Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Rahasia terbongkar#


__ADS_3

Pertengkaran Julia sering terjadi, setelah kedua orang tua Vino meninggal dunia.


Entah karena dia menyesali perbuatannya yang tidak pernah mengikuti keinginan kedua orang tuanya untuk meninggalkan Julia, atau karena ada hal lainnya.


Yang jelas sejak saat itu, Vino gampang sekali tersinggung gampang sekali marah saat Julia salah sedikit saja.


Namun setelah itu Vino akan berusaha untuk meminta maaf. awalnya Julia mengira jika Vino sedang memiliki masalah di kantor, hingga terbawa ke rumah.


Sampai saat Julia diam-diam menghubungi Luna untuk meminta bantuan Luna menanyakan semua itu pada suaminya Zaid yang sudah lama tidak berkunjung ke rumahnya.


Namun Julia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.


Julia pun terus bertanya-tanya hingga akhirnya ia mendatangi Zaid secara diam-diam namun atas persetujuan Luna.


Pria yang kala itu tengah berada di ruang baca tersebut menyambut Julia sewajarnya seperti biasa ketika mereka bertemu.


Namun saat Julia bertanya apa? ada masalah di perusahaan hingga saat itu, tapi Zaid malah menjawab pertanyaan Julia dengan pertanyaan yang membuat Julia semakin bertanya-tanya.


"Apa? sebagai istri kau tidak pernah bisa faham dengan sifat suamimu sendiri kenapa? harus bertanya kepada orang lain jika kamu sendiri tidak memahami suamimu yang notabene adalah orang yang paling dekat dengan mu. kenapa? harus bertanya pada ku... kami memang sahabat dekat bahkan sudah lebih seperti saudara tapi semua orang memiliki privasi jadi tidak semua hal harus dibicarakan Vino punya hak atas itu sekarang kau bisa bertanya langsung atau langsung mencari tahu apa? yang sebenarnya terjadi padanya."ucap Zaid panjang lebar.


Julia yang mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan itupun langsung bergegas pamit. namun ada satu hal yang membuat langkah Julia terhenti saat itu, saat Zaid kembali berkata.


"Jangan terpengaruh dengan isu apapun jika rumah tangga mu ingin tetap utuh."ujar Zaid yang membuat Julia menoleh tapi Zaid kembali fokus pada laptopnya.


Julia tau jika Zaid tau tentang apa? yang terjadi pada suaminya. tapi Julia tidak ingin lagi dianggap sebagai perempuan bodoh jika ternyata sesuatu yang besar terjadi tanpa sepengetahuan dirinya.


Bersamaan dengan hari itu Julia di telfon oleh Sanum karena Shania dan kedua adiknya akan segera menikah jadi mereka pun diminta untuk segera kembali ke Indonesia.


Sampai saat ini Julia masih belum bisa memecahkan teka-teki yang terjadi dalam diri suaminya itu.


Julia pun menyingkirkan tangan Vino, dia beralasan ingin buang air, sehingga Vino mengijinkan dia pergi dari hadapannya.


Tanpa Vino sadari saat ini sebenarnya Julia ingin menghindari Vino yang menurutnya semakin aneh itu.


Julia kini tengah duduk di dalam kamar mandi sambil menatap cermin yang seolah tengah mencari kesalahan yang ada pada diri Julia.


"Apa? yang sebenarnya terjadi kak, kenapa? sikapmu selalu berubah-ubah.


Sementara itu di sebuah rumah megah lainnya, seorang wanita kini tengah berusaha untuk menghubungi pria yang sudah hampir satu tahun ini menjadi suaminya atas perjodohan yang membuat si lelaki terpaksa menikahi dirinya meskipun dia sendiri teramat mencintai pria itu.


