
Kali ini, Raja terlihat lebih pendiam dia tak banyak berbicara dengan Sinta.
Raja takut, jika terus perhatian kepada Sinta maka akan membuat dirinya menjadi patah hati.
Dia sadar, hanya akan menyakiti orang lain jika dirinya terus maju untuk memperjuangkan cintanya.
Raja akan bersikap biasa saja, dan tidak akan lagi mencampuri urusan Sinta.
" Raja, kamu kok bengong aja? " Sinta memanggil Raja yang duduk di sebelah Gendis.
" Eh, aku enggak bengong. Cuma lagi liatin jalanan aja, " ucap Raja beralasan. Padahal dia sedang memikirkan soal perasaannya pada Sinta.
" Iya, Ja. Kamu jangan diem aja, di sini kita mau jalan-jalan melepaskan penat. " Raka menyambung.
Raja masih diam tak menanggapi, karena dia memang lagi malas untuk berbicara.
Mereka pun sampai di jam raksasa paling besar di London. Jimmy mengantarkan mereka untuk melihat pemandangan di sekitar area gedung.
Selesai mengunjungi area wisata, mereka kembali.
***
" Sarah, aku dengar pacarnya Dito datang ke sini? " tanya Rossi yang sedang duduk di hadapan Sarah. Mereka sedang menyantap makan siang, di area kantin kampus.
" Iya, " jawab Sarah. " Kamu tahu darimana? " tanya Sarah
" Kakakmu, yang menceritakan. " Rossi menjelaskan pada Sarah.
" Apa kamu sudah melihat wajahnya? " tanya Rossi yang menatap Sarah dengan raut wajah penasaran.
" Sudah, dan dia akan jadi besanku. " Sarah terlihat murung saat membicarakan tentang Sinta.
" Apa? " Rossi telonjak kaget. " Kok bisa? " lanjutnya.
" Iya, ternyata abangku adalah tunangan dari kakaknya dia, " ucap Sarah tak bersemangat.
" Dunia memang sempit, " ucap Rossi seraya menggelengkan kepalanya.
" Lalu, bagaimana keadaan Dito? " tanya Rossi
" Dia butuh perawatan intensif selama enam bulan, " jawab Sarah.
__ADS_1
" Wah, kesempatan kamu untuk merawat dia. " Rossi memberi masukan
" Itu sudah aku rencanakan, karena tidak mungkin anak ingusan itu berlama-lama di sini. Karena memang dia masih sekolah SMA, " ucap Sarah.
" Aku mau dong, jenguk Dito. " Rossi memohon pada Sarah.
" Kamu gak kenal sama dia, kenapa harus menjenguk nya? " tanya Sarah sambil menyipitkan kedua matanya.
" Iya, aku mau lihat saja kondisi nya. Sekalian mau lihat pacarnya Dito, " ujar Rossi.
" Baiklah, pulang kuliah kita ke rumah sakit. " Sarah mengiyakan permintaan Rossi.
Mereka melanjutkan makan siangnya, dan setelah itu langsung bergegas menuju kelas. Karena masih tersisa satu mata pelajaran.
***
Sarah mengajak Rossi ke rumah sakit, dia menumpang di mobil milik Rossi.
Mobil mereka berpapasan dengan mobil milik Dito, yang di tumpangi oleh Sinta dan kawan-kawannya.
Rossi memarkirkan mobilnya persis di sebelah mobil Dito. Mereka pun keluar secara bersamaan.
" Kau lagi? " Sinta terlihat sinis memandang ke arah Sarah. Entah kenapa sifat Sinta tiba-tiba berubah saat melihat Sarah. Biasanya Sinta selalu acuh, pada gadis-gadis yang mendekati Dito. Namun hal itu berbeda, saat Sinta selalu melihat kehadiran Sarah di rumah sakit.
" Dia pacar Dito, " ucap Sarah yang melihat ke arah Sinta.
Rossi pun menoleh ke arah Sinta, " gadis itu? " Rossi terlihat menatap dengan pandangan mengejek ke arah Sinta.
