
'Hey, Cantik! Kamu kok gak bales pesan aku?'
Pesan dari Dito
'Sinta, sepertinya Raja orang nya asyik.'
Pesan dari Terry
'Sinta, sebisa mungkin kamu bantu aku.'
Pesan dari Gendis
"Wah! Aku benar-benar lupa," ucap Sinta sembari menepuk keningnya, kemudian dia melihat ke arah jam dinding.
"Sudah jam enam, sebaiknya aku balas di mobil saja."
Sinta bergegas keluar dari kamar, langsung memakai sepatu.
"Sinta, kamu gak makan dulu?" tanya Sulis.
"Enggak, Kak! Aku uda terlambat," jawab Sinta terburu-buru.
"Terlambat? Baru jam lima," kata Sulis yang baru menyelesaikan masakannya membuat nasi goreng.
"Hah! Jam lima! Kok di kamar ku sudah jam enam?" tanya Sinta.
"Baterainya habis mungkin," jawab Sulis.
Sinta kembali membuka sepatu nya, kemudian dia bergegas menuju meja makan.
__ADS_1
"Makan dulu," ucap Sulis yang telah menyediakan sepiring nasi goreng ke atas meja.
Sinta pun langsung melahap nasi goreng buatan Sulis.
***
"Gendis, kamu cepat minta tunangan sama Raja." Anggita memaksa Gendis, karena posisinya akan terancam jika rencananya gagal.
Anggita sudah terlalu banyak memakan uang korupsi dari Ferdi.
Dan Ferdi akan mengancam menyebarkan foto-foto milik Gendis, jika tuntutan itu dilanjutkan.
Sebenarnya Gendis tidak ingin melanjutkan kejalur hukum, hanya saja Raja telah mengajukan gugatan ke pihak kepolisian.
Diam-diam Raja mengajukan gugatan agar Ferdi segera di tangkap. Raja sebenarnya hanya ingin menuruti keinginan Sinta yang ingin memenjarakan Ferdi.
Raja meminta tolong kepada Dito agar membayar pengacara yang memiliki cincin berlian berjajar di jari jemarinya. Pengacara paling mahal dan juga sudah sangat terkenal di Indonesia.
"Ma! Raja gak akan mungkin mau tunangan sama aku," ujar Gendis.
"Bukankah kamu sudah memberikan bukti kepada pak Cakra?"
"Raja berbeda," ucap Gendis. "Dia lebih pintar dari yang mama kira," ujar Gendis.
"Anak yang sering bolos, dan nilai nya selalu jelek kamu bilang pintar?" ucap Anggita dengan nada mengejek.
"Apa Mama lupa? Jika Raja pernah menyelamatkan aku dari suami mama? Dan juga dari penculikan om Ferdi?" tegas Gendis.
"Iya, tapi ancaman Ferdi sangat berbahaya untuk masa depan kita!" Ujar Anggita penuh penekanan.
__ADS_1
"Sudahlah, Ma! Aku pusing," ucap Gendis yang langsung keluar dari mobil di susul oleh Anggita.
Saat akan menaiki anak tangga, Gendis bertemu dengan Sinta.
"Gendis!" panggil Sinta.
Padahal Gendis sudah memalingkan wajahnya, mencoba menghindari Sinta.
"Ada apa?" tanya Gendis
"Risma masih sekolah disini?" tanya Sinta.
"Dia sudah keluar," jawab Gendis.
"Aku bisa membantu mu jika kamu mau bekerjasama dengan ku," ucap Sinta meyakinkan Gendis.
"Apa hubungannya sama Risma?" tanya Gendis.
"Bukankah dia---" ucapan Sinta terhenti kala ada siswa yang melintas di sampingnya.
"Sebaiknya nanti kita bicarakan, aku masuk kelas dulu." Sinta langsung bergegas masuk ke dalam kelasnya
"Ada apa dengan Sinta?" gumam Gendis melihat kepergian Sinta.
Raja kembali tidak masuk kelas, dan Sinta pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Gimana mau pintar?"
Sebenarnya Raja sedang menyelidiki kasus Ferdi di kantor polisi. Dia harus menandatangani berita acara, karena sang pengacara berhasil memasukkan berkas kasus Ferdi.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like dan komentar