
Bintang, terus berkelahi dengan wanita yang kini menggunakan atribut dokter tersebut.
Bintang, terluka di bagian lengan wanita cantik itu kini terlihat sedikit meringis kesakitan, tapi Bintang tetap berusaha untuk melawan hingga dia berhasil melumpuhkan lawan.
Sementara itu Salsabila, terlihat sangat ketakutan.
"Tolong aku tolong mereka ingin membunuh ku, tolong." teriak Salsabila, tapi Bintang mendekat dan memeluk Salsabila sambil berbisik"Aku tidak jahat kamu jangan takut oke" ucap Bintang.
Seketika Salsabila, terdiam Bintang melepaskan ikatan pada tangan dan kaki Salsabila, dengan segala resiko yang akan dia hadapi kedepannya, wanita itu langsung membawa wanita hamil itu, pergi secepat kilat secara diam-diam.
Bagi Bintang, karirnya tidak masalah jika harus berakhir, tapi yang menjadi masalah baginya adalah jika dia membiarkan orang lain terbunuh di hadapan nya, seperti anak dan suaminya kala itu.
Bintang tidak ingin lagi terjadi hal seperti itu, meskipun nyawanya sekalipun yang akan menjadi taruhannya.
Sampai di sebuah tempat dimana seseorang tinggal, dengan darah yang masih menetes di bagian lengan, Bintang berhasil membawa Salsabila.
Allan yang tengah tertidur terusik dengan suara gaduh di luar.
Pria itu berjalan keluar kamar, kebetulan tidak dikunci.
"Ada apa? ini" ucap Allan, yang masih terlihat kebingungan.
"Tuan Allan, saya mohon ijinkan kami masuk, setidaknya, sampai suasana diluar aman, saya membawa wanita hamil yang menjadi pasien baru di tempat kerja saya, dan nyawa dia dalam bahaya" ucap Bintang.
"Masuklah dulu, dan berikan dia obat terlebih dahulu agar dia bisa tenang" ucap Allan.
"Salsabila, kamu harus tenang disini kamu aman.aku terpaksa mengurung mu agar kamu bisa tetap disini, sebelum aku dapat tempat yang aman lainnya ingat jangan takut" ucap Bintang, pada wanita hamil itu.
"Pastikan dia tidak membuat kegaduhan" ucap Allan.
"Baik tuan" ucap bintang.
Allan, lalu melihat ke arah lengan Bintang.
"Kau terluka dokter Bintang." tanya Allan.
"Heumm ya tuan, tapi tidak usah khawatir saya masih bisa menangani ini semua" ucap Bintang.
"Setelah kamu mengurus dia, segera temui aku di kamar" ucap Allan.
"Baiklah" ucap Bintang.
Setelah bintang , mengurus Salsabila Bintang, mendatangi Allan di kamar nya.
"Duduk lah" ujar Allan.
"Tuan, saya datang kesini untuk menitipkan gadis itu, tolong minta anak buah tuan menjaga nya" ucap Bintang.
"Apa? kau pikir, jika dia lolos itu berarti kamu juga aman"ucap Allan.
"Saya, bisa jaga diri tuan... yang saya khawatirkan adalah gadis itu"ucap bintang.
"Tetap disini, jika tidak kamu akan celaka" ucap Allan.
"Saya meninggalkan rumah, kasihan mereka jika tidak melihat saya pulang"ucap Bintang .
"Mereka, bukanya sudah tiada"ucap Allan.
"Aku, merasa mereka masih ada bersamaku" ucap Bintang.
"Dokter Bintang apa? kau juga masih harus berobat" ucap Allan.
"Tidak, saya bisa mengontrol diri sendiri, mungkin saya dikendalikan oleh obat, tapi sekarang aku tidak lagi seperti itu. dan apa salah jika aku mengobati rasa sepi ku dengan menganggap bahwa mereka masih ada bersamaku" ucap bintang.
Tanpa iya sadari Allan, kini sudah merobek baju di bagian lengan Bintang, dan melihat luka yang parah dan menganga lebar.
" Apa? yang anda lakukan?" tanya bintang.
"Luka ini begitu dalam kau masih bilang tidak apa-apa? ucap Allan.
"Ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan luka batin yang selama ini saya rasakan" ucap Bintang.
"Kau sendiri terluka parah, tapi kenapa? masih mau memberikan pertolongan kepada orang lain.
"Saya, tidak ingin ada penyesalan lagi, setelah kedua orang yang saya cintai mati dihadapan saya, dan saya tidak bisa berbuat apa-apa" ucap Bintang.
"Kau bisa kau kuat, buktinya selama ini kamu bisa melewati semua itu." ucap Bintang.
Allan, terus mengajak wanita itu mengobrol, sementara tangannya kini tengah mengobati luka bintang dia bahkan mengambil dasi nya untuk tali pengikat luka itu agar tidak lagi menganga setelah kain kasa steril itu dililitkan pada lengan wanita cantik itu.
"Tuan Allan sepertinya sebentar lagi kau akan terbebas dari obat" ucap Bintang.
"Semoga saja semua itu benar, aku juga ingin seperti biasa lagi" ucap Allan.
"Tetap lah semangat, ingat bahwa Queen, anda akan merasakan kesedihan yang teramat dalam jika anda terus larut dalam luka, dan tidak ada yang mendoakan nya" ucap Bintang.
"Kau benar, sudah beberapa bulan ini, aku tidak berdoa, karena larut dalam rasa belas" ucap Allan, sambil mengikat tali simpul di lengan wanita itu.
"Dengan begini, luka itu tidak akan menganga lagi" ujar Allan.
__ADS_1
Sementara mereka terus mengobrol, di kediaman Kenzo, kini tengah berlangsung kabar duka, pasalnya tuan Georgio, telah meninggal dunia, dan kini jenazah tuan Georgio tengah disemayamkan di Mension utama.
Bunga bela sungkawa, sampai saat ini terus berdatangan, meskipun mereka tau orang yang memiliki pengaruh besar karena harta kekayaan nya itu mati di dalam sel tahanan dengan catatan serangan jantung mendadak.
Padahal sebelumnya pria tua itu, masih sangat segar bugar, tapi maut tidak ada yang tau kapan akan datang ,tua, muda, laki-laki atau perempuan semua, sudah ada takdir nya masing-masing. begitu juga dengan Georgio dan Queen.
Semua datang untuk mendoakan ketiga nya, termasuk Queen dan putra semata wayangnya, yang tak lain adalah keluarga Georgio anak cucunya.
Adri dan Deswita kini hadir hanya berdua karena Davina, hingga saat ini belum juga ditemukan keberadaan nya, sementara Allan, masih dalam pengobatan.
Sementara Kenzo, sejak almarhum sang ayah dinyatakan meninggal ketiga nya baru tiba di bandara.
Kenzo, yang memutuskan untuk tinggal di Swis kini, pulang ke tanah air bersama dengan Mariana, istri tercinta nya dan Abigail cucu pertama nya dari Kenzie.
Sementara Kenzie dan Sanum, kini sudah lebih dahulu ada di Mension utama, sedari Georgio dinyatakan wafat.
Sebenarnya ada rasa tidak enak di hati Kenzie saat ini, bagaimana pun Georgio, sudah membuat kehidupan istrinya menderita, hanya karena sang putra semata wayangnya, mencintai Aurora, ibu kandung Sanum.
Tapi dengan kebesaran hati Sanum, akhirnya, Kenzie datang ke Mension, utama milik almarhum bersama dengan Sanum, yang terlihat tidak nyaman itu, sejak mereka datang.
Saat Kenzo tiba, pria itu berlari dengan tangis nya dia langsung memeluk jenazah yang kini sudah berada di dalam peti yang masih terbuka itu, Kenzo menangis histeris bak anak kecil, biar bagaimanapun Georgio, sejahat apapun dia, bagi Kenzo dia adalah ayah terbaik di dunia.
Ya...kini Kenzo menangis sesenggukan sambil memeluk jenazah tersebut meskipun semua orang sudah melarang Kenzo, karena air mata itu tidak boleh tumpah keatas jenazah.
.........................
Kesedihan Kenzo bukan hanya itu, bahkan disaat Queen dan cucunya yang harus nya, sebagai keponakan nya meninggal dunia, dia tidak sempat melihat jenazah keduanya di saat terakhir nya.
