
Pertandingan itu berlangsung menegakkan karena sejak babak pertama dan kedua poin mereka tidak beda jauh, saat ini keduanya sama-sama kuat, bahkan Shania yang biasanya begitu mudahnya mencetak poin kini dia hampir kewalahan meskipun diakhiri masih Shania yang menenangkan pertandingan dengan selisih beberapa poin.
Semua orang sejak pertandingan berlangsung tidak ada yang tidak mengalami ketegangan, semua orang merasakan kecemasan yang berlebihan, tapi ada juga sebagian dari mereka menjadikan itu sebagai ajang judi.
Shania yang selalu tampil prima dan memukau kini tenaganya terkuras habis, dia langsung terduduk lemas di atas kursi penonton Sanum langsung memburu putrinya bersama dengan Kenzie dia memberikan air isotonik saat itu sambil memeluk putrinya berulang kali sebelum Shania turun untuk menerima piala dan piagam penghargaan sebagai juara pertama.
"Selamat ya sayang, mommy bangga padamu."ucap wanita paruh baya itu.
"Thanks mom, and Daddy love you ."balas Shania.
Saat teman-temannya masih berhamburan di lapangan saat ini merayakan keberhasilan Shania berada di dalam dekapan Sky yang mengucapkan selamat terhadapnya.
"Kak, jas mahalnya nanti bau keringat ku loh."ucap Shania.
"Tidak apa? honey aku bangga padamu."ucap Sky.
Disusul Vino dan Zaid yang juga memberikan pelukan dengan ucapan selamat.
"Kau memang hebat adikku."ucap Zaid.
"Hanya beruntung kak, tadi kakak lihat sendiri lawan ku itu begitu hebat."ucap Shania memuji lawannya.
"Tapi tetap kamu yang terhebat."ucap Zaid yang kembali mengacak rambut Shania sambil memeluk erat gadis itu.
Disusul oleh Aluna dan juga Julia keduanya memeluk Shania.
"Shania ayo kita akan segera menerima piala penghargaan."ucap gadis yang merupakan tim dari Shania.
Sementara itu tim lawan dari Shania, menatap penuh tak suka pada Shania hingga mereka memperlihatkan kebencian terhadap mereka.
Shania pun bersikap cuek, selagi mereka semua karena baginya itu sudah biasa, sorak Sorai gembira dari satu sekolahan dan keluarga tim basket memenuhi lapangan tatkala saat Shani sang kapten diangkat tinggi-tinggi oleh teman-temannya sambil memegang piala.
Sampai akhirnya mereka tiba di penghujung acara mereka kembali melakukan rapat bersama kepala sekolah dan juga para guru yang kini memberikan hadiah kemenangan pada Shania dan teman-teman yang telah mengharumkan nama sekolah.
Saat ini hanya ada satu orang yang tidak banyak bicara, pria tampan yang kini berpenampilan formal dan terlihat sangat tampan itu tetap fokus pada layar laptopnya.
Hingga di penghujung acara, pria itu keluar lebih dulu, seolah tidak melihat Shania.
Gadis itu pun langsung bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut menyusul sosok pria yang sejak tinga Minggu lalu terus memohon agar dia tetap tinggal untuk hari ini, hari dimana pertandingan itu berakhir dengan kemenangan.
Hingga tiba di ruangan pribadi pria yang selalu dipanggil Mr Arvin itu kini tengah duduk seperti tadi tetap fokus pada layar laptopnya.
"Mr."ucap Shania.
Pria itu tetap fokus dan tidak menjawab, hingga Shania sudah berdiri di hadapan meja kebesaran milik pria itu.
"Mr."ucap Shania.
"Ya, Shania ambilah."ucap Arvin yang kini menyodorkan sebuah amplop berlogo sekolahnya yang merupakan surat pindah tertulis.
"Anda langsung mengusir saya."ucap Shania.
"Itu adalah sesuatu yang kamu inginkan bukan."ucap Arvin yang terlihat dingin.
"Owh oke baiklah kalau begitu saya permisi."ucap Shania dengan penuh rasa kecewa terhadap Arvin.
