.


"Aku tidak tahu jika Mr Arvin sudah tertarik pada Shania lebih dulu."ucap Karin.


"Ah dasar payah putri tidak berguna, sekarang kamu hamil anak pria sialan itu yang tidak akan pernah memberikan dirimu apa-apa, puas kamu buat kami mati sengsara."ucap ayah Karin.


"Tapi papah yang meminta aku untuk melakukan segala cara demi mendapatkan harta keluarga Arfan, dan aku juga menjebak Arfan dengan bantuan Ayah sekarang aku juga yang disalahin! jika Arfan dan Arvin tau semua kenyataan itu, maka bersiaplah untuk kita masuk penjara bersama-sama."ucap Karin yang kini menangis.


Keduanya pun langsung terdiam, bagaimana? pun semua itu terjadi atas campur tangan kedua orang tua Karin.


Keduanya ingin kaya dengan cara instan.


Karin sekolah di sana karena beasiswa yang diberikan oleh Kenzie untuk siswa berprestasi, meskipun tidak masuk kriteria.


Semua atas saran dari Shania, karena Karin adalah teman baik Shania saat SMP.


Ayah Karin memang seorang pengusaha, tapi keadaan perusahaan yang hampir bangkrut itupun di topang oleh Kenzie.


Namun beberapa bulan ini perusahaan mereka memiliki perkembangan yang cukup pesat entah keajaiban dari mana yang jelas Karin tengah berada di dalam kejayaan saat ini tapi ayah Karin malah terus mendesak putrinya agar dia bisa memiliki hubungan baik dengan keluarga Arvin dengan cara apapun dia bahkan merelakan putrinya dihamili oleh kekasih lama Karin.


Saat ini mereka tidak sadar jika mereka berada di dalam kehancuran.


Karena sebentar lagi rencana mereka akan terbongkar dan akan segera berakhir menyedihkan.


Sementara itu di benua Eropa sana, Shania tengah bersiap untuk pulang bersama dengan kedua lansia dan juga bersama dengan putrinya itu.


Shania sengaja meminta mereka untuk ikut serta karena dia bilang dia akan bertunangan dengan Arvin dalam waktu dekat ini.


Shania tidak tahu bahwa pesta pertunangan itu telah siap tinggal menunggu kepulangan mereka.


Saat ini ke empat orang itu telah berada di dalam jet pribadi , Arvin duduk berdampingan dengan Shania begitu pula Kenzo dengan istri.


Mereka pun mengobrol dengan masing-masing pasangan mereka saat ini, hingga jam makan siang tiba, mereka pun makan bersama di tempat duduknya masing-masing.


Sesekali Arvin akan menyuapi Shania dengan makanan miliknya.


Shania pun selesai makan, tidak lama setelah itu mereka pun mulai dengan kesibukan masing-masing ada yang sibuk membuat sketsa semeantara Kenzo tengah melihat pergerakan saham, Mariana sendiri kini tengah membuat sebuah syal dari benang wol untuk mengisi waktu yang panjang itu.


Sementara Shania yang tadi menonton film kesukaannya kini giliran Shania yang ditonton oleh film tersebut.


Arvin yang sedaritadi membuat sebuah sketsa wajah cantik calon tunangannya itu kini melirik ke arah Shania yang tertidur dengan tenang bahkan tidak sedikit pun terdengar dengkuran halus yang terdengar.


Arvin melirik ke arah yang lain yang tengah fokus pada kegiatannya masing-masing kini dia mencuri kecupan di bibir manis milik Shania.


Shania pun pun hanya tersenyum kecil karena tingkah Arvin tersebut membuat dia terbangun.


"Bangun Yank... lihat yang aku buat."ucap Arvin.

__ADS_1


"Ar aku ngantuk."ucap Shania.


"Lihat dulu ini."ucap Arvin.


"Mana...."ucap Shania yang kemudian tersenyum melihat lukisan wajah cantiknya yang hanya berupa seketsa itu.


"Sayang kamu tau bagaimana? caranya melihat sketsa yang berikutnya seperti apa?."ucap Arvin.


Arvin menyodorkan kertas tersebut kehadapan Shania dan gadis itu pun tersenyum.


"Tinggal balik yang."ucapan Shania terhenti saat melihat seketsa wajah Arvin yang tengah mengecup bibir Shania.


Arvin kini terlihat menahan tawa saat mata Shania membulat kaget dan terlihat merona tersebut.


"Bagaimana?."tanya Arvin yang lagi-lagi bertanya sambil tersenyum menggoda Shania.


