
Mikaila yang sempoyongan kini tengah bersandar di jok penumpang samping jok kemudi.
Wanita muda itu kini tengah meracou tentang seluruh unek-unek nya.
Pada saat itu dia juga menyebutkan rasa kecewanya saat datang ke rumah Vino dan ke perusahaan karena dia tidak sedikit pun diterima dengan baik di dua tempat tersebut.
Vino, cukup kaget saat mendengar jika Mikaila datang ke rumah hanya untuk memberikan kado pernikahan, dan ternyata gadis itu menepati janji nya.
Sampai saat Vino tiba di apartemen pribadinya dia pun menggendong Mikaila membawa gadis itu, masuk kedalam unit nya karena unit mereka hanya berbeda lantai.
Sampai di dalam unit apartemen miliknya dia membawa Mikaila ke sofa dan membaringkan dia disana, dia akan membiarkan wanita itu mengatakan semua sebelum dirinya mengantar Mikaila pulang.
Sementara Mikaila tidak bicara apa-apa lagi dan ternyata dengkuran halus itu terdengar sangat pelan hingga akhirnya Vino membawa gadis itu ke kamar tamu, dia tidak mungkin membawa Mikaila dalam keadaan tidur ke unit apartemen milik wanita itu karena Vino yakin jika Mikaila sudah mengganti kunci pintu apartemen tersebut.
Setelah menyelimuti gadis itu akhirnya Vino pun keluar dari dalam kamar tersebut dan menutup pintu kamar itu, setelahnya ia kembali ke dalam kamar pribadi nya.
Vino, pun sudah tidak sabar ingin segera pagi karena ingin bertanya pada Mikaila tentang semua yang tadi ia katakan.
Sampai Vino terlelap dalam tidurnya hingga pagi tiba, dia buru-buru bangun lalu masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan diri sebelum bersiap untuk pergi ke perusahaan.
Tapi dia akan menyambangi Mikaila lebih dulu sebelum dia pergi ke kantor.
Sampai dia selesai bersiap dan kini sudah sangat rapi, dia tampak sangat tampan dan gagah dengan stelan jas mahal yang sering ia kenakan selama ini. karena dia tidak pernah menggunakan barang murah selama ini bahkan sejak penyamaran itu, dilakukan pria itu masih menggunakan pakaian yang benar-benar branded.
Dia kaget saat melihat kamar itu sudah kosong, tanpa dia sadari semalam saat dia tertidur pulas, wanita itu sudah pergi sejak sadar bahwa itu bukan kamarnya.
Mikaila takut jika sesuatu yang buruk akan benar-benar terjadi.
Wanita itu langsung pergi menuju unit apartemen milik nya setelah tau jika dia sudah berada di gedung apartemen yang sama dengan kamar yang ia tempati tadi.
Sesampainya di sana Mikaila langsung mandi dan berganti pakaian lalu tidur dengan menggunakan lingerie.
Sampai saat suara bel pintu terus berbunyi Mikaila yang merasakan kepalanya sangat pusing itupun langsung bangkit menuju ke luar kamar, untuk membuka pintu masuk, dia melihat jam masih terlalu pagi entah siapa? yang datang bertamu di jam segini.
Dia bahkan masih terus menguap hingga akhirnya ia tiba di depan pintu dan membuka pintu tersebut muka bantal nya masih sangat terlihat jelas.
"Siapa? ujar Mikaila yang kini menyandarkan kepalanya yang masih terasa sangat pusing itu ke pintu.
Tapi bukan menjawab pria yang kini berada di hadapannya, dia malah menelan Saliva karena melihat penampilan Mikaila yang bahkan mungkin tidak sadar jika lingerie yang ia kenakan sungguh sangat menerawang.
"Mika,,, bangun sudah siang,,, cepat masuk kamu ceroboh banget."ujar Vino.
"Apanya? yang ceroboh."ujar dia masih memegangi kepalanya.
"Kamu tidak sadar dengan yang kamu kenakan saat ini. ucap Vino yang langsung mendorong wanita itu agar segera menyingkir dari pintu takut ada orang lain yang melihat itu.
