Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Jangan buat aku khawatir#


__ADS_3

Tidak terasa satu bulan berlalu setelah Julia kembali ke negara tempat Julia tinggal dengan Vino.


Dia selalu mengeluh karena Gidion selalu menelpon dirinya meskipun itu untuk menemui kedua putranya tapi Gidion selalu membahas masalalu mereka meskipun Julia tidak pernah mau membahas itu tapi pria itu terus saja mengingatkan dia akan hal itu.


Sampai saat dia selesai menelpon pembahasan tentang mereka berdua akan kembali diulang.


Ekspresi wajah Gidion yang sangat menggoda bagi kaum hawa karena ketampanan Gidion sangat paripurna, tapi rasa kecewa Julia pada pria itu membuat dia menutup pintu hatinya.


Andaikan saja Gidion tidak meninggalkan dirinya dan tidak memilih wanita lain untuk menjadi istrinya, mungkin Julia akan memaafkan pria itu dan mau kembali padanya.


Tapi kini nasi yang sudah menjadi bubur tidak akan pernah kembali utuh sekalipun ada cara untuk menyatukan nasi tersebut menjadi lemper.


Julia selalu mencari alasan untuk menghindar.


Pria itu tidak akan pernah mau mengakhiri panggilan tersebut jika Julia tidak mencari alasan.


Sementara itu di kediaman Zaid Aluna yang akhir-akhir ini selalu bertingkah seperti seorang istri yang selalu melayani suami meskipun bukan melayani Zaid di atas ranjang, tapi wanita itu selalu membuat Zaid khawatir dengan tingkahnya yang sembrono itu.


Dia mencoba untuk memasak sendiri dan koki handal itu hanya akan memberitahu cara dan bumbunya, kali ini dia sedang menggoreng ikan.


Gadis itu terlihat ragu-ragu untuk melakukan hal itu, meskipun akhirnya dia mencelupkan ikan itu kedalam minyak panas, gadis itu menjerit-jerit saat cipratan minyak goreng itu mengenai tangannya.


Zaid yang mendengar itu dia langsung lari setengah mati dari arah ruang kerja nya, sampai saat dia tiba di dapur dimana Luna menangis menjerlit karena luka bakar kecil itu sudah membuat dia kesakitan.


Zaid langsung membawa gadis itu kedalam dekapannya dan menggendongnya saat itu juga, sementara koki mengambil alih kegiatan Aluna meskipun Zaid hampir saja menembak dirinya.


"Zaid panas auw sakit!."ucap gadis itu sambil terus meraung sementara beberapa asisten membawa air dalam wadah cukup besar untuk merendam tangan gadis itu.


"Tenang sayang semua baik-baik saja oke, aku akan mengobati luka bakar ini."ucap Zaid yang kini terus mengelus dan mengecup puncak kepala gadis yang kini tengah diobati oleh asisten pribadi Zaid.


"Sudah aku bilang jangan masak apapun lagi, aku tidak ingin kamu terluka sekarang lihat kan tangan ini terkena cipratan minyak dan ini juga waktu itu teriris pisau, kapan kamu berhenti berbuat nakal heumm,,,tolong jangan buat aku khawatir lagi.*ucap Zaid.


"Luna hanya ingin masak untuk Zaid, Luna tidak ingin Zaid terus makan-makanan koki.*ucap gadis itu.


*Heumm,,, memangnya kenapa? sayang itu hal yang wajar."ujar Zaid.


"Luna ingin menjadi istri seperti yang ada di televisi, yang bisa menyediakan semua kebutuhan suaminya dan juga anak-anaknya kelak."ujar Luna.


"Cita-cita mu memang baik sayang... tapi Zaid tidak ingin istri Zaid berubah menjadi babu hanya karena ingin menyenangkan suami, Aluna bisa memenuhi keinginan Zaid dengan cara berdandan cantik menyiapkan baju kerja yang sudah siap di dalam walk-in closed."ucap Zaid.


"Heumm,,, Luna tidak bisa memberikan makanan lezat pada Zaid dan anak-anak bagaimana dong."ujar Luna.


"Tidak apa-apa Honey... kamu bisa meminta koki untuk memasak makanan kesukaan ku, itu sudah lebih dari cukup."ucap Zaid.


"Heumm... hanya seperti itu, sama saja bohong."ucap gadis itu.


"Tidak sayang, semua sudah sangat baik."ucap Zaid.


