
Gadis itu langsung meraih handphone miliknya dan menghubungi Arvin yang kini sudah terlelap dalam tidurnya.
Arvin pun menerima panggilan telefon tersebut hingga saat seseorang berbicara dengan lantang dan begitu memekakkan telinga.
"Arvin Wijaya... anak mommy Ervina,,, aku tidak akan pernah memaafkan mu jika kamu berani berurusan dengan wanita gila itu lagi!!."teriak Shania.
Arvin pun langsung menjauhkan handphone itu dari kupingnya, dia merasa seperti sedang bermimpi saat ini karena sudah pukul dua dini hari.
"Sayang bicaranya pelan-pelan siapa? yang berurusan dengan siapa?."ujar Arvin bertanya.
"Siapalagi si ****** Karin yang sudah membuat aku tidak bisa tidur dengan tenang."ucap Shania tegas.
"Sayang... kamu punya mata-mata di rumah ini atau di Karin mengirimkan sesuatu padamu?."ucap Arvin kembali bertanya.
"Kamu tidak perlu tau pokoknya mulai besok seluruh tabungan mu aku yang pegang!."teriak Shania.
"Baiklah sayang aku akan berikan semua itu besok tapi tidak sekarang sekarang aku ngantuk berat honey,,,"ucap Arvin.
"Tidak bisa kamu tidak boleh tidur Arvin Wijaya,,, aku masih kesal dengan mu."ucap Shania tanpa ampun.
"Sayang... please jangan begini aku harus bekerja besok jika tidak bekerja bagaimana? Aku bisa menabung untuk masadepan kita nanti."ucap Arvin lembut.
"Tidak mau pokonya tunggu aku kesana sekarang juga."ucap Shania.
"Tidak-tidak sayang tidak boleh, ini sudah larut besok saja ya."ucap Arvin.
"Tidak bisa pokonya aku sekarang kesana, ucap Shania yang kini terdengar menyalakan mesin mobilnya dan pergi ke luar rumah terdengar panggilan dari Sanum.
"Owh ya ampun,,,"ucap Arvin yang kini bangkit dari ranjangnya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah, setelah itu dia langsung mengeringkannya dengan handuk.
Arvin tidak menghiraukan rasa sakit kepalanya saat ini yang dia khawatirkan adalah calon istri yang kini tengah menuju kerumahnya.
Arvin pun langsung turun kebawah dan disana dia melihat arfan yang kini membawa sebotol air mineral.
"Mau kemana bang."tanya Arfan.
"Keluar kakak ipar mu datang gara-gara mantan gila mu itu."ucap Arvin yang melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.
Tidak sampai lima menit suara klakson mobil milik Shania terdengar nyaring.
"Yank... kamu ini."ucap Arvin yang langsung membuka pintu utama dan melangkah keluar saat itu mobil Shania benar-benar ngebut.
"Sayang,,, hati-hati."ucap Arvin.
Shania langsung memarkirkan mobilnya di depan teras rumah Arvin.
"Apa? lihat-lihat."ucap Shania yang masih terlihat emosi.
Gadis itu berjalan mendekat ke arah Arvin yang kini langsung memeluk Shania untuk menenangkan wanita itu.
"Sayang kamu maksa kesini malam-malam begini bagaimana? jika terjadi apa-apa."ujar Arvin yang kini terlihat khawatir.
"Aku kesal pokonya aku marah,,,"ucap Shania sambil menangis sesenggukan.
Sesak rasanya dada Shania karena merasa kesal dengan keputusan Arvin yang telah memberikan sejumlah uang pada Karin.
__ADS_1
"Sayang,,, kamu kenapa? heumm ko nangis apa? Aku menyakiti hati mu."ucap Arvin yang kini menggendong Shania masuk sambil bertanya.
Arvin membawa Shania ke atas menuju kamar Arvin karena tidak mungkin berbicara dibawah bisa-bisa mengganggu orang-orang yang tengah tidur.
