Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Arvin I love you#


__ADS_3

Arvin duduk di samping Shania setelah dia selesai menelpon asisten pribadinya itu.


Shania kini berbaring menyamping menghadap Arvin, sementara tangannya yang terdapat jarum infus di sembunyikan karena dia benar-benar merasa takut dengan jarum suntik dan obat.


"Sayang aku mau pulang."ucap Shania.


"Tunggu sampai demamnya reda oke."ucap Arvin lembut sambil membelai pipi Shania yang terlihat masih merah mungkin karena demam.


"Aku tidak mau di infus yang rasanya tidak nyaman, dan sakit disini juga bau obat."ucap Shania.


Arvin pun mengusap wajah cantik itu dengan lembut yang kini tengah menangis karena tidak betah.


Arvin pun merasa tidak tega tapi demam Shania belum sepenuhnya turun.


Arvin pun mencoba sebisa mungkin untuk membuat Arvin merasa nyaman.


Arvin berdiri lalu membungkuk memeluk Shania.


"Yang sabar ya."ucap Arvin.


"Mau pulang."ucap Shania.


"Iya kita pulang setelah demamnya turun."ucap Arvin yang membawa Shania bangun dia kini duduk di sofa sambil memangku Shania.


Shania kini tengah membenarkan wajahnya di samping leher Arvin, hingga saat Sanum masuk lalu menggeleng pelan melihat putrinya yang memang sangat manja itu.


Arvin pun dengan sabar mengelus rambut Shania.


"Sayang, Arvin harus istirahat kamu sama mommy saja ya."ucap Sanum.


"Mom aku ingin pulang saja."ucap Shania .


"Sayang kamu masih sakit, nanti kalau sudah mendingan baru boleh pulang."ucap Sanum.


Sanum pun menyiapkan beberapa paper bag berisi makanan untuk makan malam mereka nanti.


"Ar, kamu bisa bersih-bersih dulu, ini tadi dari Riyan dia nitip ini."ucap Sanum yang kini terlihat menyimpan sebuah handbag berisi pakaian ganti dan juga handphone milik Arvin.


"Sayang aku mandi dulu oke."ucap Arvin.


"Baiklah sayang."ucap balas Shania lirih.


Gadis itu pun kembali ke atas bed pasien.


Sanum kini menyuapi Shania makan salad buah yang dia minta.


Arvin sendiri kini tengah berada di dalam kamar mandi yang ada di ruangan tersebut.


Pria itu mandi disana.


Tidak sampai 30 menit Arvin pun sudah keluar dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


Pria itu sudah tampak rapi dengan pakaian santai malah semakin menambah ketampanannya itu.


Shania pun terpana melihat Arvin yang kini terlihat sangat tampan dan gagah dilihat dari sisi manapun karena otot tubuhnya yang terlihat tercetak karena Arvin kini hanya menggunakan t-shirt dan celana jeans panjang.


"Mommy aku juga ingin mandi."ucap Shania.


"Yank, kamu tidak boleh mandi, nanti setelah demamnya turun baru boleh."ucap Arvin.


Arvin pun kembali duduk Setelah menyimpan handbag tersebut.


Sanum memberikan kotak makanan yang dia bawa karena saat ini sudah waktunya makan malam.


"Makanlah dulu, apa kamu mau tetap disini atau pulang."ucap Sanum.


"Aku disini saja dulu mom, mommy bisa istirahat dirumah biar aku yang jaga Shania."ucap Arvin.


"Tidak apa-apa mommy disini nanti Shania ingin ke kamar mandi tidak ada yang membantu."ucap Sanum.


"Baiklah mom."ucap Arvin.


Akhirnya mereka berdua pun sepakat menjaga Shania berdua bergantian.


Hingga keesokan harinya demam Shania pun sudah sembuh hingga dia sudah bisa pulang tapi masih harus banyak istirahat.


Hari ini Arvin sudah masuk kerja seperti biasanya tapi setiap satu jam sekali, dia akan menghubungi Shania yang kini sudah bisa duduk santai seperti biasanya.


"Sayang kamu sedang apa? heumm."ucap Arvin.