Hingga pemakaman itu berlangsung, Kenzo masih terisak dalam dekapan Mariana, istrinya, sementara Abigail, kini dalam gendongan Adri, bocah berusia empat tahun itu masih belum mengerti dengan keadaan itu.
Sementara Kenzie, masih termenung di samping Sang istri, saat ini.
Hingga pemakaman selesai mereka pun bubar, kini hanya ada Kenzo dan Kenzie Mariana, dan Sanum, sementara Deswita dan Adri, sudah kembali lebih dulu.
"Sekarang, dia sudah tiada... apa? kau masih menaruh dendam pada ayahku"ucap Kenzo pada Sanum.
Sementara yang ditanya tidak menjawab.
"Daddy, jangan bicara sembarangan"ucap Mariana lirih.
"Apa? aku salah" tanya Kenzo.
"Daddy, tidak seharusnya Daddy bicara seperti itu, Sanum tidak menaruh dendam"bela Kenzie.
"Kau masih membela dia Boy, ingat Boy... musuh itu tidak selalu orang luar, tapi mereka bisa berada di samping kita"ucap Kenzo.
"Tapi dia istri ku! Daddy...dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu"ujar Kenzie.
Sanum, bahkan hanya terdiam dia tidak menjawab tuduhan ataupun pertanyaan yang menyudutkan dirinya.
Hingga, akhirnya dia bangkit dari hadapan pemakaman Georgio, Sanum berbalik dan pergi.
"Yang... jangan pergi, Daddy hanya sedang sedih, dia tidak bermaksud seperti itu, Yang!" panggil Kenzie, tapi istrinya terus berjalan menuju parkiran.
"Yang... aku mohon berhenti" ucap Kenzie.
"please"ucap Kenzie, yang kini memeluk Sanum, dari belakang.
" lepas Ken.. aku mau pulang, untuk apa? aku disini tidak ada gunanya juga, hanya buat kalian bertengkar" ucap Sanum.
"Yang please, jangan seperti ini, aku mencintaimu aku tidak perduli dengan perkataan orang lain, yang aku pedulikan hanya kamu dan keluarga kita" ucap Kenzie.
"Dia bukan orang lain, Ken... dia Daddy mu" ucap Sanum.
"Ken..."ulang Ken.
Pria itu tidak terima, istri tercinta nya hanya memanggil nama saja.
"Jangan pura-pura tidak tahu Ken, aku memanggil mu, seperti itu karena sebentar lagi kita akan berpisah"ucap Sanum.
"Sanum!"teriak Kenzie.
"Apa! apa aku salah dengan ucapan ku? kamu dengar tadi bukan aku hanya musuh bagimu" ucap Sanum, yang kini berurai air mata.
"Ya... aku musuh mu, musuh dalam selimut mu, ini aku aku musuh mu!"ucap Sanum diakhiri dengan teriakan.
Tapi Kenzie, kembali memeluk nya,Aku tidak perduli kau musuh ku atau bukan yang jelas, selama kamu bersama dengan ku, kamu adalah istri ku."ucap Kenzie tegas.
"Ken"
"Mas, sayang hanya mas, atau Daddy, hanya itu tidak ada yang lain" ucap Kenzie, yang masih memeluk erat istrinya.
Kenzie, pergi meninggalkan pemakaman tersebut. bersama dengan istri tercinta nya.
Sesampainya di Mension mereka, Kenzie masih menuntun Sanum, yang hingga saat ini entah sedang melamun kan apa?.
"Sayang kedua putra kita merindukan mu" ucap Kenzie yang kini menggendong kedua jagoan nya, membawa kedua anak nya untuk menemui Sanum, yang masih melamun sambil bersandar di headbord.
"Mommy"panggil kedua putranya, yang kini sudah bisa memanggil sang mommy.
__ADS_1
" Sayang"ucap Sanum, sambil memeluk kedua putranya itu.
Keduanya mencium pipi sang Mommy.
"Ken.. jika kita sudah bercerai nanti tolong jangan minta mereka untuk"
Bugh....
Kedua putranya tersentak kaget.
Kenzie, meninju dinding.
