
Gendis terus berlari tanpa menghiraukan panggilan Raja. Dirinya teramat kecewa dengan perkataan Raja sekaligus malu karena di tolak mentah-mentah.
"Gendis..." Raja terus memanggil Gendis.
Raja harus bertanggung jawab dengan perkataannya. Walaupun dia terkenal badung, tapi tak ada sedikitpun niat untuk menyakiti hati seorang perempuan.
Gendis berlari menuju toilet, itu adalah tempat paling aman untuk dirinya menangis.
Di dalam toilet, Gendis menangis sambil duduk di dalam kloset.
"Sin, kamu cewek. Sebaiknya masuk ke dalam." Raka menyuruh Sinta masuk ke dalam mencari Gendis.
"Raja, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sinta mendekati Raja.
"Aku menolaknya," ucap Raja seraya memalingkan wajahnya. Dia tidak ingin terlihat jahat di mata Sinta.
"Apa! Kenapa kamu jahat?" Sinta menatap tajam ke arah Raja.
"Aku memang tidak menyukainya, lantas apa aku harus memaksakan perasaanku?" tanya Raja
"Seenggaknya, kamu menolaknya dengan halus. Atau kamu jawab saat sudah sampai di Indonesia." Raka menyela.
"Baiklah, aku akan merayu Gendis untuk keluar dari toilet." Sinta langsung masuk ke dalam toilet khusus wanita.
__ADS_1
"Dis, Gendis..." Sinta memanggil nama Gendis.
Terdengar suara isak tangis dari dalam ruang kloset paling ujung. Sinta pun berjalan menghampiri pintu paling ujung.
"Gendis, buka pintunya. Sebentar lagi pesawat akan berangkat," ucap Sinta seraya mengetuk pintu kloset
"Aku malu!" ucap Gendis menangis.
"Kita bicarakan di luar, sambil menunggu panggilan dari operator." Sinta mencoba merayu Gendis. "Gendis, kamu gak usah malu. Raja memang ketus orangnya, namun hatinya baik. Kamu belum memahami dia, mungkin dia hanya syok saat mendengar kamu menyukainya." Sinta berbicara perlahan.
"Tapi Raja sukanya sama kamu!" teriak Gendis.
"Kamu tahu darimana?" tanya Sinta yang pura-pura tak terkejut.
"Ah, itu hanya perasaanmu saja. Sebaiknya kita keluar sekarang, barangkali pesawat tujuan Indonesia sudah mau berangkat." Sinta mendesak Gendis untuk segera keluar.
"Dis, aku mau pulang ke Indonesia. Kalau kamu gak mau ikut, ya udah aku mau keluar aja dari toilet ini!" Sinta mengancam Gendis.
"Baiklah aku akan keluar," ucap Gendis menurut.
Akhirnya Gendis membuka pintu, dan berjalan menghampiri Sinta.
"Sin, aku malu jika harus bertemu dengan Raja!" Gendis memeluk Sinta.
__ADS_1
"Kamu pakai baju, 'kan?" canda Sinta
"Ish, kamu masih aja bercanda. Aku serius!" ucap Gendis yang kesal mendengar candaan Sinta.
"Gendis, aku hanya ingin kamu menunjukkan sikap baik pada Raja. Mungkin dia akan luluh, atau seenggaknya dia bisa menjadi sahabat baik kamu," ucap Sinta.
"Mungkin karena aku sudah tidak gadis lagi? Maka dia menolakku?" tanya Gendis dengan nada ragu
"Jika Raja masih menolakmu, mungkin ada cowok lain yang bisa mencintaimu apa adanya." Sinta meyakinkan Gendis.
Sinta tahu, jika nasehatnya tidak nyambung, tapi soal Gendis mengerti atau tidak urusan belakangan. Saat ini Sinta hanya ingin cepat naik pesawat, karena badannya sudah sangat lelah ingin beristirahat.
"Ayo kita keluar!" ajak Sinta yang langsung menuntun tangan Gendis.
Mereka berdua pun keluar dari toilet. Raka dan Raja melihat Sinta berhasil membujuk Gendis keluar dari toilet.
"Dis, sebaiknya kamu ngambeknya nanti aja kalau kita uda sampai di Indonesia. Kalau masih di sini, nanti ijin Visa kita bisa di cabut karena tinggal secara ilegal," celetuk Raka.
Sinta menatap tajam ke arah Raka, seketika wajah Raka langsung menunduk seperti anak kecil yang di marahi sang ibu.
"Sudah, gak usah bahas ini lagi. Ayo kita langsung menuju pesawat." Sinta mengajak teman-temannya.
"Ja, makanan yang tadi kamu pesen langsung ambil aja, terus kita makan di pesawat perutku sangat lapar!" rengek Raka yang berjalan di sebelah Raja.
__ADS_1
Raja hanya memutar kedua bola matanya dengan malas. Melihat tingkah aneh kedua temannya, yaitu Gendis dan Raka.