Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
# Terbiasa #


__ADS_3

"Maaf Mr boleh saya tau seperti apa?."ucap Shania.


"Seperti yang baru menghisap darah."ucap Arvin.


"Kalau begitu saya permisi."ucap gadis itu datar dan dia langsung pergi menuju parkiran sambil membawa paper bag yang disebut sebagai hadiah yang entah apa? isinya.


Sesampainya di mobil gadis itu langsung masuk karena sopir sudah membukakan pintu untuknya.


Sampai saat dia berlalu dari area parkir, Arvin pun pulang dengan mobilnya karena memang saat ini dia masih punya keperluan lain di luar.


Pria itu baru kembali dari LA keesokan harinya sudah harus mengajar seperti pesan almarhum ayahnya semeantara dia juga sibuk dengan perusahaan miliknya.


Arvin harus bisa membagi waktu untuk pekerjaannya itu.


Saat ini Shania tidak langsung pulang ke rumah, dia singgah di sebuah butik khusus perlengkapan sekolah milik sekolah Shania .


Disana disediakan seragam khusus sekolah tersebut, dan gadis itu harus membeli seragam baru yang roknya sedikit lebih menutupi paha mulusnya itu.


Karena rok yang kini dia gunakan menurut Arvin terlalu pendek pada itu sudah adalah peraturan sekolah.


Sampai saat dia sibuk mencari dan sudah hampir satu etalase dan yang ada di sana semua tidak ada yang lebih panjang dari itu.


Gadis itu sudah dibuat pusing tujuh keliling dengan permintaan guru baru itu, saat dia hendak mengembalikan rok seragam ke pegawai tiba-tiba Shania berpapasan dengan pria yang tadi meminta roknya itu.


"Sudah ketemu."ucap pria itu.


"Belum."jawab Shania.


"Pesan."ucap nya datar lalu berlalu pergi menuju ke bagian baju formal khusus guru.


"Shania hanya menghela nafas setelah itu dia langsung pergi, masa bodoh dengan permintaan pria itu yang jelas dia tidak ingin ribet yang penting tidak melanggar peraturan sekolah.


Shania tidak tahu jika pria itu kini tengah memperhatikan dirinya.


Sampai saat gadis itu berlalu pergi, pria itu mendekat pada wanita yang merupakan desainer di sana.


"Buatkan rok yang sedikit lebih panjang untuk gadis itu."ucap pria itu.


"Baik tuan."jawab wanita itu.

__ADS_1


Sebenarnya itu bukan wewenang wanita itu karena peraturan tersebut dibuat oleh sekolah, tapi berhubung pria itu adalah salah satu pemilik sekolah tersebut akhirnya dia tidak bisa menolak.


Arvin pun sibuk memilih jas yang akan dia gunakan selama mengajar.


Sementara Shania yang baru tiba di rumah dia disambut peluk cium sang mommy.


Sementara gadis itu terlihat banyak pikiran.


"Ada apa? sayang, apa? ada masalah."ucap Sanum bertanya.


"Tidak ada mommy hanya saja Shania lelah dan ingin segera istirahat."jawab gadis itu.


"Heumm, baik'lah sayang."balas Sanum.


Gadis itu pun pergi meninggalkan sang mommy yang kini melanjutkan aktivitasnya merangkai bunga.


Sementara itu di dalam kamar, gadis yang kini baru selesai mandi dan berganti pakaian dengan pakaian santai langsung berbaring di atas ranjang.


Dia memejamkan matanya dan langsung terlelap tidur


Di negara lain. wanita cantik yang kini tengah berebut camilan dengan ketiga anak Julia itu tengah menangis karena camilan yang dibelikan oleh Zaid habis di makan ketiga kakak beradik itu.


"Ada apa? heumm."ucap Zaid yang baru keluar dari dalam ruang baca bersama dengan Vino.


"Heumm,,, jangan menangis malu dilihat oleh mereka, nanti kita bisa beli lagi."ucap gadis itu.


"Tapi Luna mau yang seperti tadi."ucap gadis itu.