Aluna tidak bicara'lagi dia seakan tengah berfikir bagaimana? caranya mengurus semuanya itu sendiri hingga Zaid mengecup bibir itu, dan gadis itu pun langsung bergegas pergi meninggalkan Zaid yang kini tengah bengong karena bahkan gadis itu tidak merespon kecupan itu dan panggilannya juga diabaikan oleh Luna.


Entah sedang apa? Yang jelas kini Luna terlihat tengah berdiri di samping ranjang lalu membungkuk seakan tengah meneliti sesuatu.


Dan Zaid pun terus melihat gerak-geriknya.


Sampai saat pandangan Aluna tertuju pada sebuah kamera yang dia letakkan di samping kursi.


"Heumm,,, kamu sedang apa? sayang."tanya Zaid.

__ADS_1


"Aku sedang mencari posisi yang benar saat tengah menunggu suami pulang."jawab Aluna yang tidak masuk akal dan apa? hubungannya dengan itu.


"Heumm,,, yang benar itu tunggu di atas ranjang dengan pakaian wajib ."ujar Zaid.


"Apa? nama pakaian tersebut, mungkin Luna belum punya dan sekarang Luna harus membuatnya."ucap gadis itu.


"Heumm baik'lah."ujar Zaid yang langsung membuka handphone dia langsung searching di internet mencari model lingerie yang seksi, namun naas bagi Zaid karena Luna mengira Zaid menyukai para model yang tengah menggunakan itu.


"Hiks... hiks... hiks... hiks Zaid tidak sayang Luna lagi.... Zaid bah mengoleksi wanita lain di handphonenya, hiks lebih baik Luna pulang saja Daddy..."ucap Luna yang hendak pergi namun tangan kekar itu langsung meraih pergelangan tangan Aluna.


"Sayang jangan salah faham aku melakukan itu untuk mencari tahu tentang baju yang ingin kamu kenakan itu saja."ucap Zaid.


Luna pun akhirnya terdiam karena baru sadar bahwa saat ini cemburunya itu tidak masuk akal.


Gadis itu pun pergi meninggalkan Zaid kearah bawah.


Gadis itu hendak pergi menuju meja makan, gadis itu ingin menyantap ikan goreng yang sudah menciprati tangannya dengan minyak goreng panas itu.


Aluna langsung duduk di hadapan ikan-ikan yang kini sudah terlihat sangat lezat dengan beberapa hidangan lainnya.


"Aku akan menghabiskan semuanya."ucap gadis yang kini terlihat begitu menggemaskan itu.


Kini dia tengah sibuk dengan ikan itu.


Gadis itu tidak sadar ada seseorang yang kini tengah merekam aksinya dengan ponselnya itu.


"Apa? Yang kamu makan Honey, hati-hati nanti kena dirinya."ucap Zaid.


"Luna bisa kok Zaid."ujar Luna.


Pria itu pun duduk di samping Luna dengan meraih piring milik Aluna pria itu langsung memisahkan duri ikan tersebut dan daging yang iya suapkan pada Luna.


"Terimakasih Zaid, semoga istri Zaid kelak adalah wanita yang sangat cantik dan baik hati, maafkan Luna tidak bisa membuat Zaid bahagia hanya bisa memberikan beban."ucap Aluna.


"Yank,,, kamu bicara apa? aku tidak suka kamu bicara seperti itu, apapun keadaannya nanti kamu yang akan tetap menjadi istriku calon ibu dari anak-anakku."ucap Zaid.


Namun Aluna menggeleng pelan karena Zaid yakin Zaid tidak akan pernah bisa bahagia jika dirinya yang akan menjadi istrinya. Luna tidak bisa melakukan apapun dengan baik.


Zaid yang melihat ekspresi wajah Luna pun merasa ada yang tidak beres, dia langsung menghentikan gerakan tangannya itu.


"Yank,,, kamu tidak boleh banyak pikiran, aku tidak akan pernah melepaskan dirimu sampai kapanpun itu."ucap Zaid tegas.


Pria itu langsung bergegas pergi meninggalkan Aluna yang kini tengah menatap kearahnya.


Gadis itu langsung pergi mengejar Zaid.


"Zaid tunggu Luna hanya ingin yang terbaik untuk pria baik seperti Zaid."ucap gadis itu.


"Terbaik...oke baiklah aku akan mencari yang terbaik, tapi kamu jangan pernah menyesalinya."ucap Zaid.


