
Mikaila membulatkan matanya nya saat pria itu mencium bibir nya, ciuman pertama yang merenggut keperawanan bibir seksi itu.
"Kau!"
Plak...
Suara tampan keras mendarat di pipi Gidion.
Tapi pria itu hanya tersenyum sambil mengusap pipinya yang terlihat gambar tangan lima jari di sana saking putih mulusnya ih iikulit Gidion Alvaro.
Gidion memberikan sebuah paper bag yang ia bawa tadi ke tangan Mikaila, yang kini menatap tajam kearah pria itu.
"Kamu boleh marah honey tapi tidak boleh menolak rejeki"ucap Gidion yang kembali memeluk gadis itu.
"Jangan kurang ajar ya lepas aku akan adukan pada Daddy"ucap Mikaila.
"Heumm Honey, kamu bisa mengadukan itu kapan pun"ucap Gidion lembut.
Sementara itu di kediaman Allan, saat ini ayah dari dua bayi tersebut tengah sibuk bercengkrama dengan kedua kesayangan nya, sambil menyuapi istri tercinta nya itu.
"Sayang makan yang banyak ya, agar kedua kesayangan kita bisa punya stok ASI yang banyak"ucap Allan.
"Iya Daddy"ucap Bintang sambil tersenyum.
Wanita itu makan dengan lahap nya, selain menikmati di manjakan oleh suami yang kini tengah menyuapi dia makan Bintang juga terus merasa kelaparan karena kedua anak nya itu minum asi begitu sering dan sangat lama.
Sampai selesai makan baby Alvin, sudah menangis minta minum susu di susul oleh Aurelia.
Tak jarang Allan membantu menyusui kedua anak nya itu jika mereka berbarengan meminta ASI.
"Sayang bantu aku"ujar bintang.
"Iya honey"ucap Allan yang kini mengambil alih baby Aurelia.
"Mereka lama sekali ya minum asi nya, padahal ini sudah hampir lima belas menit"ucap Allan.
"Begitulah Yank,, anak kita keduanya selalu kuat minum asi nya makanya pertumbuhan mereka begitu cepat"ucap Bintang.
"Sudah berapa kilo timbangan baby Alvin"tanya Allan.
"Hampir lima kilo, padahal baru dua Minggu"ucap Bintang.
"Pantas saja semakin gemuk padahal saat lahir hanya tiga ribu dua ratus gram"ucap Allan.
"Tapi kan dia tinggi Daddy, jadi tidak terlalu kelihatan gendut, dia tinggi seperti Daddy"ucap bintang.
"Ya mommy benar dia tinggi"ucap Allan membenarkan.
"Sampai akhirnya mereka selesai menyusui, kedua bayi pun sudah tertidur pulas, jadi kini waktunya bintang beristirahat.
Allan memijat kaki Bintang, yang kini menatap lekat wajah cantik istrinya itu.
"Sayang kamu sangat cantik"ucap Allan.
"Lihat nya dari menara ya Daddy"ucap Bintang.
"Aku serius sayang kamu semakin bertambah cantik setelah menjadi ibu, dan aku bersyukur Tuhan mempertemukan kita meskipun jalan yang harus kita lalui begitu rumit"ucap Allan.
"Apa? mas tau yang lebih beruntung disini itu siapa?"tanya Bintang.
"Tentu saja mas Sayang"ucap Allan.
"Bukan,, tapi aku! mas begitu baik pengertian dan juga begitu mencintai ku, setelah Queen, aku tak ingin mas melupakan cinta pertama mas. walau bagaimanapun almarhum Queen adalah yang menyatukan kita, dan kita tidak akan pernah bertemu jika saat itu mas tidak kehilangan dia"ucap wanita itu.
"Kamu benar Honey"Balas Allan.
"Aku juga sangat beruntung selain dapat suami yang menyayangi ku dia juga seorang pengusaha sukses dan hebat, jadi aku tidak perlu susah payah bekerja dan cukup duduk manis sambil menikmati semua ini"ucap Bintang sambil terkekeh.
