
tiga puluh tahun yang lalu, saat Kenzo, berusia Dua puluhan, Dia, bertemu dengan seorang wanita yang teramat cantik, bernama Aurora, gadis berusia delapan belas tahun itu, teramat sangat cantik, dia adalah seorang mahasiswi cantik jurusan manajemen bisnis, dia kuliah di kampus yang sama bersama dengan Kenzo, dengan beasiswa karena kecerdasan otak yang dia miliki.
Aurora, yang sangat cantik adalah gadis yang tumbuh di pinggiran kota, dia terlahir dari seorang wanita, yang bekerja di sebuah club malam, karena, ayah Aurora, sudah lama pergi entah kemana, hingga dia dewasa pun tidak pernah terlihat batang hidungnya.
Setiap hari di kampus, pasti terjadi kehebohan yang terjadi, dimana setiap pria melamar Aurora, tapi gadis itu hanya membalas dengan senyuman, tanpa memperdulikan mereka yang berkoar koar di hadapan nya.
Kenzo, dan Adri, yang anak seorang pengusaha sukses, pemilik dari kampus tersebut, mereka kuliah jurusan yang sama dengan Sanum, tapi di kelas khusus, para pebisnis muda.
Setiap hari kedua pria tampan itu akan selalu menjadi pusat perhatian, dan banyak sekali wanita yang memberikan kado dan bunga, tapi tidak dengan Aurora, gadis itu tidak tertarik pada, pria itu sedikit pun.
Aurora, terkesan cuek dan tidak perduli, hingga suatu hari, saat Aurora, keluar dari dalam toilet, langkah nya dicegat oleh Kenzo, yang merasa sangat kesal dengan sikap acuh Aurora.
"Hi, kau gadis yang kuliah yang kuliah di jurusan yang sama dengan ku, bukan"ucap Kenzo.
Aurora, hanya mengangguk pelan, setelah itu dia pergi begitu saja.
"Aku tunggu di rooftops nanti setelah pulang kuliah"ucap Kenzo.
Tapi Aurora, tidak menjawab dia terus berjalan, meninggalkan Kenzo.
Kenzo, hanya berdecih kesal dengan sikap Aurora, yang benar-benar acuh.
"Hingga saat kampus tersebut sepi Kenzo, belum pergi dari ruangan nya, dia berjalan menuju rooftops, tapi saat sampai di sana, Aurora, tidak ada, dan Kenzo, pun menelpon seseorang untuk mencari tau dimana keberadaan Aurora, tapi tidak ada satupun yang tau bahkan setelah Kenzo, meminta orang-orang nya, mencari gadis itu.
Aurora, sendiri tengah berada di rumah sakit, karena sang ibu, terkena sakit parah, dia yang kebingungan, mencari biyaya kesana-kemari pun akhirnya mau turun ke jalanan, dia mengamen beserta kedua sahabatnya, yang sudah lama menjadi pengamen jalanan.
Hingga, saat Aurora, sedang bernyanyi dari mobil ke mobil lainnya, dia berhenti di depan mobil Kenzo, yang sama sekali tidak pernah ia tau, dan peduli
Hingga, seseorang memberikan satu gepok uang berwarna merah, gadis itu tercengang melihat uluran tangan tersebut.
"Ambilah, aku tau kamu melakukan hal itu karena sangat butuh uang, anggap saja ada durian runtuh"ujar Kenzo, yang sedari tadi mengulurkan tangannya dengan menggenggam uang tersebut, tapi Aurora, tidak menerima itu, dia langsung pergi meninggalkan lampu merah tersebut.
"Tunggu, Aurora, kapan lagi dapat uang sebanyak ini, jika kamu tidak mengambil nya, ibumu tidak akan selamat"ujar Kenzo.
Pria itu berjalan mengikuti langkah Aurora, tapi karena Aurora, sudah terbiasa menyebrang jalan raya yang ramai dengan kendaraan, dia sampai lebih dulu dibandingkan dengan Kenzo yang terjebak di antara mobil-mobil yang berlalu lalang hingga saat asisten pribadi nya menjemput nya di sana.