Arvin membawa Shania duduk di tepi ranjang sementara dirinya kini menghadap ke arah Shania.
"Sayang aku minta maaf jika aku salah,,, tapi aku tidak bisa melihat orang lain sengsara, aku janji lain kali tidak akan lagi memberikan bantuan apapun.! kamu bisa pegang semua uangku mulai saat ini."ucap Arvin.
Shania masih berderai air mata saat ini hingga dia bangkit dari duduknya dan hendak pergi tapi Arvin menahannya.
"Yank,,,, kamu mau kemana.? tunggu ini sudah larut."ucap Arvin lembut.
"Aku mau pulang terserah kamu mau lakukan apapun mulai saat ini aku tidak akan pernah peduli lagi."ucap Shania yang benar-benar merasa kesal dengan dirinya yang seperti orang bodoh karena telah mencampuri urusan pria yang jelas-jelas belum menjadi suami seutuhnya itu.
"Yank,,, kamu bicara apa? Aku sudah minta maaf atas kesalahan ku."ucap Arvin.
"Kamu tidak salah apa-apa aku yang salah karena telah ikut campur dengan urusan mu."ucap Shania yang hendak berbalik dan pergi tapi Arvin tidak memberikan kesempatan pada gadis itu untuk pergi karena dia sadar Shania sedang tidak baik-baik saja.
Arvin pun langsung membawa Shania kedalam dekapannya saat itu juga.
"Jangan pergi sekarang masih sangat larut besok saja pulangnya aku antar."ucap Arvin.
"Aku pulang saja untuk apa? disini karena aku tidak punya hak untuk itu."ucap Shania yang langsung bergegas pergi tapi Arvin langsung meraih lengan Shania saat itu juga Arvin langsung mencium bibir Shania saat itu juga.
Arvin tidak membiarkan Shania melepaskan ciumannya karena dia tidak ingin Shania berfikiran yang tidak-tidak.
Hingga saat Shania mendorong dada Arvin karena kehabisan nafas.
"Jangan pernah bilang jika kamu tidak punya hak apapun, karena kamu adalah calon istriku dan sebentar lagi kita akan segera menikah jadi kamu berhak atas semua yang aku miliki."ucap Arvin.
"Aku tidak ingin itu, aku juga bukan wanita yang suka mengatur yang aku minta padamu tolong hargai aku sebagai pasangan mu jika kamu menganggap ku seperti itu saat ingin mengambil keputusan. tapi jika kamu menganggap ku sebagai orang lain tidak masalah silahkan lakukan apapun yang kamu ingin lakukan berarti kita sudah selesai."ucap Shania panjang lebar.
Shania pun kembali berbalik.
"Yank,,, aku minta maaf, bukan aku tak menghargai mu! rencananya baru besok aku bicara karena sudah sangat larut tidak mungkin aku bicara saat kamu pun baru tertidur dan itu adalah jalan pintas untuk menyingkirkan Karin."ucap Arvin.
"Ah, sudahlah sepertinya rasa khawatir yang kurasakan tidak ada pengaruhnya sama sekali jadi percuma aku datang dan bicara."ucap Shania yang kini terlihat semakin sendu.
"Honey please."ucap Arvin.
"Sudah larut aku pulang dulu."ucap Shania yang kembali berlalu pergi tidak menghiraukan panggilan Arvin yang terus mengikuti langkah Shania yang tidak bisa ia raih.
Hingga Arvin berlari mengejar Shania yang sudah terlanjur masuk kedalam mobil.
"Yank,,, kalau kamu seperti ini bagaimana? bisa menemukan jalan keluar."ucap Arvin tapi Shania langsung melajukan mobilnya dia pergi begitu saja dari kediaman Arvin.
Arvin pun menendang udara di benar-benar merasa marah saat ini, kenapa? Shania bisa tau tentang itu dia juga marah pada Karin yang sudah berhasil memberikan masalah pada hubungannya dengan Shania.
...........................
Keesokan paginya Shania yang biasanya menghubungi Arvin lebih dulu saat ini dia tidak dihubungi sama sekali.
