Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Ingin ke pantai#


__ADS_3

"Tidurlah Aluna ini sudah larut malam."ujar Zaid.


"Iya tunggu sebentar."ujar Aluna yang kembali merasa tidak nyaman dengan pembalut yang ia kenakan saat ini.


"Zaid alas pipis nya tidak nyaman."ujar Luna tanpa ragu dan itu membuat Zaid melengos karana merasa malu sendiri.


"Sudah aku minta bantuan wanita itu, kamu tunggu di sini."ujar Zaid.


Zaid pun pergi menemui pengawal yang selalu menemui Aluna saat dirinya tengah beraktivitas meskipun aktivitas dilakukan dengan membawa gadis itu yang tak pernah jauh dari dirinya.


Pria tampan berkulit putih itu tidak nampak seperti seorang mafia karena ketampanan dan rasa cinta terhadap kebersihannya itu begitu tinggi hingga dia tetap terlihat tampan tanpa jambang sedikit pun.


Zaid langsung masuk kedalam kamar setelah wanita itu melaporkan bahwa Luna sudah selesai berganti pembalut dengan yang lebih baik dan akan bisa tidur nyenyak sampai pagi.


"Tidurlah besok aku lebih sibuk."ujar Zaid.


"Baiklah ujar Luna sambil meraih bantal guling yang tidak pernah mau ia gunakan.


"Tolong betulkan kedua guling ini untuk aku pakai karena Zaid tidak mungkin mau peluk Luna nanti Zaid kena air pipis Luna."ujar nya polos.


Zaid pun berkata"Kamu bisa tidur tanpa aku itu jauh lebih baik."ujar Zaid.


"Tidak-tidak aku takut Zaid aku tidak bisa tidur tanpa kamu. Luna takut."ujar gadis itu hendak menangis.


"Lalu untuk apa? bantal guling itu."ujar Zaid.


"Untuk supaya Luna merasa Zaid masih jagain Luna."ujar gadis polos itu.


"Heumm... baik'lah."pria itu yang langsung meraih bantal guling di taruh di kanan dan kiri gadis itu.


Setelah menyelimuti Luna Zaid pun berbaring di samping Luna tanpa masuk kedalam selimut.


Satu dua detik masih belum ada yang memejamkan mata, sampai beberapa menit kemudian masih juga belum ada yang memejamkan mata karena Zaid dan Luna pun tetap terlihat gelisah.


"Zaid Luna tidak bisa bobo bagaimana ini."lirih Luna.


"Coba terus nanti juga bisa."ujar Zaid.


"Baiklah."kata gadis itu.


Tapi keduanya pun kembali tidak bisa memejamkan matanya.


Akhirnya Zaid pun memeluk gadis itu menariknya kedalam dekapannya berikut dengan selimut tersebut karena sudah hampir dua jam berlalu mereka sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.


Akhirnya mereka pun tertidur hingga pagi.


Dan saat mereka bangun mereka masih dalam keadaan seperti diawal mereka tidur.


Pria itu pun melepaskan dekapannya dan bangun lebih dulu untuk bersiap sebelum Luna bangun.


Karena jika tidak Gadis polos itu akan bergelayut manja minta di temani mandi dan berakhir dengan drama yang panjang sampai merengek segala karena Zaid akan mengancam untuk membuang gadis itu di jalanan.


Beda cerita jika Zaid sudah selesai bersiap maka pria itu akan beralasan seperti biasanya yaitu sudah terlambat untuk bekerja dan akan meninggalkan Luna hingga gadis itu akan berusaha untuk mandi dengan terburu-buru.


Zaid sudah menunggu Luna di meja makan dia meminta asisten wanita itu membantu Luna mandi dan bersih-bersih, setelah itu Luna harus disiapkan untuk ikut pergi bersamanya dia akan meeting penting bersama seluruh jajaran direksi di perusahaan tersebut.


"Aluna kau sudah siap belum cepat nanti aku terlambat."ujar Zaid.


