
Shania langsung tak sadarkan diri dia dilarikan ke rumah sakit saat itu juga.
Kenzie meminta orang kepercayaannya menahan gadis yang sudah membuat putrinya dilarikan ke rumah sakit.
Sementara itu Arvin yang melihat kejadian itu, dia ingin pergi menyusul ke rumah sakit karena sebagai wali kelas pria itu merasa bertanggung jawab pada Shania karena kejadian itu terjadi di sekolah.
Pria itu langsung buru-buru pergi setelah membubarkan pertandingan tersebut.
Arvin pun merasa khawatir dengan keadaan Shania saat ini.
Sampai saat dia tiba di rumah sakit Shania pun belum sadarkan diri. pria itu langsung menghampiri Kenzie dan mengobrol dengan pria paruh baya itu.
"Tuan Arvin rupanya."ucap Kenzie yang tau siapa? Arvin karena dia juga sedang bekerja sama dengan pria itu.
"Heumm,, saya kira tuan Kenzie tidak memiliki putri yang masih sekolah."ucap Arvin.
"Saya punya tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan seperti yang anda tau putri pertama saya menikah dengan Vino."ucap Kenzie yang kini melirik ke arah putrinya yang masih terbaring.
"Daddy bagaimana? keadaan putri kita."ucap Sanum.
Sanum pun langsung menghampiri putrinya itu.
"Sayang... bangun nak ini mommy."ucap Sanum.
"Dia tidak apa-apa mungkin sebentar lagi akan segera sadar hanya sedikit mengalami cedera ringan."ucap Kenzie.
"Owh sayang sudah mommy bilang jangan main basket lagi."ucap Sanum .
"Sayang kamu tau Shania hobi olahraga, jadi dia akan menjalani hobinya selama dia belum mau berhenti."ucap Kenzie.
Kenzie pun mengusap bahu istrinya itu.
"Sayang... kamu tidak usah khawatir dia akan baik-baik saja."ucap Kenzie.
"Daddy siapa? Yang melukai putri kita."ucap Sanum.
"Putri kita memenangkan dua babak pertandingan mungkin mereka iri dengan itu jadi Shania yang diincar oleh mereka."ucap Kenzie.
"Sudah mommy bilang jangan lagi main dulu saja saat SMP dia sampai pingsan di toilet gara-gara hal ini."ucap Sanum.
"Tidak sayang seharusnya kita mendukung bakatnya, putri kita memang berbakat dalam beberapa hal. kita akan kembali menempatkan pengawal untuk dia secara diam-diam karena jika secara langsung dia akan protes dan tidak akan pernah mau berpergian."ucap Kenzie.
Sementara Arvin hanya mendengarkan percakapan mereka saat ini karena dia pun tengah menunggu Shania sadar.
Sementara itu tidak lama perwakilan sekolah lainnya meminta maaf kepada keluarga Kenzie saat itu juga dan dia berjanji akan menskorsing murid yang sudah melakukan pelanggaran tersebut.
Sanum tidak setuju dengan itu dia hanya butuh permintaan maaf, dan meminta pihak sekolah memberikan peringatan kepada mereka yang telah melakukan kesalahan.
Karena untuk skorsing untuk Sanum tidak akan mendidik muridnya menjadi baik tapi justru akan membuat kebencian itu semakin membesar dihati murid tersebut.
"Mom,,,"ucap Shania yang kini mengerjapkan matanya.
"Heumm,, sayang mommy disini dimana yang sakit sayang."ujar Sanum yang memeluk gadis itu.
"Bahu Shania sakit mom."ucap gadis belia itu.
"Kamu minum dulu ya sayang."ucap Sanum.
Gadis itu pun mengangguk sambil berlinang air mata, karena rasa sakit itu menjalar ke punggung tepat di tulang belikat.
"Daddy sebaiknya putri kita di periksa ulang tidak mungkin kesakitan seperti itu jika hanya cedera ringan."ucap Sanum.
