Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Arvin khilaf#


__ADS_3

Arvin pun langsung bergegas menuju kembali ke kamar utamanya saat itu juga.


Arvin langsung bergegas pergi membawa pakaian untuk Shania.


Shania yang baru saja selesai mandi dia duduk di samping ranjang sambil terdiam menatap Arvin yang datang dengan wajah dingin.


"Ambilah ini aku tunggu diluar."ucap Arvin.


Pria itu tetap bersikap dingin seperti tadi siang.


Shania yang merasa tidak enak hati pun langsung bergegas pergi menghampiri Arvin bahkan Shania tidak sempat berganti pakaian.


Arvin kini tengah berkutat dengan bahan makanan dan peralatan memasak, dia sedang membuat makan malam bagi mereka yang sudah terlewat.


"Ada yang bisa aku bantu."ucap Shania.


"Heumm... duduk saja."ucap pria itu datar.


"Yank, aku mau bantu."ujar Shania.


"Tidak perlu lebih baik kamu duduk saja dan renungkan kesalahan mu itu."ucap Arvin.


"Kak."ucap Shania.


Arvin tidak berkata apa-apa lagi, yang jelas saat ini dia terus bersikap acuh pada Shania yang kini menatap lekat pada pria yang tengah sibuk memasak hingga saat Arvin menyajikan semuanya itu.


"Aku tidak ingin kuliah lagi, aku ingin kita menikah."ucap Shania.


"Aku tidak ingin memiliki istri yang selalu berpikir instan."ujar Arvin.


"Instan bagaimana? maksudnya."ucap Shania.


"Bukanya katanya kamu sudah dewasa."ucap Arvin.


"Heumm....."ucap Shania yang kini mengambil sendok dan garpu.


"Sudah sekarang habiskan makan nya, nanti kita bicara.


Arthur pun bersiap untuk makan.


Shania kini tengah mengunyah makanan tersebut dan terlihat kagum pada rasa dari makanan tersebut.


Arvin hanya terdiam sambil menikmati itu.


Shania pun makan dengan lahap tanpa melirik kesana kemari.


Sampai mereka selesai makan malam di jam 23:00 keduanya tidak langsung tidur, Arvin mengajak Shania untuk duduk sejenak di ruang televisi dia ingin berbicara serius untuk membahas masalah mereka.


"Katakan padaku siapa? Pria kurang ajar itu."ucap Arvin.


"Pria kurang ajar, maksudnya?."tanya Shania bingung.


"Ya pria kurang ajar yang memberikan mu minum setelah dia menyedot minuman tersebut."ucap Arvin.


Shania langsung terdiam, dia sendiri tidak pernah menyadari akan hal itu, karena sudah beberapa hari ini mereka memang sering berbagi makanan dari satu wadah yang sama.


Dan bukan hanya pria itu, tapi hampir banyak pula teman ceweknya yang saat itu telat datang semua pernah melakukan itu entah sering atau tidak yang jelas tanpa mereka sadari mereka sudah berbuat seperti itu.


"Kak pria itu teman satu jurusan dengan ku, dan kami sudah sering berbagi makanan dan minuman dan itu bukan hanya dia sama temen lainya pun sama."jawab Shania.


"Apahhh!!!." teriak Arvin yang kini melotot tajam.


"Ya, itu benar kak, aku tidak bohong itu sudah biasa memangnya ada apa? toh mereka sehat-sehat kak, tidak ada yang penyakitan.*ucap Shania yang kini kebingungan.


"Selain tidak baik untuk kesehatan Shania secara tidak langsung kalian sudah berciuman."ucap Arvin yang langsung membuat Shania berteriak kencang saking kagetnya karena dia tidak pernah tau itu dan Shania langsung membuang ludah dan berlari menuju wastafel dan berulang kali mencuci bibirnya dan hampir memuntahkan isi perutnya jika saja Arvin tidak menghentikan itu semua.


"Sudah, jangan berlebihan... sekarang yang paling penting adalah kamu tidak boleh melakukan hal itu."ucap Arvin.


