
Arvin keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan lilitan handuk sebatas paha dan sebatas pinggang.
Dengan handuk kecil di kepala yang kini tengah ia gosokan di rambutnya yang basah itu.
"Yank... kamu sedang apa? kenapa? terus berdiri di sana, itu bajunya sudah aku siapkan."ucap Shania.
"Aku sedang menikmati pemandangan yang sungguh sangat menyejukkan hati, saat melihat bidadari cantik ku."ucap Arvin.
"Heumm...lebay ayo buruan aku mau sarapan pagi yang banyak agar badan ini tidak lemas lagi."ucap Shania.
"Heumm... bagaimana tidak lemas kamu minta lagi dan lagi."ucap Arvin.
"Yank...nakal deh.*ucap Shania yang kini mengerucutkan bibirnya itu.
Shania pun langsung memalingkan wajahnya saat itu juga, dia tidak peduli dengan Arvin yang kini mendekat ke arahnya.
Sampai saat Arvin mengecup belakang leher jenjang istrinya itu.
Seakan terkena aliran listrik, Shania langsung merasakan sesuatu yang sulit dia tahan.
"Yank..."lirih Shania yang kini menahan sesuatu yang tidak bisa dia ungkapkan.
Tapi Arvin tidak menjawab perkataan Shania. saat ini Arvin termakan keusilan nya sendiri yang tadinya ingin mengerjai Shania tapi dirinya sendiri merasakan hal yang sama dengan Shania dia terbakar gairah saat mendengar suara ******* yang tertahan itu.
"Sayang kita belum sarapan pagi, aku laper."ucapan Shania menghentikan aksi Arvin saat itu juga.
Arvin langsung menyudahi itu, dan bergegas menggunakan pakaian yang sudah Shania sediakan.
"Yank,,, dua hari lagi kita kembali ke rumah Omah dulu sebelum pulang ke Indonesia. pasti kak Gerald dan mbak anggun sudah kembali ke rumah."ucap Shania.
"Baiklah sayang,,, Oh, iya setelah kita kembali ke Indonesia sayang mau tinggal di mana? apartemen atau rumah heumm."ucap Arvin.
"Apartemen saja Yank, aku sedang ingin menikmati kebersamaan kita."ucap Shania.
__ADS_1
"Heumm... dimanapun itu sayang kita akan tetap bersama... kamu bisa ikut ke kantor untuk sekalian belajar magang agar nanti kamu bisa gantikan aku saat aku tidak bisa bekerja."ucap Arvin.
"Sayang... kamu mengijinkan aku untuk bekerja."ucap Shania.
"Tidak sayang hanya sesekali jika aku sedang ada halangan saja."ucap Arvin.
"Aku mau bekerja jadi sekertaris mu saja... bagaimana?."ucap Shania.
"Tidak sayang,, jabatan itu tidak pantas untuk mu, kamu hanya akan menjadi nyonya CEO dari perusahaan kita."ucap Arvin.
Sampai saat sarapan pagi usai keduanya pun masih berada di dalam kamar, Shania tidak nyaman jika harus berjalan kaki di luar karena bekas percintaan mereka semalam masih sangat terasa.
Arvin sendiri pun tidak tega melihat itu, jadi mereka memutuskan untuk tinggal di dalam kamar, lagipula pemandangan pegunungan dan kota bersalju itu tidak kalah indah dari dalam kamar hotel tempat mereka kini berada.
Arvin kini tengah berdiri sambil memeluk istrinya di depan dinding kaca yang menjulang tinggi itu.
Saat malam hari tiba, saat dimana? salju turun, mereka akan menikmati keindahan itu dari dalam kamar mereka.
Rencananya mereka akan bermain berkunjung ke desa modern yang ada di area sungai Are itu.
Sementara di Indonesia kini pertengkaran hebat tengah terjadi antara Vino dan Julia hanya karena Julia di telpon oleh mantan suaminya untuk menanyakan kabar kedua putra mereka.
