Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Minggat#


__ADS_3

Tepat malam setelah pernikahan kedua kakak Shania, tiba-tiba menghilang dari rumah, dia bahkan tidak membawa apapun saat pergi dari Mension tersebut.


Shania yang merasa kecewa dengan sikap Arvin yang terlalu mematuhi peraturan tersebut membuat gadis itu seakan tak dipedulikan oleh kekasihnya itu.


Shania pun pergi dari rumah tepat saat seluruh keluarganya tertidur pulas karena kelelahan, dia tidak membawa mobil atau apapun itu dia hanya pergi membawa selembar uang kertas berwarna merah.


Dia bahkan tidak peduli dengan penampilannya saat ini yang kini menggunakan celana jeans panjang topi Hoodie dan masker, seakan dirinya ingin memata-matai seseorang.


Namun tetap yang dia tuju saat ini adalah tempat yang tidak biasanya ia kunjungi.


Dia pergi ke sebuah rumah yang sangat sederhana, yang pernah ia dengar dari teman-temannya bahwa di rumah itu adalah tempat persembunyian terbaik saat mereka tengah berada di dalam masalah.


Shania yang tiba disana pun mulai bingung harus melakukan apa? karena ternyata disana adalah rumah seorang ustadzah yang sering mengajar mengaji anak-anak jalanan.


Sampai sepuluh menit kemudian, Shania masih mematung di tempat tersebut. tiba-tiba pintu terbuka lebar wanita yang terlihat tenang dan penuh kelembutan itu tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya.


"Nona,, saya tidak punya waktu untuk mengobrol di luar, karena yang bertanda di dalam masih banyak yang membutuhkan saya, sebaiknya anda kembali ke keluarga anda karena mereka akan menanggung malu jika anda kabur disaat hari pernikahan anda akan digelar, hanya karena anda marah dengan calon suami anda yang sebentar lagi tiba di sini membatalkan rencana anda."ucap wanita itu.


"Shania."tiba-tiba Arvin sudah berdiri di belakang Shania.


Bagai di tertusuk pisau belati yang tumpul, itulah gambaran hati Shania saat ini.


Tapi tiba-tiba pandangan mata menjadi gelap dan saat Shania bangun sudah berada di dalam kamarnya itu.


"Ah,,, mimpi."ucap Shania yang kini mengucek matanya itu.


Sementara Arvin yang sedari semalam tidak tidur karena dia harus mencari Shania yang ternyata ada di rumah singgah.


Beruntung pria itu memasang alat GPS di kalung yang Shania kenakan waktu itu.


Arvin kini tengah menatap kearah langit-langit kamarnya, dia tengah bersiap untuk memulai aktivitasnya itu.

__ADS_1


Meskipun Arvin tidak sempat memejamkan mata nya karena terus kepikiran aksi nekad dari calon istrinya itu.


Arvin pun bergegas untuk mandi dan berganti pakaian sebelum dia kembali bekerja di kantor.


Setelah selesai berpakaian dan terlihat sudah sangat rapi, akhirnya Arvin menemui ketiga sahabatnya yang kini berada di meja makan tengah menunggu dirinya dengan kedua orang tua Diego.


"Maaf lama menunggu maklum tidak bisa tidur, jadi beginilah aku merasa seperti kurang energi."ucap Arvin.


"Vitamin itu, ada di calon istrimu ia kan."ucap Diego sambil terkekeh.


"Bisa jadi ya, bisa juga tidak karena yang jelas saat ini rasanya lebih mengerikan."ucap Arvin lagi.


Percakapan itu berakhir saat mereka mulai menyantap sarapan pagi mereka masing-masing.


Sementara hal yang sama terjadi di Mension tersebut dimana Shania kini terlihat lesu, dan tidak ingin bicara sepatah kata pun.


Sehingga menimbulkan tanda tanya besar bagi seluruh keluarga, karena tidak biasanya gadis periang dan manja itu diam seribu bahasa.


"Ada apa? sayang... apa? ada masalah."tanya Sanum.


Sampai saat selesai lebih dulu, dia langsung bergegas pergi kembali ke kamarnya.


