
Setelah semua barang di angkut dan di bayar dengan harga dua ratus milyar rupiah, Sanum masih mematung di tempatnya, dia tidak percaya bahwa semua itu begitu berharga, yang tadinya dia kira hanya barang rongsokan yang ditinggal kan oleh ayahnya.
Dulu ibu Sanum pergi karena tidak tahan dengan hobi suaminya yang suka membeli barang antik, bahkan dari setiap daerah yang berbeda dan pelosok negeri, pria itu punya hobi yang langka, dia pernah berkata bahwa, masa depan yang cerah berawal dari masa lampau yang tersimpan, ibu Sanum tidak mengerti dengan kata-kata yang dimaksud oleh suaminya itu.
hingga terakhir kali, saat suaminya menghasilkan tabungan nya yang tak seberapa itu untuk membeli sebuah mobil tua, yang dulu sering di pakai oleh orang-orang kaya di jaman dahulu.
Hingga perceraian itu terjadi, lebih tepatnya perpisahan karena, ayah Sanum tidak pernah menceraikan istrinya.
"Sanum, dengan uang itu kamu bisa bangun rumah yang lebih lebih megah"ujar Kenzie.
"Aku tidak tau apa? ini nyata"ujar wanita itu masih belum percaya.
"Ini nyata, ayo kita kembali ke kota"ujar Kenzie.
Sanum hanya minta izin untuk membereskan semua seluruh ruangan rumah sederhana itu, dan juga halaman nya sebelum dia tinggal pergi dalam waktu yang lama.
"Terimakasih ayah, atas perjuangan dan rasa sayang mu terhadap ku, semoga engkau bahagia di surga"ujarnya lirih.
sementara Kenzie kini terlelap di sofa usang itu, ya mungkin karena terlalu lelah bahkan semalam dia tidak tidur, beruntung Kenzo bergerak cepat untuk memerintah anak buah nya mengangkut semua barang-barang antik itu.
Setelah selesai membersihkan seluruh ruangan, dia juga membuat sarapan tiga piring nasi goreng seafood, yang sangat menggugah selera, dan dua gelas kopi yang dia hidangkan di meja makan tersebut.
"Tuan bangun sarapan pagi dulu"ujar Sanum pelan membangunkan Kenzie.
"Heumm, Baiklah"ucap nya sambil tersenyum manis kearah Sanum.
Sanum pun berjalan menghampiri Yudha yang juga terlelap di atas karpet depan TV itu.
"Tuan bangun sarapan"ucap Sanum.
"Eh, Sanum ya aku cuci muka dulu"ujar Yudha.
Sanum pun menunggu mereka berdua di meja makan, saat itu yang pertama kali muncul di hadapan Sanum, adalah Kenzie yang langsung duduk di samping Sanum.
"Sepertinya ini sangat lezat"ucap Kenzie.
"Saya tidak tau apa? tuan suka"ujar Sanum.
"Aku sangat suka masak mu"ujar Kenzie.
*Sanum, airnya sejuk banget kayak air kulkas"ujar Yudha.
"Itu Air pegunungan bisa langsung diminum dijamin bersih dan sehat"ujar Sanum.
"Heumm, mau ngobrol atau mau makan"ujar Kenzie yang kesal.
"Iya maaf bos"ujar Yudha yang langsung duduk di hadapan Kenzie.
Merekapun makan dengan lahap hingga tandas, bahkan Kenzie mengambil bagian Sanum dari sendok yang Sanum gunakan saat ini.
"Tuan di dapur masih ada jika anda mau"ujar Sanum.
"kamu saja yang ambil aku mau yang ini"ujar Kenzie.
"Saya juga mau Sanum"ujar Yudha.
"Baik lah saya ambil buat tuan Yudha saja"ujar Sanum.
Sementara Kenzie lebih suka milik Sanum, dengan sendok bekas wanita itu.
"Bos seperti nya itu sangat lezat, boleh minta"ujar Yudha menggoda.
"Mimpi"ujar Kenzie yang terus menyendok milik Sanum.
"Sanum pun kembali duduk dan memakan nasi goreng yang sama dengan Kenzie, bukan kali pertama mereka berbagi makanan tersebut.