" Selera Dito, seperti itu? " bisik Rossi saat melihat penampilan Sinta yang serba tertutup.
Berbeda dengan Rossi, yang memakai baju tren masa kini. Dengan memakai mini dress berwarna coklat muda, dibalut cardigan berwarna putih. Tatapannya menyiratkan ejekan dengan penampilan Sinta yang memakai baju lengan panjang putih, dengan celana kulot berwarna peach senada dengan hijab yang di gunakan nya.
Sayangnya suara Rossi terdengar kecil, tak sempat di dengar oleh Raja. Sedangkan Sinta hanya paham sedikit, tentang bahasa Inggris.
Rossi menggunakan bahasa Inggris, dalam percakapannya dengan Sarah.
" Rossi, aku harap kau jangan berulah. Barangkali mereka mengerti dengan bahasamu, " Sarah mengingatkan Rossi.
" Kamu mau jenguk, Dito lagi? " tegur Sinta yang langsung berjalan menghampiri Sarah.
" Iya, temanku ingin menjenguknya. " Sarah melihat ke arah Rossi.
__ADS_1
Sinta melihat penampilan Rossi, yang baginya terbilang seksi. Pandangan melihat dari atas hingga ke bawah tubuh Rossi.
" Apa teman Dito, semuanya berpakaian seksi seperti itu? " Sinta menunjukkan jari telunjuk ke arah Rossi.
Rossi diam tak mengerti dengan bahasa yang Sinta gunakan.
" Sudahlah Sin, sebaiknya kamu gak usah bikin keributan. " Gendis mendekati Sinta.
Sinta memandang kesal ke arah Sarah, Sinta masih menyimpan kecurigaan pada Sarah
Gendis pun merangkul pundak Sinta, lalu mengajaknya menuju lift. Raka dan Raja pun mengikuti Sinta dan Gendis.
" Aku rasa, dia memang sedang mencari perhatian Dito! " Gendis berucap sambil berpikir.
" Gendis, apa kamu mencoba memanasi Sinta? " tegur Raja.
" Enggak sih, aku hanya feeling aja. Biasanya kalau insting perempuan itu selalu tepat, " ujar Gendis. " Makanya kalian para pria, jangan suka selingkuh di belakang para perempuan. Pasti akan ketahuan, " tukas Gendis sambil menoleh ke arah Raka dan Raja.
Lift yang mereka naiki, sudah sampai di kamar tempat Dito di rawat.
Sinta dan teman-temannya, berjalan memasuki kamar Dito.
Sementara Sarah, menghentikan langkahnya. Dia mengurungkan niatnya untuk menjenguk Dito.
" Sarah, kenapa kamu berhenti? " tanya Rossi
" Perasaanku tidak enak, seperti jika aku masuk akan ada keributan. " Sarah melirik ke arah pintu lift.
" Tapi aku penasaran, ingin sekali melihat keadaan Dito! " pinta Rossi merajuk pada Sarah.
" Kita pulang saja, aku malas bertemu mereka. " Sarah langsung memutar badannya menuju mobil Rossi.
Akhirnya Sarah dan Rossi pun kembali ke dalam mobil. Sarah menyadari, jika Sinta telah mengetahui gerak-gerik nya. Dan dia tidak ingin mempermalukan dirinya di depan teman-teman Sinta termasuk Dito.
" Kalau saja aku berada di tengah-tengah mereka, pasti aku akan mempermalukan diri sendiri. " Sarah bercerita pada Rossi.
" Iya, aku bisa melihat tatapan kebencian dari kekasihnya Dito padamu. " Rossi menebak. " Tapi kau pasti akan lebih mudah merebut hati Dito, saat wanita itu kembali ke negaranya. "
" Tidak Rossi, cinta mereka terlalu kuat. Seperti nya aku mengubur saja cintaku. Karena tidak mungkin merebut seseorang yang sudah menjadi milik orang lain, " ucap Sarah pesimis.
" Aku akan dukung semua keputusan mu, " kata Rossi.
__ADS_1
Rossi mengantarkan Sarah menuju rumahnya. Di sana sudah ada Hasan dan juga Sulis sedang bertamu.