
Hari ini adalah hari dimana? Shania sibuk dengan kuliahnya, dia benar-benar tidak bisa mengikuti acara yang diadakan oleh Kenzie dan Kenzo untuk ajang mencari jodoh.
Namun Shania berharap semoga kakak iparnya benar-benar wanita yang sangat baik dan pengertian, terhadap kedua kakaknya yang memiliki hobi yang sama dan tipe wanita yang sama.
Aneh memang tapi itulah Kendra dan Kevin. sejak kecil mereka memang memiliki hobi yang sama dan cara berpakaian yang sama.
Saat ini tepat di Mension utama milik Kenzo tengah diadakan penyeleksian pencarian jodoh dengan kriteria yang tertera di dalam sebuah undangan online.
Sementara kedua orang gadis yang terusir dari apartemen mewah itu kini hanya bisa menangisi nasib mereka yang memang hanya bisa mengenal kedua pangeran itu tanpa bisa memiliki mereka.
Namun ada satu hal yang tidak pernah mereka tahu bahwa kedua pangeran itu pun merasakan hal yang sama dengan mereka saat ini.
Kendra berulang kali memijat pangkal hidungnya, tangannya terus mengotak Atik ponsel yang menampilkan foto dari gadis idamannya saat ini.
"Dimana? kamu kini kenapa? tidak ada keajaiban sama sekali yang membawa kalian kesini."gumam Kevin.
Begitu juga dengan Kendra yang berharap mereka datang ke tempat itu, tapi ternyata sampai acara berakhir dan saat mereka menyatakan bahwa saat ini tinggal babak karantina seperti biasanya untuk memastikan benar-benar berkualitas.
Sementara Kevin dan Kendra kembali pergi meninggalkan Mension menuju tempat-tempat yang pernah mereka datangi untuk mencari keberadaan kekasih mereka tapi sampai di tempat terakhir pun mereka tidak bisa ditemukan.
"Kemana? lagi kit harus mencari bagaimana caranya agar mereka muncul di hadapan kita."ucap Kevin yang lagi-lagi mengeluh.
Sementara itu di tempat lain Arvin tengah duduk di sebuah cafe restaurant setelah meeting bersama dengan kliennya tapi setelah itu ia merasa lelah dan berusaha untuk istirahat sejenak dan menghabiskan kopi yang masih belum habis.
Tiba-tiba Arvin melihat Shania datang bersama dua orang pria dan kini duduk di tempat yang tidak jauh dari Arvin.
Mereka membuka laptopnya masing-masing tapi yang membuat Arvin kaget adalah salah seorang darinya menyuapi jus yang tadi dia bawa dari luar, dan itupun sudah di minum oleh pria itu.
Arvin langsung bangkit dan bergegas menghampiri mereka langsung menepis jus tersebut hingga akhirnya berantakan kemana-mana.
Arvin langsung pergi meninggalkan Shania yang kini mengejarnya dan memanggil.
"Yank... tunggu! Yank..."ucap Shania.
__ADS_1
"Lanjutkan saja jangan pedulikan ku."ucap Arvin yang langsung masuk kedalam mobil namun Shania langsung menghadang mobil Arvin dia tidak ingin Arvin salah faham.
"Ar turun."ucap Shania.
Arvin tidak menggubris Shania dia memundurkan mobil itu kebelakang.
"Kak berhenti!."teriak Shania hingga orang-orang melirik kearah mereka.
Arvin pun langsung pergi meninggalkan tempat tersebut, Shania berlari masuk dan meraih tas juga laptopnya lalu kembali berlari ke luar menuju mobilnya dan pergi begitu saja menyusul Arvin yang entah pergi kemana saat ini.
Sementara Arvin sendiri kini tengah berada di pantai, pikirannya kacau saat ini, dia tidak menyangka jika Shania akan menerima suapan dari pria lain bahkan jus buah tersebut sudah di minum oleh pria itu.
Dan secara tidak langsung mereka telah berciuman.
