LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
Dito ke kantor Herman


__ADS_3

Dito pun bergegas pergi meninggalkan rumah Sinta. Dia pun langsung menuju ke kantor pengacara Herman.


Dito ingin mengetahui lebih lanjut tentang kasus Ferdi. Apakah Herman sanggup membuat Ferdi masuk ke dalam penjara?


Sebenarnya Dito tidak ingin terlalu pusing dengan kasus Ferdi. Hanya saja Dito ingin mengucapkan terima kasih kepada Raja karena telah melindungi Sinta.


Suatu malam Sinta pernah bercerita kepada Dito, perihal Raja yang di ancam oleh Gendis untuk segera menikahinya. Tetapi karena Raja sudah terlanjur suka dengan Terry, maka Sinta memutuskan untuk menyatukan Terry dan Raja.


Dito mengetahui jika Gendis bukanlah gadis baik untuk Raja. Karena semua hal tentang Gendis, telah diketahui oleh Dito dari Sinta.


Setelah mengetahui Raja mempunyai masalah dengan Gendis, maka Dito rela mengeluarkan uang untuk menyewa pengacara termahal di Indonesia.


"Selamat pagi, Om Herman!' sapa Dito yang telah berhadapan dengan Herman.


"Pagi!" jawab Herman. "Kamu Dito?" tanya Herman dengan logat khas Batak.


"Iya," jawab Dito. "Maaf, Om! Aku sangat buru-buru sekali karena pacarku sekarang sedang sakit. Jadi langsung kepada intinya, apakah proses nya berjalan dengan lancar?" tanya Dito.


"Om sudah mengumpulkan data dan bukti seluruh aset milik Ferdi. Ternyata semuanya hasil korupsi," jawab Herman


"Bukti apa yang membuat Ferdi dapat mengancam Raja?" tanya Dito.

__ADS_1


"Hanya sebuah foto editan, dan itu tidak seberapa dibandingkan bukti yang sudah kita pegang," kata Herman. "Sebenarnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan, hanya saja Raja bilang jika ada seorang gadis yang menginginkan kasus ini harus berlanjut," ungkap Herman.


Dito pun diam sejenak, dia menebak jika gadis itu adalah Sinta. Tapi karena Dito sudah mengetahui alurnya, maka dia tidak ingin ambil pusing.


"Baiklah, Om! Jika ada tambahan dana, maka aku akan selalu siap."


"Sudah cukup! Om memang sangat ingin memasukan Ferdi ke dalam bui karena sesuatu hal."


"Maksud Om, dendam pribadi?" tebak Dito


"Mendekati, tapi Om tidak bisa menceritakan hal itu. Cukup Om saja yang urus semua," ucap Herman menolak memberi penjelasan tentang dendam pribadi nya dengan Ferdi.


Dito pun bersalaman dengan Herman, lalu pergi meninggalkan kantor sang pengacara termahal.


"Anak muda zaman sekarang memang sangat cerdas," puji Herman seraya melihat kepergian Dito.


Dito kembali ke rumah Sinta, karena jam satu siang Sinta harus berada di kamar operasi.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, arus lalu lintas sudah mulai padat merayap. Begitu juga orang yang menaiki bus kota, terlihat sangat berdesak-desakan.


Dito melajukan mobilnya menuju rumah Sinta. Dia selalu melihat jam di tangan nya, berharap jarum nya berhenti berputar. Karena saat ini mobil nya masih berbaris di deretan para kendaraan lainnya.

__ADS_1


Akhirnya dia mengambil ponselnya, lalu menghubungi Sinta.


'Halo, Sin!'


'Iya, Dit!'


'Apa kamu sudah berangkat ke rumah sakit?'


'Sedang rapi-rapi.'


'Sepertinya aku akan terlambat sampai ke rumah mu. Nanti aku akan menyusul ke rumah sakit.'


'Memangnya kamu kemana?'


Sulis berpesan kepada Dito, agar tidak membuat Sinta terlalu banyak berpikir. Karena dari kemarin Sinta sudah banyak berpikir tentang masalah Raja hingga membuat nya lupa makan.


'Aku dari rumah, mau menengok bibi.' Dito memberi alasan. 'Iya, sudah nanti kamu tungguin aku di rumah sakit.'


Dito merasa tenang karena sudah menghubungi Sinta.


Jangan lupa untuk like dan komentar

__ADS_1


__ADS_2