Kenzo, selalu berdecih kesal, terhadap Aurora, yang tidak pernah mau berkomunikasi dengan nya, sampai saat ibu, Aurora, meninggal dunia, tepat di pagi hari, saat Aurora, memohon kepada pihak rumah sakit, untuk menolong ibunya, tapi mereka mendahulukan uang ketimbang nyawa manusia.
Aurora, bahkan harus, membawa jenazah ibunya sendiri, tidak ada mobil ambulans yang biasa membawa jenazah, Aurora, bahkan menggendong ibunya, sekuat tenaga, tidak ada yang perduli dengan mereka satupun, seakan uang adalah segalanya, tanpa uang manusia bahkan tidak ada harganya.
Aurora bahkan, membawa ibunya yang sudah menjadi mayat tersebut menggunakan motor, hingga, dibantu oleh sahabat nya, yang bernasib sama dengan nya, sesampainya di rumah pribadi nya, tidak ada, warga yang mau melayat atau pun, memandikan jenazah.
Aurora, sudah memohon, kepada seluruh tetangga nya, sambil terus terisak, dalam tangis nya tapi tidak ada satupun yang mau menolong nya.
"Bu, apakah dosa kita terlalu besar hingga tak ada satu orang pun warga yang mau menolong kita, ibu, aku tidak akan pernah bisa memaafkan mereka, jika kelak aku kaya, bahkan perumahan disini, tidak akan ada satupun yang aku biarkan tinggal di sini"ucap Aurora, yang berkali-kali menghapus air mata nya dengan kasar, dia memandikan jenazah, dibantu oleh kedua orang temannya dengan tangis yang tiada henti, meskipun ia berusaha untuk bisa tegar, dan jenazah yang harus nya dibalut kain kafan, jenazah ibu Aurora, dibungkus dengan kain seprai.
__ADS_1
Sampai mereka bertiga berhasil menggali tanah,di depan rumah nya, Aurora, masih bercucuran air mata, mereka pun mandi terlebih dahulu, setelah bersih Aurora, mengangkat jenazah, tersebut kesamping liang lahat.
"Bu, maafkan Aurora, yang tidak pernah berbakti kepada ibu, Aurora bersumpah, jika Aurora, punya banyak uang, entah dimana Aurora dapatkan, Aurora, akan membantu mereka yang kesulitan, dan akan menyingkirkan mereka semua yang benar-benar sombong, Aurora ikhlas ibu, pergi, semoga kita bisa bertemu di surga nanti"ujar Aurora, sambil mencium puncak kepala ibunya dan telapak kaki nya,sang ibu.
kedua sahabatnya, menitikkan air mata yang tidak berkesudahan, mereka pun membantu mengangkat jenazah dan memasukkan nya kedalam liang lahat.
Setelah jenazah terpendam di dalam tanah, Aurora, memeluk gundukan tanah itu dia pun menangis sesenggukan, sampai akhirnya pingsan, tidak ada sanak saudara, tidak ada tetangga, hanya ada dua orang teman yang bernasib sama dengan nya, Aurora, bahkan mengaji sendiri sebagai do'a pengiring bagi sang ibu, yang kini kembali ke pangkuan ilahi.
Aurora, pun pergi kuliah, setelah hampir satu Minggu cuti, karena sedang berduka.
Saat itu, Kenzo datang menyeret Aurora, dan menahannya di tembok, karena mereka, menjadi pusat perhatian.
"Aku tidak pernah melihat, perempuan se sombong dirimu, selama hidup ku, dimana pun aku berada, semua orang wanita akan berteriak memanggil ku, berusaha mendekati ku, dan bahkan melemparkan tubuhnya padaku, dengan sukarela tapi kau bahkan tidak pernah peduli dengan ku, bahkan kau mengabaikan ku"ucap Kenzo, yang benar-benar murka.
Sampai saat Kenzo, melepaskan Aurora, wanita itu pun pergi tanpa kata, Kenzo semakin dibuat penasaran oleh gadis tersebut.
satu bulan kemudian, Kenzo, semakin gencar mengejar cinta Aurora, hingga gadis itu di keluarkan dari kampus tanpa alasan yang jelas, semua adalah ulah dari seseorang yang tidak suka melihat putra semata wayangnya, mengejar wanita yang bahkan jauh dari kata sepadan.
