
Hari telah berganti minggu berganti bulan, sudah hampir satu bulan lebih kepergian Nyonya Ervina saat ini.
Tapi kepergiannya masih menyisakan luka pada kedua anak laki-lakinya itu.
Kini Arvin sudah beraktivitas seperti biasanya pria tampan itu bahkan sering berpergian ke luar kota untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Arvin yang semakin giat dalam bekerja itu kini tengah mengurus sebuah proyek bernilai milyaran yang tengah ia pantau. sejak awal proses hingga saat ini sudah seperempat jalan Arvin harus lebih teliti lagi dengan semua itu.
Bahkan sudah hampir dua Minggu berlalu Shania tidak berjumpa dengannya. tapi beruntungnya Shania selalu mengerti dengan keadaan itu.
Arvin pun selalu berusaha untuk menghubungi Shania baik itu di jam makan siang ataupun di jam makan malam.
Tiga hari lagi Arvin baru akan kembali dari luar kota, saat ini pekerjaannya benar-benar menguras tenaga dan fikiran.
Sementara itu Shania kini baru saja selesai mandi dan berganti pakaian dia akan turun untuk makan malam bersama dengan keluarganya.
Shania lupa jika saat ini adalah jadwal Arvin untuk menelfon dirinya.
Dia turun kebawah tanpa membawa apa-apa, Sanum yang baru selesai menyajikan makanan di piring Kenzie pun langsung menoleh ke arah putrinya yang kini tengah terburu-buru berjalan ke arah mereka.
"Sayang tumben kamu tergesa-gesa begitu biasanya juga sepuluh menit baru sampai."canda Sanum.
"Heumm,,, mommy buru-buru salah terlambat juga salah."ujar Shania.
"Bukan salah sayang,,, tapi tidak biasanya, biasanya kalau jalan sambil berbalas pesan cinta juga video call."ucap Sanum.
Shania langsung mematung di tempatnya saat itu juga. namun sesaat kemudian gadis itu langsung berteriak dan berlari menuju pintu lift untuk naik ke lantai atas.
Sementara semua orang kini terkekeh melihat gadis itu seperti orang yang tengah mengejar maling.
Sesampainya di dalam kamar benar saja handphone Shania kini tengah bergetar terus menerus karena Arvin menghubungi dirinya.
Shania langsung menerima panggilan tersebut.
"Halo sayang maaf tadi aku lupa saat mau turun kebawah untuk makan malam. untung mommy mengingatkan aku bahwa kamu menelfon ku di jam segini."ucap Shania.
^^^"Apa? makanya sudah selesai."tanya Arvin.^^^
"Heumm,,, boro-boro aku kan bilang barusan turun untuk makan malam."ujar Shania.
^^^"Ya sudah makan malam dulu sana,,, nanti kelaparan."ucap Arvin.^^^
"Nanti saja aku minta bibi kirimkan makan malam ku kesini."ucap Shania.
"Baiklah sayang terserah kamu saja."ucap Arvin.
Obrolan itu terus berlanjut hingga dua jam lamanya, bahkan keduanya sambil beraktivitas.
Arvin yang sibuk berkutat dengan laptopnya, begitu juga dengan Shania yang tengah mengerjakan tugas kuliahnya itu.
Sampai saat semuanya selesai dengan aktivitas masing-masing mereka pun mengakhiri obrolan tersebut karena sudah saatnya untuk istirahat.
Arvin yang menunggu hari esok untuk kembali bekerja keras, Shania pun menunggu hari esok untuk kembali belajar. namun ada satu tujuan yang saat ini mereka akan gapai, yaitu pernikahan mereka yang tinggal menunggu hari.
Malam hari terlewati dengan dengan baik keduanya tidur dengan melewatkan mimpi indah. hingga saat mereka bangun mereka bangun dengan senyuman manis.
Meskipun keduanya berada di tempat berbeda.
Shania pun memulai aktivitas setelah dia bangun tidur.
Dia bergegas menuju kamar mandi dan mengisi bathtub-e tersebut dengan air hangat dan sabun aroma terapi.