"Sudah aku bilang jangan bicara sembarangan! sampai kapanpun aku tetap akan bersama dengan mu"ucap Kenzie.
"Ken... apa?"
"Sudah kubilang jangan panggil aku begitu" ucap Kenzie.
" Kenzie please dengarkan aku dulu" ucap Sanum.
"Mas, Sanum atau Daddy bukan Ken, Yang... bukan itu" ucap Kenzie, yang kini terlihat sudah tidak tahan menghadapi sikap keras Sanum.
Kenzie berjalan memeluk ketiganya yang kini hendak pergi.
"Yang... tetap lah di samping ku, jangan pedulikan siapapun, kecuali aku dan anak kita" ucap Kenzie.
Sanum terdiam, bukan dia tidak cinta, tapi perkataan dan perbuatan Kenzo, sang mertua yang suka berkata dan bertindak sesuka hati, seperti selama ini.
Sanum, selalu menahan diri demi kedua putranya, tapi tidak untuk kali ini.
"Kita lebih baik berpisah saja, dengan begitu kamu akan bebas dari tekanan."ucap Sanum.
"Aku bilang tidak ya tidak!" ucap Kenzie.
Sanum, masih menggendong kedua nya.
"Sini biar anak-anak sama Daddy dulu"ucap Daisy.
"Tidak Ken, aku akan menidurkan mereka"ucap Sanum.
"Yang... please, aku mohon jangan lakukan itu" ucap Kenzie.
Kenzie, terus memohon agar Sanum bersikap seperti itu.
Sanum, berjalan menuju kamar kedua putranya, wanita itu tidak menghiraukan panggilan Kenzie, pria itu terus mengikuti mereka bertiga.
"Ambil tuan muda, saya mau bicara dengan nyonya" ucap Kenzie pada keempat pengasuh kedua putranya itu.
"Tidak jangan, kalian boleh pergi, saya yang akan menidurkan mereka"ucap Sanum.
"Yang jangan keras kepala begitu" ucap Kenzie.
"Aku keras kepala?... bukan nya kamu lebih keras kepala lagi dari ku" ucap Sanum.
"Ini bukan keras kepala sayang tapi ini cinta"ucap Kenzie.
"Alasan terbesar nya adalah mereka ia kan" ucap Sanum.
"Sayang kamu, sudah keterlaluan" akhirnya
Kenzie, merampas kedua nya, dan memberikan mereka kepada para pengasuh nya.
Setelah itu Kenzie, menggendong Sanum, ala bridal style, meskipun Sanum, enggan untuk berpegangan.
"Sayang sampai jutaan kali pun kamu meminta itu, aku tidak akan pernah mengabulkan nya"ujar Kenzie.
"Tapi aku lah Ken" ucap Sanum.
"Aku akan mengobati rasa lelah mu"ucap Kenzie.
"Bagaimana caranya"tanya Sanum.
"Ikuti aku yang"ucap Kenzie, yang kini menatap lekat wajah cantik itu.
Perlahan tapi pasti wajah mereka saling mendekat dan mereka saling menautkan bibir mereka saat itu juga.
Mereka pun mengobati lelah akibat permasalahan rumah tangga itu, dengan bercinta.
Pasangan suami istri itu menghabiskan waktu nya, dengan memberikan rasa cinta sepenuhnya.
Sementara itu di kediaman Allan, sudah dua hari Bintang tidak pulang, dia tetap di larang pulang oleh Allan sementara waktu Bintang ijin sakit.
Sementara Salsabila, menunjukkan sebuah kemajuan dimana, disaat dia tidak mengkonsumsi obat gadis itu terlihat baik-baik saja, sementara saat minum obat, gadis itu akan kelihatan seperti orang yang mengalami kerasukan.
Dan itu artinya, depresi berat yang dia alami, bukan alamiah tapi unsur kesengajaan yang dilakukan oleh para penjahat tersebut.
"Bagaimana bisa, kamu seperti ini"tanya Allan.
"Mereka ingin aku mati, karena kedua pemuda itu bukan orang sembarangan dia adalah anak seorang pengusaha sukses, mereka menjebak ku, keduanya menyakiti aku"
__ADS_1