"Apapun itu permaisuri ku, aku akan selalu berusaha mewujudkan keinginan mu, dan untuk kebahagiaan kalian bertiga aku akan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik"ucap Allan yang kini kembali berbaring sambil memeluk istrinya itu.
Mereka pun tidur siang bersama hingga satu jam kemudian tangis kedua anak nya membangunkan tidur mereka berdua.
"Mas, mereka bangun"ucap Bintang.
Bintang langsung bangun dan bergegas menuju kamar mandi untuk membasuh wajah, setelah bangun tidur.
Setelah nya barulah ia mendekat ke arah ranjang kedua bayi nya itu.
Bintang kembali menyusui kedua anak nya itu.
Sementara itu di kediaman Sanum, Mikaila kini tengah mogok sekolah karena kesal selalu diganggu oleh Gidion, yang selalu datang tanpa diundang.
"Sayang biar Daddy yang mengurus pria itu"ucap Kenzie.
"Tidak mau Daddy, kemarin saja dia tidak takut saat aku ancam akan melaporkan dia pada daddy"Mikaila, masih merajuk di atas ranjang empuk miliknya.
__ADS_1
"Baiklah sayang hari ini tidak usah masuk kamu bisa mengikuti pelajaran secara online"ucap Kenzie.
"Iya Daddy"ucap Mikaila.
Sementara Sanum hanya menatap interaksi mereka, dia begitu bangga pada suaminya itu, karena tidak membedakan kasih sayang antara anak kandung dan anak sambung.
"Sayang kamu kenapa?"tanya Kenzie yang berbalik melirik ke arah Sanum, yang terlihat menatap sendu padanya.
"Tidak apa-apa"ucap Sanum sambil memalingkan wajahnya karena air mata nya meluncur deras.
Kenzie tau istrinya menangis dia langsung memeluk istrinya membawa dia dalam dekapan.
"Sayang kamu kenapa? heumm jangan nangis setelah ini aku akan mengurus bocah itu"ucap Kenzie.
"Mas, jangan! kamu juga dulu pernah muda yang penting jaga saja putri kita dengan baik"ucap Sanum.
"Tapi putri kita jadi takut"ucap Kenzie.
"Dulu mas juga begitu, pakai acara perjalanan bisnis segala hingga pura-pura menjadi pasangan bulan madu, dan meminta mi cinta"ucap Sanum yang kini mengenang masalalu.
"Heumm... sepertinya kita harus kembali ke sana besok untuk mengulang itu, aku sangat merindukan masa-masa mengejar janda cantik yang sangat cantik melebihi bidadari"ucap Kenzie.
"Ya,, janda"ucap Sanum sambil tersenyum kecut.
"Tapi sebelum kamu jadi janda pun aku hampir gila karena sangat mencintai mu"ucap Kenzie.
"Heumm benarkah, tapi kurasa tidak"ucap nya.
"Sayang kamu meragukan cinta ku"ucap Kenzie yang kini membingkai wajah cantik istrinya itu.
"Tidak meragukan hanya terdengar sangat menggelikan hahahaha"ucap Sanum diakhiri gelak tawa tapi tidak lama di bungkam dengan bibir Kenzie.
Melihat interaksi mommy dan Daddy nya, Mikaila baru mengerti jika mommy nya dinikahi oleh Kenzie setelah berstatus sebagai janda anak satu,yang tidak lain adalah dirinya.
Mikaila juga baru tau jika Kenzie adalah pria yang mencintai sang mommy saat mommy nya itu masih SMA, tapi dia tidak pernah mendengar cerita tentang pernikahan sang mommy dengan ayah kandungnya.
Sampai kedua orang tua nya itu pergi meninggalkan kamar Mikaila, akhirnya gadis itu kembali memejamkan mata nya.
Sementara Sanum dan Kenzie duduk bersantai di taman belakang rumahnya untuk menemani kedua putranya yang tengah bermain bola dengan sepeda yang dijadikan alat untuk menendang bola tersebut, bukan salah kedua orang tua nya yang memberikan barang apapun pada mereka tapi imajinasi mereka lah yang membuat semuanya berbahaya.
"Owh ya ampun sampai kapan kita dibuat sport jantung oleh mereka"ucap Sanum.