Tidak lupa dia juga menyalakan lilin aroma terapi tersebut karena saat ini dia memiliki waktu cukup lumayan panjang. sebelum dia berangkat kuliah.
Shania langsung meraih handphone yang tadi ia bawa dan menghubungi Arvin sambil berendam di dalam bathtub meskipun dia tidak berbusana tapi dia tidak terlihat tengah mandi karena saat ini yang terlihat hanya dari arah leher keatas.
"Sayang kamu sudah selesai bersiap memangnya bangun jam berapa?."tanya Shania yang melihat Arvin sudah berpakaian rapi.
"Satu jam lalu sayang, pagi ini aku ada meeting penting bersama dengan klien yang datang dari luar negeri di sebuah hotel."jawab Arvin.
"Heumm,,, kliennya cewek atau cowok?."tanya Shania.
"Cewek sayang tapi dia bersama dengan asisten pribadinya yang cowok."ucap Arvin jujur.
__ADS_1
"Jam berapa?."tanya Shania lagi.
"Jam sembilan pagi."jawab Arvin lembut.
"Nanti video call saat meeting aku ingin lihat ceweknya secantik apa?."ujar Shania yang tiba-tiba begitu posesif.
"Yank,,, semalam kamu mimpi apa? tidak biasanya seperti ini."kata Arvin bingung.
"Aku mimpi indah,,, hanya saja aku sedang menjaga jodoh ku agar tidak jelalatan saat hari pernikahan tinggal satu minggu lagi."ucap Shania.
Arvin hanya terkekeh kecil. dia merasa sangat lucu mendengar perkataan Shania.
"Sayang ku,,, bidadari terindah ku.! Aku tidak akan pernah mengkhianati dirimu."ucap Arvin sambil tersenyum manis.
"Heumm... jangan bohong ya kak,,,kalau bohong aku akan mengejar kakak hingga ke ujung dunia."ucap Shania.
"Heumm,,,tau begitu aku bohong saja biar kamu kejar aku sampai kesini."ujar Arvin sambil terkekeh.
"Sayang,,,, jangan main-main, baiklah-baiklah aku akan bolos kuliah dan mengejar mu kesana untuk bulan madu."ucap Shania.
"Heumm,,, tidak boleh sayang,,,, kamu harus kuliah dengan giat karena setelah menikah kamu akan jarang masuk kuliah langsung."ucap Arvin.
"Ah,,,! so sweet,,,kakak pasti ingin peluk aku terus bukan."ucap Shania tanpa ragu.
Sementara wajah Arvin tiba-tiba merona merah karena perkataan Shania. tapi kemudian pria itu menggelengkan kepalanya.
Arvin tidak habis fikir kenapa? kekasihnya selalu membahas hal yang bersifat romantis, mungkin karena Shania terlalu banyak menonton drama Korea.
Arvin pun pamit pergi karena dia juga harus pergi ke kantor sebelum dia pergi ke tempat pertemuannya dengan klien tersebut.
"Babe,,, kuliah yang giat ya, aku pamit dulu mau kerja untuk mencari pundi-pundi rupiah buat kita nanti."ucap Arvin.
"Heumm...baiklah sayang aku juga mau selesaikan mandinya."ucap Shania.
"Heumm."ucap Arvin sambil tersenyum dan memutuskan sambungan telfon tersebut.
Hari ini keduanya mulai bersibuk, di Mension pun Sanum dan Mariana juga suami mereka kini tengah menyiapkan pesta pernikahan yang akan digelar satu minggu lagi.
Mereka bilang pesta itu sederhana, tapi tidak seperti kenyataannya.
Mereka akan melakukan apapun yang terbaik menurut mereka, termasuk menambahkan biyaya pernikahan dan lain sebagainya karena mereka mampu dan tidak pernah perhitungan. karena semua itu juga demi kebahagiaan putri bungsu di keluarga Georgio.
........................