"Sebentar ini tinggal pakai kaos kaki."ujar Luna.


"Iya cepat jika tidak kau aku tinggal sarapan pagi mu di mobil karena sudah terlambat."ujar Zaid.


"Iya sebentar."ujar gadis itu.


"Sampai Luna keluar dengan outfit yang ia kenakan seakan ingin pergi ke Alaska dengan mantel bulu dan celana jeans dan sepatu boot wanita itu entah mau melakukan apa tapi Zaid tidak ingin ambil pusing dia membiarkan Aluna sesuka hatinya karena ada baju ganti di koper yang ada di mobil.


"Kau tidak boleh rewel saat di kantor harus duduk tenang dan jangan berbicara yang tidak-tidak."ujar pria tampan itu.


"Heumm,,,, baik'lah aku akan jadi gadis dewasa seperti ini."ujar nya yang kini seperti anak kecil yang berputar di hadapan Zaid.


Sementara pria itu hanya geleng-geleng kepala.


"Cepat aku sudah ditunggu."ujar Zaid yang langsung menarik lengan Aluna.


Sesampainya di dalam mobil yang sudah ada dua orang pengawal yang kini membukakan pintu mobil untuk mereka berdua.


Zaid memasang sabuk pengaman di tubuh Aluna setelah itu dia pakai punya dirinya .


"Berikan sarapan pagi miliknya."perintah Zaid.

__ADS_1


"Wanita yang kini duduk di jok depan samping jok kemudi itupun memberikan sebuah kotak bekal.


"Apa? ini."ujar Aluna.


"Itu sarapan pagi mu buka saja."ujar Zaid.


"Owh sandwich tuna."ujar gadis itu sambil memakan sarapannya itu.


Zaid tersenyum tipis, tidak sia-sia dia mencari wanita yang kini bekerja menjadi asisten untuk Aluna. karena kini sedikit demi sedikit gadis polos itu mulai mandiri.


Sampai saat mereka tiba di lobby kantor dua tiba bersamaan dengan Vino yang juga merupakan CEO perusahaan besar itu.


"Hi bro,,, sudah dicoba belum."ujar Vino yang kini mendapatkan sentilan keras di jidat halusnya itu.


"Apa? kau sudah bosan hidup bahagia."ujar Zaid sambil menatap tajam kearah pria itu.


"Ahhh sakit sialan."ujar Vino.


"Suruh siapa? kurang ajar pakai bicara seperti itu segala."ujar Zaid yang kini menggenggam tangan Aluna berjalan cepat meninggalkan Vino yang kini mengusap-usap jidatnya.


Sesampainya di ruang meeting posisi duduk Aluna kini di apit oleh kedua pria tampan itu seakan wanita itu adalah pemimpin perusahaan itu.


Semua orang yang ada di sana bertanya-tanya tentang wanita cantik yang kini menggunakan outfit yang tidak sesuai dengan mereka yang ada di sana.


Namun Zaid tidak terganggu dengan itu.


Dia malah memberikan ponsel miliknya pada gadis itu yang langsung fokus dengan benda itu.


Mereka pun mulai meeting penting nya itu hingga di pertengahan Aluna berbisik pada Zaid kalau dia sudah pipis banyak dan tidak nyaman.


Akhirnya pria itu meminta pengawal pribadi nya menjemput Aluna dan membawa gadis itu ke ruangan nya.


Setelah itu Zaid lanjut meeting bersama dengan mereka.


Sampai saat meeting selesai Zaid buru-buru keluar dari ruangan tersebut untuk mengecek keberadaan Luna.


Zaid tersenyum saat melihat gadis itu tidur di sofa panjang yang ada di ruangannya itu.


"Aku pikir kau buat ultah lagi."ujar Zaid yang teringat akan beberapa minggu yang lalu disaat gadis itu ditinggal meeting.


Gadis itu berkeliling dan memaksa beberapa orang karyawan untuk bermain dengan dia dengan papan catur yang Zaid belikan dan juga monopoli mainan tersebut.


