
" Kamu, mau di ajarin gak?" ketus Sinta dengan wajah sinis.
" Iya, iya ayo kita mulai." kata Raja yang mulai membuka bukunya.
Sinta pun membuka buku pelajaran matematika, dia memberi kan soal pada Raja.
" Belum di ajarin, uda di kasih soal aja." gerutu Raja.
" Kalau gak tahu, ya nanya." sindir Sinta.
Raja langsung menatap bukunya, dia pun mulai menghitung.
Otaknya mulai pusing, karena matematika baginya adalah pelajaran yang menyebalkan. Walaupun dia pintar dalam menghitung laporan keuangan, namun rumus matematika telah membuat otaknya buntu.
" Sudah belum?" tanya Sinta yang masih asyik membaca novel kesukaan nya.
" Seharusnya kamu ngajarin aku, bukan baca novel romansa cinta." gerutu Raja sambil mengetuk-ngetuk pensil ke kepalanya.
" Kan aku bilang, kalau gak tahu nanya." cibir Sinta yang telah menutup novelnya.
" Iya, aku gak tahu cara nomor satu." kata Raja sambil menyodorkan bukunya ke arah Sinta.
" Perhatikan aku." kata Sinta
Kemudian Raja memperhatikan wajah Sinta, " Cantik." ucap Raja.
" Ish, bukan wajah aku." kata Sinta sambil melempar novel ke arah Raja.
" Plak..."
" Aduh... " pekik Raja, " Harusnya gimana? Tadi katanya suruh memperhatikan kamu." ledek Raja sambil mengusap kepalanya yang terkenal lemparan buku novel milik Sinta.
" Lihat bukunya, bukan aku." kesal Sinta.
" Huft, wajah kamu tuh gak bikin pusing kayak soal itu." keluh Raja sambil melihat Sinta dengan intens.
" Kalau kamu gak serius, aku pulang." ancam Sinta sambil menutup bukunya.
" Oke, oke aku akan serius. Tapi kamu ngajarin nya pelan-pelan. Biar otakku gak belibet." keluh Raja
Sinta membuang nafasnya pelan, sungguh tak menyangka mendapatkan murid yang tidak paham soal matematika tahap sekolah dasar.
" Den, bibi bikinin tiwul. " kata Bi Asih yang membawakan sepiring tiwul lengkap dengan taburan kelapa parut.
" Tiwul?" ucap Sinta yang tidak mengenal makanan yang di bawa oleh bi Asih.
" Masa, kamu gak tahu tiwul?" tanya Raja yang menerima sepiring tiwul dari Bi Asih.
" Serius, aku baru dengar. " kata Sinta sambil memperhatikan makanan yang masih asing di depan matanya.
" Tiwul dibuat dari singkong, yang dijemur sampai kering atau yang biasa disebut gaplek. Zaman dulu tiwul dijadikan pengganti nasi, ketika harga beras tidak terbeli oleh masyarakat pada era penjajahan Jepang tahun 1960-an,” jelas Raja yang mengambil sesendok tiwul lalu memakannya.
" Enak deh, bikin perut kenyang." kata Raja sambil mengunyah tiwul.
" Aku, coba." kata Sinta yang langsung mengambil sesendok tiwul.
" Hmmm, enak kayak ngeres gitu tapi manis.' kata Sinta sambil merasakan sensasi tiwul di dalam mulutnya.
__ADS_1
" Itu karena ada campuran gula merah, jadi terasa manis." kata Raja menjelaskan.
" Biasanya banyak tukang lewat, berjualan nya dengan aneka kue basah seperti cenil, ketan hitam dan juga jagung rebus. " tandas Raja.
" Oh, iya enak juga kayaknya." kata Sinta.
" Besok aku ajak ke Malioboro, di sana banyak penjual tiwul dan cenil." kata Raja yang sudah melahap sepiring kecil tiwul.
" Seperti nya, gak usah." sela Sinta.
" Memangnya kenapa?" tanya Raja.
" Aku sudah bilang, kita gak usah terlalu akrab." ucap Sinta datar.
" Oke, oke." jawab Raja yang telah menyelesaikan makan tiwulnya.
Usai belajar, mereka berdua merapikan piring tiwul dan juga dua gelas yang sudah kosong.
" Aku antar, pulang." tawar Raja.
" Enggak usah, aku bisa naik ojol." tolak Sinta.