Sampai saat Mikaila membuka mata lebar-lebar tiba-tiba gadis itu menjerit dan berlari menuju kamarnya.
Mikaila buru-buru mengambil kardigan untuk menutup tubuh nya yang terlihat menerawang dibalik lingerie seksi yang ia kenakan saat ini.
"Ah,, sial kenapa? harus berkunjung kemari."gerutu Mikaila.
Gadis itu langsung masuk kedalam kamar mandi dan mencuci muka juga menggosok gigi dengan cepat setelah itu dia berganti pakaian dengan daster pemberian dari sahabatnya dulu saat masih SMA.
Setelah selesai menyisir rambut nya dan mengikat nya secara. asal dia baru kembali menemui Vino, setidaknya wajahnya jauh lebih baik dari saat pertama Vino datang.
Dengan menahan rasa malu dia memberanikan diri untuk duduk di hadapan Vino.
"Mau minum apa? biar aku buatkan."ujar Mikaila.
"Kopi sekaligus sarapan pagi untuk ku."ujar pria itu tanpa ragu.
"Kenapa? apa? sudah tidak punya uang untuk membeli sarapan pagi sendiri."ujar Mikaila sambil lanjut berjalan.
"Aku belum sempat belanja untuk kebutuhan sehari-hari, nanti temani aku belanja."ujar Vino.
"Aku sibuk hari ini ada kuliah hingga sore."ujar Mikaila.
"Malam hari mall masih buka."ujar Vino tidak mau kalah.
__ADS_1
"Aku tidak punya waktu karena harus fokus belajar, lagipula aku masih ada tugas."ujar wanita itu sambil memanggang roti dan juga menuang kopi dan susu kedalam dua gelas itu dengan cepat, setelah itu dia membolak-balik roti yang dia panggang di atas pen lalu membuat telor mata sapi dan menyiapkan bahan lainnya yaitu menyiapkan selada dan irisan tomat tidak lupa juga dengan mayonaise.
Gerakan Mikaila sungguh sangat cepat tidak perlu lama dua buah sandwich pun jadi begitu juga segelas kopi dan juga susu yang tadi ia buat.
Sementara Vino hanya diam melihat gerakan Mikaila yang super cepat itu.
Sampai saat Mikaila menata itu di meja tidak lupa juga potongan apel, untuk ia makan setelah memakan sandwich nanti.
"Kulkas ini terlihat baru dan semua perabotan dan juga tata letak nya, kapan? kamu mengganti semua ini."tanya Vino.
"Tidak perlu tau, Oya,,, barang-barang milik kak Vino sudah dikemas kedalam koper."ujar Mikaila.
"Mika,,"ujar Vino seakan tak terima.
"Ada apa? sudah seharusnya aku lakukan itu menjauh dari pria beristri, adalah hal yang paling utama yang harus aku lakukan. dan ini adalah sarapan pagi terakhir kita, setelah ini jangan pernah temui aku di manapun kita bertemu jangan pernah menyapa ku."ujar wanita itu.
"Mika."
"Aku tidak ingin ada orang salah faham aku tau bahkan keluarga kakak sudah minta kakak untuk menjauhi ku, jadi sudahlah semua yang mereka katakan memang sangat benar, aku memang tidak pantas berteman dengan siapapun, sudah sekarang lebih baik nikmati sarapan pagi nya, aku akan segera siap-siap."ujar Mikaila.
"Mika."ujar Vino lagi pria itu hendak meraih tangan Mikaila Namun Gadis itu menghindari itu.
"Mika please jangan seperti ini."ujar Vino.
"Kak, kopinya dingin."ujar Mikaila lagi.
Pria itu langsung merraih sandwich milik Mikaila yang kini berada di tangan Mikaila, bahkan sudah di cicipi oleh wanita itu tanpa ragu Vino langsung melahap nya.
"Sandwich ku."ujar Mikaila namun terlambat sudah tinggal satu gigitan lagi akan habis.
