
"I love you more honey."ucap Vino.
"Boleh aku minta sesuatu?."tanya Vino lagi.
"Tentu saja Sayang."jawab Julia.
"Begini sayang apa? boleh kita pulang ke Indonesia dan menetap di sana, kedua mertua mu sudah sangat tua mereka tidak mungkin lagi untuk kita tinggalkan."ucap Vino.
"Aku bingung harus menjawab apa? Yang jelas aku belum siap jika harus terus berada di sana."ucap Julia.
"Kenapa? Yank,,, apa? karena restu mereka atau karena kamu sudah nyaman tinggal disini."ucap Vino sambil menatap menunggu jawaban.
"Tentunya karena mereka tidak pernah menyukai ku, jadi sekarang kamu tinggallah di sana biarkan aku disini bersama dengan anak-anak."ucap Julia.
"Tidak-tidak itu bukan solusi yang benar sayang, justru kita harus tinggal bersama dengan mereka agar lambat-laun mereka mengerti dengan semua ini."ucap Vino.
"Tidak kak,,,hati ini masih belum bisa berdamai dengan keadaan, aku tau semua yang mereka katakan tentang ku itu tidak semua salah, tapi aku tidak terima mereka menghina kedua putraku."ujar Julia.
"Heumm,,, baik'lah jadi keputusannya tidak sama sekali."ucap Vino yang kini merasa dilema.
"Kamu bisa kunjungi mereka sesering mungkin, jika perlu aku akan meminta Daddy untuk menyediakan alat transportasi untukmu."ucap Julia.
"Sayang aku masih mampu untuk semua itu tidak perlu bantuan Daddy aku hanya bingung antara kamu dan kedua orang tua ku, kalian sama-sama keras kepala."ucap Vino.
"Aku keras kepala,,, lalu kenapa? kamu mau padaku! kenapa tidak pilih saja istri pertama mu yang sangat lembut dan penuh perhatian."ucap Julia yang langsung turun dari pangkuan Vino.
"Yank,,, maaf tolong jangan marah dan jangan pernah bawa-bawa orang lain didalam rumah tangga kita." ucap Vino.
Julia tidak berbicara lagi ataupun menoleh dia terus berjalan menuju keluar kamar.
Vino langsung menyusul Julia dia takut istrinya itu terus marah gara-gara perkataannya tadi.
Namun sayang pria itu tidak menemukan istrinya itu dimanapun, karena saat ini Julia tengah berada di sebuah pojok samping taman belakang.
Wanita itu tengah menangis dalam diam, dia tidak bisa mendengar suaminya berbicara seperti itu padanya, dia juga mengira jika Vino selama ini hanya berpura-pura mencintainya.
Vino sudah frustasi karena tidak bisa menemukan istrinya itu saat ini.
__ADS_1
Sementara itu di kediaman Zaid, kini Luna tengah duduk bersama dengan pria itu menikmati hidangan makan siang mereka.
Zaid yang kini tengah disuapi oleh Aluna dia begitu menikmati itu, meskipun terkadang Aluna tidak sepandai dirinya.
Namun sikap lembut Aluna dan perhatiannya mampu membuat hati Zaid menghangat.
Gadis itu kini terus fokus dengan menu yang ada di piring tersebut dan juga menu yang dia berikan pada pria yang kini tengah berada di hadapannya itu.
"Zaid mau nambah lagi menunya."ucap Aluna.
"Boleh sayang tapi suapi."ucap Zaid lagi.
"Tentu saja Zaid Aluna akan suapi Zaid dengan sangat hati-hati."balas Aluna.
"Terimakasih Honey,,, aku pasti akan cepat sembuh."ucap Zaid.
"Harus,,,."ucap Luna.
"Heumm,,, kamu benar."ujar Vino.
Aluna duduk di samping Zaid sambil memegang handphone milik pria itu.
"Zaid, boleh Luna tau bagaimana? tempat tinggal Zaid dulu bersama dengan keluarga."ucap Aluna.