Yudha pun makan nasi goreng yang Sanum ambilkan barusan.
"Sudah selesai, saya mau siap-siap dulu"ujar Sanum.
"Perasaan baru memejamkan mata tapi ini rumah sudah benar-benar bersih dan rapi"ujar Yudha.
"Calon istri ku memang sangat cekatan"lirih Kenzie.
"Apa bos?"tanya Yudha.
"Tidak ada"ujar Kenzie yang juga bersiap dengan untuk pulang.
"Saya sudah siap"ujar Sanum.
"Baiklah ayo berangkat"ujar Kenzie yang meraih satu koper milik Sanum, dan satu lagi Yudha yang bawa.
Sanum sempat melirik ke seluruh ruangan yang ada di sana"Ayah Sanum pergi dulu lain kali Sanum kesini lagi, terimakasih atas semua kasih sayang yang ayah berikan untuk ku"ujarnya lirih diakhiri bulir bening dari sudut mata nya itu.
Kenzie yang melihat Sanum, seperti itu dia berbalik dan langsung menggenggam tangan Sanum.
__ADS_1
"Jangan terus dipikirkan semua sudah jalan nya"ujar Kenzie.
"Apa? itu foto putri mu"ucap Kenzie yang melihat sebuah pigura foto antara Sanum dan putri kecilnya yang kini dia genggam.
"Ya, dia Mikaila, putri kecil ku yang malang bidadari ku"ujar Sanum sambil menyeka sudut mata nya.
"Yakinlah, suatu saat nanti dia akan kembali padamu, kau ibu yang terbaik untuk nya, kamu percaya sebuah keajaiban bahwa orang yang kita sayangi dan kita rindukan akan kembali lagi dalam wujud yang sama di kelahiran yang berbeda, aku yakin semua itu nyata"ujar Kenzie.
"Heumm, tapi dari mana" ucap Sanum.
"Apanya"ujar Kenzie.
"Sumbernya"jawab Sanum lagi.
"Dariku"ujar Kenzie sambil tersenyum manis.
"Mimpi"ujar Sanum sambil pergi lebih dulu menuju mobil Kenzie.
"Aku yakin itu"ujar Kenzie.
"Tidak ada"ujar Sanum.
"Bos kalian mau pulang atau mau berdebat"ujar Sanum.
"Berani protes apa? ingin dipotong gajih"ujar Kenzie.
"Jangan bos ampun"ujar pria tampan itu.
"Masuk lah"ucap Kenzie yang kini membuka pintu untuk Sanum sementara Yudha saat ini sedang bersiap untuk memasukkan koper di bagasi mobil nya.
Setelah semua siap akhirnya pria itu pun langsung tancap gas.
sepanjang perjalanan mereka sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing, Sanum sendiri menatap foto putri nya sesekali dan memainkan ponsel nya, saat itu juga.
Kenzie langsung mengepalkan tangannya saat seseorang mengirim bukti yang sangat mencengangkan saat ini, bagaimana tidak ternyata kecelakaan putri Sanum adalah sebuah rekayasa dari mantan suaminya, yang sebenarnya terjadi adalah gadis kecil itu tidak meninggal melainkan dibawa pergi ke luar kota oleh ayahnya dan putri nya hanya mengalami luka ringan tapi saat itu Sanum tidak sadarkan diri, dan mereka dengan cepatnya merekayasa kejadian itu seolah-olah putri nya tidak tertolong dan naasnya lagi, mayat yang di kubur tanpa sepengetahuan Sanum adalah putri orang lain yang juga mengalami kecelakaan, dan pria itu membayar keluarga nya untuk menipu Sanum.
"Ada apa? tuan"ucap Sanum saat melihat pria itu mengepalkan tangannya.
"Lihat lah, sayang kamu sudah tidak boleh bersedih lagi, aku akan merebut nya kembali untuk mu"ujar Kenzie.
"Mikaila Putri mama"ujar Sanum lirih seakan semua rasa sakit itu lenyap.
"Terimakasih tuan, terimakasih, aku sangat bahagia benar-benar bahagia"ujar Sanum yang tanpa sadar memeluk Kenzie, yang kini tersenyum, sambil mengelus puncak kepala Sanum.