Sementara itu di kediaman lain tepatnya di Mension utama milik Kenzo yang kini digunakan untuk karantina bagi calon istri kedua pangeran dari keluarga Georgio itu tidak membuahkan hasil karena sampai saat ini tidak ada satupun yang cocok untuk keduanya.
Akhirnya Kenzo memberikan kompensasi pada mereka semua dan membubarkan mereka.
Lagipula saat ini waktu sudah mepet, Shania tetap akan menikah dengan Arvin lebih cepat dari pernikahan kedua pria tampan yang tidak pernah move on dari masalalu nya itu.
Kenzo pun membebaskan mereka untuk menikah dengan siapapun yang mereka cintai.
Dan itu adalah sebuah kebebasan yang baru mereka dapatkan.
Sanum sendiri sebagai ibu, dia berharap kelak keduanya mendapatkan jodoh terbaik dari tuhan yang benar-benar bisa menyayangi keduanya dalam suka maupun duka.
Kevin dan Kendra pun kini kembali sibuk dengan pekerjaan mereka. karena sudah satu bulan berlalu mereka kuliah sambil bekerja.
Keduanya begitu kompak, itulah kenapa? Shania selalu meledek kakaknya seperti pemeran utama film kartun asal negeri Jiran yang berkepala botak tersebut.
Setelah seharian beraktivitas di kantor, kini keduanya pulang ke rumah.
Tubuh mereka terasa begitu lelah, belum lagi batinnya yang merindukan pasangan mereka masing-masing.
Ingin rasanya mereka bertanya dimana daddy mereka menyembunyikan kedua wanita yang sampai saat ini masih bertahta di benak mereka.
Namun keduanya tidak punya keberanian untuk menentang Kenzie yang mungkin akan melempar mereka ke Alaska jika keduanya tidak menuruti keinginan sang daddy untuk tidak berhubungan dengan mereka berdua.
Kini keduanya tengah berada di kamar mereka masing-masing.
Kevin tengah berendam di dalam bathtub-e sambil memejamkan matanya.
Begitu juga dengan Kendra, keduanya benar-benar seperti satu jiwa di balik dua raga.
__ADS_1
Sanum yang mendatangi kedua kamar putranya secara bergantian menyiapkan pakaian santai untuk mereka berdua, mungkin jika mereka sudah memiliki istri maka istri merekalah yang akan menyiapkan semuanya itu.
Sanum yang tidak sengaja menemukan foto dari balik saku jas yang kedua anaknya gunakan tadi.
Foto kedua gadis yang sangat cantik meskipun mereka terlihat sangat sederhana.
Hati seseorang ibu yang kini tengah bertanya-tanya siapakah gerangan kedua gadis itu. apakah mereka yang menjadi kekasih rahasia kedua putranya itu.
Sanum tidak membawa foto tersebut, tapi dia menyimpan satu persatu foto tersebut di atas nakas dan mengambil cucian kotor milik kedua putranya itu.
Sanum pun keluar dari dalam kamar, karena yang dia tahu saat ini kedua putranya itu tengah berada di dalam kamar mandi dan akan berendam cukup lama.
Sampai saat dia meminta kedua pelayan yang baru saja bekerja hari ini mengantar makan malam mereka ke kamar mereka masing-masing.
Kedua gadis yang baru saja di rekomendasikan oleh penyalur tenaga kerja yang selalu bekerja sama dengan keluarga Georgio tersebut kini sudah berada di sana berbalut pakaian khas pelayan yang ada di Mension tersebut.
Keduanya yang sudah mengenali setiap ruangan tersebut pun berangkat membawa dua nampan berukuran besar itu menuju tangga karena lift hanya digunakan untuk anggota keluarga.
Tangga itupun terkadang mereka naiki jika memang di perintah oleh asisten rumah besar tersebut selebihnya mereka akan menggunakan tangga melingkar yang ada di belakang.
Semua itu peraturan yang dibuat oleh asisten pribadi Mension itu sebagai bentuk penghormatan kepada majikan mereka.