Namun salah satu karyawan itu ada yang tau bahwa Aluna adalah wanita yang datang bersama dengan atasannya itu hingga akhirnya satu divisi mau menemani gadis itu.


Tapi bukannya dapat bonus mereka malah mendapatkan amukan Zaid, hingga mereka ketakutan namun kemudian Zaid bilang jika Aluna minta bermain lagi cukup dua atau tiga orang yang menemani dia.


.............................


Jam makan siang pun tiba, gadis itu sudah bangun dari tidurnya.


"Aku laper."ujarnya yang membuat Zaid menghentikan aktivitas yang tengah berkutat dengan keyboard laptop nya itu.


"Ayo basuh wajah dulu dan lepas mantel itu ini cuaca panas ."ujar Zaid.


Aluna pun mengangguk dia juga melepas boot nya itu.


Saat Aluna membuka mantel Zaid terlihat membuang pandangannya karena melihat baju tanpa lengan itu sangat ketat dan menonjolkan gunung kembar yang masih original itu tercetak di sana karena T-shirt polos berwana hitam itu begitu pas di tubuh Aluna.


Zaid baru sadar saat ini ternyata Aluna begitu menarik sebagai seorang gadis remaja pada umumnya.


Aluna terlalu cantik jika saja dia bisa berfikir dewasa.


"Ayo segera bersiap."ujar Zaid sambil memanggil pengawal wanita itu untuk mengambil blazer milik Aluna di dalam koper yang ada di mobil.


Wanita itu pun mengangguk pelan, setelah itu dia langsung bergegas menuju basement kantor tersebut dengan menggunakan lift atasnya itu.


Sampai Aluna selesai mencuci muka dia pun langsung membantu gadis itu merapihkan rambutnya dengan jemarinya.


"Aku ingin makan di kantin kantor."ujar Aluna.


"Boleh tapi jangan makan yang manis-manis nanti kamu sakit perut."ujar Zaid


Zaid pun selesai merapihkan rambut panjang yang begitu sehat dan terawat itu.


Tidak lama setelah itu pengawal wanita itu datang membawa blazer yang diminta oleh Zaid dan setelah itu dia memakaikan blazer tersebut ke tubuh Aluna.


Setelah dipastikan menutupi kesaksian tubuh bagian atas Aluna Zain pun memutuskan untuk membawa Aluna turun diikuti oleh pengawal wanita dan pria yang selalu mengikutinya yang sudah dari tadi berdiri di depan pintu ruangan Zaid mereka berempat menggunakan lift khusus CEO.


Kini mereka sudah berada di kantin tempat mereka akan makan siang kedua pengawalnya duduk di meja lain sementara Zaidan dan Aluna duduk di meja yang sama. pelayan kantin pun datang menawarkan menu seperti di cafe yang biasa ada pelayanan khusus untuk CEO atau pejabat tinggi yang lainnya.

__ADS_1


setelah memesan menu makanan untuk Aluna dan dirinya Zaid pun sedikit memberikan nasihat pada Aluna agar dia tidak lagi bersikap kekanakan seperti selama ini.


Zaid selalu bilang dia akan bersikap lebih baik pada Aluna jika Aluna mau menurut dengan kata-katanya, dan Zaid pun berjanji tidak akan meninggalkan Aluna sampai kapanpun.


Kemanapun Zaid pergi dia akan membawa Gadis itu bersamanya, asalkan Aluna mau menuruti kata-katanya dan Aluna pun menyetujui hal itu meskipun terkadang ia merasa bingung dengan apa yang dimaksud oleh Zaid selama ini.


Zaid pun hanya berbicara asal saja karena dia yakin gadis itu kesulitan dengan yang diucapkan oleh Zaid.


"Makanlah."ujar Zaid setelah menu itu datang.


"Suapi."ujar gadis itu manja.


Zaid pun hanya bisa menghela nafas, dia sudah bisa menduga itu.