"Bagi dong Yank, aku belum makan siang."ucap Arvin.


"Arvin I love you."ucap Shania.


"Love you more honey."ucap Arvin sambil tersenyum manis.


Shania pun langsung menyendok makanan tersebut kedalam mulutnya sengaja menggoda Arvin.


"Yank...awas ya.... kamu kalau ketemu nanti."ucap Arvin.


Shania langsung tersenyum, "Mau apa? mau nikah ya."ucap Shania.


"Apa? sih pembahasannya itu terus, tentu saja kita akan menikah karena belum."ucap Arvin.


"Asik dong bisa ketemu terus."ucap Shania.


"Ketemu dimana? yah."ucap Arvin.


"Dimana? saja boleh di pelosok mungkin."ucap Shania.


Arvin langsung terdiam sejenak saat mendengarkan kata-kata Shania mengenai pelosok.


"Sayang kenapa? kamu diam saja, apa? ada ucapan ku yang salah."ucap Arvin.

__ADS_1


"Heumm.... tidak ada sayang aku sedang melihat ini maafkan obrolan kita terpotong."ucap Arvin yang kini tersenyum.


"Sudah dulu bekerjanya kamu belum makan siang Sayang."ucap Shania.


"Heumm... tanggung ini mungkin sebentar lagi."ucap Arvin.


"Aku kesana bawakan kamu makanan ya sayang."tawar Shania.


"Tidak sayang, tidak usah sebentar lagi aku pergi ko! nanti kita ketemu setelah pulang kantor ya honey."ucap Arvin.


"Ya... baik-baiklah."ucap Shania.


"Love you honey, jangan lupa istirahat agar cepat pulih."ucap Arvin.


"Love you too honey baiklah."balas Shania.


Sementara Sanum yang mengetahui hal itu dia hanya tersenyum kecil.


Gaya pacaran mereka saat ini sungguh lucu dan terkadang menggemaskan terutama putrinya yang selalu mendesak agar mereka segera menikah.


Sementara jika dibandingkan dengan hubungan antara dirinya dan juga Kenzie dulu yang penuh liku dan Air mata membuat Sanum hampir menyerah.


Bahkan dirinya sempat masuk penjara saat itu karena perseteruan antara dirinya dan keluarga Kenzie.


Samun menyimpan bekas makan milik Shania, sementara di bawah Kenzie tengah menunggu istrinya untuk menemani dia duduk santai di rooftops Mension yang indah itu.


"Sayang, kamu kemana? saja sedari tadi aku menunggu dirimu untuk pergi bersama dengan ku."ucap Kenzie.


"Heumm... putri kita baru selesai makan siang Sayang."ucap Shanum.


"Kemarilah ini giliran kita untuk bersantai."ucap Kenzie.


"Heumm... kamu benar sayang, ketiganya memang sudah dewasa tapi disaat sakit aku tetap sangat mengkhawatirkan mereka."ucap Sanum.


"Heumm... kamu benar sayang."ucap Kenzie.


Mereka tiba di rooftops dan langsung duduk di sana, sofa yang tersedia di sana.


Sanum duduk di samping Kenzie sambil bersandar di dada bidang suaminya itu.


Saat ini dunia terasa sangat indah, langit yang cerah dengan udara sepoi-sepoi menerpa keduanya.


Disana mereka suguhi cheese cake kesukaan Kenzie dan Shanum, tidak lupa juga ada beberapa camilan lainnya yang ia nikmati saat ini.


"Sayang tidak terasa sudah hampir tiga puluh tahun berlalu kita bersama, apa? ada keinginan mu yang belum pernah terwujud."tanya Kenzie.


"Heumm.... semua sudah terwujud sayang apalagi selain melihat anak cucu kita bahagia."ucap Shania.


"Heumm...itu tujuan kita, yang lainnya sayang misalnya bulan madu kita yang kedua sambil berkeliling dunia."ucap Kenzie yang kini tersenyum.


"Boleh saja sayang tapi nanti setelah semua anak kita menikah dan berbulan madu, agar kita bisa lebih tenang saat meninggalkan mereka."ucap Sanum.

__ADS_1


__ADS_2