Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Rencana pernikahan#


__ADS_3

Arfan benar-benar menangis pilu saat tahu ibunya meninggal karena dibunuh oleh Karin.


Sementara Arvin yang kini masih emosi namun Shania selalu menghalangi dia dengan memeluk erat Arvin dan membawa dia ke lantai atas.


"Yank,,, tahan dirimu kita masih berkabung dan semua ini tidak akan bisa mengembalikan mommy pada kita kita sama-sama berduka atas kepergian mommy."ucap Shania.


"Sayang aku benar-benar tidak terima, Bunda tadi masih baik-baik saja saat aku akan pergi menyusul mu. dia bahkan yang meminta aku agar menjemputmu dan bahkan dia bilang agar aku tidak lagi menampakkan kebodohan ku untuk mengajak calon istri ku hidup sederhana padahal Bunda bilang di jaman seperti ini sudah tidak ada wanita yang mau diajak hidup sederhana."ucap Arvin.


"Sayang,,, kamu meragukan aku untuk itu."ucap Shania.


Arvin yang masih berlinang air mata pun mengangguk pelan.


"Owh ya,,, ampun Yank, ternyata itu penyebab kamu menjauhi ku."ucap Shania.


"Heumm,."jawab Arvin sambil mengangguk pelan.


"Aku tidak pernah berharap jodoh ku kelak memberikan hal itu,,, karena milikku sendiri pun sudah lebih dari cukup untuk bisa menghidupi diri sendiri. apalagi nanti aku pun akan bekerja keras."ucap Shania.


"Tidak sayang,,, aku tak ingin setelah menikah kamu bekerja.! aku yang akan menghidupi mu sayang."ucap Arvin.


"Ya, aku tau itu sayang."ucap Shania.


Mereka pun duduk di sofa, kini Arvin berbaring di atas ranjang dengan pangkuan Shania yang menjadi bantalnya.


Arvin yang memang kurang istirahat dia pun tertidur pulas saat itu.


Hingga Shania pun ikut terlelap, sambil bersandar di headbord.


Sampai saat Arvin membuka mata, dan melihat Shania tertidur pulas dengan posisi duduk bersandar di headbord.


Arvin langsung bergegas bangkit dan membenarkan posisi tidur Shania. dia juga memberikan kecupan hangat di puncak kepala calon istrinya itu.


Arvin pun bergegas membersihkan diri setelah itu ia harus segera mengurus semuanya.


Sementara Arfan saat ini masih menyendiri di dalam kamar setelah kembali dari kantor polisi didampingi pengacara dan juga Kenzie.


Pria itu tidak bisa membiarkan Arfan mengurus semuanya sendiri. karena Arvin kini tengah berada dalam kondisi terpukul atas kepergian ibunya.


Arfan terus menangis menyesali semua yang terjadi.


Arvin turun mencari Arfan untuk meminta penjelasan tentang semua hal yang terjadi meskipun itu tidak bisa mengembalikan Bundanya ke sisi mereka.


Arvin hanya ingin memberikan pelajaran kepada Karin sesuai dengan perbuatan yang ia lakukan.


Saat ini Arvin tengah duduk di Arfan yang tengah terduduk di lantai tepat di samping ranjang dengan kepala menunduk sambil terisak.


Arvin pun duduk di samping ranjang sambil melirik kearah Arfan.


"Ceritakan semua sama Abang,,, jangan ada yang kamu tutupi karena jika Abang tau kamu berbohong kamu akan tau akibatnya."ucap Arvin.

__ADS_1


"Saat Abang di kantor Karin datang sambil menangis sesenggukan dia bilang uang yang Abang kasih saat itu dirampok para preman dan dia bilang dia tidak punya uang untuk membayar kontrakan."


