Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Bertunangan#


__ADS_3

Sesampainya di mention Shania langsung pergi menuju kamar, dia tidak menemui satu orang pun di kediamannya itu selain pelayan Mension.


Shania pun langsung bergegas pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Gadis itu kini masih menitikkan air mata, dia bertanya-tanya dalam hati kenapa? cinta pertamanya harus berakhir menyakitkan seperti ini.


Shania kini tengah berendam dan memejamkan matanya.


Bayangan dirinya sejak pertama bertemu dengan Arvin hingga mereka menjalin hubungan, semua bermunculan di pikirannya saat ini.


Shania masih berderai air mata, hingga dia selesai berendam dan mengguyur tubuhnya dengan air yang kini mengalir deras di atas kepalanya itu.


"Kenapa?... kenapa? harus seperti ini."ucap Shania.


Gadis itu masih mengguyur kepalanya dan mengusap wajahnya itu berulang kali.


Sampai saat dia memutuskan untuk mengakhiri semuanya, dia tidak ingin terus seperti ini meskipun cinta itu sedang tumbuh subur tapi rasa sakit itu terlalu menyakitkan.


Shania pun mengakhiri mandinya setelah itu dia langsung masuk kedalam walk-in closed untuk mengambil pakaian yang akan dia kenakan malam ini.


Shania pun selesai berpakaian dan kini gadis itu tengah berada di depan pintu kamar kedua orang tuanya.


"Mom, boleh Shania masuk."ucap gadis yang kini masih tampak sembab.


"Masuklah sayang tidak dikunci."ucap Sanum.


Shania berjalan masuk kedalam kamar milik kedua orang tuanya itu.


"Apa? yang terjadi sayang kenapa? kamu seperti ini."ucap Sanum.


Shania yang tadinya ingin menutupi masalah dirinya dan kekasihnya itu, akhirnya dia menceritakan semuanya saat itu juga.


Sanum yang mengerti dengan apa? Yang putrinya rasakan saat ini pun dia langsung meminta Shania untuk menghubungi Arvin, namun gadis itu menolak.


Samun pun meyakinkan putrinya bahwa semua akan baik-baik saja.


Namun Shania tetap kekeuh ingin pergi jauh meskipun Arvin tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.


"Sayang, mommy tidak ingin kamu pergi menghindar dari masalah karena semua itu tidak akan pernah selesai, rasa sakit tidak akan pernah pergi saat kamu pergi."ucap Sanum bijak.


"Tapi mom, Arvin akan menggantikan posisi adiknya di penjara atau pun menikah dengan dia sama saja semuanya itu tidak akan ada pilihan untuk ku, aku hanya dicadangkan olehnya."ucap Shania.


"Tidak sayang, semua itu tidak akan pernah terjadi, kita bisa mencari cara lain."ucap Sanum.


"Cara apa? mommy."tanya Shania.


"Kalian bisa bertunangan terlebih dahulu dan seluruh media akan menayangkan pertunangan kalian, dan daddy akan mengumumkan tentang kepemilikan sekolah tersebut dan keluarga Karin tidak akan ada yang berani melawan daddy."ucap Sanum.


"Apa? cara itu akan berhasil mommy."tanya Shania lagi.


"Tentu saja Sayang."ucap Sanum.


"Baiklah aku akan segera menghubungi Arvin."ucap Shania yang kini langsung pergi ke kamarnya.


Setibanya di sana Shania langsung menghubungi nomor Arvin, tapi tidak kunjung di angkat hingga sebuah pesan singkat masuk dari seseorang yang menyatakan bahwa pria itu sedang berada di rumah sakit.


Berikut foto tentang Arvin yang kini terbaring di atas ranjang pasien.


Pengirim pesan adalah nyonya Ervina.


Shania langsung keluar dari dalam kamar berlari menuju kamar kedua orang tuanya untuk mengabari hal itu dan dia akan pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan sayang nanti mommy dan Daddy akan menyusul."ucap Sanum.


