Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Pergi perlahan#


__ADS_3

Perdebatan itu terus terjadi hingga saat Shania beranjak dari duduknya dia hendak pergi tapi nyatanya Arvin lebih sigap untuk mencegat langkah Shania.


Arvin membawa gadis itu kedalam kamarnya dia bahkan tidak peduli jika tangannya yang terluka itu banyak mengeluarkan darah.


Arvin melempar Shania keatas kasur, dia sendiri kini terduduk di lantai sambil menundukkan kepalanya.


Perban itu mulai kembali basah dengan rembesan darah yang keluar dari luka yang kembali terbuka itu.


"Kamu boleh tinggalin aku Shania, tapi nanti saat diriku sudah tidak bernafas lagi karena aku tidak akan membiarkan mu pergi selama aku masih bisa bernafas."ucap Arvin pelan.


"Mr."


"Jangan panggil aku seperti itu Shania aku bukan gurumu lagi."ucap Arvin.


Shania yang kini bangkit setelah sejenak memejamkan matanya itu dia sangat kaget saat melihat darah yang kini menggenang di lantai.


"Yank,,, kamu kenapa? apa? Yang kamu lakukan heuhhhhh."ucap Shania panik.


"Tidak usah pedulikan ini, tunggu saja mungkin setelah tetes terakhir ini kamu bisa pergi dengan bebas."ucap Shania.


"Cukup Ar cukup!! sudah cukup jangan bicara yang tidak baik, aku tidak akan biarkan kamu mati, aku tidak ingin anak itu hidup tanpa ayah."ucap gadis itu.


Sorot mata Arvin semakin tajam, dia tidak habis pikir dengan Shania yang masih memikirkan itu saat dia panik.


"Bagaimana? jika yang hamil itu kamu Yank."ucap Arvin.


"Aku bisa besarkan bayi itu sendirian tanpa harus mengemis pada siapapun untuk sebuah tanggung jawab."ucap Shania yang kini meraih handuk kecil dan bergegas kedalam kamar mandi.


Dia membasahi handuk kecil tersebut dengan air hangat dari shower air hangat tersebut.


Dia membawa sebuah gelas kecil berisi air yang sama.


Shania berjongkok di hadapan Arvin saat dia hendak meraih tangan Arvin pria itu langsung menjauhkan tangannya itu dari Shania.


"Tolong jangan keras kepala berikan tangan itu kamu bisa kehabisan darah."ucap Shania.


"Keras kepala? kamu bilang... apa? itu tidak terbalik."ucap Arvin.


"Ar,,, baiklah-baiklah aku yang salah tolong berikan tangan mu atau aku pergi saja."ucap Shania.


"Pergilah Shania tapi ingat jangan pernah datang ke pemakaman ku sekalipun kamu menyesal ucap Arvin.


"Ar kamu bicara apa? aku k tidak mau."ucap Shania.


"Berikan tangan mu, darahnya sudah semakin banyak."ucap Shania.

__ADS_1


Arvin semakin menatap lekat wajah yang kini terlihat khawatir itu.


"Shania aku tanya kamu sekali lagi, apa? kamu mencintai ku."ucap Arvin.


"Air mata Shania kini mulai turun deras dia hanya bisa menatap Arvin yang kini tengah menatap lekat wajahnya itu.


"Kamu tau jawabannya Ar, tapi aku tidak bisa terus bertahan jika memang keputusan mu sudah bulat untuk menikahi nya."ucap Shania.


"Aku hanya ingin menyelamatkan reputasi sekolah, dan satu lagi Arfan tidak akan masuk penjara jika aku menikahinya. tapi aku tidak bisa melakukan itu jika kamu pergi meninggalkan ku Shania lebih baik aku mati saja."ucap Arvin.


"Mau sampai kapan? Mr akan tetap mementingkan reputasi sekolah dan mengorbankan semuanya."ucap Shania.


"Sampai saat tanggung jawab yang aku pikul lepas sampai Arfan mampu memimpin nya ."ucap Arvin.


"Baiklah lakukan hal itu sampai kamu sadar bahwa semua akan sia-sia saja pengorbanan itu semua kerja keras mu itu hanya akan menjadi abu."ucap Shania yang bangkit dan berlalu pergi.


"Shania, tunggu Yank... kamu tidak bisa lakukan ini aku sangat mencintaimu aku sangat mencintaimu!!."ucap Arvin.


Nyonya Ervina datang dan bertanya kepada Shania yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan tersebut.


"Shania!! tunggu sayang aku mohon."ucap Arvin.


"Sudah selesai Mr semua sudah selesai bersama dengan keputusan mu untuk semua alasan itu, semoga kamu bahagia."ucap Shania yang kini langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan gerbang yang belum sempurna terbuka itu hampir jadi sasaran.