"Aku sudah berusaha untuk menolak keinginan wanita itu yang meminta untuk tinggal di sini, tapi dia tetap ngotot dan tidak mau mendengarkan aku dia juga mengatakan bahwa anak yang telah tiada itu adalah anak ku, dia meminta tanggung jawab padaku tapi aku menolak hingga perdebatan diantara kami mungkin didengar oleh Bunda. karena saat itu bertepatan dengan Karin yang berlari keluar kamar sambil berlari, dan Karin menabrak Bunda saat itu Bunda oleng dan langsung terjatuh dan berguling di tangga Arfan sudah berlari dan berusaha menolong Bunda tapi tidak bisa,,, menyelamatkan Bunda maafkan Arfan Bunda Arfan anak durhaka."ucap pria itu lirih.


Arvin merangkul bahu adiknya dia seharusnya tidak menyalahkan sang adik karena biar bagaimanapun Arfan tidak lah salah dalam hal ini, kesalahan yang dilakukan oleh Arfan adalah merencanakan untuk menyembunyikan semuanya meskipun itu tidak benar-benar ia lakukan dan langsung melaporkan kejadian itu pada polisi.


Arfan pun bangkit dari duduknya seperti permintaan Arvin untuk membersihkan diri terlebih dahulu setelah itu mereka akan makan siang bersama, sementara Arvin sendiri pergi menuju kamarnya untuk membangunkan Shania.


Suasana rumah masih sangat ramai karena banyak kerabat yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa. bahkan para staf perusahaan dan juga rekan bisnis Arvin yang datang.


Shania yang sedari tadi sudah rapih dan bersiap pun kini tengah mendampingi Arvin menerima tamu yang datang.


Semua orang berkumpul dan memberikan do'a untuk almarhum saat ini.


Arvin pun sangat berterimakasih atas kehadiran mereka semua, dan tidak hanya mendoakan mendiang nyonya Ervina. mereka juga mendoakan agar Arvin bisa secepatnya menikah dengan Shania.


Shania menyambut baik do'a yang mereka ucapkan saat ini, karena memang itu yang juga dia inginkan.


Arvin yang sedang tadi merangkul pinggang Shania saat dia menerima tamu dan berjabat tangan dengan mereka pun tidak pernah luput dari sorotan mata Mariana yang kini datang ke rumah tersebut.


Ada senyum yang terpancar di wajahnya yang cantik sejak lahir tersebut.


Dia kagum dengan perhatian yang Arvin berikan meskipun pria muda itu kini masih berada di dalam suasana hati berkabung.


Arvin pun mempersilahkan perempuan yang paling berarti dalam hidup Shania selain Sanum.


"Terimakasih Omah, Arvin begitu beruntung bisa memiliki calon istri yang memiliki keluarga sebaik kalian semua."ucap Arvin.


"Bukan calon sayang sebentar lagi kalian akan segera menikah... setelah selesai empat puluh hari mending mommy mu nanti."ucap Mariana.


"Tapi Omah aku masih belum persiapkan semua,,, kasihan istriku nanti jika menikah dadakan tanpa pesta besar seperti saat pertunangan kami."ucap Arvin.


"Tidak perlu pesta besar kak, cukup ijab kabul dan kumpul keluarga aku tidak ingin pesta itu."ucap Shania.


"Yank,,, aku masih mampu untuk mengadakan pesta pernikahan kita. tapi tolong beri waktu sebentar saja untuk aku mempersiapkan semuanya."ucap Arvin.


"Tidak kak, aku ingin secepatnya berada di rumah ini untuk mengurus suamiku."ucap Shania.


"Terimakasih sayang, tapi aku tetap akan memberikan pesta pernikahan seperti impian mu."ucap Arvin.


"Tidak kak,,, lebih baik uang itu digunakan untuk modal kita setelah menikah nanti buat rumah baru mungkin atau untuk tabungan masadepan kita semua."ucap Shania.


"Baiklah kita bicara itu nanti setelah semua selesai."ucap Arvin sambil mengusap lembut punggung tangan Shania.


"Jangan jadikan itu sebagai beban nak, Omah tidak ingin kamu terbebani dengan itu. justru pernikahan itu untuk menyelamatkan mu dari keterpurukan karena duka kehilangan mommy mu."ucap Mariana.


.................


Malam ketiga setelah ibunya meninggal dunia, Arvin masih ditemani oleh Shania tapi tidak dengan keluarganya.