.....................
Sementara di sekolah Mikaila, Gidion datang berkunjung tapi tapi ternyata gadis itu tidak masuk sekolah hari ini, pria itu pun langsung bergegas menuju kediaman Kenzie, apapun yang terjadi Gidion harus segera menemui gadis itu sekaligus menemui Kenzie.
Sampai di kediaman Kenzie, Gidion langsung masuk di sambut oleh para pelayan yang kebetulan tengah merapihkan mainan tuan muda mereka.
"Mikaila nya ada?"tanya Gidion.
"Ada di kamar nya, mungkin sedang tidak enak badan karena belum turun dari pagi tadi"ucap seorang pelayan.
"Ada tamu rupanya"ucap Kenzie yang baru melintas dari arah samping.
"Hi.. apa? kabar"ucap Gidion.
"Kabar baik, duduk lah"ucap Kenzie.
"Terimakasih, saya kesini berniat untuk menjenguk Mikaila"ucap pemuda itu to the points.
"Owh duduk lah dulu mungkin putri ku sedang sekolah"ucap Kenzie.
Gidion mengerti apa? yang dimaksud oleh Kenzie.
"Apa? ada kepentingan mendadak"ucap Kenzie.
"Tidak ada uncle, hanya saja aku sedang melakukan pendekatan terhadap putri anda"ucap Gidion.
"Heumm,, putri ku masih kecil dia baru menginjak usia remaja apa? tidak ada gadis lain yang kamu temui"ucap Kenzie.
"Gadis banyak, tapi yang membuat saya tertarik hanya putri anda"ucap Gidion.
"Benarkah,,, boleh saya tau apa? yang membuat mu tertarik pada Mikaila"tanya Kenzie.
percakapan mereka terjeda saat pelayan menyajikan makanan.
"Yang saya tau putri anda beda dari yang lain,di luar sana mungkin masih banyak gadis cantik bahkan mungkin lebih tapi saya tertarik dengan putri uncle karena Mikaila satu-satunya yang bisa membuat saya jatuh cinta"ucap Gidion terus terang.
"Sayang tolong kamu panggil putri kita"ucap Kenzie pada Sanum.
Wanita yang kini tengah mengandung itu berjalan menuju lift untuk naik kelantai tiga.
Sementara Gidion dan juga putra Kenzie kini tengah berbincang entah apa? yang mereka perbincangkan yang jelas terlihat begitu serius saat Mikaila datang menghampiri mereka berdua.
"Daddy memanggil ku"Mikaila yang kini memandang ke arah lain.
__ADS_1
"Ya Daddy ingin kita bicara serius sayang kemarilah duduk di sini, Daddy mau bertanya apa? Mikaila suka pada Gidion atau tidak"ucap Kenzie to the points.
"Daddy,,,"ucap Mikaila lirih.
"Ya sayang jangan takut Daddy akan mendukung apapun yang kamu putuskan"ucap Kenzie.
"Mikaila tidak membenci om Gidion, tapi Mikaila tidak ingin dia mengganggu Mikaila lagi, dan Mikaila belum mau pacaran"ucap Mikaila.
"Heumm... kamu dengar itu tuan Gidion yang terhormat, putri ku tidak mau pacaran, ya dia memang mengambil keputusan yang benar karena dia masih sangat kecil"ucap Kenzie.
"Tidak apa-apa saya bisa menunggu sampai kapan pun Mikaila siap' dan selama penantian saya akan terus melakukan pendekatan, lagipula tidak ada larangan untuk mengejar cinta dari seseorang yang kita sukai bukan"ucap Gidion.
"Kamu benar tapi putri ku sedang fokus pada studi nya, jadi saya harap kamu bisa mengerti jangan ganggu dia disaat dia sedang berada di sekolah, atau pun di tempat umum... jika kamu ingin bertemu dengan dia langsung datang kemari, itu akan jauh lebih baik."ucap gadis itu.
"Baiklah saya setuju"ucap Gidion.
"Tapi Daddy"ucap gadis itu hendak protes dengan keputusan Kenzie, tapi Kenzie tidak memberikan kesempatan kepada gadis itu.
