Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Jauh#


__ADS_3

Sejak saat itu sudah hampir satu bulan Shania tinggal di Swiss, sebagai murid berprestasi dia tidak kesulitan untuk melanjutkan sekolahnya.


Sampai saat ini Shania masih fokus dalam belajar bahkan dia dan Arvin kesulitan untuk menyesuaikan waktu untuk berkomunikasi, terkadang Shania jarang membalas pesan Arvin, begitu juga dengan Shania yang selalu kesulitan untuk menghubungi Arvin.


Sampai saat Arvin memutuskan untuk bertemu dengan Shania di Swiss, Arvin saat itu menginap di hotel yang sungguh jauh dari kediaman Shania tapi demi bertemu dengan pujaan hati pria itu rela pergi jauh.


Sampai saat Shania meminta ijin pada omah dan Opah nya dia pun pergi diantar oleh sopir saat itu posisi Arvin tengah berada di restaurant hotel tersebut.


Shania langsung turun dan kembali menghubungi Arvin.


Pria itu pun langsung mengangkat panggilan dari kekasihnya itu lalu dia berjalan untuk menjemput Shania yang kini sudah berada di hadapannya.


Arvin dan Shania langsung mematung kemudian keduanya berhambur memeluk pasangannya itu.


"Aku sangat merindukan mu baby ucap Arvin yang kini mengecup bibir Shania.


"Aku juga Mr."ucap Shania.


Keduanya pergi menuju kedalam area restaurant tersebut.


Arvin tidak kunjung melepaskan genggaman tangannya itu.


"Sayang aku sangat mencintaimu dan I miss you so much."ucap Arvin.


"Too."ucap gadis itu


Keduanya saling mengobrol hingga beberapa menit kemudian pesanan mereka datang, saat ini keduanya menikmati makan siang .


Setelah selesai makan siang Arvin dan Shania lanjut ke kamar hotel yang kini ditempati oleh Arvin pria itu ingin mengobrol lebih dalam lagi agar lebih leluasa untuk melepas rindu di antara mereka.


"Honey, rencananya aku akan kembali ke Indonesia, semua aset perusahaan milik papah sudah dipindahkan ke sana dua Minggu yang lalu."ucap Arvin.


"Heumm,,, selamat, Mr bisa dekat dengan ibunya, sementara aku disini hanya ada omah dan Opah, kedua kakak ku sibuk kuliah dan kerja hingga tidak ada lagi yang bisa aku ajak jalan."ucap Shania.


"Sayang, kenapa? tidak kembali saja ke sekolah lama aku bisa mengajar lagi disana jika kamu mau."ucap Arvin.

__ADS_1


"Harus menunggu beberapa bulan lagi baru aku bisa kembali untuk kuliah."ucap Shania.


"Terlalu lama honey aku sangat merindukan mu."ucap Arvin.


Pria itu mendekat ke arah Shania yang kini tengah menatap kearah pemandangan kota.


Arvin merangkul pinggang Shania dari belakang setelah itu dia langsung mencium bibir gadis itu tanpa aba-aba.


Shania pun membalas ciuman itu, tanpa penolakan, maklum keduanya benar-benar tengah dimabuk cinta.


Arvin semakin memperdalam ciuman tersebut hingga Shania tidak bisa berkutik selain mengikuti keinginan Arvin meskipun hanya sebatas ciuman bibir.


"Berapa? lama kamu disini Yank..." ucap Shania.


"Mungkin satu hari lagi besok lalu lanjut aku kembali ke Indonesia."ucap Arvin.


"Aku masih rindu Yank..."ucap Shania yang kini memeluk erat Arvin dan membenamkan wajahnya di dada bidang pria tampan itu.


"Baby setelah di Indonesia, aku janji akan meluangkan waktu istirahat ku untuk menemani dirimu."ucap Arvin.