"Yang namanya cedera pasti sesakit itu nyonya anda tidak usah khawatir hanya perlu butuh istirahat dan minum obat Dengan teratur putri anda akan kembali sembuh seperti semula."ucap seorang dokter yang baru saja datang.
Ini hasil pemeriksaan medis putri anda tidak perlu khawatir semua akan baik-baik saja hanya butuh dirawat beberapa hari setelah membaik akan saya izinkan pulang."ucap dokter yang merupakan teman dari Arvin yang kini pura-pura tidak melihat kearah pria itu.
Arvin hanya memperhatikan gadis yang kini terlihat kesakitan setiap kali mengerakkan tangannya itu.
"Mommy aku mau pulang saja."ucap Shania.
"Tidak sayang patuhlah Dokter pasti tau apa? Yang harus dilakukan."ucap Sanum.
"Tapi mom,,, aku tidak suka disini."ucap Shania merengek.
"Sayang please dengarkan mommy oke menurut lah ini tidak akan lama jika kamu mau mengikuti saran dokter."ucap Sanum.
Gadis itu terlihat menangis karena tidak merasa nyaman berada di sana.
Sementara Arvin kini ikut bicara."Nyonya sebaiknya anda turuti permintaan Shania mungkin di rumah akan mempercepat kesembuhannya."ucap pria tampan itu.
"Heumm,,, baik'lah Daddy pergilah berbicara pada dokter."ucap Sanum.
"Tunggu disini ya sayang mommy juga harus menebus obat terlebih dahulu."ucap gadis itu.
__ADS_1
"Iya mommy."ucap gadis itu.
Kedua orang tua Shania pun pergi keluar dari dalam ruangan itu.
Saat itu juga Arvin mendekat ke arah gadis itu.
"Bangun..."ucap Arvin.
"Mr mau apa?."ucap gadis itu.
"Menurutlah jika kamu ingin cepat pulang dan tidak lagi kesakitan."ucap Arvin yang membantu gadis cantik itu duduk membelakangi dirinya.
Gadis itu hendak berontak saat posisi Arvin seakan ingin mendekap tubuhnya dari belakang.
"Jangan sentuh saya."ucap Shania.
"Ayolah Shania menurut kemarikan tangan mu agar cepat selesai aku ahli dalam mengobati cedera kecil seperti ini."ujar Arvin yang langsung meraih tangan gadis itu dan langsung memutar mutar tangan gadis itu kedepan ke belakang setelah itu dengan sangat cepat Arvin menariknya keatas hingga gadis itu berteriak kencang .
"Tahan sedikit lagi."ucap Arvin.
Arvin pun memijat bahu gadis itu dengan sedikit di urut hingga tulang belikat sementara Shania saat ini selain kesakitan dia juga merasa canggung dan menahan geli sekaligus sakit tapi setelah Arvin selesai memijat di bagian itu tiba-tiba sakitnya berkurang dan kini terasa nyaman.
Tiba-tiba Arvin berbisik."Masih ada lagi yang ingin di pijat ."ucap gadis itu.
"Sudah selesai."ucap gadis itu.
"Tentu saja sudah kamu pikir itu akan lama, atau kamu ingin berlama-lama dalam dekapan saya."ucap Arvin sambil tersenyum jahil.
"Mr gak lucu ya.."ucap gadis itu.
"Saya hanya bercanda lagipula kamu bukan tipe saya saya tidak suka Gadis yang suka memakai pakaian kurang bahan terlihat murah,,, maaf bukan maksudku merendahkan tapi demi kebaikan."ucap Arvin.
Pria itu kembali membantu Shania berbaring setelah itu dia pun bertanya pada gadis yang kini tengah merenung.
"Apa? sudah lebih baik."tanya Arvin.
"Heumm terimakasih Mr, saya akan transfer biyayanya nanti."ucap gadis itu.
"Aku tidak menjual jasa."ucap pria itu tegas.
"Untuk rok yang tadi Mr berikan."ucap Shania.