Sementara Yudha, ikut bahagia.
Sesampainya di sebuah apartemen milik Kenzie, Sanum di bantu oleh Yuda, wanita itu langsung menyatakan keinginannya.
"Tuan bisa bantu aku Carikan rumah baru, tidak perlu mewah yang penting nyaman untuk tinggal berdua bersama putri kecil ku"ucap Sanum.
"Baiklah, kamu serahkan ke saya saya punya banyak rekomendasi perumahan yang sangat nyaman untuk mu"ujar Yudha.
"Kamu tidak perlu beli rumah cukup tempati tempat ini"ujar Sanum.
"Tidak tua, terimakasih"ucap Sanum.
"Terus lah keras kepala"ujar Kenzie yang kini masuk kedalam kamar nya.
"Tuan, apa? dia selalu seperti itu"tanya Sanum.
"Heumm, seperti yang kau lihat, tapi dia adalah pria yang sangat baik, buktinya dia begitu peduli padamu"ujar Yudha.
"Heumm, tapi saat SMA, dulu dia begitu dingin, aku sering berpapasan tapi tidak pernah saling menyapa, tapi dia selalu menatap ku, dengan tatapan yang entah apa? artinya "ujar Sanum pada Yuda yang kini terlihat bengong dan seperti sedang berpikir.
"Apa? kamu Sanum teman sekolahnya bos, yang katanya anak"perkataan Yudha terhenti karena tidak enak hati.
"Kau benar aku Sanum putri seorang germo, dan germo itu ibuku"ujar Sanum, yang terlihat menunduk.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud"ujar Yudha.
"Ah, santai saja tidak masalah, karena kenyataannya memang begitu, aku tidak menyalakan siapapun, mungkin jalan yang dipilih oleh ibuku, adalah jalan yang salah, tapi aku tau semua itu bukan pilihan nya"ujar Sanum.
"Kau benar, tapi yang aku maksudkan adalah bos ku, sempat frustasi, saat kau menghilang dari sekolah, dia sempat mencari mu kemana-mana hingga tuan Kenzo mengirimkan kami berempat ke Amerika, untuk belajar di sana"tutur Yudha.
"Berempat , siap? yang dua lagi"tanya Sanum.
"Devan dan Dinda, bukan kah kamu juga berteman baik dengan Dinda"ujar Yudha.
"Ya, saat sebelum fakta itu terbongkar, tapi setelah itu dia seakan menjaga jarak dari ku, karena aku adalah gadis yang terlahir dari wanita hina menurut mereka, padahal ibuku melahirkan ku, setelah dia memutuskan untuk pergi dari ayahku, dalam keadaan hamil tua"ujar Sanum.
"Kalian mau bergosip atau mau, makan siang"ucap Kenzie yang terlihat sudah sangat fresh.
"Belum pesan makanan juga"ujar Yudha.
"Saya mandi dulu tuan sekalian mau menyimpan koper ini dulu, nitip maksud saya karena setelah makan siang saya mau cari rumah baru"ujar Sanum.
__ADS_1
"Terserah kamu saja"ujar Kenzie yang tidak bisa memaksa.
Sanum pun pergi sementara Yudha nebeng di kamar mandi bos nya, saat itu juga, karena kamar yang biasa dia gunakan kini digunakan oleh Sanum sementara hanya beberapa jam lagi.
Sementara Kenzie saat ini dia tengah memesan makanan dari sebuah restaurant, untuk mereka bertiga.
hingga tiga puluh menit kemudian mereka sudah berkumpul di meja makan, dengan beberapa menu makanan.
"Sanum kita makan bersama biarkan Yudha makan sendiri disini hanya ada dua piring dan sendok " bohong Kenzie, sementara Yudha menahan tawa nya karena bos nya berbohong kepada Sanum.
"Tidak ada sendok saya bisa makan pakai tangan"ujar Sanum.
"Yasudah kita makan pakai tangan saja ujar Kenzie yang seumur hidup belum pernah makan langsung dari jemarinya itu terlihat seakan ragu.
"Jangan tuan pakai sendok saja, Ujar Sanum.
