
Kenzie, kaget saat mendengar kabar, bahwa Devan, benar-benar akan menikah lagi, setelah satu Minggu, lalu berkunjung ke rumah nya.
Selain, permintaan Deswita dan Ardi, yang sudah mengetahui hubungan Devan, dengan istrinya, dan istrinya tidak bisa memiliki anak, akhirnya, Devan,pun mengikuti keinginan kedua orang tua nya dan istrinya pun,ikhlas demi kehadiran pewaris tahta, meskipun hatinya perih.
Kavita, hanya duduk diam di rumah dia tidak ikut ke tempat pesta pernikahan itu, meskipun Devan, sudah berulang kali memohon agar Kavita, menggagalkan acara pernikahan tersebut, tapi istrinya, lebih meminta perpisahan, jika Devan, berani menolak keinginan keluarga nya, karena sudah bisa dipastikan bahwa dia, yang akan disalahkan atas semua itu.
Kavita, membasuh wajah nya berkali-kali, dia ingin berhenti menangisi, takdir yang tidak akan pernah bisa diubah, saat ini wanita itu sudah sangat lelah, dengan semua itu, jalan terakhir untuk membuat penderitanya berakhir Adalah, akhiri hidupnya.
"Maafkan aku mas, bukan aku tak mencintai mu, tapi aku tidak ingin terus bertahan melawan takdir hidup, yang terasa sangat kejam ini, semoga kalian bahagia"tulis Kavita.
Dia tidak menyalakan pernikahan Devan, dan keinginan kedua orang tua Devan, tapi dia menyalakan takdir hidupnya, saat ini.
Pisau cukur yang tajam itu berhasil menggores pergelangan tangan nya, hingga darah segar langsung meluncur deras dari nadinya yang terpotong, perlahan pandangan nya mengabur dia melihat mantan suami nya, dan mantan mertuanya yang tengah menertawakan dirinya, dia juga melihat senyum dari kedua pasangan pengantin baru itu dan.
Bughh...... Kavita terjatuh di lantai.
Istri mana yang rela dimadu jika, dia bisa menjadi istri yang sempurna, tapi dia akan berusaha kuat, karena di tuntut kuat oleh keadaan.
Berbeda dengan Kavita, yang memilih jalan lain, saat ini, wanita itu sudah sadarkan diri, saat seseorang berlari kencang, membawa seseorang di dalam gendongan nya.
"Dokter, tolong istri ku, Dokter, tolong!" suaranya sampai hampir habis, Devan, yang langsung pergi setelah proses ijab qobul, dilakukan, untuk memastikan bahwa istrinya, baik-baik saja karena sedari tadi sudah tidak bisa dihubungi, ternyata kegelisahan nya, terbukti benar, istrinya, tidak bisa sekuat ucapan dia saat meyakinkan dirinya.
"Kavita, sayang kamu sudah berjanji akan menemaniku sampai akhir hayat kita nanti, sayang tapi bahkan saat ini kamu mengingkari janji mu itu, bangun sayang bangun"ucap Devan, yang sedari tadi mengguncang tubuh istri nya yang sudah terbujur kaku, Devan, tidak mau menyerah, saat dokter mengatakan bahwa, istrinya telah tiada.
Semua, peralatan medis yang menempel di tubuh Kavita, hendak di lepas, tapi Devan, tidak mengijinkan nya, dia yakin, istrinya akan segera selamat, setelah mendapatkan pertolongan, tapi tuhan berkata lain, Kavita, benar-benar sudah pergi, tidak ada lagi Kavita, yang periang meskipun, hidupnya serba kekurangan, tidak ada lagi Kavita, yang penyabar selama ini, setelah lima tahun menikah secara diam-diam, mereka terus berusaha untuk bisa memiliki anak, tapi tidak kunjung datang, hingga Kavita, dinyatakan meninggal dunia oleh dokter, setelah usai operasi penyambungan urat nadi.
"Kavita, jika kamu tidak bangun juga, Abang, akan menyusul mu, sekarang juga, Abang mohon, sayang Abang mohon, bangun sayang"ujar Devan.