"Terimakasih sudah memenuhi permintaan saya."ucap Arvin yang kini menghentikan langkah gadis yang bahkan tidak menoleh kearahnya karena menahan air mata.
"Sama-sama."ucap Shania yang langsung berlari pergi meninggalkan ruangan itu menuju toilet.
Gadis itu terlihat menangis sesenggukan di dalam dalam toilet kosong dengan air keran yang masih menyala.
Sementara Arvin kini tengah berada di atap gedung sekolah, pria itu tengah menatap langit yang terlihat mendung seakan ingin turun hujan.
"Mengapa? haru kembali terjadi, kenapa? ya tuhan dulu Julia yang dia rebut sekarang wanita yang juga ku sayang."ucap Arvin lirih.
Sementara Shania langsung pergi dari sekolah tersebut dengan mobilnya saat itu juga tanpa diketahui oleh keluarganya yang masih berada di sana.
Shania berharap dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan pria seperti itu di masadepan.
Jujur Shania jatuh cinta pada Arvin saat ini setelah kedekatan tanpa sengaja di setiap harinya, tapi kini Arvin bahkan seolah tak perduli dengan dirinya.
Shania yang dulu sempat mengutarakan niatnya untuk pindah sekolah, ke alamat sekolahan yang tertera di dalam amplop tersebut.
Shania tiba di sebuah danau dimana tempat tantenya Queen dulu pernah tenggelam sampai dia diselamatkan dan dilarikan ke rumah sakit.
Dia duduk termenung sendirian, saat ini Air mata itu turun begitu saja, dia mencintai pria yang bahkan jauh lebih tua dua belas tahun darinya.
Shania bahkan tidak pernah bisa memahami rasa itu awalnya dia hanya merasa cemburu dan juga tidak ingin melihat Arvin dekat dengan yang lainnya selama ini.
Sementara Arvin pun begitu posesif padanya sejak mereka bertemu bahkan Arvin memberikan seragam baru yang ukuran roknya lebih panjang dari standar rata-rata saat itu.
Shania masih menangis dia juga memutuskan untuk pergi jauh dari pria itu untuk bisa melupakannya.
Sementara Arvin sendiri kini berada di rumahnya dia pulang lebih dulu ke rumah tanpa peduli pada Ghea yang selalu ingin di antar pulang.
__ADS_1
Pria itu sudah kehilangan rasa pada wanita yang kini selalu diam-diam mendekat kepada kepala sekolah entah apa? maksudnya yang jelas Arvin sering memergoki mereka berdua.
Arvin duduk merenung di balkon kamarnya sambil menatap langit yang kembali cerah.
Saat ini ada rasa sakit yang teramat sangat saat mengingat Julia yang saat itu usianya masih 22 tahun saat mereka kuliah.
Dan kini sudah delapan tahun berlalu, Arvin bahkan sudah memiliki kekasih setelah lima tahun lamanya berjuang untuk melupakan wanita itu.
Julia yang selalu berpenampilan modis dan seksi seperti Shania kecantikannya dan kebaikan hatinya tidak pernah tergantikan wanita itu selalu menjadi yang nomor satu di hati Arvin.
Tapi sayang setelah kehadiran Sky yang merupakan mahasiswa baru di jurusan kedokteran pria itu selalu terang-terangan mendekati Julia hingga akhirnya Julia pun tergoda dan menyerah dengan cintanya pada Arvin.
Arvin jelas kalah dari Sky dari segi ekonomi dan ketampanan pria bule yang sempurna meskipun Arvin juga tidak pernah kalah tampan dan merupakan keturunan Belanda dengan Indonesia.
Namun Sky masih pemenangnya saat itu.
Julia bahkan terang-terangan ingin mengakhiri hubungan mereka saat itu, dan Arvin menolak, tapi keinginan Julia tidak bisa dicegah karena Julia juga belum memiliki ikatan yang kuat dengan dirinya.
...........................
Dua hari telah berlalu, saat ini Shania tengah bersiap untuk berangkat menuju Swiss dimana kedua kakaknya kini tengah berkuliah di sana.