"Ya sudah kamu suapi saya"ujar Kenzie.
"Iya oke"ujar Sanum.
Sanum pun mulai menyuapi Kenzie sambil sesekali dia menyuap kan menu yang sama pada Kenzie.
Kenzie pun terlihat begitu bahagia saat ini, karena Sanum selalu menuruti keinginan nya.
Sementara itu Yudha, buru- menyelesaikan makan siang nya lalu mencuci piring dan sendok itu sendiri, setelah itu dia iseng menawarkan sendok yang baru saja dia cuci pada Sanum tapi Kenzie malah menepis nya.
"Kau ingin mati"ujar Kenzie yang langsung membuat Yudha kabur ke ruang santai.
"Dasar buccin"ujarnya sambil terkekeh geli.
"Sanum, mau beli rumah"tanya Kenzie.
"Heumm" jawab nya.
"Aku yang akan mengantar mu"ujar nya.
"Aku dengan tuan Yudha"ucap Sanum.
"Aku bilang aku yang akan mengantar dan memilih kan rumah itu untuk mu"ujar Kenzie.
"Baiklah"ujar Sanum, pasrah.
"Ayo bersiap lah"ujar Kenzie.
"Saya hanya akan mengambil tas saja"ujar Sanum.
"Baiklah"ucap Kenzie.
Pria itu pun berjalan menuju kamar nya dan mengambil dompet juga ponselnya yang di masukkan kedalam tas selempang pria itu.
Tidak lama dia langsung keluar, dan berbicara pada Yudha, untuk menelpon pengelolaan perumahan elit milik perusahaan nya, agar memberikan diskon khusus untuk Sanum nantinya.
Yudha hanya mengangguk pasrah, sampai mereka berdua pun pergi.
"Sanum, kamu harus menyiapkan pelayan rumah dan satpam untuk menjaga keamanan unit yang akan kamu beli nanti karena demi keamanan mikaila"ujar Kenzie.
Saya akan membawa dia bekerja tuan apa? boleh"ucap Sanum bertanya.
"Itu tidak mungkin, kamu tau sendiri jadwal kita lebih padat begini saja aku akan menyediakan asisten yang akan menjaga keselamatan putri mu"ucap Kenzie.
"Baiklah"jawab Sanum pasrah.
Sesampainya di deretan kompleks perumahan elit, Sanum tertegun melihat rumah yang kini dipilih kan oleh Kenzie, rumah yang sangat luas dan tanah yang luas juga.
"Tuan ini terlalu besar, dan sudah pasti sangat mahal"ujar Sanum.
"Sanum, jangan ragu, karena dengan memiliki rumah yang bagus itu adalah investasi, putri kecil mu pasti sangat suka"ujar Kenzie.
Mereka pun akhirnya masuk dan disambut oleh manager pemasaran langsung, Sanum semakin dibuat kagum saat masuk kedalam rumah tersebut, rumah seharga dua puluh miliar rupiah itu, sudah komplit dengan perabotan yang sangat berkualitas, dan Sanum tinggal menempati nya saja, akhirnya karena tidak ingin membuat Kenzie kecewa wanita itu pun mau mengambil rumah tersebut.
"Nona tidak melihat kamar utama untuk kalian berdua"ujar pria itu.
"Ah tidak-tidak nanti saja setelah saya pindah"
"Nona Sanum barang-barang Anda sudah disini"ujar Yudha yang muncul di rumah itu.
"Sanum tau pasti Kenzie yang meminta semua itu.
"Kita akan makan malam untuk merayakan rumah baru"ujar Kenzie yang kini berjalan masuk menuju kamar utama yang ada di lantai dua, Sanum tercengang kamar nya begitu luas dan kamar mandi juga.
"Tuan, aku tidak akan bisa tidur nyenyak di kamar sebesar ini"ucap Sanum.
"Makanya segeralah menikah dengan ku, agar aku bisa menemani mu bobo"goda Kenzie.
"Tuan jangan main-main"ujar Sanum.
__ADS_1
"Serius, Sanum, aku tidak main-main"ujar Kenzie sambil menatap lekat wajah cantik yang merona itu.