Pria itu langsung mematung dan tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Karena pertanyaan Aluna adalah luka lama baginya.
Sampai saat ini luka masalalu itu selalu ingin Zaid lupakan.
"Aluna, Zaid minta maaf karena tidak bisa menjawab tentang itu."ucap Zaid yang kini menatap lekat wajah Aluna.
"Tidak apa-apa tidak usah dijawab jika Zaid tidak bisa."ucap gadis itu.
"Heumm,,, baik'lah sayang... tapi aku benar-benar minta maaf untuk itu."ucap Zaid.
"Iya, Luna ngerti kok."ucap Aluna lagi.
__ADS_1
Sementara itu di kediaman Kenzie di Indonesia tepatnya di rumah megah itu, kini Sanum tengah memarahi kedua putranya yang ketahuan ikut balapan liar di jalan raya bersama dengan teman-teman mahasiswanya itu.
"Kevin,,,, Kendra mommy tidak habis pikir dengan kalian berdua, sejak kecil kalian selalu membuat mommy hampir jantungan akibat kelakuan kalian berdua."ucap Sanum.
"Maafkan kami Mom,,, kami janji itu tidak akan pernah terulang lagi."ucap keduanya.
"Coba kalian ingat sudah berapa kali kalian janji pada mommy bahwa kalian tidak akan membuat mommy kesal setengah mati."ucap Sanum mengingatkan.
"Iya mommy."ucap keduanya kompak.
Kenzie yang baru saja datang dari kantor membuat kedua pria itu ketakutan dan merangkul kedua lengan sang mommy dengan wajah berlindung di belakang punggung Sanum.
"Jangan berlindung pada mommy mu, karena Daddy tetap tidak akan pernah memaafkan kalian, segera bereskan barang-barang kalian, saat ini juga kalian akan pindah kuliah ke Swiss."ucap Kenzie tegas.
"Ampun Daddy kami janji tidak akan berbuat nakal lagi, mulai saat ini kami hanya akan fokus kuliah kami janji tolong jangan kirim kami pada Opah."ucap kedua pemuda itu, mereka tahu jika sang Opah adalah pria yang lebih tegas dari ayahnya itu.
"Tidak ada kata ampun, segera bereskan barang-barang kalian berdua, Daddy sudah meminta asisten Daddy untuk mengantar kalian kesana."ucap Kenzie tegas.
"Mom,,, tolong kami kami mohon mommy, kami tidak ingin pergi."ucap keduanya.
"Tidak sayang,,, mommy sudah berulang kali memberikan kesempatan pada kalian, dan ini sudah final."ucap Sanum.
Keduanya begitu terlihat lesu mereka berjalan menuju kamar mereka diikuti oleh beberapa orang pelayan dan Sanum untuk membereskan semua barang-barang mereka yang akan mereka perlukan nanti.
Sementara Kenzie sendiri tengah merenung di dalam kamarnya.
Pria itu tengah merenungkan keputusannya itu, apakah? itu sudah tepat untuk menghukum sekaligus memperbaiki sifat mereka.
Keduanya mungkin tidak pernah merugikan orang lain, tapi sifat mereka yang selalu merasa tidak enak pada teman biasa menjerumuskan mereka kedalam kesesatan, dulu saat SMA, mereka diam-diam pergi ke club malam untuk menghadiri pesta ulang tahun sahabatnya.
Dan yang kedua saat mereka hendak merayakan pesta kelulusan keduanya tertangkap basah hendak meminum minuman keras.
Berulang kali dihukum jawaban yang didapat selalu saja sama, yaitu tidak enak menolak ajakan teman.
Dan saat ini setelah ketahuan mobil sport kedua anaknya disita oleh polisi gara-gara kasus balap liar, Kenzie benar-benar merasa sangat marah. bukan karena mobil tersebut tapi karena anaknya yang berbuat salah.
Kenzie tidak perduli sekalipun mobil itu tidak balik lagi, yang dia pedulikan adalah keselamatan kedua putranya itu.
__ADS_1