Shania pun mencubit perut kotak-kotak milik Arvin.


Arvin hanya terkekeh kecil karena itu tidak berefek sama sekali, dan Shania semakin menggemaskan.


"Yank buka lagi."ucap Arvin lagi.


"Buka saja sendiri."ucap Shania sambil pura-pura ngambek.


"Beneran nih nggak penasaran gitu coba lihat ini."ucap Arvin sambil membuka lembar kertas berikutnya.


Disana ada Arvin yang tengah berlutut sambil menyodorkan buket bunga mawar yang cantik pada Shania.


"Yank kamu pintar melukis kenapa? tidak mengajarkan itu padaku."ucap gadis itu.


"Bagaimana aku mengajari sayangku ini jika dianya sendiri selalu menghindari gurunya sendiri."ucap Arvin.


"Karena mister Arvin selalu ingin memperlihatkan kemesraannya dengan kekasih tercintanya di hadapan muridnya. jadi wajar jika muridnya menjauh karena tidak ingin mengganggu mereka."ucap Shania sambil menatap Arvin yang kini terdiam.


"Kamu selalu beralasan, sejak kapan aku memiliki kekasih. kecuali almarhum Julia wanita itu bukan kekasihku...dia hanya berpura-pura menjadi kekasih ku untuk menguji apakah kamu punya perasaan padaku atau tidak karena biar bagaimana pun aku melihat itu saat kamu menatap layar laptop mu dengan sangat anteng saat melihat profil lengkap ku."ucap Arvin mengingatkan kejadian itu.


"Ar, kamu jahat."ucap Shania yang mencubit lengan Arvin yang juga tidak bisa di cubit.


..........................


"Dia minta bayaran untuk menjadi pengajar di sekolah itu, dan aku menempatkan dia menjadi guru olahraga karena kecerdasan dia kalah dari mu, dan dia hanya bisa di bidang itu."jawab Arvin.


"Olahraga apa? yang dia bisa, kenapa? tidak meminta ku saja untuk jadi partner bisnis mu saat itu."goda Shania.


"Kamu ini aku gigit baru tau rasa."ucap Arvin.


"Gigit saja dia bukan kah dia yang menjadi partner bisnis mu."ucap Shania.


"Yakin tidak cemburu jika aku gigit dia."goda Arvin.


"Ih ngapain cemburu... justru aku senang jika kamu gigit dia."ucap Shania dengan sengaja.


"Tapi gigitan manis loh."ucap Arvin lagi.


"Biarin tidak peduli."ucap Shania.


"Bener nih gak cemburu."ucap Arvin semakin menggoda.


"Tidak aku juga punya kak Sky yang bisa aku andalkan."ucap Shania.


"Jangan coba-coba, atau aku buat kamu tidak bisa berjalan."ucap Arvin tegas.


"Terserah."ucap Shania yang kini ngambek.


"Babe... kamu marah."ucap Arvin.


"Tidak."ucap Shania dengan juteknya.


"Ih gitu ya, marahan."ucap Arvin.


"Heumm...."balas Shania.


Sementara itu sedari tadi Kenzo hanya diam melihat interaksi mereka.

__ADS_1


Dia berfikir jika dulu dirinya mengejar istrinya dengan kelembutan mungkin semua yang terjadi saat ini lain ceritanya.


Meskipun masa lalu itu hadir diantara mereka.


Kenzo mencintai Aurora, dan dia juga mencintai Mariana. tapi Mariana tidak bisa menerima dia kembali sampai saat ini hubungan antara mereka terasa hambar dia kehilangan cinta istrinya yang dulu begitu besar tersebut.


Mariana, kini hanya akan melayani dia seperti biasanya. tapi diamnya Mariana telah menunjukkan luka paling dalam di hati wanita itu hingga saat ini, setelah tiga puluh tahun berlalu.


Mariana, tidak lagi sehangat dulu dan tatapan mata penuh cinta itu hilang entah kemana? Kenzo yang gagah perkasa pria kedua yang Mariana cintai kini seakan tak ada artinya lagi.


Mariana seperti robot yang dikendalikan oleh baterai dia akan bicara jika dirinya bertanya dan setelah menjawab dia akan kembali diam dan terkadang menyibukkan diri dengan apapun itu.


Sementara itu di setiap malam dia akan melihat istrinya duduk melamun bahkan tidak jarang tetesan air mata itu turun membasahi pipinya.


Kenzo tidak pernah bertanya karena dia sendiri sudah tahu jawabannya.