"Itu gratis anggap saja sebagai hadiah atas kemenangan mu tadi, oh iya saya bangga dengan prestasi mu yang cemerlang tapi satu hal yang kurang kamu tidak bisa menjaga diri dari pandangan laki-laki yang memiliki imajinasi tingkat tinggi."ucap pria itu.
Shania mengerti dengan tujuan dari ucapan Arvin .
...........................
Dua hari telah berlalu sejak gadis itu tidak masuk karena masalah cedera itu kini Shania sudah berada di kelas seperti biasanya dia akan mengikuti.
Pelajaran pun tengah berlangsung beberapa menit yang lalu, Shania tengah fokus dengan soal-soal yang ada di hadapannya begitu juga Karin sejak kejadian hari itu dia tidak lagi mau menegur Shania entah apa? alasannya yang jelas dia tengah menjauh dari Shania.
Sampai saat seseorang mendatangi Arvin.
"Boleh saya masuk."ucap seorang wanita cantik yang mungkin seusia dengan Arvin, wanita berhijab itu tersenyum manis pada pria itu yang juga membalas senyuman wanita itu.
"Happy birthday Ar.."ucap gadis itu.
"Terimakasih Honey."
Deg....
Tiba-tiba dada Shania terasa di timpa beban yang berat.
"Apa? boleh merayakannya disini tanya wanita berhijab itu lagi.
"Nanti saja sekarang sedang belajar."ucap Arvin yang kini melirik ke arah Shania seolah memperlihatkan inilah wanita idamannya.
Shania yang sudah selesai mengerjakan soal tersebut dia langsung bangkit dari tempat duduknya dan pamit keluar sambil membawa handphone nya.
Sementara Arvin masih menatap kearahnya.
Shania tengah berada di dalam toilet dia minta Daddynya untuk datang menjemput dirinya sekarang juga dengan alasan merasa tidak enak badan.
Setelah itu ia pun pergi ke kantin sekolah untuk mengisi perut dengan yang super pedas.
Gadis itu langsung memilih menu super pedas itu dan duduk sambil menikmati minuman kaleng yang dia ambil sendiri dari dari lemari pendingin.
Setelah itu ia mulai berselancar dengan aku media sosialnya gadis itu memosting foto tangan yang menandakan bahwa dirinya menyerah.
Gadis itu menyerah untuk mencari pasangan.
Setelah akunya dibanjiri oleh berbagai macam komentar gadis itu pun langsung menutup kembali akun tersebut dan kini makanan yang dia pesan ada di hadapannya tanpi tiba-tiba tangan kekar itu menghalangi gadis itu untuk mengambil mangkuk tersebut.
__ADS_1
"Saya sudah bilang jangan makan makanan seperti ini."ucap pria yang tadi tengah merayakan hari jadinya.
"Kenapa? Mr selalu mengaturku. kenapa? tidak orang lain yang juga sama murid anda."ucap Shania.
"Kamu tidak usah bertanya yang lain-lain sekarang kamu hanya perlu patuh."ucap Arvin.
"Honey,,, kamu disini rupanya."ucap wanita tadi yang kini menggenggam tangan Arvin terlihat sebuah cincin pertunangan di kedua tangan mereka.
Shania langsung pergi begitu saja saat Arvin hendak berucap lagi.
Gadis itu pun tersenyum pada sang Daddy yang sudah berada di depan kelas tengah menunggu dirinya.
"Daddy sudah datang."ucap gadis itu memeluk sang ayah.
"Tentu saja Sayang."ujar Kenzie sambil mengusap puncak kepala putrinya itu.
"Aku ambil tas dulu."ucap gadis itu.
"Tidak bisa Shania kamu tidak bisa pergi begitu saja sekarang ada ulangan tambahan."ucap Arvin.
"Putri saya sedang tidak enak badan jadi dia harus istirahat."ucap Kenzie.
"Owh ya sudah, saya akan kirim ulangannya lewat email agar bisa mengerjakan tugas itu sambil istirahat karena ini sangat penting untuk akhir semester."ucap Arvin.