Sementara itu di kediaman Arvin, pria yang memutuskan untuk berhenti mengajar itupun kini pergi menuju negara kelahiran sang papah karena dia juga masih harus mengurus perusahaan milik keluarga besar sang ayah.
Perusahaan yang di wariskan kepadanya dan juga Arfan yang kini masih sekolah itu.
Arvin dan Arfan memiliki bagian yang sama.
Saat Arvin masih berada di kursi tunggu bandara tersebut, Shania pun datang diantar oleh kedua orang tuanya saat ini.
Pandangan Arvin tertuju pada sosok wanita cantik yang selama ini selalu menjadi perhatiannya.
Shania langsung duduk menunggu di kursi tunggu yang masih satu jajaran dengan Arvin.
Gadis itu seolah tak ingin memandang kearahnya bahkan kini yang bertegur sapa dengan dirinya hanya Sanum dan Kenzie.
Arvin pun masih berusaha untuk bersabar saat ini, sampai Kenzie dan Shanum pergi karena masih ada kepentingan lainnya akhirnya Shania kini sendirian.
Awalnya Kenzie ragu untuk membiarkan putrinya itu pergi sendiri tapi Shania meyakinkan bahwa dirinya bisa melakukan itu, akhirnya kedua orang tuanya pun hanya bisa pasrah dan berdoa semoga putrinya selamat sampai tujuan.
Setelah melakukan boarding pass, Shania kembali duduk di kursi tunggu karena harus menunggu satu jam penerbangan menuju negara tersebut.
Gadis itu sengaja datang lebih awal agar tidak ketinggalan pesawat, dia yang kini ingin belajar mandiri pun sudah bersiap sejak pagi buta.
"Boleh kita bicara."ucap Arvin lembut.
"Tidak saya sibuk."tolak Shania.
Namun Arvin tidak terima penolakan, pria itu langsung menarik pergelangan tangan Shania yang akhirnya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sebuah lorong.
Wanita itu pun hendak melepaskan genggaman tangan Arvin tapi Arvin semakin mempererat genggaman tangannya itu.
"Lepas Mr,atau saya akan berteriak."ucap Shania.
"Teriak saja, dan katakan bahwa aku sangat mencintaimu."ucap Arvin.
"Apa-apaan ini."ucap Shania.
"I love you Shania Aurora Georgio."ucap Arvin.
"Apa? yang anda katakan?."tanya Shania.
"I love you."ucap Arvin di depan wajah Shania sapuan napas hangat itu menyapu wajah Shania.
"Mr bercanda?... bukankah ada Mis Ghea yang selalu ada cinta dan selalu berada di sisi anda."ucap Shania.
"Dia sudah memutuskan untuk berpisah dengan saya, dan saya tidak bisa menahan wanita yang memang sudah tidak mencintai saya."jawab Arvin.
"Mr guru saya,,, meskipun saat ini mantan."ucap Shania lirih.
"Saya sudah tidak lagi mengajar."ucap Arvin.
"Tapi kenapa?."ucap Shania.
"Saya tidak bisa fokus saat kamu sudah tidak ada lagi di kelas."ucap Arvin.
"Alasan saja."ucap Shania.
"Bagaimana?."ucap Arvin kembali bertanya.
"Maksudnya bagaimana?."tanya Shania.
Jawaban mu ."ucap Arvin tegas.
"Tidak."ujar Shania.
__ADS_1
"Tapi kenapa?."tanya Arvin lagi.
"Saya masih sekolah, dan saya juga tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh."ucap Shania.
"Aku bisa menunggu, dan saat kamu libur aku bisa mengunjungi mu, dan setiap hari kita bisa bertukar kabar."ucap Arvin.
"Benarkah, tapi rasanya kamu tidak akan sanggup."ucap Shania.
"Aku bisa, saat aku memiliki keinginan."ucap Arvin.
"Buktikan."ucap Shania lirih.
"Apa?."ucap Arvin yang tidak terlalu jelas saat mendengar itu.