"Ayo buka mulutnya."ujar Zaid yang akhirnya memilih makan dari piring yang sama, bahkan dengan sendok dan garpu yang sama.


Pria itu akan bersikap sangat baik terhadap Aluna sementara pada musuhnya dia akan berbuat lebih kejam dari biasanya.


Setelah Aluna, berkata kenyang Zaid pun menghentikan suapannya terhadap Aluna.


"Sekarang bersiaplah kita akan pulang ."ujar pria itu.


Pria itu pun langsung mengusap sudut bibir Aluna, Setelah itu dia pun langsung memberikan jus buah pada Aluna.


"Ayo berangkat."ujar Zaid sambil menggenggam tangan gadis itu.


"Zaid Luna tadi lihat video Zaid bersama dengan gadis cantik, gadis itu siapa?"tanya Luna.


"Tidak penting."ujar Zaid.


"Luna juga mau di gendong sambil berjalan di pantai oleh Zaid."ujar gadis itu.


"Kau tidak sakit."ujar Zaid.


"Apa? Luna harus sakit dulu baru bisa Zaid gendong."ujar Luna.


"Aluna! jangan bicara sembarangan aku tidak ingin mendengar kata itu lagi,,, cukup satu kali saja saat ini."ujar Zaid yang terlihat menyimpan banyak kesedihan.


"Tapi Luna mau ke pantai dan Zaid gendong Luna seperti itu."ujar Aluna lagi.


"Kita bisa lakukan itu lain kali, saat ini aku tidak punya waktu."ujar Zaid tegas.


"Ya baik'lah."ujar Luna lirih.


Sementara itu di kediaman Vino.


Kedua orang tua Vino yang tiba-tiba saja datang ke rumah mereka membuat Julia merasa takut jika kedua orang tua Vino meminta mereka untuk berpisah.


Terlihat dari tatapan mata mereka yang seakan memindai ketiganya.


Sementara Vino sendiri masih berada di luar, dia tidak tahu jika saat ini kedua orang tuanya datang setelah ia mengetahui tentang pernikahan Vino dari Gidion yang menanyakan berita tentang pernikahan itu pada kedua orang tua Vino yang jelas-jelas tidak tahu akan hal itu.


"Apa? kau tidak lupa dengan yang kami katakan dulu Mika, aku sudah bilang bahwa sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyetujui hubungan kalian berdua."ujar ibu Vino.


"S saya i ingat nyonya."jawab Julia.


Awalnya aku akan menerima pernikahan putraku dengan wanita manapun, tapi setelah melihat dua anak haram itu aku tidak akan pernah mau mempertimbangkan pernikahan kalian."ujar ibunya Vino.


"Cukup nyonya, kamu boleh tidak menerima pernikahan kami tapi jangan pernah menghina kedua putraku. mereka lebih berharga dari apapun bagiku."ujar Julia yang kini beranjak dari duduknya dan membawa kedua putranya itu kedalam dekapannya.


"Ada apa? ini."ujar Vino yang baru datang dari luar.


Pria itu tidak melihat siapa? yang ada di sana karena posisi sofa itu terhalang tembok.


Jadi Vino tidak melihat kedua orang tuanya.vino hanya kaget saat melihat Julia menggendong kedua putranya sedang perutnya itu sudah sangat besar.


Vino langsung bergegas meraih keduanya dan menggendong nya. sementara Julia masih terdiam saat ini.


"Bagus Vino, jadi ini yang kamu sembunyikan dari kami."ujar ayahnya.


Vino yang membelakangi sofa saat ini dia mematung di tempatnya.


"Mommy, daddy."ucap Vino lirih.


"Ya,,,ini kami yang sudah tidak pernah kau hargai."ujar keduanya kompak.


"Maafkan Vino Mom... Daddy Vino tidak bermaksud seperti i."


"Ceraikan dia sekarang juga dan segeralah kembali bersama dengan kami."ujar keduanya.

__ADS_1


"Tidak."


__ADS_2