"Hi... honey please Honey jangan seperti ini, aku sangat mencintaimu dan aku sudah sangat merindukan mu, rasanya ini sangat sulit tapi semua harus aku lakukan karena aku masih memiliki tanggung jawab lainnya Yank, jika kamu kembali ke Indonesia mungkin sesibuk sibuknya aku masih bisa menemui mu kapan saja tapi ini terlalu sulit."ucap pria itu.


"Sudah aku bilang aku tidak sanggup untuk hubungan jarak jauh seperti ini."ucap Shania.


"Kamu yang ngotot ingin pindah Yank, apa? kamu lupa itu."ucap Shania.


"Aku tidak lupa Yank, tapi saat itu aku hanya ingin menghindar dari rasa yang tak biasa disini saat melihat mu bersamanya. tapi saat aku mulai bisa tidak peduli dengan itu dan memutuskan untuk bertahan disana tapi kamu malah menyodorkan sebuah amplop yang berisi surat ijin untuk pindah sekolah."ucap Shania.


"Jadi kamu juga mencintai ku honey, kamu mencintai ku saat itu."ucap Arvin yang kini membingkai wajah Shania sambil tersenyum bahagia di hadapan Shania.


"Aku tidak tau jika itu adalah rasa cinta.... karena yang aku tau aku merasa sangat nyaman saat melihat mu ada di depan mataku."ucap Shania.


"Shania sayang itu adalah tanda-tanda rasa cinta itu sudah ada sejak lama, kenapa? kamu tidak pernah cerita."ucap Arvin.


Pria itu langsung menggendong gadis itu membawanya ke atas pangkuannya.

__ADS_1


"Sekarang katakan sejak kapan kamu merasakan hal itu honey."usap Arvin.


"Tapi Shania tidak bisa berkata apa-apa saat ini selain memandang wajah tampan yang kini berada di hadapannya.


Shania perlahan mendongak sedikit lalu mendekat ke arah wajah Arvin.


"Honey,,, jawab dulu..."ucap Arvin yang kini menahan bahu Shania.


"Aku pulang dulu, silahkan nikmati waktu mu Mr."ucap Shania yang hendak pergi tapi Arvin lagi-lagi menahan Shania.


Pria itu langsung memberikan apapun yang Shania. mau termasuk mencium bibir manis itu..


Arvin bahkan lebih bernafsu lagi, Arvin tidak tahu jika saat ini bahaya. berbahaya jika keduanya terus berada di dalam kamar.


Sampai saat bunyi dering ponsel Shania berbunyi akhir Shania pun meminta izin untuk pergi mengangkat telepon tapi Arvin tidak mengizinkan itu.


Arvin meminta Shania berbicara di hadapannya, tapi saat telpon itu di angkot ternyata itu dari Sky yang kini meminta Shania untuk melakukan panggilan video.


Arvin langsung merebut Handphone tersebut lalu memblokir nomor Sky sambil menatap lekat wajah cantik itu.


Arvin meminta penjelasan pada pada Shania.


"Kak Sky ingin aku menjadi istrinya."ucap gadis itu.


"Lalu."ucap Arvin."ucap Arvin.


Arvin pun langsung pergi meninggalkan Shania yang tidak kunjung menjawab.


"Yank, berhenti aku mohon mana mungkin aku memilih kak Sky dia sudah seperti kakak ku sendiri."ucap Shania.


Arvin menghentikan langkahnya sejenak lalu kemudian dia berbalik dan berkata."Pilihlah dia, pria itu jauh lebih baik dari ku! buktinya Julia dulu lebih memilih dia karena itu, dia tampan dan gagah dia punya segalanya."ucap Arvin.


"Aku bukan dia dan Julia bukan aku! aku tidak suka memilih. karena aku percaya dengan hatiku sendiri seberapa besar pun perbedaan kalian aku tidak pernah peduli itu karena yang aku tau cinta itu buta dia tidak pernah bisa melihat siapa? yang akan dia cintai dan dimana dia singgah."ucap Shania.


"Aku sangat mencintaimu."

__ADS_1


__ADS_2