"Tuan, ini sebuah keajaiban!"teriak dokter.
Tiba-tiba detak jantung itu, kembali muncul, wanita itu kembali hidup, semua berkat keajaiban, setelah satu jam lebih Devan, menangis sesenggukan sambil berteriak-teriak bahkan mengguncang tubuh istri nya itu.
Hingga akhirnya, alat medis itu kembali di pasang di tubuh istri nya, setidaknya, Kavita, masih bernyawa, meskipun belum bisa sadarkan diri.
Devan, meminta dua orang perawat untuk menjaga istrinya, sampai saat dia kembali dari rumah, untuk mengambil semua keperluan mereka, tapi saat tiba di rumah nya Devan, dibawa paksa untuk mengikuti acara resepsi, pria itu sudah menolak keras, tapi sang mommy, memohon sampai berlutut, dan akhirnya Devan, tidak bisa berkutik, saat ibunya, memohon.
Sampai akhirnya, resepsi pernikahan digelar dan saat malam pertama tiba, tepat pukul dua dini hari, Kavita, tersadar, dia langsung berusaha untuk bangkit, dan mendudukkan dirinya di tepi ranjang, disaat kedua orang perawat terlelap, Kavita, yang kini telah sedikit lebih baik, setelah darah dalam tubuh nya, kembali normal
Kavita, melepaskan, semua alat yang menempel di tubuh nya, dan mengendap-endap berjalan menuju, keluar kamar, Kavita, tidak mau tinggal di rumah sakit, dirinya, ingin pergi sejauh mungkin.
Sampai dia tiba di depan parkiran rumah sakit, Kavita, menghentikan taksi, dia langsung masuk dan meminta di antar ke rumah lama nya, yang bahkan tidak pernah Devan, ketahui, karena itu adalah rumah peninggalan ibunya.
Sesampainya di sana, Kavita, meminta supir taksi itu menunggu nya, karena, wanita itu tidak memegang uang sama sekali, tapi dia masih punya beberapa perhiasan emas, yang mungkin tidak seberapa dibandingkan cincin kawin yang dia kenakan.
__ADS_1
Kavita, pun masuk ke dalam rumah tersebut beruntung kunci rumah itu masih tersimpan utuh di bawah pot bunga, yang sudah mengering karena tidak lagi di siram.
Wanita itu, dengan susah payah, membuka kunci yang sedikit macet tapi akhirnya bisa juga, setelah sopir taksi yang baik hati itu membantu nya, dan kemudian dia kembali ke mobil, setelah berkata bahwa Kavita, tidak usah membayar jika tidak ada uang, tapi Kavita meminta pria itu menunggu dan sampai Kavita kembali dia memberikan cincin emas seberat dua Gram termasuk surat nya.
Itu bahkan lebih dari cukup, dan sopir taksi itu sangat berterimakasih, selanjutnya setelah taksi itu pergi, Kavita, membersihkan rumah nya sedikit demi sedikit meskipun kesulitan, setidaknya masih ada lilin untuk penerangan sebelum aliran listrik kembali di sambung, setelah diputus, karena ditinggal dalam waktu yang lama.
Dia pun tertidur pulas hingga pagi menjelang setelah cahaya matahari masuk lewat celah gorden, rumah sederhana dua lantai itu, sudah terbuka bagian gorden rumah nya itu.
Kavita bangkit untuk menyalakan aliran air PAM, yang sudah lama di tutup, beruntung masih menyala, sebelum di kembali mengurus semua nya.
Kavita, meminta bantuan, kepada sepasang paruh baya, untuk membersihkan rumah nya, tidak hanya itu dia juga meminta jasa pelayanan listrik dan air, setelah semua kembali nyaman untuk ditempati, dia menjual perhiasan yang ada, untuk semua biyaya itu ada sisa, sedikit setidaknya sampai pergelangan tangan nya sembuh dia akan kembali berjualan bunga, seperti dulu menjajakan bunga-bunga di jalanan atau bahkan alun-alun kota.