"Daddy hanya ingin kamu mengerti honey"ucap Kenzie.
Sementara Sanum masih terlihat santai sampai akhirnya Gidion meminta waktu untuk berbicara dengan gadis itu.
"Boleh saya minta waktu untuk bicara berdua dengan Mikaila"ucap Gidion.
"Tentu saja"jawab Kenzie, pria itu pun pergi bersama dengan sang istri yang kini berada di dalam gendongan Kenzie ala bridal style.
"Ternyata begini ya jika naksir ABG, aku juga harus minta pendapat pada kedua orang tua terlebih dahulu"ucap Gidion.
Mikaila memalingkan wajahnya sebal melihat wajah tampan yang menurutnya sangat keras kepala itu.
"Sudah tau masih maksain"ucap gadis itu kesal.
"Tentu saja maksa biar bagaimanapun juga rasa cinta itu butuh perjuangan, jika tidak ada perjuangan sama sekali itu bukan cinta tapi keberuntungan"ucap Gidion.
"Keberuntungan maksudnya?"tanya gadis itu .
"Ya,,, beruntung! mencintai orang yang juga mencintai kita tidak perlu perjuangan, itu namanya keberuntungan disaat kita butuh semua itu sudah berada di depan mata"jelas Gidion.
"Bagaimana jika setelah om berjuang tapi tetap tidak bisa mendapatkan apa? yang om mau"tanya Mikaila.
"Itu resiko tapi aku yakin, aku akan mendapatkan dirimu honey, karena jika tidak maka setelah itu kamu yang akan mengejar cinta ku"ucap Gidion tanpa rasa bersalah.
"Aku sudah sangat lelah, silahkan Om, pergi"usir gadis itu.
"Kau mengusir ku sayang?"ucap Gidion.
"Terserah Om saja"ucap Mikaila
"Heumm,, benarkah honey kamu tidak ingin memeluk ku terlebih dahulu"ucap pria itu menggoda Mikaila.
"Ih sembarangan, kalau kau ingin pergi ya pergi saja"ucap Mikaila.
"Dan jika tidak ingin pergi bagaimana"ucap Gidion.
"Tidak apa-apa silahkan tinggal bersama dengan pelayan"ucap gadis itu yang hendak beranjak pergi.
"Honey... jika kamu seperti ini kamu membuat ku begitu gemas"ucap Gidion.
"Daddy,,, aku tidak mau ngobrol dengan Om Dion, dia nyebelin"ucap Mikaila, sambil beranjak pergi.
"Sayang tidak baik bicara begitu,, tuan Gidion maafkan putri saya, dia masih terlalu labil"ucap Sanum.
"Tidak masalah aunty, saya justru semakin menyukai nya"ucap Gidion.
Tapi gadis itu dengan wajah kesalnya pergi begitu saja.
"Saya pamit pulang dulu, maaf jika kedepannya saya akan sering datang"ucap Gidion.
"Tidak masalah tuan santai saja anggap rumah sendiri"ucap Sanum.
"Aunty panggil saja Dion"ucap Gidion.
"Baiklah Dion"ucap Sanum.
Setelah kepergian Gidion, Kenzie tersenyum menggoda Sanum.
"Cie... yang mau punya menantu"ucap Kenzie.
"Mas, ternyata aku lebih tua dari mu"ucap Sanum.
"Kita mungkin sudah jadi orang tua, tapi kita belum setua itu"ucap Kenzie.
"Mas lihat Mikaila, sudah tujuh belas tahun, dan kini usia ku sudah hampir empat puluh tahun, apa? aku bisa melihat putra putri kita tumbuh dewasa"ucap Sanum.
"Sayang kamu bicara apa? tentu saja bisa, semoga kita bisa sehat terus, sekarang putra kita sudah berusia tiga tahun, dan dua puluh tahun lagi mereka akan tumbuh dewasa"ucap Kenzie.
__ADS_1
"Kamu benar mas, tapi umur kita hanya tuhan yang tahu, tapi semoga saja kita bisa menyaksikan mereka tumbuh dewasa dan bisa segera menimang cucu"ucap Sanum.
"Amiinn"