
Silakan like dan masukan list favorit mu, dan jangan lupa berikan vote dan komentar juga ya.
Salah satu bentuk apresiasi kalian terhadap karyaku, terima kasih.
Sinta
Minggu pagi, matahari telah menampakkan cahaya. Sinta masih terlelap dalam tidurnya, sehabis solat subuh.
Sedangkan Sulis sang kakak sudah berlari pagi, dan belanja sayur di tempat langganan nya.
" Sinta, bangun..." teriak Sulis di telinga Sinta.
" Ish, kakak. " gerutu Sinta yang terlonjak kaget dan langsung terbangun.
" Bukannya, kamu mau ngajar?" tanya Sulis sambil mengangkat kedua alisnya.
" Oh iya, aku lupa." jawab Sinta yang langsung bangun, dan berjalan menuju kamar mandi.
Sulis hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah adiknya yang masih kekanak-kanakan. Dia langsung bergegas, meninggalkan kamar Sinta. Sulis berjalan menuju dapur, untuk mengolah sayuran segar yang baru saja dia beli.
Sayur bayam, dan ayam goreng adalah menu di hari minggunya.
Usai membersihkan diri, Sinta langsung berjalan ke kamar nya. Kamar mandi di rumah dinas, hanya tersedia dua. Yang satu di kamar Sulis, dan yang kedua terletak dekat dengan dapur.
" Mau kakak, antar?" tanya Sulis yang sudah menyelesaikan memasaknya.
" Naik ojek aja, kak." kata Sinta yang sedang membetulkan jilbabnya.
" Iya udah, sekarang makan dulu. Biar kuat menghadapi kenyataan. " kata Sulis yang sedang menata makanan di meja makan.
" Ish, kakak becanda nya garing banget." ejek Sinta.
Mereka pun sarapan berdua, dengan lauk ayam goreng dan sayur bayam.
" Dek, semalam mama nelpon. Katanya teman-teman kamu pada main ke rumah." kata Sulis sambil menyuap sesendok nasi.
" Oh iya, aku lupa mengabari teman-teman." kata Sinta sambil menepuk keningnya.
" Kamu tuh uda dapat teman baru, yang lama jangan di tinggalin." pesan Sulis.
" Iya, nanti aku hubungi sehabis mengajar." Kata Sinta.
" Iya, kakak doain biar cita-cita mu menjadi guru terwujud." kata Sulis.
" Amin..." jawab Sinta.
Selang beberapa menit, mereka telah menyelesaikan sarapannya. Sinta pamit kepada Sulis, dan mencium tangan nya.
" Assalamualaikum, kakak aku jalan dulu." pamit Sinta yang telah di jemput oleh ojek online.
__ADS_1
" Wa'alaikumsalam." jawab Sulis yang melepas kepergian adiknya untuk mengajar.
" Pak, jalan." kata Sinta sambil menepuk pundak tukang ojek.
Tanpa Sinta ketahui, rupanya Raja telah lebih dulu mengintai rumah Sinta.
Dia ingin mengetahui dengan siapa Sinta bekerja? Diikutinya perlahan motor tukang ojek, yang membonceng Sinta.
Raja bingung, kenapa Sinta berjalan menuju ke arah rumah nya. Dan betapa mencengangkan, saat Sinta berhenti tepat di depan rumah nya.
Segera dia menghubungi bi Asih, agar menyuruh Sinta masuk.
Sinta telah sampai di depan rumah pak Cakra buana. Dia langsung mengetuk pintu, dan mengucapkan salam.
" Assalamualaikum..." Sinta memberi salam sambil mengetuk pintu.
" Wa'alaikum salam.." jawab Bi Asih sambil membukakan pintu.
" Mbak, benar di sini rumah pak Cakra buana?" tanya Sinta.
" Iya, maaf dengan siapa?" tanya Bi Asih yang berpura-pura tidak mengetahui, padahal dia telah di beri tahu sebelumnya oleh Raja.
" Sinta, mbak. Guru privat untuk anaknya pak Cakra buana." kata Sinta.
" Oh, ya udah masuk non. Di tunggu di ruang kerja bapak." kata Bi Asih yang mempersilahkan masuk Sinta.
Setelah melihat Sinta sudah masuk ke dalam rumah, Raja langsung mendorong motor nya sampai ke depan rumah.
Segera dia menaiki dinding, agar sampai di balkon kamarnya.
