Ku Gapai Pelangi

Ku Gapai Pelangi
#Arvin marah#


__ADS_3

Arvin pergi begitu saja setelah memperingatkan Shania untuk tidak keluar dari sekolah, sementara untuk sementara ponsel gadis itu masih disita oleh Arvin.


Sepanjang perjalanan Arvin benar-benar merasa marah pada apa? Yang dia lihat saat ini Arvin yang kini pulang diantar oleh sopir dia tengah melihat adegan dansa gadis itu .


"Kenapa? kamu terlihat sangat murahan Shania, aku tidak suka kamu dipegang-pegang atau bersentuhan dengan siapapun aku tidak suka."ucap Arvin yang kini mengingat setiap gerak-gerik Shania yang lincah saat bermain basket waktu itu.


Arvin bahkan bisa merasakan kehangatan saat dirinya mendekap Shania untuk memperbaiki urat yang keseleo waktu itu.


Arvin mengeratkan genggaman tangan, dia tidak pernah menyadari bahwa sebenarnya dia sudah jatuh cinta pada Shania sejak pandangan pertama.


Tapi dia sudah terlanjur memiliki tunangan saat ini.


Hingga dia tidak sadar jika saat ini dia sering memberikan perhatian lebih, dan saat Shania mengatakan bahwa gadis itu ingin keluar dari sekolah tentu saja dia tidak bisa menerima hal itu.


Sementara Shania yang datang dengan wajah lesu hanya memberikan alasan bahwa saat ini dia tengah kurang enak badan, gadis itu tidak ingin bicara jujur pada kedua orang tuanya karena tidak ingin Arvin mendapatkan masalah.


Tanpa sadar bahwa saat ini Shania pun memiliki rasa yang tak bisa dijelaskan dan tidak pernah ia sadari.


"Sesampainya di rumah dia kembali bermain Instagram, dia memposting wajah lesunya itu dengan Hastag #Lelah hati# tentu saja seperti biasanya dia dibanjiri komentar dan dielu-elukan oleh para fans dan juga pengikut lainnya.


"Datang kesini🌹."@ A .☁️. com


Gadis itu langsung mengerti siapa? Pria itu dan apa? tujuan dia meminta untuk datang ke taman bunga.


@ S-hania "Aku tidak punya waktu."balas Shania.


@ A-☁️"Dunia belum berakhir."


Shania langsung menutup laptopnya sebelum akhirnya dia memejamkan matanya saat itu juga.


Gadis itu langsung tertidur pulas hingga jam makan malam tiba barulah Shania bangun dan memutuskan untuk mandi.


Setelah itu dia langsung menggunakan piyama tidurnya, dan turun untuk makan malam.


"Sayang sepertinya kamu benar-benar lelah sekali."ucap Sanum.


"Iya mom, ada sedikit masalah handphone aku disita oleh Mr Arvin gara-gara aku memainkan itu saat sedang belajar."ujar gadis itu.


"Sayang terang saja handphone mu disita jika kejadiannya seperti itu."ucap Kenzie.


"Iya dad,,, sekarang Shania mau mengambilnya ke rumahnya."ucap gadis itu.


"Baiklah makanlah dulu nanti daddy temani."ucap gadis itu.


"Heumm,,, tidak perlu daddy lagi pula masih di komplek kita."ucap Shania ya sudah melahap satu sendok makanan tersebut.


"Baiklah."ucap Kenzie.


"Setelah selesai makan malam, Shania kembali ke kamar untuk menggosok gigi, setelah itu, dia pun kembali turun terlihat sambil memainkan kunci mobilnya.


"Mommy..... Daddy, aku pamit."ucap Sania sambil tersenyum.


"Baiklah."ucap keduanya.


Shania pun pergi keluar lalu berjalan menuju garasi mobil yang tidak jauh dari lobby Mension tersebut.


Shania langsung menempelkan telapak tangannya ke tempat kunci garasi mobil tersebut dan perlahan pintu garasi terbuka lebar.


Gadis itu pun masuk saat semua lampu di dalam garasi menyala secara otomatis.