Sementara itu, Devan, langsung pergi menuju rumah sakit tersebut saat mendengar kabar bahwa istrinya hilang, atau kabur Devan, benar-benar frustasi.
...š¼......š¼...
Hari demi hari, Devan, lalui dengan kesibukan mencari istri kesayangan nya, hingga beberapa bulan sudah, dia tidak kunjung menemukan Kavita, dan kini istri keduanya tengah hamil muda.
Setelah pernikahan nya, jalan lima bulan, tapi Devan, tidak kunjung putus asa mencari Kavita, istrinya, dia berjanji pada dirinya sendiri jika suatu saat nanti, dirinya, menemukan sang istri, dia akan mengurungnya di rumah, dan tidak akan ia biarkan keluar selain, saat bersama dengan nya.
Sementara, seorang wanita yang kini tengah hamil, dengan usia kandungan sudah enam bulan lebih, tengah berdiri di pinggir jalan raya, dengan membawa keranjang bunga, sambil melihat kanan kiri, wanita yang sudah dinyatakan hamil, saat dia memeriksakan kondisi luka bekas operasi tersebut, dia seakan menemukan oase di tengah Padang pasir yang gersang.
Kavita, ya... dia adalah Kavita, yang memutuskan untuk membereskan anak nya sendiri.
Sementara, mobil yang melintas di jalan itu, sempat menghentikan lajunya, tapi saat dia hendak mendekat, wanita itu pun berlalu di tengah keramaian jalanan, ditengah lalu lalang kendaraan, Kavita, tidak ditemukan oleh Devan, yang kini menyusui jalanan yang dilewati oleh wanita, yang dia yakini sebagai Kavita, wanita cantik alami meskipun tanpa polesan makeup itu, menggunakan long dress di bawah lutut dengan motif bunga-bunga bahkan dia membawa bunga di keranjang yang lumayan besar, dan yang membuat Devan, tak percaya, perut wanita itu tengah hamil besar.
"Dimana? kamu sayang, apa? sebegitu bencinya kah kau padaku, apa? tidak salah yang aku lihat tadi, apa..? benar kamu hamil dan apakah itu anak kita,atau kamu sudah menikah kembali, tapi itu tidak mungkin"ujar Devan.
"Devan kembali ke mobilnya, sampai akhirnya pergi, sementara sedari tadi Kavita bersembunyi di balik tiang listrik yang besar di samping jalan tersebut meskipun dalam keadaan hamil, tapi tubuhnya tetap ramping, hanya bagian perut yang menonjol besar, karena dia, tengah hamil anak kembar.
Sementara kehamilan istri Devan, yang ada di rumah, itu adalah kehamilan buatan, wanita itu rela berbohong demi mendapatkan warisan, segala cara dia lakukan.
Bahkan hingga bekerja sama dengan dokter kandungan tersebut.
"Bagaimana cara nya bisa hamil sementara suaminya, tidak pernah menyentuh nya, sementara itu, kehamilan itupun atas jebakan dirinya, yang berpura-pura tidur dengan suaminya dalam keadaan khilaf.
Satu Minggu berlalu sejak saat itu, Devan, tidak pernah menyerah dia, bahkan bertanya kepada orang yang berada di sekitar sana, untuk menanyakan keberadaan wanita, yang membawa keranjang bunga, dan kebetulan, dia bertemu dengan seorang yang sering membeli bunga dari Kavita, selain suka bunganya, wanita itu juga merasa kasihan, disaat kehamilan nya yang sudah sangat besar, tidak berhenti bekerja keras, untuk mengais rezeki, dan Devan, mendapatkan alamat wanita yang dia cari selama enam bulan tersebut.
Tepat, pada pagi hari, Devan, menghentikan mobilnya di samping pagar rumah sederhana itu, dia melihat wanita yang selama ini ia rindukan berada di hadapan nya, tengah menyiapkan bunga, yang akan dia jajakan, di pinggir jalan, bergelut dengan debu dan polusi.
"Sayang, kamu tega berbuat seperti ini"ucap Devan, yang kini berdiri di hadapan Kavita.