Arvin pun mengira mungkin Shania masih tidur tapi itu tidak mungkin karena dia tahu jika saat ini waktunya Shania kuliah.
Arvin pun tetap berfikir positif mungkin Shania terburu-buru untuk berangkat hingga lupa menghubungi dirinya.
__ADS_1
Arvin pun berangkat menuju kantor,dia tidak menghubungi Shania lagi.
pagi pun berganti siang dan siang berganti malam Arvin semakin dibuat penasaran dia pun langsung menghubungi Shania tapi nomor itu tidak aktif.
Lalu dia menghubungi calon ibu mertuanya itu.
"Halo mom, apa? Shania ada sudah tidur."tanya Arvin.
Arvin langsung bergegas pergi saat mendengar jawaban bahwa saat ini Shania tengah pergi menonton film di bioskop bersama teman kuliahnya.
Sanum pikir dia sudah izin pada Arvin.
Arvin pergi mencari Shania ke bioskop yang biasa ia kunjungi. dan benar saja Arvin menemukan Shania yang baru bubar dari bioskop dia terlihat bersama dengan kelima temannya.
Tiga laki-laki dan dua perempuan, Arvin yang awalnya tidak punya kecurigaan apapun pada mereka tiba-tiba seseorang dari mereka berkata.
"Sudah lo lupakan tuh pria yang membuat lo merasa tidak dihargai Jerry masih lajang dia sama tajir nya dengan lo."ucap salah satu gadis itu.
Sementara pria yang di maksud oleh gadis itu kini terlihat tersenyum manis pada Shania.
Tiba-tiba langkah mereka terhenti saat seseorang menghadang jalannya.
Shania yang melihat itu langsung terlihat gugup.
"Y- Yank,,,, kamu disini."ucap Shania yang kini menatap Arvin.
"Selamat untuk mu yang sudah mendapatkan orang yang sepadan dengan mu. maafkan aku jika selama ini aku menghalangi hubungan antara kalian."ucap Arvin yang kini berbalik pergi.
"Sayang tunggu.!! kamu salah faham Yank,,, tunggu."ucap Shania yang kini berlari mengejar Arvin.
Arvin pun tidak menghiraukan panggilan Shania, pria itu sudah terlanjur sakit hati. ternyata pria yang saat itu menyuapi jus buah pada Shania di Cafe.
"Yank,,, aku mohon tunggu."ucap Shania yang kini berlari mengejar Arvin hingga parkiran.
Gadis itu pun tersandung kaki orang lain hingga terjatuh, Arvin menghentikan langkahnya tapi dia tidak berbalik saat itu.
Dia kembali melanjutkan langkahnya hingga Shania menahan rasa sakit dan menatap lekat punggung Arvin yang kini masuk kedalam mobil.
Arvin pun langsung bergegas pergi meninggalkan basement mall saat itu juga.
Shania sendiri kini pulang di antara teman-temannya.
Arvin kini tengah berada di apartemen dia tengah duduk sambil memegang botol wine.
Pikirannya sungguh sangat kacau, sakit' hati sudah jelas dia dibandingkan dengan pria lain meskipun Arvin juga tidak miskin. tapi harga dirinya lagi-lagi terluka seperti dulu saat Julia memilih Sky saat itu.
"Aku mungkin tak sekaya orang lain tapi apa? aku tidak berhak untuk mendapatkan cinta sejati."ucap Arvin lirih.
Arvin minum hingga akhirnya ia pergi tidur karena sudah sangat pusing saat ini.
Sementara Shania yang sedari tadi mencoba mengirim pesan dan menghubungi Arvin tapi tidak kunjung bisa akhirnya dia pun menyerah.
Luka di bagian lutut itu terasa perih tapi rasa cemas itu lebih dominan dari yang ia rasakan saat ini.
"Maafkan aku Yank... aku tidak bermaksud untuk membandingkan dirimu dengan dia. "
__ADS_1