Dia menghampiri mobil yang akan dia bawa saat ini dan setelah itu ia langsung masuk kedalam mobil lalu menyalakan mesin.


Setelah itu dia langsung pergi dengan mobilnya menuju rumah gurunya itu, tidak ke taman seperti yang di pinta oleh Arvin.


Tidak berselang lama mobil sudah terparkir di depan pintu pagar rumah yang menjulang tinggi itu.


Shania langsung memencet bel yang ada di sana, dan tidak lama satpam pun keluar muncul dari celah pagar tersebut.


"Maaf anda siapa? dan mau ketemu siapa?."pertanyaan itu langsung dilontarkan oleh satpam tersebut.


"Mr Arvin nya ada saya Shania ingin bertemu."ucap gadis itu.


"Tuan muda ada tunggu sebentar saya bilang dulu."kata satpam tersebut.


Shania kembali menunggu di samping mobilnya tidak berselang lama pria yang dia cari bersama dengan satpam muncul di balik pagar.


"Kenapa? tidak langsung masuk saja."ucap pria tampan itu.


"Aku tau etika."jawab Shania sambil menatap kearah pria itu.


"Bawa mobil mu masuk."ucap Arvin setelah pintu pagar terbuka lebar.


"Tidak usah disini saja , saya mau minta handphone saya dikembalikan."ucap Shania.


"Masuklah dulu, handphone mu di dalam."ucap Arvin.


"Tidak,,, saya disini saja."ucap Shania.


"Kemarikan kunci mobilnya."ucap Arvin yang langsung merebut kunci mobil tersebut lalu bergegas masuk kedalam mobil itu.


Shania menghela nafas lalu masuk kedalam mobil tersebut.

__ADS_1


Arvin tidak berbicara lagi dia membawa mobil Shania langsung masuk ke halaman rumah besar itu tepat di depan terasa utama, Arvin meminta gadis itu turun.


"Turunlah."ucap nya.


"Kenapa? harus masuk segala Mr, saya hanya harus mengambil handphone."ucap Shania.


"Handphone itu sudah berada di dalam jadi ambilah, jangan takut kami bukan kanibal yang akan memasak mu seperti yang ada di berita itu."ucap Arvin sambil menatap lekat wajah cantik itu.


Shania pun mengikuti langkah Arvin, tepat saat melewati ruang keluarga ibunda Arvin bertanya.


"Siapa? yang datang Vin."ucap wanita itu.


"Murid Arvin Bun."jawab Arvin.


"Owh silahkan masuk nak, jangan sungkan kamu pasti teman Arfan."ucap wanita paruh baya itu.


"Ya, Tante."ucap Shania sopan.


Arvin mengajak Shania masuk kedalam ruang baca, saat itu Shania sempat ragu tapi kemudian dia mengikuti Arvin.


"Masuklah."ucap Arvin saat pria itu sudah duduk di kursi kebesarannya itu.


Shania masuk dan berdiri di hadapan Arvin, pria itu menatap lekat wajah cantik itu.


"Mana tugas yang aku berikan."ucap Arvin.


"Saya rasa itu tidak perlu lagi karena saya akan pindah sekolah."ucap Shania.


"Shania!! sudah berapa kali aku tekankan kamu tidak akan aku izinkan keluar seenaknya saja."ucap gadis itu.


Shania pun mulai memejamkan matanya karena kaget dengan bentakan Arvin.


"Itu adalah sebuah kebebasan, kenapa? anda melarangnya."ucap Shania.


"Kamu tidak punya hak untuk bertanya soal itu."ucap Arvin.


"Tentu saja saya punya hak."ucap Shania tidak mau kalah.


"Shania jika kamu tidak bisa mengerjakan itu oke aku bisa memberikan mu toleransi, tapi ingat jangan pernah berniat untuk pergi."ucap Arvin yang seketika itu membuat Shania mematung karena merasa bingung dengan maksud perkataan Arvin.


"Apa? Aku boleh tau alasannya Mr."ucap Shania.


"Aku hanya tidak ingin murid kebanggaan sekolah pergi itu saja."ucap Arvin.


Pria itu masih menatap lekat wajah cantik itu.