" Eh tapi, soal hadiah apa sudah kau buka?" tanya Raja
" Hadiah?" Sinta mengernyitkan keningnya, " Hadiah apa?" balik Sinta bertanya.
" Hadiah buah yang kemarin aku kasih, apa kamu sudah makan?" tanya Raja.
" Oh, " jawab Sinta yang kepikiran dengan hadiah coklat dan bunga mawar.
Padahal Dito menyuruh Raja, untuk menjaga Sinta. Sama seperti dia menugaskan Fadli dan Malik, sewaktu di Jakarta.
" Aku pulang dulu." pamit Sinta.
" Sin, boleh aku mengantarmu?" tanya Raja, " Aku mohon, ingin memastikan kau baik-baik saja sampai rumah." pinta Raja.
" Enggak perlu, karena ojolnya sudah sampai di depan tuh." kata Sinta sambil menunjuk tukang ojek yang sudah sampai di depan rumah Raja.
" Mbak Sinta?" sapa tukang ojek.
" Iya, pak." jawab Sinta yang langsung menghampiri tukang ojek.
" Aku pulang dulu, salam untuk ayahmu." kata Sinta.
" Iya." jawab Raja sambil melambaikan tangan nya.
Kedua orang tua Raja sedang pergi keluar kota, menghadiri acara keluarga.
Raja melepas kepergian Sinta, sambil terus memandangi nya meninggalkan komplek perumahan nya.
****
Dito
Dito telah sampai di rumah Sarah, dia pun mengetuk pintu rumah Sarah.
" Dito, maaf ya jadi ngerepotin kamu." kata Sarah yang sudah membuka pintu rumah nya.
__ADS_1
" Iya, enggak apa-apa" jawab Dito.
" Silakan masuk." kata Sarah yang mempersilahkan Dito masuk ke dalam rumah nya.
" Terima kasih." jawab Dito sambil membuka sepatu nya, dan masuk ke dalam rumah.
" Silakan duduk." kata Sarah yang mempersilahkan Dito duduk di sofa.
" Terima kasih." jawab Dito, lalu dia menaruh tas dan laptop nya di atas meja.
" Aku, buatkan minum dulu." kata Sarah yang langsung bergegas menuju dapur.
" Iya." jawab Dito sambil tersenyum.
Segelas cappucino hangat telah di buat oleh Sarah, beserta cemilan biskuit jahe.
" Dit, kakakku belum belanja lagi. Jadi aku hanya bisa menyajikan capuccino hangat." kata Sarah yang membawanya menggunakan nampan.
" Iya, enggak apa-apa. " jawab Dito.
Sarah meletakkan cappucino hangat di atas meja. Kemudian duduk berhadapan dengan Dito di bawah lantai.
" Dit, aku dengar kelasmu sudah di suruh mencari tempat magang?" tanya Sarah.
" Iya, " jawab Dito.
" Bagaimana kalau di tempat temanku, aku juga akan magang di sana." kata Sarah memberikan penawaran.
" Perusahaan apa?" tanya Dito.
" Perusahaan ekspor impor." jawab Sarah.
" Baiklah, akan ku pikirkan." jawab Dito.
" Iya sudah, diminum dulu cappucino nya." Sarah menawarkan minum kepada Dito.
" Terima kasih."
Mereka memulai belajar, dan membuka buku catatannya.
" Sarah, apa aku boleh bertanya?" tanya Dito.
" Iya, silakan." jawab Sarah.
" Bagaimana hubungan Melly dengan Stefan, apakah kau tahu?" tanya Dito, " Kakakmu satu kelas dengan Stefan?" sambungnya.
"Iya, tapi aku tidak begitu kenal dengan Stefan. Memang ada apa?" tanya Sarah penasaran.
" Tidak, aku hanya ingin tahu saja keseriusan Stefan pada kakakku." kata Dito.
" Baiklah, besok akan aku cari tahu. Memang Stefan tidak serius selama ini?" tanya Sarah sambil memperhatikan Dito yang sedang sibuk menulis di buku catatan.
" Terima kasih." jawab Dito, " Aku hanya tidak ingin kakakku, mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari seorang pria." kata Dito seraya menatap Sarah.
Sarah terlihat menjadi salah tingkah, saat Dito memandang nya.
Silakan like dan klik menjadi cerita favorit mu ya guys.
__ADS_1