"Tapi kak aku tidak mau berciuman dengan siapapun selain dengan kakak."ucap Shania.


"Heumm.... mau bagaimana? lagi semuanya sudah terjadi."ucap Arvin.


"Kak bersihkan bibir ku aku tidak mau....hiks hiks hiks."Shania.


Arvin sudah menduga itu, calon istrinya memang tidak peka akan sebuah hubungan perbuatan yang menjurus kearah dewasa.


Arvin pun memeluk Shania yang kini masih menangis sesenggukan karena merasa jijik dan bersalah.


Sampai Arvin mencium bibir yang sudah menjadi candu bagi dirinya itu.


Arvin pun melepaskan ciuman tersebut setelah Shania terlihat rileks dan menikmati itu.


"Bersiaplah aku antar kamu pulang honey."ucap Arvin.


"Kak Arvin sudah tidak marah lagi kan."ucap Shania.


"Aku tidak akan marah jika kamu benar-benar tidak tahu akan hal itu, kecuali jika kamu tahu tapi malah tidak mendengarkan kata-kata ku aku akan sangat marah dan membatalkan pernikahan kita."ucap Arvin.

__ADS_1


"Ahhh... tidak mau."ucap Arvin.


"Tidak ada toleransi jika kamu tidak mendengarkan larangan ku."ucap Arvin.


"Heumm... sayang jangan begitu, nanti kalau aku khilaf bagaimana?."ucap Shania.


Arvin tetap kekeuh menggeleng.


"Kak... aku tidak ingin pernikahan kita batal, aku akan berhenti kuliah jika itu terjadi."ucap Shania.


"Terserah."ucap Arvin.


"Kak!."ucap Shania yang kini kembali menatap sendu pada pria itu.


"Aku tidak akan pernah peduli, jika itu terjadi lagi kita akan segera berakhir."ucap Arvin.


"Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."ujar Shania.


"Pegang janji mu itu."ucap Arvin.


"Heumm...ya, tapi aku tidak mau pulang sekarang sudah larut."ucap Shania.


"Shania, kita belum menikah sayang."ucap Arvin.


"Biarkan saja biar kita segera dinikahkan."ucap Shania.


"Tidak bisa begitu sayang apa? kamu tidak kasihan pada kedua kakak mu yang terdesak untuk menikah secepatnya padahal mereka tidak pernah mengenal atau mencintai mereka."ucap Arvin.


"Heumm...kakak benar tapi aku tidak peduli dengan itu yang paling penting aku bisa bersama dengan kak Arvin dan tidak akan pernah terpisahkan."ucap Shania yang kini terlihat menerawang.


"Ayo bersiap sekarang tidak ada tapi-tapian."ucap Arvin tegas.


"Tapi mommy dan Daddy pasti sudah tidur begitu juga dengan mereka semua."ucap Shania yang kini hendak pergi ke dalam kamar Arvin.


"Tidak masuk kamar tunggu disini, biar aku yang ambilkan barang-barang milikmu."ucap Arvin.


"Duh punya calon suami ko gini amat ya... tidak seperti teman-teman yang katanya sudah sering ber oh ria bersama pasangannya."ucap Shania dengan cueknya hingga membuat pria itu menghentikan langkahnya.


"Maksudnya?."ucap Arvin yang berbalik dan menatap tajam kearah Shania yang kini salah tingkah dan pura-pura tidak mendengar Arvin bertanya.


Arvin pun langsung bergegas menghampiri Shania saat itu juga hingga Shania semakin salah tingkah dibuatnya.


"Yank... kamu kenapa? balik lagi biar aku saja yang ambilkan takut keburu tengah malam nanti eum...itu muncul di sini."ucap Shania yang langsung bergegas pergi menuju kamar utama milik Arvin.


Arvin langsung meraih tangan Shania yang hendak pergi.


"Heumm..... benarkah."ucap Shania yang pura-pura tidak mendengar.


"Jangan pernah bergaul dengan orang-orang yang tidak jelas Shania, aku tidak ingin otak mu tercemar."ucap Arvin tegas.