"Itu tidak masuk akal Mr, karena peraturan sekolah tidak pernah melarang murid manapun untuk pindah sekolah."ucap Shania.


Seketika itu Shania mematung di tempatnya.


"Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali aku melihat mu Shania, apa? itu bukan sebuah alasan yang kuat."ucap Arvin.


......................


"Tolong kembalikan handphone saya."ucap gadis itu.


"Aku ingin jawab atas pernyataan ku."ucap gadis itu.


"Apa? Mr pikir saya akan mengatakan ia untuk pernyataan anda, harusnya anda sudah tau jawabannya saya tidak suka mengambil milik orang lain."ucap Shania.


"Shania aku tidak suka penolakan."ucap pria itu.


"Saya juga tidak suka pemaksaan."ucap gadis itu yang kini berbalik dan hendak pergi tapi kemudian Arvin menghentikan langkahnya.


"Bagaimana? jika aku memutuskan pertunangan ku dengannya."ucap Arvin.


"Itu urusan anda, satu hal yang harus anda tau saya tidak suka pada laki-laki yang tidak setia, Mr bisa cari gadis lain yang pasti itu bukan saya."ucap gadis itu.


"Baiklah mungkin untuk saat ini kamu bisa menolak ku, tapi tidak dengan lain kali."ucap Arvin.


"Kita lihat saja."ucap Shania.


"Terimakasih atas kunjungannya sayang ingat lain waktu aku yang akan berkunjung ke sana."ucap gadis itu.


Shania hanya geleng-geleng kepala, setelah itu ia kembali bergegas menuju kearah pintu tanpa membawa handphone yang masih ditahan oleh Arvin.


"Tunggu,,, siapa? yang mengijinkan mu untuk pergi sebelum kamu mengerjakan tugas yang aku berikan waktu itu."ucap Arvin.


"Mr saya datang untuk mengambil handphone saya, dan bukan untuk les privat jika anda ingin tugas itu aku bawakan besok lagipula aku tidak suka menyimpan soal ulangan di rumah ku."ucap Shania.


"Heumm untuk handphone, baik'lah jika kamu bisa mengambil ini aku akan berikan saat ini juga."ucap Arvin sambil tersenyum manis.


Pria itu mengangkat handphone itu tinggi-tinggi dan meminta Shania untuk mengambil itu, hanya saja gadis itu tidak sedikitpun mengambil itu dia malah pergi.


"Shania tunggu!."pangil Arvin.


Namun gadis itu tetap melanjutkan langkahnya, tanpa memperdulikan perkataan Arvin.


"Arvin ada apa? teriak-teriak pada anak gadis orang."ucap sang Bunda yang tiba-tiba menghadang langkah Shania.


"Dia menolak cinta ku Bun."ucap Arvin jujur.

__ADS_1


"Tolong beri saya jalan Tante."ucap Shania.


"Tenang ya sayang maafkan anak Tante, Oya,,, teman kamu Karin juga baru datang bagaimana? jika kamu bergabung dengan kami yang tengah membuat kue."ucap wanita paruh baya itu lembut.


"Terimakasih Tante tapi maafkan saya saya tidak ada waktu untuk itu, saya besok harus terbang ke Swiss."ucap Shania.


"Tidak Shania saya tidak mengijinkan kamu untuk pergi Shania karena besok ada pertandingan di sekolah."ucap Arvin.


"Mr bisa minta Karin untuk menggantikan saya dia cukup jago dalam segala hal."ucap Shania yang langsung pergi.


Gadis itu tidak mau berlama-lama di hadapan pria itu bukan karena dia tidak suka dengan Arvin tapi dia tidak ingin terjebak dalam lingkar cinta segitiga antara Karin dan juga kekasihnya Arfan.


Jujur Shania sudah melupakan semua itu tapi dia tidak ingin rasa itu kembali jika dia terus bertemu dengan adik Arvin tersebut.


"Saya minta kamu berlatih besok dengan saya di lapangan sekolah, karena lawan mu kali ini lebih berat."ucap Arvin.


"Saya, tidak berminat."ucap Shania yang tidak mau lagi berurusan dengan mereka.


