
Shania yang sudah berdandan cantik meskipun dirinya tidak menganggap serius perkataan Arvin karena setahu Shania calon suaminya itu ada di luar kota dan hanya akan kembali besok.
Setelah selesai dan mengirimkan foto tercantik dirinya saat ini pada Arvin, gadis itupun tengah duduk sambil menunggu keajaiban benar-benar datang.
Arvin sendiri kini sudah tampil keren dengan tuksedo dan jas yang menyerupai jubah kebesaran yang sungguh membuat siapapun akan terpana saat melihat ketampanannya dengan kacamata yang kini bertengger di hidung mancungnya itu.
Arvin yang sudah menyiapkan tempat untuk melakukan lamaran tersebut, dia membooking sebuah restauran berbintang.
Sebuah ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa dengan berbagai bunga dan juga lilin tidak lupa pemain biola handal pun sudah bersiap, untuk mengiringi acara tersebut.
Arvin yang sudah mengirimkan gaun malam yang sangat cantik itu terlihat sangat glamor saat di kenakan oleh Shania, dan saat itu Shania sadar jika ternyata Arvin sudah kembali.
"Arvin Wijaya awas saja aku akan menghukum mu sampai saat kamu bilang ampun."ucap Shania yang gemas dengan calon suaminya itu.
Hingga saat seseorang datang menjemput Shania atas perintah Arvin.
Shania kini tengah duduk dengan tenang di dalam mobil bersama dengan satu orang sopir yang menang sengaja Arvin tunjuk untuk menjemput calon istrinya itu.
Arvin pun kini tengah berada di ruangan yang sudah terlihat perfek tersebut telunjuk nya mengetuk-ngetuk meja sambil berhitung mundur, dia kembali bangkit saat pintu terbuka.
Shania berdiri mematung saat melihat hal itu.
Dia bahkan menatap lekat wajah pria tampan yang tampak pangling dengan penampilan super perfeksionis itu.
"Selamat malam Babe, kenapa? diam saja apa? kamu tidak merindukan ku."ucap Arvin yang kini memeluk Shania lebih dulu dan meninggalkan kecupan manis di bibir indah itu.
"Ar,,, aku sangat-sangat merindukan mu... sangat mencintaimu."ucap Shania.
Mereka pun berciuman dalam cahaya remang-remang di antara mereka saat ini hanya ada cahaya dari ratusan lilin kecil yang menghampiri di lantai membentuk love dan bunga mawar yang bertaburan di lantai dan juga beberapa rangkaian bunga mawar putih dan merah berada di setiap sudut.
Ciuman itu masih belum usai, sampai saat Arvin melepaskannya.
Arvin menjentikkan jari dan suara musik dari permainan biola terdengar merdu.
Arvin langsung bergegas membawa Shania ke tengah lingkaran lilin yang kini berbentuk love Arvin langsung berlutut di hadapan Shania sambil menyodorkan. setangkai bunga mawar dan juga sebuah kalung berlian yang begitu cantik dan berkilauan saat cahaya lilin itu memantul di butiran berlian tersebut.
"Shania Aurora Georgio, maukah kau menikah dengan ku, menjalani hidup bersama ku dalam suka maupun duka dalam sehat ataupun sakit."ucap Arvin seolah tengah melakukan sumpah pernikahan disaat melamar Shania.
"Aku sangat bersedia sayang."ucap Shania yang kini meraih keduanya bunga dan juga kalung tersebut.
"Eum.." Arvin kaget saat Shania tiba-tiba membungkuk dan mencium bibirnya tanpa aba-aba.
Hingga Arvin berdiri dan ciuman itu kembali terjadi, tangan Arvin sendiri kini tengah memasang kalung tersebut di leher jenjang calon istrinya itu.
"Apa? ini artinya sayang bukankah kita sudah melakukan pertunangan."ucap Shania.
"Tentu tapi aku ingin melamar mu calon istriku sebelum kita benar-benar menikah nanti."ucap Arvin.
"Terimakasih sayang aku benar-benar bahagia."ucap Shania.
"Shania sayang... aku akan melakukan apapun untuk bisa membuat mu bahagia."Arvin.
Hingga akhirnya mereka pun berdansa bersama setelah itu ditutup dengan makan malam gratis.