"Daddy gak mau sekolah lagi aku pindah ke Swiss saja bareng kak Kevin dan kak Kendra saja."rengek gadis itu.
"Sayang disini siapa? yang menemani mommy dan daddy."ucap pria itu sambil mengelus puncak kepala putrinya dengan sayang.
"Kita pindah lagi ya daddy."ucap Shania.
"Kita bahas itu di rumah sayang sekarang ambilah tas mu biar daddy bicara dengan Mr Arvin."ucap Kenzie.
"Heumm,,, baik'lah."ucap gadis itu.
"Tolong jangan dibawa serius, putri saya memang tidak suka di tekan ataupun terkekang anda bisa memberi dia tugas tapi tidak perlu terlalu banyak obrolan seperti tadi karena dia akan mengabaikan hal apapun yang membuat dia tidak nyaman."ucap pria itu.
"Saya mengerti tapi tolong kerja samanya tuan, putri anda sedang dipersiapkan untuk mengikuti olimpiade tahun ini."ucap Arvin.
"Saya mengerti bisa bicara secara pelan-pelan pada putri saya."ucap Kenzie.
Shania keluar dari dalam kelas dan sudah membawa laptopnya setelah itu dia pun pamit pada Arvin.
"Saya pamit pulang dulu Mr."ucap nya sambil menatap kedepan.
"Ya."jawab pria itu sambil mengepalkan tangannya di dalam saku celana yang kini tertutup jas yang ia kenakan.
Shania pun berlalu dengan Kenzie, disaat Arvin ingin kata-kata sederhana terucap dari bibir gadis itu.
Namun semuanya seakan sulit untuk mendapatkan kata ucapan selamat ulangtahun dirinya sebagai gurunya itu.
Sementara itu di negara lain, Zaid yang kini sudah kembali terpisah dari Aluna sejak dua hari yang lalu.
Pria itu tengah disibukkan dengan urusan pernikahan.
Sampai akhirnya dia kembali ke rumah gadis itu kelak.
Aluna tidak bisa tidur nyenyak selama beberapa hari ini.
Gadis cantik itu terus teringat pada Zaid yang juga sama dengan dengan Aluna pria itu tidak bisa tidur.
Sampai akhirnya wanita itu menelpon Zaid untuk menenangkan hati dan pikirannya itu.
"Sayang ada apa? heumm."ucap Zaid saat panggilan itu di terima oleh Zaid.
"Luna tidak bisa tidur Zaid... Luna rindu."ucap gadis itu.
"Ya,,,sayang Zaid juga rindu bersabarlah hanya tinggal beberapa hari saja setelah itu kita akan kembali bersama."ucap Zaid.
"Ya,,, maafkan aku karena sudah mengganggu tidur mu."ucap Luna
"Heumm,,, tidak sayang jangan pernah katakan itu lagi sayang, aku akan segera pergi menjemput mu setelah semuanya siap."ucap Zaid.
Zaid sendiri kini tengah menatap lekat wajah cantik yang terlihat bersedih itu.
"Sayang aku akan datang sekarang juga agar kamu bisa bobo bagaimana?."ucap Zaid.
"Heumm baik'lah sayang aku tunggu."ucap Luna.
Pada akhirnya Zaid pun mengalah untuk datang di tengah malam buta menggunakan helikopter miliknya bersama dengan beberapa anak buahnya saat itu juga.
Setelah tiba di sana akhirnya Zaid langsung mendarat di atap Mension tersebut dan dia langsung bergegas menuju pintu masuk.
Tuan Gultom tau putrinya tidak bisa tidur saat ini hingga Zaid datang dan mau tidak mau dia harus mempersilahkan Zaid masuk dan langsung ke dalam kamar putrinya itu.
__ADS_1
"Sayang aku datang..."ucap Zaid lembut saat dia melihat Aluna tengah termenung di sofa.
"Owh sayang, aku sangat merindukan dirimu."ucap gadis itu.