Aluna hanya mengangguk pelan lalu dia berkata bahwa ia akan pergi saat itu juga.


"Baiklah Zaid sudah mengambil keputusan, Luna akan pulang sekarang juga."ucap Aluna.


"Siapa? yang mengijinkan mu pergi! Aku sudah katakan bahwa kau akan tetap tinggal di sisiku."ucap Zaid.


Namun Luna menggeleng.

__ADS_1


"Ayo ikut aku Aluna....kau akan tau akibatnya karena telah membuat ku marah."ucap pria itu.


Namun Aluna tidak sedikit pun bergeming wanita itu menahan tarikan tangan kekar itu.


"Aluna jangan jadi pembangkang."ucap Zaid yang kini kembali menarik tangan Luna, namun lagi-lagi Zaid tidak mendapatkan respon yang baik, Aluna menahan tubuhnya sekuat tenaga.


Pria itu langsung mengangkat tubuh Aluna saat itu juga dia tidak perduli saat gadis itu meronta hendak melepaskan diri, tapi Zaid tidak memberikan kesempatan pada gadis itu untuk melarikan diri.


"Lepas,,,*ucap Aluna pelan tapi penuh penekanan.


"Coba saja jika kamu bisa."ucap Zaid.


"Zaid lepas."ucap Aluna.


"Kenapa? Tidak mencobanya sendiri heeuh!."teriak Zaid di akhir katanya itu.


Pria itu semakin dibuat murka dengan sikap Aluna saat ini jujur hati Zaid terasa pedih saat mendengar Aluna ingin pergi darinya.


Zaid langsung membawa masuk Aluna kedalam kamar utama miliknya itu, dia langsung melempar gadis itu keatas ranjang empuk berukuran king size itu.


Aluna tidak berkata apapun saat ini dia hanya membuang pandangannya ke arah lain dengan air mata yang menetes deras, bagaimana bisa dia diperlakukan kasar oleh pria yang diam-diam sangat ia cintai.


"Kemarikan tangan mu."ucap Zaid yang kini memegang borgol.


Aluna hanya menggeleng pelan sambil menundukkan kepalanya.


"Aluna! Aku bilang kemarikan tangan mu."ucap Zaid yang kembali berteriak.


Aluna tetap berdiam diri, hingga akhirnya pria itu langsung mendorong gadis itu menjadi terlentang, namun Aluna tidak berani menatap kearah Zaid Aluna memalingkan wajahnya ke samping.


"Kenapa? Aluna, bahkan kamu sudah tidak ingin lagi menatap ku! apa? ada pria lain yang sangat kau cintai.... Ahhh aku lupa jika saat ini kau sudah punya dia."ucap Zaid yang menarik kasar lengan gadis itu.


Zaid memasang sebelah borgol itu di tangan Luna setelah itu dia juga langsung mengunci borgol itu di tepi ranjang.


"Kau tidak akan pernah bisa lepas."ucap pria tampan itu.


"Tapi kamu sendiri yang akan melepaskan aku Zaid, aku jamin hal itu."ucap Aluna.


"Aku akan melepaskan mu setelah kau hamil putra pertama kita."ucap Zaid.


"Tidak akan pernah ada hari itu Zaid."ucap Aluna.


"Aku yang putuskan."ucap Zaid.


Aluna tetap menggeleng pelan.


Zaid meninggalkan gadis itu sendiri Aluna hanya bisa menangis dia tau Zaid mencintai dirinya bahkan sangat tapi lagi-lagi dia berpikir bahwa dirinya tidak pantas untuk pria itu.


Aluna masih berdiam diri, dia tidak meminta maaf atau minta di bebaskan tapi dia langsung memencet tombol yang ada di bawah gelang tersebut hingga beberapa orang datang secara diam-diam mereka menyelinap ke kamar tersebut.


Zaid sendiri sudah bersiap dengan pistolnya sedari tadi.


Zaid bukan tidak tahu dengan semua itu, tapi Zaid dengan sengaja membuat Aluna seperti itu agar saat itu juga Zaid tau seberapa besar cinta Aluna padanya.


Tembakan itu terus terjadi saat Zaid menembak mereka lebih dulu hingga.


Dor....

__ADS_1


Dada bidang Zaid terkena tembakan.


Zaid langsung terjatuh di lantai.


__ADS_2