Shania kini masih memeluk Arvin, rasanya tidak rela jika harus kembali berpisah setelah kembali dari restaurant tersebut.
Gadis itu diantar oleh Arvin pulang, ke Mension.
Tadinya Arvin ingin Shania menemani dirinya di rumah yang sudah lama kosong itu dan hanya dihuni oleh asisten rumah dan juga satpam.
__ADS_1
Tapi Arvin tidak bisa melakukan itu, besok pun mereka akan kembali berkumpul di siang hari untuk mengurus empat puluh harinya nyonya Ervina yang kini sudah tiada.
"Sayang jangan sedih gitu kita besok kumpul lagi, besok kan empat puluh harinya Bunda."ucap Arvin lembut.
"Aku ikut pulang saja aku rindu kak Arvin."ucap Shania.
"Sayang hanya malam ini, setelah satu minggu kemudian kita akan tetap tinggal bersama."ucap Arvin.
"Tidak mau setelah hari esok bahkan kita dilarang bertemu."ucap Shania.
"Heumm... baiklah-baiklah cinta."ucap Arvin yang kini menemui Sanum meminta izin untuk membawa Shania menginap di rumah Arvin.
Samun pun mengijinkan mereka, karena dia sendiri tau jika saat ini keduanya masih sangat merindu.
Shania pun langsung bergegas menuju kedalam kamar untuk membawa barang pribadinya yang sangat penting baginya.
"Duduklah dulu nak, bagaimana? dengan pekerjaan mu saat ini."ucap Kenzo yang masih berada di ruang keluarga.
"Semuanya baik opah Arvin sudah menyelesaikan nya dengan cepat karena besok ingin berada di rumah untuk empat puluh harinya Bunda."ucap pria tampan itu.
"Mommy sudah siapkan semuanya untuk besok nak, jadi kamu tidak perlu khawatir."ucap Shanum.
"Terimakasih mom."ucap Arvin yang begitu bahagia karena ternyata calon ibu mertuanya adalah orang yang sangat pengertian dan perhatian.
"Sama-sama Vin, jangan sungkan mommy sekarang adalah ibumu juga."ucap Sanum.
Arvin pun mengangguk pelan.
"Aku sudah siap."ucap Shania yang kini tengah berjalan membawa koper berukuran kecil berisi barang-barangnya.
"Sayang,,, kamu puas-puasin berada di samping Arvin, satu Minggu nanti akan jauh lebih berat dari satu bulan kemarin."ucap Mariana.
Wanita lanjut usia itu sudah bisa membayangkan betapa tersiksanya cucu kesayangannya itu karena tidak bisa bertemu dengan dengan calon suaminya itu.
Mereka pun berpamitan, tidak sampai sepuluh menit mereka sudah tiba di dalam rumah Arvin, asisten rumah pun menyambutnya.
Arthur sempat mematung sejenak karena teringat dengan sang Bunda yang selalu melakukan hal itu, saat Arvin baru kembali dari luar kota, setelah perjalanan bisnis.
"Yank..."lirih Shania yang kini memeluk Arvin.
Shania tahu dengan apa? yang Arvin rasakan saat ini, kesedihan itupun sangat terasa, itulah kenapa? Shania ngotot ingin ikut ke rumah itu.
"Masuklah, Bunda pasti melihat mu dari atas sana... berdoalah semoga Bunda tenang di surga."ucap Shania.
"Heumm... kamu benar sayang."ucap Arvin yang kini melepaskan pelukan itu, dia merangkul pinggang Shania dan naik ke lantai atas.
"Kamu bobo duluan saja Sayang, aku ada sedikit pekerjaan."ucap Arvin.
"Aku bisa temani kakak, mau aku buatkan kopi."tawar Shania.
"Heumm..."
..........................
Mereka pun kini tengah berada di ruang baca, Arvin tengah berkutat dengan laptopnya. sementara Shania masih duduk di samping Arvin sambil mencoret-coret sebuah kertas putih itu hingga membentuk sketsa wajah.
Arvin yang melirik saat minum kopi pun hampir kaget saat melihat sketsa mereka yang tengah berciuman mesra di tengah lilin berbentuk love tadi.
"Wow,,, sayang kamu pintar sekali membuat lukisan yang sangat sempurna ini."ucap Arvin.
__ADS_1
"Tentu saja, Siapalagi gurunya yang sangat tampan ini."ucap Shania.