"Shania jika kamu tidak datang maka jangan salahkan aku jika besok sesuatu terjadi padamu."ucap Arvin.


"Lakukan saja Mr."ucap gadis itu.


Arvin mengepalkan tangannya, dia sungguh tidak bisa membujuk gadis keras kepala itu.


Tapi dia salut dengan pendirian Shania yang begitu kuat itu.


Arvin berlari mengejar Shania dia ingin memperlihatkan sesuatu .


"Shania tunggu."ucap Arvin.


"Ada apa? lagi Mr."ucap Shania berusaha untuk bersabar.


"Ambilah,,, soal pernyataan ku tadi tolong jangan dianggap serius, aku hanya ingin menguji seberapa besar pendirian mu itu."ucap Arvin.


"Mr tidak usah khawatir... lagipula tidak akan ada kaki yang mau dengan ku yang terkadang menyebalkan ini, untuk tugas terakhir saya besok akan ada seseorang yang akan memberikan itu pada Anda."ucap Shania.


"Shania,,, apa? kamu serius untuk pindah sekolah, apa? bisa kamu berikan alasan yang masuk akal agar saya bisa menyetujui keputusan mu."ucap Arvin.


"Saya hanya ingin menyusul kakak saya yang sekarang tengah kuliah disana."ucap Shania.


"Kamu bisa ambil libur tapi tidak untuk pindah."ucap Arvin tegas.


"Mr,,"


"Shania, setidaknya tolong pikirkan lagi."ucap Arvin.


"Apa? jika saya menang pertandingan itu saya boleh keluar dari sekolah."ucap Shania.


"Itu bukan pilihan Shania."ucap Arvin.


"jika anda tidak memberikan ijin saya akan keluar dari sekolah."ucap Shania.


"Baiklah saat kau menang hari itu juga surat pindah mu akan keluar."ucap Arvin.


"Baiklah saya akan bermain dengan baik untuk hari terakhir saya di sekolah."ucap Shania.


"Semoga saja."ucap Arvin.


Pria itu tersenyum manis mengantar kepergian putri dari Kenzie tersebut.


Shania sudah berada di dalam mobilnya dia pun menghidupkan mesin mobilnya betapa kagetnya saat wanita itu memarkirkan mobilnya dengan melakukan putaran secara langsung dan pergi dengan kecepatan tinggi dan berlalu begitu saja.


Arvin yakin bakat Shania tidak hanya bermain basket atau olahraga lainnya, tapi juga dia jago balapan.


Malam pun berlalu begitu saja, hari itu Shania kembali sekolah seperti biasanya, karena dia ingin menagih janji pada Arvin bahwa dirinya bisa pindah sekolah setelah memenangkan pertandingan basket.


Gadis itu langsung pergi menuju ruangan Arvin untuk menyerahkan tugasnya, tapi ternyata Arvin tengah bersama dengan kekasihnya yang juga merupakan guru di sekolah itu, dia adalah guru baru.


"Mr, saya ingin memberikan ini."ucap gadis itu.


"Heumm,,, simpan saja di sana.


"Shania,,, perkenalkan dia adalah nona Ghea yang akan menjadi guru olahraga mu menggantikan posisi guru olahraga sebelumnya."ucap Arvin.


"Selamat datang mis Ghea."ucap Shania .


"Terimakasih."ucap Ghea.


Gadis itu pun pamit pergi sambil bergumam dalam hati."Selamat bekerja nona semoga kau bisa mengurus tim ku yang super bandel itu."Shania pun langsung bergegas pergi meninggalkan ruangan itu.


Setibanya di kelas Shania, disambut oleh para sahabat yang kini akan bersiap untuk latihan basket.


Shania pun menyapa mereka.


"Semoga kalian bisa tampil maksimal saatnya nanti, dan tolong menangkan pertandingan ini agar aku bisa pergi dengan cepat."ucap Shania.


"Asiap....! teriak semuanya.


"Kau benar-benar ingin pergi meninggalkan sekolah kita ini."ucap Karin.


"Tentu saja, memangnya kapan aku pernah main-main."

__ADS_1


"Eheum."


__ADS_2