............................
Perjuangan Kenzo, bahkan tidak sampai disitu, dia mencari Aurora, yang bahkan sudah berganti nama.
Wanita itu bahkan sudah memutuskan untuk menikah dengan pria yang baik, seorang pria sederhana, dia lumayan berada, tapi karena terlalu gila dengan barang antik, pria itu tidak jarang kena tipu.
Sampai suatu hari dia harus merelakan perusahaan nya, diakusisi oleh keluarga Kenzo.
Hingga Sanum lahir, dia diasuh oleh ayahnya, dengan pengasuh, dan Aurora pergi ke luar negeri, dia bekerja keras di sana, dia,bahkan menghasilkan pundi-pundi uang.
Dengan kecerdasan otak nya, hingga dia memiliki saham, yang ia tanam di perusahaan asing kehidupan nya sudah jauh lebih layak, satu persatu rumah tetangga di gusur, karena dia sudah membeli semua itu, dengan cara apapun.
Hingga dia bisa membangun Mension, di tanah yang sangat luas itu, seperti janjinya pada sang ibu, mereka mengira, Aurora sudah menjadi seorang wanita murahan,maka dari itu, Aurora, cepat sukses.
Dan, wanita itu pun tidak menyangkal perkataan orang lain, dia pun mendirikan sebuah club malam, untuk membantu orang-orang yang senasib sepenanggungan dengan dirinya dulu, meskipun dia tidak pernah menjual diri, Aurora pun menerima mereka yang ingin bekerja sebagai wanita malam, untuk bekerja di sana.
Uang penghasilan dari club tersebut, dia pisahkan dengan uang hasil dari usaha nya yang halal, sementara yang dari club malam dia berikan pada para pengemis di jalanan, dan anak-anak tidak beruntung, mungkin itu adalah uang haram, tapi dia berharap Tuhan, akan memaafkan semua kesalahannya, wanita itu bahkan tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu, sebagai permohonan untuk membersihkan dosa-dosa nya.
flashback off:
Sementara itu di dalam penjara, Sanum, baru selesai mandi, karena dia sudah pagi mereka pun, akan mengikuti berbagai pembinaan, khusus di aula yang ada di sana, selain untuk beribadah, mereka juga akan belajar untuk menguasai keterampilan untuk masadepan mereka kelak saat berada di luar penjara.
Sudah hampir tiga bulan, berlalu hingga saat ini Sanum, tidak pernah disidang, bahkan dia tidak pernah mendapatkan kunjungan, bumil yang satu itu, hanya meratapi nasibnya hidup sulit, di bui dalam kondisi kehamilan nya, disaat itu, bahkan Sanum, tanpa sengaja melihat surat kabar, yang menyatakan bahwa pewaris keluarga Georgio, saat ini sudah bertambah, selain putra dari Kenzie,yang pertama kini istri Kenzie, sudah kembali mengandung .
Sakit, yang teramat mungkin Sanum, rasakan tapi wanita itu, terus berusaha untuk menepis nya, baginya Kenzie, bukan lah siapa-siapa, mereka orang asing, meskipun tidak dapat di dihapus begitu saja jejak Kenzie, dari dalam hidupnya, saat ini, ada janin yang terus berkembang di dalam rahimnya.
"Anakku, sampai kapan pun, waktu nya kita hidup di sini, Bunda, harap kamu kuat, dan mohon jangan pernah membenci Bunda"ucap Sanum, lirih, saat ini tidak terasa waktu sudah pukul sepuluh malam, disaat semua orang terlelap, di atas sehelai tikar dirinya masih terduduk selonjoran di sana, sambil mengelus perut buncit nya, saat ini dia sedang menginginkan sesuatu, tapi tidak ada siapapun yang bisa dia mintai tolong, mereka bahkan bukan saudara, bukan pula teman yang ramah, karena orang-orang yang Yudha, siapkan untuk selalu berada di sini tiba-tiba semua hilang tanpa jejak.