"Kamu bisa saja sayang."ucap Arvin.
Sampai saat keduanya memutuskan untuk tidur di ranjang yang sama dengan Arvin.
Meskipun hanya sekedar tidur biasanya, mereka masih bisa saling menjaga dirinya karena saat ini suasananya masih dalam masa berkabung.
Sementara di Belanda saat ini Arfan baru saja terbangun dari tidurnya.
Pria itu tidak pernah bisa tidur nyenyak semenjak kepergian ibunya, rasa sakit dan bersalah menjadi satu di hati terdalamnya.
Dia tidak bisa membayangkan saat ibunya tengah meregang nyawa atas perbuatan perempuan biadab tersebut.
Arfan hanya bisa menangis sambil memanggil nama dari ibunya itu.
Arfan begitu rapuh di setiap malam dia hanya akan tertidur pulas setelah minum obat tidur yang hanya bekerja untuk beberapa jam saja meskipun dosisnya sudah dinaikkan.
Dia akan tidur setelah siang hari.
Sementara waktu untuk kuliahnya itu akan dilakukan beberapa jam saja dengan cara online.
Sejak kepergian ibunya Arfan bahkan tidak lagi fokus seperti dulu.
Dunianya seakan telah berakhir, orang tua satu-satunya harus pergi dengan cara yang mengenaskan.
Kembali pada Arvin kini sudah bersiap untuk menyambut kedatangan tamu dari ibu-ibu pengajian dan juga bapak-bapak yang biasanya mendoakan almarhum setiap acara tahlil itu digelar.
Shania seperti biasanya mendampingi Arvin, juga Shanum dan Mariana.
Mereka tengah berdiri di depan pintu masuk.
Tamu yang hadir juga dua kali lipat lebih banyak saat ini, Arvin sekalian meminta do'a dari semuanya agar rencana pernikahan yang akan digelar satu minggu kedepan itu bisa berjalan dengan lancar.
Semua orang pun mengaminkannya, mereka bilang mereka juga akan datang di acara siraman nanti seperti permintaan Kenzie.
Di suasana yang penuh haru itu pun acara tahlil digelar.
Arvin berulang kali menitikkan air mata, dia tidak kuasa menahan tangisnya. saat dia akan berumahtangga ibunya bahkan sudah empat puluh harinya tiada dari dunia ini.
Shania pun mengusap punggung calon suaminya di kesedihan yang sama mereka terus saling menguatkan.
Arvin pun menatap lekat wajah Shania yang kini juga tengah menitikkan air mata.
"Bunda pasti akan bahagia karena mimpinya untuk memiliki menantu yang baik akan segera terwujud."ucap Arvin.
Acara tahlilan itu sudah selesai di gelar saat ini Arvin tengah memberikan santunan kepada para anak yatim bersama seluruh keluarga Shania yang sudah ada di sana.
Shania bahkan menambah amplop yang diberikan oleh Arvin dengan amplop yang lumayan tebal di setiap lembaran amplop tersebut.
Begitu juga dengan keluarga besar Shania, hari ini melihat senyuman dari anak-anak kurang beruntung itu membuat hati semua orang menghangat.
Arvin merangkul bahu Shania saat semua tamu sudah bubar tinggallah keluarga Shania yang ada di sana.
"Sayang kelak jika kita punya rejeki lebih, aku ingin kita menyantuni anak-anak yang kurang beruntung itu."ucap Arvin.
"Tentu saja Sayang, aku bahkan ingin memiliki rumah yang nyaman untuk mereka tinggali, daripada membuat Mension yang sepi penghuni lebih baik membuat rumah yang nyaman untuk mereka tinggali."ucap Arvin.
Arvin pun mengangguk setuju, mereka pun pergi meninggalkan halaman rumah menuju kedalam rumah dimana seluruh keluarga Shania kini tengah duduk ruang keluarga.
__ADS_1
"Masih ada beberapa jam lagi,,, sebelum kalian berpisah kalian bisa jalan-jalan dulu atau apalah karena tidak ada handphone atau apapun itu semua akan disita."ucap Kendra yang kini tengah duduk di samping calon istrinya rencananya tiga hari lagi mereka akan melakukan akad.
"Tidak bisa,,, aku tidak mau itu terjadi."