"Ini sarapan ternikmat yang aku makan besok buatkan lagi, untuk bekal ke kantor."ujar Vino tanpa rasa bersalah , jika Mikaila tetap kekeuh ingin membuat jarak diantara mereka. maka Vino akan mengikis jarak itu.
"Kak,,, apa? kamu tidak mendengarkan kata-kata ku, tidak."ucapan Mikaila terhenti saat Vino tiba-tiba menempelkan telunjuk nya di bibir manis itu.
"Aku tidak akan mendengar apapun, mulai hari ini aku akan kembali tinggal bersama dengan mu disini."ujar Vino.
"Aku pulang ke Mension."ujar Mikaila.
Mikaila pun langsung meneguk susu miliknya dan memakan potongan apel itu.
Tanpa menghiraukan Vino yang kini ingin memberikan sandwich milik nya.
"Sayang makan ini."ujar Vino.
Mikaila tetap tidak menggubris Vino.
Hingga gadis itu hendak beranjak pergi, namun Vino menarik pergelangan tangan wanita itu.
"Duduk dan makan ini."ujar Vino.
"Aku sudah kenyang."ujar Mikaila.
"Jangan buat aku memaksa mu, apa? kamu ingin aku menyuapi mu dengan bibir ku."ancam pria itu.
"Heumm,, baik'lah."ujar Mikaila yang langsung melahap sandwich yang hampir dingin itu.
"Bagus sayang kamu memang lebih baik menurut."ujar pria itu sambil tersenyum.
"Jangan panggil aku seperti itu."ujar Mikaila.
"Heumm,,, itu panggilan yang aku sukai untuk calon istri ku."ujar Vino.
"Cepat bangun dari tidur mu tuan, karena hari sudah siang bahkan kau sudah terlambat untuk mendapatkan semua mimpi mu."ujar Mikaila yang langsung pergi meninggalkan pria itu di meja makan.
"Mika,, tunggu Mika,, kamu tidak akan pernah bisa menjauhi ku sampai kapan pun!."ujar Vino tegas.
"Kita lihat saja."ujar Mikaila.
Vino pun pergi meninggalkan apartemen Mikaila dia ingin segera tiba di kantor untuk melihat kado yang Mikaila berikan.
__ADS_1
Sementara wanita itu tengah bersiap untuk pergi ke kampus, saat ini dia memiliki banyak tugas, yang harus segera diselesaikan sebelum liburan nanti karena rencananya mereka akan pergi ke Jepang seperti rencana geng sosialita yang sudah resmi menjadi temannya itu.
Sesampainya di kampus, Mikaila kini sudah berada di dalam kelas, wanita itu duduk di samping teman nya meskipun tidak seakrab pertemanan biasanya hanya sampai kenal saja tapi tidak sampai akrab banget.
Mikaila mulai membuka laptopnya, rencananya sebelum dosen masuk dia ingin menyelesaikan tugas yang sempat tertunda kemarin.
Hampir tiga puluh menit lamanya tugas itupun selesai dia kerjakan dan langsung mengirimkan itu lewat email.
Sampai suara seseorang yang tidak asing di telinga Mikaila kini terdengar nyaring.
Wanita itu tidak sedikitpun mau melirik nya, dia bahkan tidak fokus dengan apa? yang dosen itu sampaikan hingga dosen itu menghampiri Mikaila dan memberikan lembar tugas yang cukup tebal.
"Masing-masing kelompok harus memiliki keunggulan dalam menjawab soal itu."ujar Gidion di samping Mikaila.
Wanita itu masih tetap tidak melihat kearah pria itu.
Sampai saat Mikaila membuka dan meneliti semua soal yang dia dapat saat ini.
"Waktu kalian hanya dua jam setelah itu kalian harus segera menyetorkan tugas itu ke ruangan saya perwakilan ketua kelompok masing-masing"ujar pria itu lagi.
Mikaila langsung menjawab semua itu tanpa perduli dengan rekan nya yang kini berada di hadapannya.
Aku akan menyelesaikan ini jauh lebih cepat jika kalian ingin membantu silahkan berikan pendapat kalian dan tulis jawab kalian."ujar Mikaila yang kini langsung mengeluarkan sebuah buku catatan.