__ADS_1
Sanum pun hanya bisa menitikkan air mata, ada beberapa luka di bagian tangan dan memar di kepala, saat orang-orang, tiba-tiba menjambak rambut nya yang panjang.
Disana tidak ada kata teman yang akan setia kawan, mereka semua adalah musuh dalam selimut.
Tangis Sanum, terhenti, saat seorang sipir penjara datang menghampiri nya.
"Sanum, ikut saya"ucap wanita cantik itu.
Sanum pun berjalan dengan langkah kaki sedikit di seret karena perutnya yang sedikit terasa ngilu, mungkin karena dia hampir terjatuh saat mereka menindas wanita itu.
"Duduk lah"ucap nya setelah Sanum tiba di sebuah ruangan, dan Sanum pun menurut.
"Sudah berapa? usia kandungan mu saat ini"ucap seorang sipir, tersebut.
"Sudah hampir lima bulan Bu"jawab Sanum.
"Mana tangan mu"ucap wanita itu.
"U untuk apa? Bu, saya tidak akan melarikan diri, sekalipun ibu membunuh ku, tapi tolong tunggu anak saya lahir, kasihanilah dia"ucap Sanum.
"Saya, tidak akan menyakiti mu, Sanum justru saya ingin mengobati lukamu"ucap wanita itu.
Dia, adalah satu-satunya sipir yang baik hati, saat malam tiba, karena disiang hari dia bersikap tegas dengan peraturan yang berlaku.
Wanita itu langsung meraih tangan Sanum, dia mengoles salep, di luka lecet yang ada di siku lutut dan tangan yang terdapat luka.
"Bu, saya tau hukuman saya tidak akan pernah berakhir, sampai saat saya mati nanti tapi tolong, tolong selamatkan anak saya nantinya, saat dia lahir, lindungi dia, saya punya cukup uang dan semua itu bisa anda gunakan untuk merawat anak saya kelak hingga dia dewasa"ucap Sanum, dengan tatapan sendu.
"Jika kamu punya banyak uang, lalu kenapa? tidak mengajukan banding, atau setidaknya meringankan hukuman mu"ucap sang sipir yang tidak tau, hukum yang sedang di jalani oleh Sanum, itu atas kasus apa, karena sama sekali tidak ada catatan kejahatan tentang nya.
"Saya, hanya ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa kekuasaan bukan lah segalanya, jika pun saya tidak bisa menunjukkan kebenaran, setidaknya akan ada pencari jejak tentang keadilan di masa depan" ucap Sanum.
"Apa? yang sebenarnya terjadi padamu, ceritakan lah, mungkin setidaknya, aku bisa sedikit membantu"ucap Bu Dena.
Sanum pun bercerita dengan gamblang dari mulai A sampai z, dia sudah lelah karena sudah memendam semua itu sendiri, Sanum, tidak peduli, meskipun wanita itu, benar-benar musuh atau bukan, sekalipun dia harus mati.
"Jadi tidak ada satupun yang berani membela mu"ucap Dena.
"Heumm"ucap Sanum, sambil mengangguk pelan, setelah itu ia pun kembali menunduk.
"Sanum, tadi sore, ada yang menitipkan ini untuk mu"ucap Dena.
Wanita itu menyodorkan sebuah kotak, makanan yang tentunya tidak sedikit.
Salah satu, makanan tersebut, ada makanan yang saat ini dia sangat inginkan, yaitu donat kentang dengan coklat kacang diatas nya, dan ternyata ada di dalam sana, disitu juga ada beberapa vitamin.
__ADS_1
Dan sepucuk surat dari seseorang yang sudah lama menghilang.
āļø: Sanum, apa? kau baik-baik saja, apa,kabar dengan sikecil, kamu harus tetap bertahan untuk nya, ingat sebentar lagi kebenaran akan segera terungkap, makan lah dengan baik, aku tau selama ini, bahkan kau sulit untuk makan, tapi tetaplah berjuang, Sanum, jangan takut selama ada istri ku, Dena, dia yang akan menjaga mu"Yudha.