Vino benar-benar merasa cemburu karena Gidion selalu memanggil Julia dengan sebutan sayang.
Pria itu masih sangat mencintai Julia tapi sampai sekarang Julia tidak pernah Vino lepaskan karena Julia adalah satu-satunya wanita yang Vino cintai.
"Terus saja kamu ungkit yang, kamu masih belum terbiasa dengan itu. padahal Gidion sudah biasa memanggil ku seperti itu."ucap Julia.
"Owh jadi sudah biasa."ucap Vino.
"Yank... aku tidak pernah punya perasaan apapun lagi padanya tapi dia berhak untuk tau kabar keduanya. Junho dan Jerry harus tau tentang dia."ucap Julia.
"Tapi aku tidak suka dia memanggil mu dengan panggilan sayang seperti ku."ucap Vino.
__ADS_1
"Kamu bisa langsung bicara padanya sayang agar tidak ada lagi salah faham."ucap Shania yang menyodorkan handphone miliknya yang kini terlihat tengah tersambung dengan Gidion tapi Vino langsung melempar Handphone itu hingga hancur dan retak seribu.
"Yank... kamu itu sebenarnya apa? mau mu, jika kamu sudah bosan padaku kamu bisa bilang."ucap Julia.
"Julia!! Jangan keterlaluan, aku sudah cukup bersabar saat ini."ucap Vino yang terlihat semakin murka.
Julia pun hendak pergi karena tidak mungkin terus berdebat dengan pria yang sudah hampir sepuluh tahun hidup bersama dengan nya saat ini.
"Julia, kamu mau pergi kemana? heuuhh aku belum selesai bicara."ucap Vino yang kini menarik lengan Julia yang kembali duduk di sampingnya.
"Vin, kamu bunuh saja aku agar kamu tidak perlu lagi marah seperti ini."ucap Julia yang kini menatap lekat wajah Vino yang kini terlihat merah padam.
Tapi pria itu tidak melakukan kekerasan fisik kecuali mencium bibir Julia dengan sangat kasar dan meninggalkan gigitan kecil di bibir bawah Julia yang menahan rasa sakit karena tidak bisa melepaskan ciuman Vino.
Hingga saat Vino mendorong Julia hingga terlentang di atas sofa tersebut.
Vino yang kini tengah mengungkung istrinya bukan karena dia ingin menggauli isterinya tapi karena dia tengah melampiaskan amarahnya.
Vino masih menatap lekat wajah cantik yang kini tengah berlinang air mata, Julia merasa jengkel karena semakin kesini sifat Vino semakin posesif.
Julia tidak tahu apa? penyebabnya yang jelas Vino seringkali menanyakan hal yang bahkan tidak pernah Julia lakukan.
Dan kini hanya karena Gidion menghubungi dirinya, handphone Julia menjadi korban amukan Vino.
"Berhenti menangis Julia, apa? kau menyesal karena telah menikah dengan ku."ucap Vino datang lagi pertanyaan yang tidak masuk akal itu.
Tangis Julia terhenti saat itu juga karena dia tidak ingin Vino semakin berburuk sangka padanya.
"Aku salah, Vin... aku yang salah, kamu bisa salahkan aku tentang apapun itu. termasuk kepergian kedua orang tua mu... karena aku yang sudah membuat mu pergi dari mereka."ucap Julia.
"Jangan ungkit itu lagi Julia,,,."ucap pria itu.
"Kenapa?... aku tau kamu terus mencari masalah dengan ku karena kamu yang sebenarnya menyesal tidak pernah mendengarkan perkataan mereka,,, sekarang kamu bisa tinggalkan aku agar kedua orang tua mu bahagia disana."ucap Julia.
__ADS_1
"Julia!!."Teriak Vino yang hampir saja menampar Julia.
"Kenapa? berhenti tampar saja sepuasnya bila perlu bunuh aku agar kamu bisa puas dan merasa bahagia karena dengan begitu kamu telah berbakti kepada mereka."ucap Julia yang kini menatap lekat wajah tampan itu.