Siapa yang tidak mencintai pria yang terlampau sempurna itu, Selain gagah dan tampan rupawan harta kekayaannya juga begitu melimpah meskipun dirinya harus jadi istri kedua yang bahkan akan dikunjungi disaat dia mengancam pria itu dengan mengatakan bahwa kedua orang tuanya tidak akan pernah memaafkan dirinya ketika dia mengabaikan istri keduanya itu yang sangat di sayangi oleh kedua orang tua si laki-laki tersebut.


Dia kini tengah mengamuk seperti biasanya karena tidak kunjung mendapatkan kunjungan dari suaminya itu.

__ADS_1


Sementara sang suami yang di tunggu-tunggu kehadirannya itu. kini tengah menggedor pintu kamar mandi karena istrinya tidak kunjung kembali setelah pergi dari hadapannya tadi.


"Sayang,,, buka pintunya kamu sedang apa? di dalam kenapa? lama sekali,,, jangan bilang jika saat ini kamu sengaja menghindar ku."ucapnya.


Sampai beberapa saat kemudian saat istrinya membuka pintu, pria itu menatap tajam kearah istrinya.


"Apa? butuh waktu berjam-jam untuk buang air heuuh."ucapnya sambil menarik pergelangan tangan istrinya.


"Yank,,, aku salah lagi ya,,, begini saja kita akhiri semua ini jika kamu sudah tidak ada kecocokan dengan ku, silahkan tinggalkan aku... daripada kita terus seperti ini, kamu juga tidak akan bahagia."ucap Julia yang hampir saja terkena tampar oleh Vino jika saja Sanum terlambat datang.


"Sayang...adikmu."ucapan Sanum terhenti ketika melihat adegan itu.


"Ah ya,,, mom, sebentar lagi aku turun."ucap Julia."ucap Julia yang kini tersenyum pada sang ibunda dari balik badan suaminya yang kini masih mematung di tempatnya.


"Maafkan mommy terburu-buru masuk kedalam karena tadi mommy sudah berulang kali mengetuk pintu, tapi kamu tidak kunjung membukakan pintu. dibawah ada seseorang yang mencari Vino juga katanya orang rumah lama."ucap Sanum yang membuat Vino gelagapan.


"Ah itu karena tadi Vino meminta dia untuk melapor."ucap Vino yang buru-buru pergi menemui pria itu.


Julia yang penasaran pun langsung mengatakan bahwa dia akan pergi sebentar lagi ke bawah, karena ada yang harus dibereskan, tapi itu hanya sebuah alasan semata.


Sampai saat Sanum kembali ke bawah, Julia buru-buru mendekat ke arah balkon kamar yang bisa melihat kearah area depan Mension tersebut dan lobby, jadi dia bisa melihat siapa? yang datang termasuk dengan mobil yang masuk keluar gerbang yang terlihat jelas dari atas sana.


Hingga Julia melihat Vino mengikuti seorang pria yang kini berjalan beriringan menuju sebuah mobil mewah yang ada di depan garasi terbuka itu.


Tiba-tiba dia teringat akan kata-kata Zaid saat itu.


Julia pun akhirnya terduduk lemas di lantai dengan tangisnya yang pecah, betapa perihnya hatinya saat melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain yang bahkan berani' menyusul dirinya kesana.


Tidak lama setelah itu mobil itu pergi bersama wanita yang tadi.


Vino yang baru saja kembali, dari luar di cegat Sanum karena ingin meminta tolong untuk memanggil Julia karena telpon masih menunggu Julia yang kini tidak kunjung turun.


Vino pun hanya mengangguk pelan lalu kemudian berlalu pergi tanpa menghiraukan Zaid yang hendak memanggilnya.


"Ah manusia bodoh ini."lirih Zaid yang geram dengan apa? yang terjadi karena anak buahnya memberitahunya.


Sementara Vino kini masih mematung di tempatnya saat melihat istrinya baru kembali dari arah balkon dalam keadaan wajah basah dengan air mata kini berjalan melintasi dirinya begitu saja.