Shania yang sudah menggunakan piyama tidurnya kini kembali berganti pakaian dengan celana jeans panjang dan juga kemeja panjang dia mengikat rambut nya dan tidak lupa menggunakan masker kacamata dan membawa mantel.


Tidak hanya itu dia juga membawa buah tangan dan juga cheese cake kesukaan Arvin.


Semua itu dia bahwa dari rumah kebetulan dirumah Shania selalu tersedia semua itu.


Gadis itu pergi dengan mobil sport miliknya menuju rumah sakit dimana Arvin dirawat saat ini.


Tidak sampai tiga puluh menit, Shania sudah berada di parkiran rumah sakit gadis itu langsung keluar dari mobil tersebut setelah menggunakan mantel dan juga masker tidak lupa kacamata.


Gadis itu menenteng buah tangan, memasuki lift yang menuju ke sebuah ruangan dimana Arvin berada.


Shania yang langsung masuk saat itu dia mendapati Arvin yang tengah menolak untuk makan, saat nyonya Ervina hendak menyuapi putranya itu.


"Honey kamu datang."ucap Arvin yang kini terlihat bahagia meskipun kondisinya sangat pucat, terlihat ada kantung darah yang kini menggantung di sampingnya.


"Arvin Bunda sudah tidak tau lagi harus apa? sekarang terserah kamu Bunda keluar dulu."ucap nyonya Ervina yang memberikan waktu untuk mereka berdua.


"Ar."lirih Shania merasa bersalah.


"Duduklah sayang, kamu pasti belum istirahat."ucap Arvin menyembunyikan rasa sakitnya saat ini.


"Ar makan oke agar kamu cepat pulih lihat kamu sampai pucat seperti ini."ucap Shania yang baru menyimpan buah tangan yang ia bawa dari rumah.


"Tidak sayang, biarkan seperti ini saja mungkin ini terbaik untuk kita, jika aku tiada kamu tidak akan pernah merasakan sakit lagi hanya karena laki-laki seperti ku ini."ucap Arvin.


"Ar, jika kamu saja rapuh begini lalu siapa? yang akan memberikan aku kekuatan untuk melewati semua ini."ucap Shania.


"Apa? maksud mu honey."tanya Arvin.


"Aku akan menunggu mu, tapi sebelum kalian menikah nanti aku ingin kita mengadakan pesta pertunangan."ucap Shania.


"Owh kamu tidak ingin ada ikatan di antara kita, baiklah-baiklah aku akan pergi jauh agar kalian bahagia."ucap Shania yang hendak pergi.


"Sayang!! aku menggeleng bukan karena tidak setuju dengan saran darimu tapi aku tidak akan menikahi dia dan membuat mu terluka lagi biarlah aku di penjara tapi cinta ini tetap utuh."ucap Arvin.


Shania langsung menghambur memeluk Arvin dia menangis sesenggukan di bahu Arvin.


"Aku sudah katakan semua ini pada mommy dan Daddy tidak akan membiarkan itu terjadi."ucap gadis itu.


Arvin mengelus puncak kepala gadis itu dengan tangannya yang masih di perban.


"Sekarang kamu makan dan haru minum obat agar bisa cepat pulih oke."ucap Shania.


"Baiklah sayang ku."ucap Arvin yang kini berbisnis d hadapan wajah Shania.


Arvin pun sudah bersiap untuk menerima suapan pertama dari gadis kesayangannya itu.


Dengan sangat telaten gadis itu menyuapi Arvin yang sesekali tersenyum manis pada Shania yang juga membalas senyuman terindah itu.


Sekarang makan buah dulu ya aku kupas dulu ucap Shania.


"Tidak usah sayang aku sudah kenyang."ucap Arvin yang baru saja menghabiskan satu mangkuk bubur komplit.


Setelah itu mereka pun duduk dan berbincang, Shania kini tengah duduk di samping Arvin yang tengah menatap gadis yang juga tengah menatap kearahnya.


..........................


Shania yang memutuskan untuk tinggal di rumah sakit malam itu untuk menemani kekasihnya hal itupun di sambut baik oleh nyonya Ervina.