Karena saat ini mereka pun mulai membagikan tugas yang ia ambil dari meja Mikaila gadis itu sedikit merasa lega.
Hingga satu jam berlalu Mikaila sudah selesai mengerjakan tugas bagiannya namun mereka belum selesai baru selesai setengah, Mikaila akhirnya tepok jidat.
"Kalian kesulitan mejawab tugas itu."ujar Mikaila.
Ketiga temannya itu mengangguk hingga Mikaila kembali membantu mereka.
Sampai saat waktu yang ditentukan akhirnya Mikaila selesai mengerjakan tugas itu.
"Aku tidak enak perut tolong wakili aku untuk menyetorkan tugas ini."ujar Mikaila yang buru-buru pergi menuju toilet sambil membawa handphone baru nya itu.
Sesampainya di depan pintu toilet dia langsung menghubungi seseorang dia membuat janji temu dengan geng sosialita nya.
Obrolan mereka berlanjut hingga saat Mikaila keluar dari dalam toilet, dan menabrak seseorang tepat di dada bidang pria yang sudah hampir satu jam menunggu di ruangan nya itu.
Selama satu jam Mikaila asik mengobrol di dalam toilet bersama dengan geng sosialitanya itu.
"Ups...maaf tidak sengaja, sebentar ya sis,,, aku mengalami tabrakan, tapi bukan lalulintas."ujar Mikaila menghentikan obrolan mereka.
"Ikut aku."ujar Gidion.
"Maaf Mr, saya tidak punya urusan dengan anda tugas saya pun sudah disetor sedari tadi kan."ujar Mikaila.
"Jika sudah disetorkan saya tidak akan repot-repot menyusul kamu kemari."ujar Gidion datar.
"Sialan,,, awas saja kalian."ujar Mikaila yang sudah tidak seperti dulu lagi, wanita yang lemah lembut itu seakan sudah lenyap ditelan oleh rasa sakit yang selama ini ia alami.
"Mika,,, apa? ini."ujar Gidion saat Mikaila memeriksa lembar demi lembar tugas yang kosong melompong itu.
"What's...!!"teriak Mikaila.
"Saya bahkan memberikan waktu sampai tiga jam lamanya untuk melihat jawaban yang mengecewakan ini."ujar pria itu.
"Jangan bercanda Dion,, eh Mr Gidion yang terhormat saya sudah mengerjakan semua tugas itu, dan anda bisa cek kamera Cctv di ruangan itu."ujar Mikaila yang kini beranjak dari hadapan Gidion.
Namun baru saja Melangkah ucapan Gidion sudah bisa menghentikan langkah nya itu.
"Aku tau kamu tidak lagi ingin melihat ku, tapi setidaknya kamu haru profesional mika,, jangan hubungkan semua ini dengan masalalu kita."ujar Gidion.
Deg,,,,
Seakan dihantam bongkahan batu besar, dada wanita itu terasa sangat sesak dan sakit, Mikaila sempat mematung di tempatnya, hingga dia memberanikan diri untuk menatap Gidion setelah mengusap air mata nya.
Dengan senyum sinis Mikaila lalu berkata"Heuhhhhh,,, masa lalu Mr bilang,,, aku bahkan sudah tidak ingat apa? kita pernah punya masalalu, tapi yang jelas saat ini saya merasa bersyukur jika tuhan benar-benar menghapus semua masalalu yang sangat menyakitkan itu, permisi tuan terserah anda mau memberikan penilaian atau tidak atas hasil kerja keras itu, yang jelas saya tidak perduli."ujar gadis itu langsung berjalan cepat meninggalkan ruangan tersebut tidak perduli dengan panggilan dari Gidion.
__ADS_1
Mikaila sempat berhenti sejenak, lalu dia berlari ke kelas mengambil laptopnya dan kembali berlari menuju parkiran dimana mobilnya berada, dia benar-benar sedang butuh minuman untuk membuat dia melupakan rasa sakit itu.