"Heumm... jangan khawatir sayang aku tak terlalu banyak mendengarkan mereka bicara, karena nyatanya tidak semua yang mereka bicarakan itu benar. misalnya saat mereka bilang saat sudah menjadi tunangan itu bebas bercinta."ucap Shania.


................................


"Terus apa? mereka menjelaskan apa? itu bercinta."ucap Arvin.


Namun Shania menggelengkan kepalanya pelan.


"Lalu apa? kamu tahu caranya bercinta bagaimana."tanya Arvin lagi.


Lagi-lagi Shania menggelengkan kepalanya dan kembali berkata."kata mereka bisa lihat di situs internet atau mereka yang akan mencarinya untuk ku."ujar Shania.


Arvin melotot tajam saat mendengar kata-kata itu, Arvin benar-benar harus memantau pertemanan Shania yang hampir menjerumuskan kekasihnya kedalam kesesatan.


"Berani kamu lakukan itu maka kita putus!."ucap Arvin dengan nada tinggi.


"Ampun Yank... aku tidak akan pernah melakukan hal itu."ucap Shania.


"Bagus sekarang kamu pergi ambil barang-barang mu, kita segera pulang."ucap Arvin.


"Iya sayang."ucap Shania yang langsung bergegas pergi menuju kedalam kamar utama tersebut.


Sementara itu di kediaman Shania, Sanum yang kini tengah menunggu kepulangan putri bungsunya itu terus menatap kearah pintu utama.


"Sayang mereka sudah dewasa, percayalah Arvin akan menjaga Shania."ucap Kenzie.


"Apa? cucuku belum pulang."tanya Kenzo.


"Belum daddy mungkin Shania ketiduran di rumah calon mertuanya."ucap Kenzie.


"Benar-benar tuh anak, menang benar-benar sudah ingin buru-buru menikah padahal baru menginjak usia dewasa."ucap Kenzo yang tidak habis pikir.


"Mungkin dia lelah dad setelah mengerjakan tugas kuliahnya, semoga semua baik-baik saja."ucap Sanum.


"Ya semoga saja, ingat lain kali jangan pernah biarkan dia pergi tanpa pengawasan."ucap Kenzo tegas.


Kenzie pun mengangguk pelan, dia tidak mungkin membantah sang daddy meskipun dia percaya pada Arvin.

__ADS_1


Sementara Arvin dan Shania kini tengah berada di perjalanan menuju pulang ke Mension milik Kenzie yang merupakan tempat tinggal Shania.


Arvin yang sedari tadi fokus pada jalanan pun, tidak memperhatikan Shania yang kini tengah tertidur pulas di jok penumpang tepat di sebelahnya.


Saat ini Arvin membawa mobilnya sementara mobil Shania di simpan di basement apartemen miliknya.


Arvin hanya melirik sesekali kearah calon istrinya yang kini terlihat anteng bahkan tidak bergerak sama sekali.


Shania bahkan tidak tahu jika saat ini mereka sudah sampai.


Arvin memasuki gerbang Mension, setelah pintu pagar yang kokoh dan menjulang tinggi itu terbuka lebar.


Sanum yang kini tengah duduk di sofa ruang tamu pun bangkit dia berjalan membuka pintu utama karena dia hapal dengan suara mobil calon menantunya itu.


"Ah syukurlah kalian berdua pulang mommy sedari tadi menunggu kalian."ucap Sanum yang melihat Arvin menggendong Shania.


"Arvin sebenarnya ingin mengantar Shania pulang sedari tadi mom, tapi sepertinya dia sangat mengantuk setelah mengerjakan tugas kuliahnya."ucap Arvin berbohong.


"Ya sudah kenapa? tidak dibangunkan badan Shania berat Ar."ucap Sanum.


"Sudah mom, tapi tidak mau bangun mommy lihat saja."ucap Arvin yang kini masuk kedalam pintu lift menuju lantai tiga dimana kamar calon istrinya itu berada.


Sanum masih mengekor sambil membawakan tas dan barang milik Shania.


Shania pun masih tetap tidur di gendongan Arvin seolah nyaman sekali.