"Tentu honey kita beli seperti yang tadi."ucap Zaid sambil menghapus air mata Aluna.


Julia dan Vino hanya tersenyum melihat perhatian Zaid pada Aluna sementara ketiga anak mereka tengah mengejek Aluna yang terlihat kekanak-kanakan.


Sampai Zaid membawa Aluna ke meja makan karena memang sudah waktunya makan siang.


Gadis itu sudah duduk di samping Zaid yang kini tengah mengambil menu makanan untuk mereka berdua.


"Kapan kalian akan menikah, tidak baik menunda waktu. lagipula kalian sudah sama-sama dewasa jika melihat umur meskipun calon istrimu masih setengah matang."ujar Vino dengan sengaja.


"Sialan, aku sedang menunggu waktu yang tepat."ucap Zaid.

__ADS_1


"Aku rasa semua waktu pun tepat jadi tidak perlu mencari cari alasan."ujar Vino.


"Atau mungkin kamu berubah pikiran."ucap Vino.


"Itu tidak akan pernah, aku sudah terlalu mencintai calon istriku dengan segala kekurangannya."ucap Zaid yakin.


"Zaid Sudah punya calon istri."celetuk Luna.


"Tentu saja, sayang kamu adalah calon istri Zaid."ucap pria itu.


"Tapi Luna lengkap tidak kurang seperti yang Zaid katakan.... Zaid jangan bilang jika saat ini Zaid menyembunyikan sesuatu."ucap gadis itu.


"Tentu saja tidak sayang, yang kurang itu hanya Luna belum bisa berdandan."ucap pria itu sambil tersenyum manis.


"Owh,,, itu ya heumm baik'lah Luna akan bajar tapi jika tidak berhasil tidak apa-apa? Luna mundur jadi istri Zaid."ucap gadis itu.


"Tidak-tidak sayang, kamu tidak perlu berdandan kamu sudah sangat cantik."kata Zaid yang benar-benar takut saat mendengar ucapan dari Aluna.


"Aluna jangan percaya dengan kata-kata itu, nyatanya bohong jika kita tidak pandai merawat diri maka suami kita nanti akan melirik wanita lain."ucap Julia tegas.


"Zaid akan melirik wanita lain?."kata Aluna sambil menatap meminta jawaban.


"Tidak sayang itu tidak mungkin."jawab Zaid tegas.


"Tapi jika Zaid mau melakukan hal itu juga tidak masalah, Luna tinggal pulang ke rumah."ucap Aluna yang kini menolak untuk disuapi gadis itu hendak berdiri tapi Zaid langsung menahan bahu Aluna.


"Honey jangan dengarkan kata-kata mereka atau Zaid akan mati bunuh diri jika Aluna pergi."ucap Zaid.


"Alah gombal."ucap Vino.


"Jangan mengompori orang lain, apa? kamu tidak berkaca pada kejadian lalu."ucap Julia yang kini mengingatkan kejadian dimana istrinya ingin pergi dari hidup Vino dan pria itu hendak bunuh diri.


"Apa? kamu lupa dengan itu atau mau mengulanginya lagi."ucap Julia.


Vino langsung menggeleng dengan cepat , dia pun melanjutkan makannya namun tidak dengan Zaid dan Luna keduanya malah pamit pulang.


Zaid yang kesulitan membujuk Aluna untuk percaya padanya pun menggendong Aluna yang kini minta dilepaskan, namun Zaid tidak kunjung melepaskan gadis itu sejak keluar dari rumah Vino dan sepanjang perjalanan didalam mobil hingga tiba di rumah pribadinya.


Zaid membawa gadis itu di atas pangkuannya didalam dekapannya sampai saat dia tiba di dalam kamar .

__ADS_1


"Zaid lepas, Zaid jangan macam-macam Luna tidak ingin tinggal bersama dengan Zaid jika memang Zaid tidak suka Luna yang tidak bisa berdandan ini."ucap gadis itu sambil menangis sesenggukan.


"Stop! Yank cukup."ucap Zaid.


__ADS_2