"Yank...ada apa? kenapa? kamu menangis."ucap Vino yang kini mengikuti langkah istrinya dengan cepat. tapi tidak ada jawaban sedikitpun dari Julia yang kini terus berjalan menghindari dirinya.


"Julia,,,!" teriak Vino memanggilnya.


Namun Julia seakan tuli dia terus pergi menuju ke luar kamar, dan tidak menghiraukan panggilan Vino.

__ADS_1


Sesampainya di bawah Julia menatap Zaid yang kini hendak menyapa dirinya namun Julia langsung melewatinya begitu saja.


"Sayang kamu kenapa?."ucap Sanum yang kini terlihat kebelakang Julia.


Sanum pun heran karena putrinya tidak berbicara sedikitpun dia bahkan langsung melewati dirinya dan terlihat mendekat ke arah keempat anaknya dan memeluk kedua anaknya yang dari Vino dia langsung menangis sesenggukan.


Anak-anak itu pun langsung menangis karena ibunya menangis sesenggukan sambil memeluk erat kedua.


"Sayang ada apa? ini lepaskan mereka, bicara dengan mommy."ucap Sanum yang kini meminta baby sitter itu untuk membawa keempatnya yang kini terlihat menangis.


Sanum hendak membawa putrinya kedalam sebuah ruangan, tapi tiba-tiba Vino menarik lengan Julia dan menyeret istrinya itu untuk pergi ke atas.


"Vino ada apa? ini jangan seperti ini lepaskan Julia."ucap Sanum.


Tiba-tiba Zaid langsung menarik Vino dan melepaskan genggaman tangan Vino di lengan Julia.


"Sekarang semuanya sudah jelas, kamu bisa langsung ceraikan aku,,, atau aku yang menggugat cerai,,,, kamu tinggal pilih karena sudah tidak akan ada lagi kebaikan dari seluruh kebohongan yang kau lakukan saat ini."ucap Julia.


"Stop!! Julia kau tidak bisa memutuskan apapun."ucap Vino yang hendak berbalik tapi Zaid langsung menarik Vino keluar.


"Ada apa? ini sayang."ucap Kenzie.


"Aku tidak tau apa? yang terjadi mas,,, mereka ada masalah tapi aku tidak tau."ucap Sanum yang kini menangis sesenggukan, begitu juga dengan Julia yang langsung bergegas pergi.


Kekacauan itu terus terjadi sampai saat Zaid datang dan menjelaskan semuanya terhadap Kenzie dan Sanum.


"Ceraikan putriku sekarang juga!."ucap Sanum yang benar-benar merasakan sakit yang teramat sangat, saat mengetahui bahwa selama ini putrinya tidak pernah diterima oleh kedua orang tua Vino yang sudah tiada dan sekarang dia dikhianati pula.


Sanum yang kini menatap tajam kearah Vino yang baru saja datang dari luar.


"Pergi dari rumah ku, dan jangan pernah kembali lagi,,,,, aku yang akan mengurus surat gugatan cerai untuk putriku yang selama ini ternyata kamu hanya berikan dia kepedihan."ujar Sanum.


"Sayang kita bisa bicara baik-baik oke."ucap Kenzie.


"Tidak mas, aku tidak mentolerir pengkhianatan terhadap siapapun,,, apalagi ini putriku sendiri oh... tuhan kenapa? putriku harus menerima Kemalangan ini, seharusnya aku sudah bisa menebak perlakuan mu tadi pada putri ku."ucap Sanum yang kini tengah meluapkan amarahnya.


Sementara Vino, kini tengah berusaha untuk menemui Julia yang sedari tadi mengurung diri di dalam kamar.


Junior dan Junho kini hanya menatap keributan yang terjadi dari dinding kaca yang tembus pandang ke arah dalam.


Dimana? keempat orang dewasa kini tengah berdebat.


"Julia buka pintunya kita harus bicara sayang aku minta maaf."ucap Vino.

__ADS_1


Tapi tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar itu.


__ADS_2