Sementara Kenzie menunggu Arvin di bawah bersama dengan Kenzo.


Arvin membaringkan tubuh Shania, setelah itu dia pun menyelimuti tubuh calon istrinya itu.


"Biarkan mommy saja nak, kamu pasti sangat lelah, istirahat lah di bawah."ucap Sanum lembut.


"Tak apa? mom Arvin pulang saja besok harus berangkat pagi-pagi sekali."ucap Arvin.


"Memangnya mau kemana?."tuanya Sanum.


"Luar kota mom, ada yang harus diselesaikan, mungkin dua hari di sana tapi lupa bilang sama Shania."ucap Arvin.


"Tak apalah biar mommy yang sampaikan."ucap Sanum.


Arvin pun pamit pulang pada Sanum dan Kenzie, dan Kenzo saat itu juga tubuhnya benar-benar sudah sangat lelah hari ini.


Arvin pun pulang ke rumah yang masih satu kompleks dengan Shania.


Hingga pagi hari Arvin pun sudah berangkat ke bandara, Shania yang baru baru saja bangun langsung menghubungi Arvin.


Namun handphone Arvin tidak aktif, mungkin Arvin lupa membawa handphone dari apartemen pikir Shania yang masih santai.


Tapi tepat di siang hari Shania yang baru saja istirahat setelah mata kuliah pertama selesai dia yang merindukan calon suaminya itu pun mulai panik.


Shania puluhan kali menghubungi Arvin namun tidak kunjung di jawab meskipun handphone Arvin tengah aktif.


Berulang kali di coba tapi masih sama tidak kunjung di jawab.


"Mom, apa? kak Arvin baik-baik saja, kenapa? saat aku telpon dia tidak menjawab."ucap Shania bertanya pada nyonya Ervina.


"Apahhh!!...luar kota."pekik Shania yang kini terduduk lemas.


Gadis itu mulai berfikir yang tidak-tidak sampai saat sore hari tiba Shania memutuskan untuk pulang setelah jam kuliah berakhir meskipun sahabatnya mengajak dia untuk hangout bareng.


Shania pun pulang dengan rasa letih dan lesu, karena seharian ini dia tidak bisa mendapatkan asupan vitamin dari Arvin berupa kecupan manis dari jauh atau sekedar sapaan lembut yang biasa menjadi semangat baru untuk dirinya.


Shania langsung masuk kedalam kamarnya saat pulang bahkan tidak sempat menemui keluarga besarnya yang ada di sana.


Seolah seperti robot yang kehilangan baterai, gadis itu terbaring lemah dengan Air mata yang menetes dari pelupuk matanya itu.


Shania tidak tau kenapa? Arvin Setega itu padanya.


Sampai saat seseorang masuk kedalam kamarnya Shania masih tetap di posisi yang sama.


"Sayang... kamu tidak turun kebawah, apa? sudah makan siang."ucap shanum.


Wanita paruh baya itu langsung terdiam saat melihat putrinya menangis dalam diam.


"Hi... sayang ada apa? heumm... apa? ada yang sakit ayo bilang sama mommy."ucap Sanum.


"Sakit sekali mom, disini."tunjuk Shania pada dada sebelah kirinya itu.


"Ada apa?.... apa? ada masalah."ucap Sanum.


"Kak Arvin mom, dia tega tidak memberitahu ku... bahwa dia akan pergi ke luar kota. padahal semalam kami baru saja baik kan setelah kak Arvin marah saat Shania minum di sedotan yang sama dengan teman laki-laki Shania."ucap Shania jujur.


"Owh ya ampun sayang, kapan kejadiannya kenapa? bisa kamu lakukan itu, pantas saja Arvin marah karena secara."


"Tidak langsung kami berciuman gitu ya mom, kak Arvin juga bilang seperti itu."ucap Shania.


"Ya sayang lain kali kamu tidak boleh lakukan itu lagi, selain karena tidak baik untuk kesehatan itu juga tidak baik dilakukan oleh orang dewasa seperti kalian."ucap Sanum yang memberitahu dengan sabar.

__ADS_1


__ADS_2