
Sinta sudah berada di rumahnya, kini dia menunggu kedatangan Sulis yang belum pulang dari tempat kerjanya.
Sinta ingin membicarakan soal dirinya ingin kost bersama Terry dan teman-temannya kepada Sulis.
"Kenapa kakak belum juga pulang?" gumam Sinta sembari melihat ke arah jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. "Aduh, mataku ngantuk lagi."
Sinta langsung mengunci pintu rumah lalu menggantungkan di dinding. Sementara Sulis membawa kunci cadangan jika dia akan pulang malam.
"Aku tidur dulu, nanti kalau kak Sulis pulang baru di omongin."
Sinta bergegas pergi menuju kamarnya.
Menjelang pagi, Sinta sudah terbangun dan melihat kakaknya sedang memasak.
"Kak, semalam pulang jam berapa?" tanya Sinta seraya menuju meja makan.
"Jam dua belas," jawab Sulis yang masih mengaduk spatula di atas teflon.
"Kok malam banget?" tanya Sinta.
"Tumben kamu nanyain kakak pulang," bingung Sulis menoleh ke arah Sinta.
"Aku mau ngomong penting soalnya," kata Sinta.
"Iya, udah. Kamu ngomong aja," kata Sulis yang telah menghentikan aktivitas memasaknya.
"Aku mau kuliah di Yogyakarta, dan kost bersama teman-temanku," lapor Sinta.
__ADS_1
"Apa!" Sulis terkejut mendengar penuturan Sinta.
"Bukannya aku gak boleh tinggal di rumah ini kalau ada Bang Hasan?" tanya Sinta.
"Tapi bukan berarti kamu harus kost," jawab Sulis.
"Lalu aku harus tetap tinggal disini?" tanya Sinta.
"Kamu harus tetap balik ke Jakarta," saran Sulis.
"Tapi, Kak. Sahabatku pada mau kuliah di Yogyakarta, karena ingin bertemu denganku lagi," ucap Sinta merengek.
"Sin, alasan kamu harus pulang adalah --" ucapan Sulis terhenti. Dia tidak tega menyampaikan berita tentang keluarganya di Jakarta.
"Kasih aku alasan yang jelas, agar bisa pindah ke Jakarta."
"Sin, mama sakit. Dia sangat butuh anak yang bisa merawatnya." Sulis menjelaskan kepada Sinta.
Sinta belum diberi tahu oleh Sulis jika semalam dia baru pulang dari Jakarta.
Kemarin pagi Sulis tidak masuk kerja. Dia harus menemui mamanya yang sedang di rawat di rumah sakit.
"Mama sakit apa, Kak?" tanya Sinta dengan wajah cemas.
"Mama terdeteksi kena serangan jantung, tapi belum tahu benar apa enggak. Soalnya dokter bilang kalau sakit yang mama rasakan seperti serangan jantung. Mama sedang di observasi, dan tadi malam sudah pulang."
"Kok aku gak di kasih tau," ucap Sinta kesal.
__ADS_1
"Kakak udah coba hubungi kamu, tapi gak aktif." Sinta langsung bergegas menuju kamarnya. Dia pun mengambil ponselnya yang berada di dalam tas.
"Ah, iya. Baterainya lowbet," keluh Sinta sembari mengacak-ngacak rambutnya yang panjang.
Sinta langsung bergegas menuju ruang makan.
"Aku minta maaf," kata Sinta dengan raut wajah menyesal.
"Apa kamu bisa pulang sekarang ke Jakarta?" tanya Sulis.
Sinta kembali dibuat terkejut oleh permintaan sang kakak.
"Hari ini juga?" tanya Sinta penuh penekanan.
"Iya, bukannya kamu lagi libur sekolah karena sudah lulus."
Sinta memang sudah lulus, tetapi dia belum bisa masuk ke perguruan tinggi karena belum waktunya.
Sebulan lagi seluruh perguruan tinggi akan membuka pendaftaran baru.
Sinta menjadi pusing sendiri, kenapa kisah cintanya bersama Dito harus terpisah jarak terus seperti ini?
Dalam lubuk hatinya, apakah dia memang berjodoh dengan Dito atau tidak?
Akhirnya Sinta memutuskan untuk kembali ke Jakarta merawat sang mama.
silakan berikan komentar
__ADS_1