Sesampainya di dalam kamar, keduanya kini terpaku di tempatnya saat melihat kedua pria yang mereka berusaha lupakan selama ini.
"Novara."ucap Kendra yang mengenali kekasih dari adiknya Kevin.
"Tuan muda."ucap gadis itu kaget.
Begitu pula dengan adegan yang sama terjadi di kamar sebelah.
Kevin langsung meraih nampan berisi makan malam tersebut dan meminta dia menunjukkan dimana kekasih Kevin berada.
"Dinda ayo katakan kemana kalian pergi selama ini."ucap Kendra yang kini memeluk Adinda Dewi. gadis yang selama ini ia cintai.
"Kami di usir dari apartemen kalian berdua dan saat kami pergi ada seseorang yang membawa kami ke agen penyalur tenaga kerja."Jawab Adinda.
"Dan kamu sayang,,, kamu kenapa? tidak berusaha untuk menghubungi ku."ucap Kevin pada Novara putri.
"Aku tidak berani karena daddy mu mengancam akan melakukan hal yang tidak pernah diduga jika kami kembali menemui kalian berdua."ucap Novara.
"Kevin langsung memeluk kekasihnya itu bahkan mendaratkan kecupan mesra di bibir gadis yang kini terlihat malu-malu itu.
"Putri,,, Dewi kalian di mana ketua menunggu kalian."terdengar suara panggilan dari luar.
"Ah, gawat kami harus segera pergi."ucap keduanya panik.
"Tidak, biar aku yang atasi semua kalian duduk saja."ucap Kendra yang kini beranjak dari duduknya.
"Heumm... baiklah-baiklah aku akan segera bersiap untuk membawa kalian berdua pergi dari sini."ucap Kevin.
"Tapi mas Kevin bagaimana? jika kami ketahuan."ucap Novara yang kini terlihat takut.
"Jangan cemas, aku akan mengenal kan kamu pada mommy sekarang juga."ucap Kevin.
"Tidak belum saatnya mas kami tidak ingin dikenal hanya sebagai seorang pelayan, kami ingin dikenal saat kami sudah memiliki pekerjaan yang lebih baik dari ini agar kami tidak lagi diremehkan orang."ucap Novara.
"Tidak ada yang akan meremehkan kalian sayang sekarang kamu ikut aku pergi."ucap Kevin.
"Tidak mas, sebaiknya kamu makan malam dulu nanti kamu bisa menemui kami di belakang."ucap Novara.
Dinda pun mengangguk pelan.
Mereka adalah dua mahasiswa jurusan komunikasi yang selama ini merantau di ibukota, keduanya bekerja serabutan untuk bisa membiayai kuliah mereka membantu meringankan beban kedua orang tua mereka yang hidup sederhana di kampung halaman mereka.
Sampai saat mereka tengah bekerja paruh waktu di sebuah tempat jasa pencucian mobil yang tidak jauh dari area perkantoran milik keluarga Georgio.
Saat itu kedua pangeran yang baru saja lulus kuliah S1 itu sedang datang berkunjung ke kantor sang daddy yang ada di sana.
Saat mereka melewati tempat tersebut tidak sengaja Kevin melihat kedua wanita cantik alami itu tengah berjalan keluar menyambut kedatangan pelanggan yang hendak mencuci mobil di tempat tersebut.
Kecantikan mereka bagai sihir bagi kedua pria yang saat itu menghentikan mobilnya untuk sekedar membeli air mineral di supermarket yang bersebelahan dengan tempat pencucian mobil tersebut.
Hingga keduanya sering datang sekedar untuk mencuci mobil mereka yang bahkan licin mengkilat tidak ada debu sedikit pun tapi karena ingin bertemu dengan keduanya mereka sengaja melumuri kaca depan mobil dengan satu cup kopi.
__ADS_1
Hingga kebiasaan itu membuat kedua wanita itu curiga dengan kebiasaan yang sama saat mereka datang ke sana.
Kevin akan berbasa basi pada mereka sementara Kendra akan berpura-pura lelah dan duduk di sofa yang tersedia.