
Sanum terbangun dari mimpi buruk nya, dia bermimpi jika putri nya kini sedang sakit keras.
Sementara, di tempat gadis itu Mikaila tengah bertengkar dengan Gidion, karena pria itu tengah meneguk wine
"Stop Dion, aku bilang stop"ucap Mikaila.
"Kenapa? kamu minta aku berhenti, apa peduli mu"ucap Gidion.
"Dion,, aku tidak tau apa? yang kamu mau saat ini, yang jelas aku hanya mengingatkan jika itu tidak baik untuk kesehatan mu"ucap Mikaila.
"Kamu benar tidak tau apa? mau ku"ucap Gidion.
"Apa? yang kamu mau"ucap Mikaila.
"Memiliki dirimu untuk selamanya"ucap Gidion.
"Kamu sudah punya dia Dion"ucap Mikaila.
"Aku tidak mencintai dia"ucap Gidion yang kini menatap lekat wajah cantik itu.
"Cinta akan datang seiring berjalannya waktu"balas Mikaila.
"Bagaimana itu mungkin,,, contoh nya aku sudah satu tahun menikah dengan nya, dan aku masih tetap tidak bisa menerima kehadiran nya"kata Gidion.
"Itu karena kamu menutup hati mu"ujar Mikaila.
"Aku hanya menginginkan dirimu"ucap Gidion yang semakin maju hendak menghimpit tubuh Mikaila namun gadis itu buru-buru pergi.
Sampai waktu menjelang pagi hari Gidion, masih belum sadarkan diri.
Pria itu tertidur pulas di atas sofa tempat dimana mereka berbincang semalam.
Mikaila kini sudah tampak segar sehabis mandi, gadis itu kini tengah berdiri di samping Gidion dia hendak membangunkan Gidion, setelah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua.
__ADS_1
Saat ini asisten pribadi kedua orang tua nya, tengah kembali ke Indonesia, sementara gadis itu masih terjebak di dalam pulau tersebut.
Gidion dan mikaila hanya tinggal bertiga dengan seorang pelayan.
"Dion bangun"ucap gadis itu yang kini berada di hadapan wajah Gidion.
"Dion bangun"kata Mikaila lagi.
Tapi pria itu tidak bergeming sampai Mikaila mendekat lalu mendekatkan dua jarinya untuk mengecek nafas pria itu tapi kemudian, Gidion langsung membuka mata menarik tengkuk Mikaila dan mencium bibir gadis itu dengan paksa.
Mikaila berontak namun Gidion semakin memperdalam ciuman tersebut, hingga gadis itu pun menyerah dan membalas ciuman tersebut.
"Dion, ha ha kamu keterlaluan"ucap Mikaila.
Tapi pria itu hanya tersenyum manis, tanpa merespon Mikaila yang kini tengah ngambek, gadis itu langsung pergi meninggalkan Gidion yang baru bangkit dan terus berjalan meniti tangga untuk menuju ke dalam kamar utama milik nya.
Setelah tiga puluh menit kemudian, barulah Gidion kembali, saat Mikaila baru selesai sarapan pagi.
"Jangan dulu pergi temani aku sarapan pagi"ucap Gidion.
"Jangan lanjutkan sekolah kita menikah saja"ucap Gidion.
"Apa? aku tidak salah dengar"tanya Mikaila.
"Tidak,, aku serius honey, setelah punya anak nanti kamu bisa lanjut kuliah"ucap Gidion.
"Hi,, tuan apa? kepalamu terbentur semalam, aku bahkan tidak melihat luka di luar kepala mu, ah,,, jangan-jangan ada luka dalam"ucap Mikaila, bermaksud ingin mengejek, tapi kemudian Gidion sudah lebih dulu menjawab.
"Tentu,, luka itu disini menganga hingga saat ini, karena wanita yang kucintai tidak bisa aku miliki"ucap Gidion.
"Dion!"teriak Mikaila yang kini terlihat sangat frustasi, gadis itu tidak tahu lagi dengan cara apa? dia harus memberitahu Gidion, bahwa mereka tidak mungkin akan bisa bersatu.
"Ya bersiap lah aku akan mengantar mu kembali hingga selamat sampai tujuan"ucap Gidion yang tiba-tiba saja berubah mimik wajah nya menjadi datar.