Shania tiba di apartemen Arvin dia langsung masuk kedalam hunian tersebut karena dia sudah memiliki kunci akses masuk.
Sesampainya di sana dia mencari Arvin hingga kesetiap ruangan tersebut, tapi ternyata Arvin tidak ada.
Hingga malam hari tiba Shania tidak pulang kerumah, Sanum pun menghubungi putrinya itu tapi tidak kunjung ada jawaban akhirnya Sanum menghubungi Arvin yang baru saja tiba di rumahnya.
Arvin pun terkejut dengan itu padahal ini sudah larut malam Shania tidak kunjung pulang ke rumah.
Arvin pun mengatakan bahwa Shania tadi izin ke rumah Bundanya, dia terpaksa berbohong dan saat itu juga Arvin bergegas pergi meninggalkan rumah dan tidak peduli dengan Bundanya yang berteriak memanggil namanya.
Saking paniknya Arvin pun tidak perduli dengan apapun karena yang dia takutkan saat ini Shania berada di apartemen yang penuh teka-teki misterius itu.
Arvin pun butuh waktu satu jam untuk sampai ke sana, sementara Shania kini masih menunggu dirinya dia kini tengah terduduk di lantai tepat di depan meja. di ruang televisi itu.
Sesampainya di apartemen Arvin langsung bergegas keatas dan saat tiba di hunian tersebut Arvin melihat seluruh lapu menyala Arvin tahu selain saat tidur Shania tidak suka tinggal di ruangan yang gelap.
Arvin langsung masuk kedalam dan menghampiri Shania saat itu juga.
"Shania." lirih Arvin.
__ADS_1
"Tega kamu Yank... kamu tega !."ucap Shania yang hendak pergi meninggalkan Arvin dengan tatapan mata penuh kekecewaan.
Arvin hendak meraih tangan tangan Shania namun gadis itu langsung menepis tangan Arvin saat itu juga.
"Shania seharusnya aku yang marah padamu."ucap Arvin.
"Silahkan marah dan katakan kalau kamu ingin putus."ucap Shania.
"Shania!!!."bentak Arvin.
"Ini ambilah jika kamu ingin putus dan sudah tidak peduli lagi pada ku tak begini caranya."ucap Shania yang kini melepaskan cincin tunangan tersebut hingga Arvin melotot tajam pada Shania.
"Shania jangan keterlaluan pakai lagi cepat karena aku tidak akan pernah mengampuni mu jika kamu melakukan hal itu."ucap Arvin.
"Shania tidak mendengarkan itu, dia langsung bergegas pergi meninggalkan Arvin, tapi tangan pria itu langsung meraih lengan Shania yang kini kini memekik kesakitan.
Arvin langsung membawa Shania dalam gendongannya menuju kedalam kamar, pria itu seolah kesetanan saat mendengar kata putus dan Shania mengembalikan cincin itu.
"Arvin lepas, jangan seperti ini aku mohon jangan."ucap Shania yang kini berontak ingin pergi meninggalkan Arvin yang kini mencium bibir Shania sangat kasar.
Bahkan Arvin berulang kali mengigit bibir Shania dengan gigitan yang cukup menyakitkan tapi Shania sadar jika semua itu karena kesalahannya.
Arvin bahkan meminta Shania untuk tetap tinggal di sana malam ini dengan mendorong kasar gadis itu ke atas ranjang.
"Tunggu aku hingga selesai mandi."Ucay Arvin yang langsung bergegas menuju kamar mandi.
Tidak lama Arvin pun keluar dari dalam kamar mandi saat itu dia sudah menggunakan pakaian santai.
"Mandilah setelah ini kita akan membahas semuanya."ucap Arvin.
Arvin pun pergi ke luar meninggalkan kamar itu dia ingin pergi mengambil pakaian untuk Shania.
Arvin masih merasakan kesal yang teramat sangat karena Shania bukan minta maaf tapi dia malah meminta perpisahan pada Arvin.
__ADS_1