__ADS_1


Arvin meminta Shania itu berbaring di sampingnya, tapi Shania menolak dia terus duduk di kursi tepat di samping ranjang Sesampai Arvin terpejam, gadis itu pun tidur sambil duduk dengan kepala bertumpu di atas bed pasien yang ditempati oleh Arvin.


Sampai saat Arvin terjaga pagi dini hari, dia kaget melirik ke arah samping dan dia kaget saat melihat Shania tidur di posisi saat ini.


Arvin pun dengan susah payah memindahkan Shania yang tertidur pulas ke atas ranjang tersebut.


Dirinya pun langsung bergegas naik dan berbaring di samping Sania dengan satu tangan memeluk gadis itu.


Sampai saat dokter yang hendak memeriksa Arvin pun membatalkan itu, karena sedang tidak ingin mengganggu mereka dan meminta suster memberitahu jika mereka sudah bangun.


Shania terjaga saat Arvin bangkit hendak ke toilet.


"Sayang kamu mau kemana?."ucap Shania.


Shania pun langsung bergegas turun saat itu juga membantu Arvin memegangi infus hingga tiba di depan pintu Arvin mengambil alih itu.


Dengan susah payah pria itu melakukan semua sendiri karena saat ini tidak ada yang bisa membantu dirinya.


Shania juga belum bisa membantu dirinya karena mereka belum menikah.


Sementara Shania sendiri kini tengah berpikir sebenarnya siapa? Yang semalam memindahkan dirinya keatas ranjang pasien tersebut.


Sampai saat Arvin keluar sambil membawa tiang infus tersebut.


"Sayang kamu mau bersih-bersih."ucap Arvin.


Shania yang sadar keadaannya saat ini dia langsung buru-buru masuk kedalam toilet.


"Hati-hati sayang."ucap Arvin sambil terkekeh geli.


"Kamu masih sangat cantik sayang meskipun saat ini kondisi mu sedikit berantakan."lirih Arvin.


Pria itu pun tersenyum, kini wajah Arvin tidak terlalu pucat seperti kemarin, bahkan darah yang ada di dalam kantung darah itu sudah habis masuk semua kedalam tubuh Arvin, mungkin itu adalah salah satu faktor Arvin kini terlihat tidak pucat lagi.


Shania keluar setelah merapikan penampilannya, gadis itu sudah terlihat kembali rapih dan segar.


"Yank, sini rambutnya aku rapihkan dulu."ucap Shania.


"Makasih sayang."balas Arvin yang kini tengah disisir rambutnya oleh Shania.


Shania pun mengusap wajah Arvin dengan tissue.


"Sudah rapih sayang, kamu sudah tampan seperti biasanya."ucap Shania.


"Terimakasih honey, kamu tidak perlu memujiku seperti itu, karena meskipun aku tidak tampan aku akan tetap bersyukur karena kamu masih mau menerima cinta ku."ucap Arvin.


Shania pun tersenyum manis."Aku tak akan pernah mau menerima cintamu kalau kamu jelek dan bau apek."ucap Shania sambil terkekeh geli.


"Heumm,,, coba saja kita lihat jika aku tidak mandi dan berganti pakaian setiap hari apa? kamu masih setia padaku atau tidak."ucap Arvin.


"Mau, tapi aku akan meminta bodyguardnya Daddy untuk menangkap mu dan aku minta mereka untuk memandikan mu."ucap Shania.


"Owh ya ampun, dikira aku cowok apakah."ucap Arvin sambil terkekeh geli.


"Cowok yang baru keluar dari rumah sakit jiwa."ucap Shania yang kini kembali terkekeh.


"Sayang kamu jahat banget sih."ucap Arvin yang kini menatap lekat wajah cantik yang masih tertawa pelan.


"Habis suruh siapa? bilang tidak mau mandi."ucap Shania.


"Habis kamu hanya cinta kalau aku tampan dan rapi saja."ucap Arvin.

__ADS_1


"Aku kan hanya bercanda sayang."


__ADS_2