
Saat Ferdi menoleh ke arah Raja, Sinta mengambil kesempatan dengan mengadu lagi kepalanya ke wajah Ferdi.
"Bugh!"
Kepala Sinta mengenai hidung Ferdi, dan mengakibatkan memar dan berdarah.
Ferdi terhuyung ke belakang mobil sambil memegang hidungnya yang terasa sakit.
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Sinta untuk lari menjauhi Ferdi.
Dengan langkah cepat anak buah Sudirja langsung menangkap Ferdi.
Sinta berlari ke arah Dito, dan di sambut dengan pelukan hangat dari sang kekasih.
Raja hanya diam terpaku melihat keromantisan mereka berdua.
"Kamu gak apa-apa, Sin?" tanya Dito sambil mengusap kepala Sinta.
Sinta hanya menganggukkan kepalanya, karena mulutnya masih tertutup dengan kain.
"Mmpphh..."
Dito pun langsung membuka kain yang menutupi mulut Sinta.
"Gendis, dia bersekongkol dengan bapak itu," ucap Sinta seraya menoleh ke arah Ferdi.
Seketika Raja teringat dengan Risma, kemudian dia menghampiri Ferdi.
"Hey, dimana Risma?" tanya Raja mendekati Ferdi yang sudah masuk kedalam mobil polisi.
__ADS_1
Ferdi terdiam dan tak menyahut, karena dia sedang merasakan sakit di bagian hidungnya.
"Biar itu menjadi urusan pihak kepolisian," kata Sudirja menenangkan Raja.
Raja pun perlahan mundur dari mobil polisi.
Dito sedang sibuk membuka tali yang mengikat kedua tangan Sinta.
"Apa Risma juga ditangkap oleh bapak itu?" tanya Sinta
"Iya," jawab Dito
"Mereka akan mengirim aku keluar negeri kata Gendis," kata Sinta sambil menatap emosi ke arah Ferdi yang sedang di interogasi oleh anak buah Sudirja.
"Apa!" kaget Dito mendengar penjelasan Sinta.
"Entahlah, kata Gendis aku akan dikirim ke Hongkong."
"Nanti penjelasanmu akan menjadi saksi di berita acara," kata Sudirja yang sudah berada di dekat Sinta.
"Sebaiknya bawa kekasihmu pulang, sepertinya dia lelah dan ingin beristirahat." Herman menyarankan kepada Dito.
Kemudian Dito meminta Raja untuk meminjamkan motornya.
"Aku pinjam motormu, dan kau naik ojek saja." Dito menadahkan tangannya meminta kunci motor kepada Raja.
Dengan ekspresi malas, Raja memberikan kunci motornya.
"Terima kasih," kata Dito yang sudah menerima kunci motor Raja.
__ADS_1
Dalam hati Raja, ingin sekali memeluk Sinta yang kondisinya sudah lusuh dan lelah.
Karena sudah dua hari Sinta menghilang, itupun Raja melihat tangannya terikat.
Tetapi perasaan itu harus di pendam oleh Raja, karena kini Sinta telah aman bersama dengan kekasihnya. Dalam lubuk hati Raja, dia sangat mencemaskan Sinta saat tahu kekasih Dito itu menghilang.
"Ayo," ajak Dito yang sudah duduk di atas motor.
Dito pun memakaikan helm ke kepala Sinta. Begitu sangat romantis sepasang kekasih yang pernah menjalin hubungan LDR ini.
Dito semakin sayang dengan Sinta dan akan overprotektif setelah kejadian ini.
Entahlah Sinta akan suka ataupun tidak, yang pasti Dito tidak ingin kehilangan kekasih hatinya dan akan selalu menjaganya.
"Kamu sudah makan?" tanya Dito dari arah kemudi motor.
"Belum," jawab Sinta. "Sejak penculikan itu, mereka tidak memberikan aku makan." Sinta menjawab dengan nada lemah.
"Aku akan buat perhitungan dengan orang itu," ancam Dito yang geram dengan Ferdi karena sang kekasih dibiarkan kelaparan.
"Biar saja menjadi urusan polisi," kata Sinta
"Iya, sudah. Kamu mau makan apa?" tanya Dito.
"Apa saja, yang penting perutku di isi."
Kemudian Dito melajukan motornya menuju warung tegal. Karena memang warung tegal itulah yang terdekat dengan jalur mereka.
Silakan berikan komentar dan like
__ADS_1