"Buktikan."ulang Shania.
Arvin langsung mengecup bibir Shania yang kini terlihat membulatkan matanya.
"Itu bukti yang pertama, sekarang berikan Handpone itu."ucap Arvin yang kini meraih ponsel di tangan Shania.
"Berapa PINnya?."tanya pria itu.
Shania pun menjawabnya.
"Nomor apa? itu apa? itu tanggal gabungan."ucap Arvin.
"Tidak."jawab Shania singkat.
Saat ponsel itu dibuka, Arvin tersenyum melihat foto Shania yang tengah melompat dengan bola di tangannya itu.
"Seksi."ucap Arvin.
"Mau ngapain?."tanya Shania yang kini hendak merebut Handphone miliknya itu.
"Pinjam sebentar, aku mau menyimpan nomor ku disini."jawab Arvin.
"Kontak mu sudah ada di sana."jawab Shania.
"Ini nomor pribadi ku Honey."ucap Arvin.
Shania tertegun saat mendengar kata sayang yang Arvin ucapkan, meskipun terlihat terburu-buru mengambil keputusan tapi saat ini memang sudah sangat mepet.
Arvin pun memberikan Handpone teresebut lalu kembali menatap wajah cantik yang kini masih menggunakan kacamata yang sedaritadi bertengger di hidung mancungnya itu.
"Ini untuk mu, meskipun tidak mahal tapi aku membeli itu saat teringat dengan mu kemarin, anggap saja itu sebagai hadiah kemenangan mu kemarin."ucap Arvin yang memberikan sebuah cincin berlian berukuran pas di jari manis Shania.
"Terimakasih aku suka desainnya."ucap Shania.
"Sama-sama, mulai sekarang kita bisa saling berkabar dan beritahu aku jika sayangku ini libur."ucap Arvin.
Waktu terus berlalu, Shania pun sudah waktunya untuk berangkat menuju Swiss.
Arvin memeluk gadis itu sedikit lebih lama, dia meyakinkan Shania akan hubungan yang baru mereka jalin saat ini.
Gadis itu pun mengangguk pelan."Aku pergi dulu kak, kamu juga hati-hati di perjalanan."ucap Shania.
"Tentu sayang ingat untuk selalu mengabari ku setiap waktu agar aku tau jam berapa kamu tiba nanti."ucap Arvin.
"Baiklah Mr Arvin yang bawel dan super posesif."ucap Shania.
"Posesif tandasnya cinta honey."ujar Arvin sambil tersenyum.
"Ya,, ya tuan."ucap Shania yang kini mengecup pipi Arvin untuk yang pertama kalinya.
Arvin pun mematung sejenak lalu membalas mencium bibir Shania dan untuk pertama kalinya mereka berciuman dengan sangat lembut dan penuh kemesraan.
"Aku pergi dulu dah, sayang."ucap Shania lembut.
"Dah cinta hati-hati di jalan ingat hubungi aku."ucap Arvin.
Shania pun tersenyum manis diikuti lambaian tangan, Shania pergi dengan tas punggungnya itu.
Sementara itu di kediaman Zaid saat ini dia tengah memangku istrinya yang sesekali mencumbu dirinya.
Aluna yang manja itu kini tengah berbahagia, karena ternyata dia sedang mengandung anak dari Zaid yang merupakan buah cinta mereka berdua.
Sepulangnya dari Indonesia Aluna yang. dikira mengalami jetleg akhirnya diperiksa karena kondisinya sangat lemah saat itu.
Hingga saat dokter mengatakan bahwa saat ini Aluna tidak sedang mabuk perjalanan tapi dia tengah hamil muda, usia kandungan Aluna kini sudah jalan dua bulan.
Dan satu lagi kabar mengejutkan wanita itu hamil anak kembar tiga.
Karena ada tiga kantung janin yang berada di dalam rahim Aluna saat ini.
Sejak kemarin Aluna meminta suaminya untuk terus berada di sisinya karena jujur saat ini Aluna lebih suka melihat wajah tampan milik suaminya itu.
__ADS_1