Wanita itu sempat mematung, sebelum akhirnya dia berbalik.
__ADS_1
Bruk...
keranjang bunga itu terjatuh di lantai teras rumah nya, sementara itu di air mata Kavita, terus mengalir deras wanita itu bahkan tidak kuasa untuk berkata-kata, dia tidak tahu jika Devan, akan terus mencari keberadaan nya.
"Apa? kamu tersesat dan lupa jalan pulang sayang, jika benar kenapa? bahkan kau tidak pernah mau hadir, dalam mimpi ku, untuk memberi ku petunjuk, kenapa?"ujar Devan.
"Karena sudah ada dia di sisimu, kamu tidak butuh aku lagi, karena aku tidak berguna, meskipun terus berada di sisi mu"ujar Kavita datar, bahkan dia mengusap kasar air mata nya, dia sedikit membungkuk untuk meraih keranjang keranjang bunga tersebut.
Kavita, hendak berbalik dan pergi sambil menenteng keranjang bunga yang lumayan berat itu, tapi Devan, meraih tangan nya.
Devan, merebut keranjang bunga tersebut dan melemparnya ke sembarang arah.
"Yang kamu tidak bisa lakukan itu, kamu punya aku, yang bertanggung jawab dalam hidup mu, dan anak kita, kamu tidak harus bekerja keras untuk makan atau biyaya melahirkan, kamu tidak se-miskin itu"ujar Devan.
"Yang kaya itu, kamu dan keluarga mu, bukan aku, mas aku orang tak punya, dan bahkan rumah peninggalan orang tuaku, jauh beda dengan rumah mu, jadi aku harus bekerja keras untuk menghidupi kami bertiga, ujar Kavita, yang hendak memunguti bunga-bunga yang berserakan di lantai tersebut.
"Hentikan yang, aku mohon, hentikan, Kavita!"teriak Devan, memohon kepada Kavita, agar tidak melakukan hal itu, tapi Kavita, terus melakukan itu, hingga bunga itu tersusun rapi kembali, meskipun ada beberapa yang rusak.
"Aku sudah ditunggu pelanggan, mas boleh pulang"ucap Kavita, yang melangkah meninggalkan Devan, tapi baru saja dua langkah, Devan, langsung meraih tubuh Kavita, yang kini melayang di udara, Devan, akan membawa istri nya pulang.
"Lepas mas, disini rumah ku, aku sudah menyiapkan semua nya untuk lahiran anak ku, semua sudah aku beli"racau Kavita.
"Kau punya segalanya di rumah kita sayang, jadi jangan coba-coba untuk kabur lagi dari ku"ujar Devan.
"Aku lebih bahagia hidup seperti ini, daripada ditempat mu, aku bukan lagi prioritas bagi mu, aku hanya benalu"ujar Kavita.
Tapi Devan tidak mau peduli pria itu tetap membawa Kavita, pulang ke rumah nya, rumah mereka, bukan rumah yang dibelikan Adri, untuk istri keduanya.
Sesampainya di sana, Devan langsung meminta pelayan untuk mengunci pintu dan jendela, tidak ada yang boleh membiarkan istrinya pergi lagi, Devan bahkan melakukan penjagaan di pintu dan jendela Mension.
"Sayang ayo mandi"ucap Devan.
"Aku tidak membawa baju ganti"ujar Kavita.
"Sayang!"bentak Devan, karena wanita itu menganggap bahwa dirinya orang asing di sana.
"Sayang, aku tau aku salah, tapi apa? kau belum puas menghukum ku"lirih yang kini tengah berlutut di hadapan Kavita.
"Mas, aku benar-benar tidak bawa baju, dan.baju lama ku, tidak akan muat lagi.
"Semua itu,aku akan berikan sayang semua yang kamu dan anak kita butuhkan"ujar Devan.
"Aku tau mas mampu melakukan hal itu, tapi aku tidak ingin menjadi beban untuk siapapun lagi"ujar Kavita.
__ADS_1
"Kau bukan beban sayang "