" Pasti Sinta, akan menemui ayah." batin Raja yang masih fokus memanjat dinding rumah nya.
Sinta telah memasuki ruang kerja Cakra buana, " Silakan non, tunggu di sini. Saya panggil kan tuan muda." kata Bi Asih yang menunjukkan bangku di depan meja kerja Cakra buana.
" Terima kasih." kata Sinta yang sudah duduk.
Kemudian Bi Asih keluar dari ruang kerja Cakra buana. Dia mengamati foto keluarga, yang berada di atas meja. Terlihat sesosok pria sedang menggendong anak laki-laki, sekitar usia enam tahun. Keduanya saling tertawa bahagia, dengan anak laki-laki berada di pundaknya.
" Pasti ini Pak Cakra?" gumam Sinta sambil memegang bingkai foto berukuran 20x 20cm.
" Anaknya baru enam tahun, pasti akan mudah mengajarinya. Apa dia nakal ya?" pikir Sinta jika anak dari Cakra buana masih berusia enam tahun.
Selang beberapa menit kemudian, bi Asih masuk ke dalam ruang kerja.
" Non, kata Tuan belajar nya di ruang tamu saja. " ucap Bi Asih yang sudah berdiri di belakang Sinta.
" Oh iya, Bi." kata Sinta yang langsung berdiri dan memakai tasnya.
Sinta mengikuti langkah Bi Asih, berjalan keluar dari ruang kerja.
__ADS_1
Bi Asih telah sampai di ruang tamu, terlihat seorang laki-laki kisaran seusianya sedang duduk menghadap jendela.
" Itu anak pak Cakra, Bi?" tanya Sinta sambil mengamati pemuda yang membelakangi nya.
" Iya, non." jawab Bi Asih.
Nampak Raja terlihat gugup, dia bingung apa yang harus dia lakukan saat melihat Sinta.
" Aku pikir usianya masih enam tahun?" Kata Sinta.
" Sudah besar, Non." jawab Bi Asih, " Ya sudah, silakan belajar. Bibi buatkan teh manis dan cemilan. " pamit Bi Asih, yang langsung meninggalkan Sinta yang masih berdiri di belakang sofa.
" Maaf, anda anak Pak Cakra?" tanya Sinta ragu.
" Iya, " jawab Raja dengan suara yang gugup.
Sinta pun melangkah menuju sofa, mendekati pemuda di hadapannya.
" Boleh aku duduk?" tanya Sinta.
" Silakan." balasnya.
Sinta pun duduk berhadapan dengan pemuda yang berada di depannya. Tanpa melihat wajahnya, Sinta langsung menaruh tasnya di bangku.
Sungguh terkejut dia, saat melihat sosok pemimpin yang akan menjadi muridnya.
" Raja...?" Sinta mengernyitkan keningnya, " Jadi anak pak Cakra itu kamu?" tanya Sinta.
Raja mencoba bersikap biasa saja, namun kegugupan nya membuat dia merasa salah tingkah.
" Sinta, kenapa kamu gak bilang kalau mau ngajar aku?" tanya Raja yang pura-pura tidak tahu.
" Ish, mana aku tahu kalau kau anak pak Cakra?" ketus Sinta sambil memutar kedua bola matanya malas.
" Lalu, kau ingin melanjutkan mengajar atau tidak?" tanya Raja yang sedari tadi duduk di bawah.
" Ya sudahlah, soalnya aku sudah memakai uang pembayaran les untuk mengirimkan mamaku." kata Sinta pasrah.
Sinta merasa bahagia, karena mendapat uang honor pertama menjadi guru privat. Dia langsung mentransfer separuhnya untuk mamanya di Jakarta. Walaupun mamanya menolak, tapi Sinta kekeh ingin membagi penghasilan nya pada kedua orang tuanya.
Pak Cakra buana telah mentransfer sejumlah uang, selama sebulan mengajar. Dan mau tidak mau, Sinta harus mengajarkan Raja. Walaupun kemarin dia mengancam, untuk menjauhi Raja.
" Hidung kamu, sudah gak apa-apa?" tanya Raja.
" Iya, " jawab singkat Sinta.
" Jangan judes gitu dong, jadi guru." sindir Raja.
Maaf bersambung, lanjut bab berikutnya. Silakan like dan berikan vote, agar author semangat guys.
__ADS_1