
percakapan itu terus berlanjut saat selama dua jam.
Kedua sejoli yang sudah tidak lagi muda itu selalu berdiskusi tentang masalah apapun itu karena itu adalah kunci sebuah kesuksesan dalam membangun sebuah hubungan.
Jika dulu Kenzie sukses memimpin perusahaan yang hingga saat ini semakin berjaya di tangan Gerald, tapi tidak dengan rumah tangganya saat itu.
"Masalah demi masalah selalu datang silih berganti, dan tak jarang mereka mengakhiri semua itu dengan keputusan mendadak mereka bahkan sudah hampir tiga kali bubar tanpa kejelasan.
"Hingga saat masalah terakhir datang dari Kenzo yang juga hampir meluluhlantakkan pernikahan tersebut tapi kemudian Kenzie sadar dan bisa belajar dari pengalaman masalalunya itu.
Dan sejak saat itu mereka memutuskan untuk berdiskusi tentang masalah apapun, dan bersama-sama mencari solusi yang terbaik hingga akhirnya mereka bisa bertahan hingga saat ini.
Kenzie dan Sanum bisa hidup bahagia bersama dengan seluruh keluarga besar dari suaminya dan juga anak cucu mereka.
Sementara si bontot Shania pun sudah memutuskan untuk segera menikah dengan pasangannya yang kini datang berkunjung ke kediaman Kenzie hanya sekedar mampir dan menengok tunangannya itu.
"Selamat sore sayang."ucap Arvin yang masuk sambil membawa bunga.
"Sore sayang apa? kabar mu hari ini."balas Shania sambil tersenyum.
"Kabar aku kurang bagus sayang karena tidak dapat asupan vitamin."ucap Arvin yang langsung mencium bibir Shania yang sudah menjadi candu baginya.
"Eum....eum... honey kamu kenapa? heumm."ucap Shania yang kaget saat mendapat kejutan itu.
"Aku ingin merebut makanan tadi."ucap Arvin.
"Owh ya ampun sayang kan bisa minta dibuatin yang baru."ucap Shania.
"Gak mau, maunya yang ini."lagi-lagi Arvin mencium bibir Shania hingga puas.
"Arvin.... kamu nakal ya."ucap Shania.
"Heumm....baiklah sayang gak lagi tapi jangan nakal lagi."ucap Arvin.
"Nakal bagaimana?aku hanya menawarkan mu makan."ucap Shania lirih.
"Nawarin makan bagaimana? kamu sengaja menggoda ku."ucap Arvin.
"Heumm... terserah kalau tidak percaya."ucap Shania.
"Arvin tidak bawa apapun kesini? bukanya kalau jenguk orang sakit itu selalu bawa buah tangan ya."ucap Arvin.
__ADS_1
"Heumm.... tuan putri mau dibawakan apa? itu udah dibawakan bunga dan juga ciuman manis."ucap Arvin.
"Bawalah makanan favorit ku apa? ke gak peka amat sih sayang."ucap Shania.
"Heumm... tunggu sebentar ya."ucap Arvin yang langsung beranjak pergi dari hadapan Shania yang kini tengah menunggu Arvin mengambil sesuatu yang entah apa? itu.
Sesampainya di mobil Arvin langsung membawa sebuah paper bag berisi makanan kesukaan Shania dia memang sengaja ingin mendengarkan keluhan calon istrinya itu.
Arvin pun tersenyum saat ini mengenang pertemuan mereka yang selalu berujung perdebatan.
Shania yang sangat cuek itu kini berhasil dia taklukkan.
Dan kini dia pun sudah mengenal sifat calon istrinya yang ternyata sangat manja jika sedang berada di rumah.
"Paket."ucap Arvin sambil tersenyum manis.
"Maaf yang punya rumah sedang tidak ada, itu paket cod bukan."ucap Shania sambil tersenyum.
"Sepertinya ia Nona."ucap Arvin.
"Heumm... bagaimana? bayarnya ya, saya tidak punya uang kes."ucap Shania.
"Cium juga boleh."ucap Arvin.
Arvin pun balas tersenyum.