Sampai saat mereka tiba di Indonesia, Kenzie langsung menjemput kedua orang yang sangat berarti dalam hidupnya itu sementara Shania dan Arvin menggunakan mobil Arvin yang sudah dibawa oleh sopir pribadi keluarganya it.


Arvin pun mulai melajukan mobilnya menuju kediamannya, Shania akan beristirahat di tempat Arvin sambil menunggu pria itu bersiap untuk mengantarnya karena rencananya malam nanti akan diadakan makan malam keluarga besar tersebut, sekaligus meminta calon mertuanya datang atas undangan Kenzie.


Begitu juga dengan kedua orang tua Anggun.


Hari ini terasa spesial bagi mereka karena hubungan itu akan segera diresmikan dan tidak akan ada lagi perseteruan antara keluarga tentang doa restu.


Setibanya di rumah Arvin, nyonya Ervina menyambut baik kedatangan Shania seperti biasanya.


Sementara Arfan yang kini tengah berada di sekolah dia tidak tahu tentang itu.


Arfan yang juga sedang menerima kelulusan, dia tidak didampingi oleh siapapun.


Pria muda itu hanya didampingi oleh kepala sekolah yang merupakan paman dari ibunya tersebut.


Shania masuk kedalam kamar Arvin untuk beristirahat sejenak sambil menunggu Arvin mandi dan berganti pakaian di kamar Arfan.


Shania sendiri kini tengah berbaring di atas ranjang milik Arvin karena didera rasa lelahnya.


Hingga dia tertidur pulas, sementara Arvin kini tengah menyelesaikan pekerjaan kantor yang sempat tertunda beberapa hari ini selain itu Arfan belum bisa sepenuhnya memegang kendali atas perusahaan tersebut.


Arvin fokus di ruang baca hingga selesai mengerjakan pekerjaannya, lalu dia kembali menuju kamarnya.


"Putri tidur, masih tidur aku sendiri juga belum istirahat, tapi waktu sudah larut sore."ucap Arvin.


"Gantian saja yang nanti kamu bobo di rumah ku."ucap Shania yang kini membuka mata.


"Itu tidak mungkin sayang, yang ada aku malu karena seluruh keluarga mu akan berkumpul."ucap Arvin.


"Cuek saja, mereka akan sibuk membahas tentang kakak, jadi kita bisa istirahat, yu buruan aku juga belum mandi ini."ucap Shania.


"Heumm... baiklah sayang sana cuci iler nya dulu."ucap Arvin.


"Ah... tidak itu tidak mungkin."ucap Shania sambil berlalu pergi menuju kamar mandi karena malu, padahal Arvin hanya mengerjai gadis itu.


Arvin kini tengah tertawa terbahak-bahak karena merasa lucu, tidak mungkin seorang Shania yang selalu perfek tersebut tidur dengan iler yang keluar dari sudut bibirnya sedangkan tidurnya saja tidak terdengar dengkuran halus sama sekali sudah persis seperti orang pingsan.


Arvin masih menahan tawa saat melihat calon tunangannya itu keluar dari dalam kamar mandi.


Gadis itu terlihat malu, tapi Arvin langsung memberikan pelukan hangat dan kecupan singkat di kening Shania.


Sementara Shania sendiri kini masih menunduk.


"Sayang ayo berangkat aku sudah siap."ucap Arvin yang kini terlihat membawa sebuah tas punggung mungkin berisi baju ganti untuk nanti malam. tapi saat turun kebawah ada koper kecil yang Arvin bawa.


"Yank kamu bawa apa?."ucap Shania.


"Tidak ada hanya barang baju persediaan di mobil kalau berpergian kemarin sempat di kosongkan sekarang bawa lagi."ucap Arvin yang memang selalu menyimpan barang-barang nya di mobil dan jika sewaktu-waktu diperlukan semua sudah ada di sana termasuk beberapa jas di dalam mobil Alphard itu ada sebuah lemari pakaian.


Shania pun mengangguk, dia pun mengikuti Arvin hingga di mobil.


Arvin jarang menggunakan mobil sport karena itu hanya dia gunakan untuk berpergian jauh, lagipula tidak efektif di gunakan di jalan yang padat merayap seperti biasanya dan harus selalu menggunakan jalur khusus.


Shania kini menyalakan musik di dalam mobil tersebut, dia terus bersenandung lirih mengikuti irama musik yang kini terdengar menenangkan itu.


"Yank, ganti musiknya nanti aku ngantuk dan kita juga sudah sampai tuh Mension mu sudah kelihatan."ucap Arvin.

__ADS_1


"Heumm,,, kenapa? cepat sekali sampainya padahal baru lima menit."


__ADS_2