__ADS_1


Saat ini mereka tengah makan malam bersama bertiga Arvin dan Shania duduk berdampingan sementara Arfan di berhadapan dengan Arvin.


"Aku akan kuliah di Belanda bang."ujar Arfan.


"Lalu bagaimana? dengan perusahaan, Abang tidak mungkin mengurus perusahaan milik kita sendirian."ucap Arvin.


"Tidak masalah bukankah selama ini Abang juga mengurus semuanya sendirian."ucap Arfan.


"Tapi Arfan sebentar lagi Abang akan menikah dan tidak mungkin Abang bisa mengurus semua itu dan mengabaikan kewajiban Abang yang lain, kakak ipar mu juga butuh Abang."ucap Arvin.


"Tidak apa-apa sayang jika Arfan ingin kuliah di sana bukankah dengan begitu dia akan lebih siap untuk memimpin perusahaan."ucap Shania.


"Tapi sayang,,, kamu akan kesepian di rumah sendirian."ucap Arvin.


"Kak,,, aku kuliah dan mungkin setelah pulang kuliah aku tinggal di Mension."ucap Shania.


"Iya bang lagipula jarak rumah dan Mension tidak jauh kan."ucap Arfan.


"Sudah Sayang jangan pikirkan aku, setelah menikah kita akan tetap tinggal di Mension seperti kata daddy,,, mungkin setelah kita punya anak kita akan membahas soal rumah."ucap Shania.


Arvin hanya tersenyum kecil lalu kemudian kembali berkata."Kita akan tetap tinggal di sini sampai Arfan menikah nanti, aku tidak ingin rumah ini dikosongkan kasihan Bunda."ucap Arvin.


"Baiklah terserah kamu saja Yank,,, aku akan mengikutimu kemanapun kamu membawa ku."ucap Shania.


"Abang aku tidak mau Abang merasa tersingkirkan dari rumah ini setelah aku menikah nanti, rumah ini rumah orang tua kita, jadi sudah sepantasnya kita tinggal di sini setelah mereka berdua tiada,,, lagipula aku juga belum memikirkan untuk menikah muda."ucap Arfan.


"Heumm,,, yakin tidak akan pernah menikah muda, sedang dulu saja kamu sudah bersiap untuk menikah dengan wanita itu."ucap Shania yang kini tidak ingin menyebut nama Karin yang sudah membuat ibu mertuanya itu terbunuh.


Shania sebenarnya sangat geram dengan kejadian itu. ingin rasanya dia menghajar wanita itu dengan tangannya sendiri tapi saat ini dia tengah menjadi buronan polisi.


Karin kabur dari penjara dibantu oleh tahanan lain saat mereka tengah sibuk sarapan pagi.


Kenzie bilang pada Arvin untuk tidak khawatir karena orang-orang nya bersama dengan posisi tengah mencari keberadaan Karin.


Sementara Arvin tidak melakukan apa-apa karena Arvin yakin bahwa Karin akan mendapatkan balasan yang setimpal meskipun tidak di penjara.


Arfan sendiri memutuskan untuk menyerahkan semuanya kepada yang berwajib.


Shania kini tengah menemani Arvin yang tengah sibuk dengan laptopnya, karena saat siang tadi dia tidak sempat untuk mengerjakan semua itu.


"Sayang kamu bobo saja, pekerjaan ku masih sangat banyak."ucap Arvin.


Arvin sayang kita akan segera menikah bukan, jadi sudah seharusnya aku membantu kesulitan suamiku,,, kemarilah aku bisa bantu kamu periksa laporan itu biar nanti tinggal di tandatangani saja."ucap Shania.


"Heumm,,, kamu benar juga sayang... aku lupa jika istriku juga adalah seorang calon nyonya CEO."ucap Arvin.


"Ah... tidak mau, aku mau suamiku yang jadi CEO dan aku asisten pribadi CEO di rumah."ucap Shania yang kini nyengir kuda.


Arvin langsung mengecup bibir manis itu. Mariana benar dengan menikahi Shania dia bisa sedikit melupakan kesedihannya karena kehilangan ibunya itu.

__ADS_1


__ADS_2