"Saya akan bayar dengan cinta nona bagaimana?."ucap Arvin lagi.
"Heumm boleh juga."ucap Shania yang kini bangkit dari duduknya lalu menghampiri Arvin dan berjinjit lalu mengecup bibir tipis yang sangat manis bagi Shania itu.
"Heumm... terimakasih ini paket anda."ucap Arvin.
"Wow... amazing."ucap Shania.
Gadis itu sangat senang karena Arvin memberikan makanan favorit yang sudah lama tidak pernah ia makan dan Shania sangat merindukan itu.
"Ah! bakso mercon."ucap Shania yang terlihat sangat
Ya sayang, itu bakso kesukaan mu, hati-hati masih panas ucap Arvin bercanda padahal bakso itu adalah bakso dari freezer dan belum ada kuahnya sama sekali.
"Ngarang saja, ini belum dimasak honey aku mau masak sendiri kamu mau ikut."ucap Shania.
__ADS_1
"Boleh aku ingin lihat apa? calon istri ku pandai memasak atau tidak."ucap Arvin.
"Boleh kita lihat saja nanti."ucap Shania yang langsung bergegas menuju keluar kamar mereka.
Arvin pun mengekor di belakang, sementara Shania sibuk berceloteh tentang dia yang tidak pernah memasak kecuali memasak mi instan dan telur ceplok saja.
"Sayang, sekarang kamu bagaimana? mau masak jika ternyata tidak mengerti caranya."ucap Arvin.
"Ada koki di dapur bos, jadi bos tinggal duduk manis aku yang akan masak sambil belajar.... ya siapa tahu setelah menikah nanti aku bisa buat itu untuk mu honey."ucap Shania.
"Heumm.... boleh juga jika seperti itu, semangat untuk belajar."ucap Arvin.
"Bagaimana? jika aku tidak bisa memasak yang."ucap Shania.
"Bisa sayang kamu bisa."ucap Arvin.
"Jika tidak?."ujar Shania lagi.
"Ada bibi yang akan menggantikan tugas itu."ucap Arvin.
"Owh sayang ku, terimakasih atas pengertiannya."ucap Shania sambil tersenyum.
Saat mereka sampai di dapur Shania memanggil seorang pria yang sangat tampan, dia adalah koki baru di Mension tersebut yang menggantikan ibunya.
"Sayang biar aku saja yang buat kamu duduk saja, pasti belum boleh capek-capek ia kan."ucap Arvin yang tidak bisa melihat calon istrinya berinteraksi dengan wanita cantik itu.
Shania pun hanya menatap kebingungan.
"Sudah sayang tunggu di kamar saja atau di sofa ruang keluarga, tapi jangan disini karena disini ada banyak benda tajam aku tidak mau kamu kenapa-napa."ujar Arvin beralasan.
"Benarkah."ucap Shania yang malah menggoda Arvin.
"Heumm...."ucap Arvin.
"Baiklah sayang ku, segera bawa ke ruang keluarga karena sebentar lagi akan mommy akan memenuhi tempat ini dengan bahan masakan untuk makan malam jadi kita tidak punya kesempatan untuk berada di dapur lebih lama."ucap Shania yang langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
Arvin pun mengambil panci berukuran kecil itu dan mengisi air kedalam panci tersebut lalu menghidupkan kompor tersebut dan menunggu air mendidih Arvin menyiapkan semua bumbu yang sudah tersedia lalu memasukkan itu kedalam mangkuk beserta perlengkapannya setelah air mendidih akhirnya bakso itu dimasukkan kedalam panci dan direbus hingga bakso sedikit mengembang dari ukuran semula barulah Arvin pindahkan kedalam mangkuk tersebut.
Tidak perlu bantuan koki bakso itu sudah jadi.
Arvin meraih nampan itu lalu membawa itu ke ruang keluarga sementara koki tadi membereskan barang-barang bekas Arvin memasak.
__ADS_1
"Tuan putri bakso sudah jadi."ucap Arvin yang kini langsung menghidangkan bakso tersebut di hadapan Shania.