Shania pergi dengan mobil menuju tempat yang sudah lama tidak pernah ia kunjungi.


Gadis itu menangis sesenggukan saat ini karena rasa nyeri di ulu hatinya.


Arvin memang tidak pernah salah dia selalu berpikir positif untuk masa depannya tapi salahkah hati Shania yang tidak rela jika kekasihnya menikahi mantan sahabatnya itu.


Gadis itu kini hanya bisa mengakhiri hubungan diantara mereka, itu akan jauh lebih baik dari pada terus bertahan maka akan menjadi arang karena rasa sakit itu akan terus ada karena terus terbakar cemburu.


Shania berteriak kencang untuk melepaskan semua beban di hatinya.


"Ahhhhhh!!!! sialan kenapa? terus jadi benalu dalam hidup gue, dulu pria yang gue suka sekarang cinta gue juga ingin lo rampas dengan cara kotor! kau memang anjing!!! sialan."teriak Shania diakhiri tangis pilu nya itu.


Gadis itu pun kembali terduduk di atas pasir yang kini terkena ombak kecil hingga tubuhnya basah dan dress selutut yang ia kenakan pun kini terlihat transparan.


Shania tidak perduli dengan keadaannya saat ini yang dia inginkan adalah rasa sakit itu pergi.


"Pergilah pergi jangan terus disini sudah terlalu sakit."ucapnya lirih.


Sementara sebuah mobil yang datang kini membawa seseorang yang sedari tadi mencarinya kesana kemari dalam keadaan tangan berdarah-darah.


Shania yang tidak sadar dengan kedatangan orang yang sangat ia cintai itu, tetap menangis dan terus meminta rasa sakit itu untuk pergi.

__ADS_1


"Pergilah aku sudah tidak kuat lagi aku mohon pergi."lirih Shania yang kini tertunduk dengan lembut menjadi tumpuan wajahnya itu.


Arvin langsung mendekat dan mengangkat tubuh Shania yang kini berontak. pria itu tidak akan pernah melepaskan Shania sekalipun dia harus mati.


Shania pun kini terlihat sangat menyedihkan dia terus menangis sesenggukan de dalam dekapan hangat Arvin.


"Kenapa? rasa sakit ini tidak mau pergi kenapa?."ucap Shania lirih.


"Karena kamu sangat mencintaiku, dan tetaplah seperti itu, aku janji suatu saat nanti kita akan bahagia bersama-sama."ucap Arvin yang kini memasangkan jaketnya ke tubuh Shania.


Arvin masih memeluk gadis itu dalam dekapannya.


"Ayo pulang ke apartemen, kamu bisa minta ijin untuk menginap di hotel."ucap Arvin.


"Aku akan pulang ke rumah."ucap Shania yang kini mendongak ke atas menatap Arvin.


"Yank please kita masih harus bicara."ucap Arvin.


"Semua sudah jelas, mungkin mommy sudah menunggu ku di rumah."ucap Shania yang memberikan jaket tersebut.


"Sudah jelas bagaimana? Yank jangan pergi kita benar-benar harus bicara."ucap Arvin.


"Kamu bisa menikah dengan dia aku tidak akan menghalanginya dan kelak jika kamu sudah jatuh cinta padanya kamu bisa katakan itu padaku nanti."ucap Shania.


"Apa? yang kamu maksud sayang kamu tidak boleh pergi sebelum semua benar-benar jelas.


"Ar, kamu bisa menikah dengan Karin, dan selama itu aku bisa menunggu di Swiss sambil melanjutkan pendidikan ku, kamu bisa kabari aku jika kamu sudah jatuh cinta padanya agar aku tidak berharap apapun lagi darimu."ucap Shania.


"Tidak ada Swiss, kamu hanya akan tinggal di sini untuk selamanya bersama dengan ku."ucap Arvin.


"Lakukan itu jika memang kamu benar-benar ingin membunuhku."ucap Shania.


"Yank aku tidak mungkin menyakiti mu."ucap Arvin.


"Kamu tidak sadar dengan apa yang kamu lakukan saat ini, semua sudah lebih dari cukup.," ucap Shania.


Gadis itu berlalu pergi meninggalkan rumah Arvin yang masih mematung.


Saat mesin mobil Shania menyala Arvin pun baru tersadar dia langsung memanggil Shania untuk tetap berada di sisinya.


Namun gadis itu sudah berlalu pergi meninggalkan pantai dan Arvin yang kini tengah menyusulnya dengan mobil.


Shania akan menjauh perlahan agar Arvin tidak terus menyulitkan dirinya lagi.


Shania sudah bertekad untuk pergi kuliah di luar, meskipun itu tidak di Swiss, dia akan mencari kampus yang jauh dari kota tersebut.

__ADS_1


Dia akan minta bantuan pada seseorang agar tidak ada yang bisa melacak keberadaannya.


__ADS_2