__ADS_1
Sampai Gidion menyelesaikan sarapan pagi nya, Mikaila sudah bersiap dan membawa koper milik nya.
"Apa? benar-benar tidak ada kesempatan untuk ku"ucap Gidion.
"Maksud nya"ucap Mikaila.
"Mikaila, aku sangat mencintaimu,, mungkin sampai akhir hayat ku"ujar Gidion.
"Tuan Dion yang baik hati, jika suatu saat nanti aku telah hidup mapan dan sudah tidak lagi bergantung pada kedua orang tua ku, aku akan mempertimbangkan semua nya, jangan sampai penolakan terhadap ku itu dibenarkan dengan cara kita bersatu disaat aku seperti ini, tapi aku ingin keluarga mu sendiri yang datang melamar ku untuk putra nya itu"ucap gadis itu panjang lebar.
"Heumm,, sayang aku tak butuh kesuksesan mu, yang aku butuhkan adalah dirimu yang selalu ada di sisiku"ucap Gidion.
"Ya,, aku tau itu tapi setidaknya aku tidak dianggap benalu oleh keluarga mu"ucap Mikaila.
"Aku akan membantumu untuk mewujudkan itu cinta"ucap Gidion.
"Aku akan berjuang sendiri"ujar gadis itu.
Akhirnya Gidion langsung menghubungi seseorang untuk menyiapkan jet pribadi untuk mengantar Mikaila pulang ke Indonesia.
Sementara itu di kediaman Allan saat ini Bintang yang tengah mempersiapkan ulang tahun kedua untuk kedua anak nya yang kini ulang tahun yang kedua tahun, wanita itu terus mengarahkan orang-orang yang bekerja untuk mendekorasi tempat pesta.
Allan sendiri sibuk mengurus kedua anak nya.
Alvin dan Bianca kini sudah pintar berbicara, termasuk Alvin yang kini terlihat tenang tapi nyatanya dia lebih pintar dalam segala hal yang biasa dilakukan oleh anak seusia nya, dia adalah anak yang jenius bahkan dia pintar melukis, meskipun lukisan itu terkadang tidak bisa dimengerti oleh orang banyak tapi sangat estetik .
Sementara Bianca putri nya sangat berbakat dalam bernyanyi, meskipun kata-kata nya belum terlalu jelas tapi suara merdu itu terkadang menyamarkan lirik lagu tersebut.
Mereka begitu beruntung karena sudah di karuniai dua orang anak kembar sekaligus disaat Bintang, divonis mandul.
Sampai acara ulang tahun itu dimulai bintang begitu antusias mendandani kedua putra putri nya itu, dengan menggunakan jas dan gaun yang sama dengan kedua orang tua nya, begitu juga soal riasan, bintang benar-benar sangat bahagia saat melihat kebahagiaan yang terpancar dari kedua anak nya itu.
Mereka bahkan melakukan sesi foto, hingga acara ulang tahun berakhir yang kini dihadiri oleh Deswita dan juga Adri, selaku opah dan Oma mereka.
__ADS_1
"Kalian sudah siap untuk kembali, Daddy sudah terlalu tua jika harus terus kembali berkunjung kemari Daddy ingin berkumpul bersama kalian, karena Davina hingga saat ini belum juga kembali, dan Devan juga menolak untuk tinggal bersama dengan kami, lalu siapa? yang akan menemani kami menghabiskan sisa hidup kami"ucap Adri.
Deswita sedari tadi sibuk berinteraksi dengan kedua cucunya itu, meskipun Allan bukan anak kandung nya, tapi dia adalah wanita yang paling berjasa dalam hidup Allan, wanita itu merawat dan membesarkan Allan, seperti putra nya sendiri, meskipun diawal Deswita sempat tidak mau menerima Allan karena ibunya yang jahat padanya, tapi hubungan itu akhirnya membaik disaat Deswita berulang tahun Allan datang membawa kue tart, dalam keadaan berdarah-darah karena sempat terjatuh saat mengikuti pertandingan skateboard untuk anak seusianya, hingga Deswita menangis sesenggukan karena ternyata anak usia tujuh tahun itu lebih mencintai dirinya ketimbang ibu kandung nya.