"Aku tidak akan berbicara dengan siapapun, sampai kalian mengabulkan permohonan ku untuk bertemu kak Arvin."ucap Shania lirih.


Gadis itu duduk di tengah ranjang sambil menonton drama Korea terbaru yang mengisahkan tentang cinta tak sampai karena kekasihnya dinikahi oleh orang lain.


Shania langsung geleng-geleng kepala, karena merasa sangat tak terima dengan kisah itu.


Dia langsung mematikan televisi tersebut, dan kedua kini dia berpindah ke buku novel yang Shania pesan lewat pelayan yang tadi pergi berbelanja.


Saat dia membaca sinopsis novel tersebut sama-sama mengisahkan kasih tak sampai karena saat dia akan menikah sebelum itu terjadi si pria berselingkuh dengan temannya sendiri.

__ADS_1


Semuanya semakin membuat dirinya paranoid Saat itu pula Shania melempar buku novel tersebut keatas nakas.


"Semua, tidak ada yang beres semua seolah memojokkan ku, apa? kalian semua punya dendam padaku hingga kalian semua menakut-nakuti ku seperti itu. kak Arvin tidak mungkin sejahat itu kan... tidak-tidak aku tidak ingin semua itu terjadi."ucap Shania yang kini berguling-guling di kasur empuk itu.


Sampai saat seseorang mengetuk pintu kamarnya Sania langsung bangkit untuk muka pintunya dia tidak ingin orang itu melihat tingkah bodohnya saat ini.


Dan Shania terkejut saat melihat seseorang membelakangi pintu tersebut seorang pria yang selama ini dia rindukan meskipun baru beberapa hari mereka tidak bertemu tapi terasa 1 tahun lebih dan itu sangat menyiksa bagi Shania.


Namun dia harus kecewa, karena ternyata begitu berbalik pria itu bukanlah Arvin melainkan Arfan yang sengaja datang diam-diam untuk menghadiri acara pernikahannya nanti.


Dan dia ingin memberikan kejutan kepada sang Kakak lewat Shania.


Pria muda itu begitu mirip dengan Arvin dari belakang hanya saja Shania kurang fokus dengan postur tubuh dari Arfan.


Gadis itu langsung mengerucutkan bibirnya, sampai saat akan mengejek gadis itu."Rindu ya... dengan Abang, kangen ya cie cie kangen abang ya tertipu dia."ucap Arfan yang kini meledek Shania.


"Diam kamu untuk apa juga kamu di sini! bukannya kamu berada di Belanda, dan tidak akan datang saat pernikahan kami nanti."ujar Shania.


"Mana bisa aku tidak datang, di pernikahan abang ku, hanya dia satu-satunya saudara yang aku punya.... aku akan menginap di sini dan nanti saat hariha aku tidak langsung datang ke sana karena aku akan datang bersamamu ke sana."ucap Arfan sambil tersenyum.


"Tidak boleh kamu datang sendiri, dan pergi saja sendiri dari hotel, jangan dari rumah ku...dasar tidak modal."ucapannya sambil memalingkan wajahnya.


Sebenarnya Shania tidak bermaksud untuk bicara ketus seperti saat ini.


"Ya sudah kalau nggak mau aku nikahkan saja Abang dengan orang lain, lagi pula Abang banyak penggemarnya." ucap Arfan tanpa pikir panjang.


"Jika kamu berani melakukan itu! akan ku potong burung mu itu."ucap Shania


Sementara Arfan tiba-tiba membulatkan matanya, lalu melihat ke arah bawah lalu menatap kembali ke Shania.


"Kau tahu burung itu dipotong.... Apa? pernah pegang punya Abang."ucap. Arfan.

__ADS_1


Maksudnya dengan sengaja?...gila kau ya mana berani aku pegang-pegang burung pribadi orang, meskipun dia adalah Arvin."


"Lagi pula aku juga tidak tahu ukurannya, seperti apa?."sambil nyelonong pergi ke dalam. memperhatikannya, dia ingin sekali berteriak karena tanpa sengaja berkat bibirnya dengan perkataannya tersebut.


__ADS_2