
"Raja, aku pikir kamu tidak masuk?" tanya Sinta dengan raut cemas
"Aku harus masuk sekolah, karena sebentar lagi akan ujian."
Raja sudah duduk di bangkunya, lalu menaruh tas di laci meja.
"Baguslah, kalau kamu punya pikiran seperti itu," decit Sinta.
"Apa!" Raja menyipitkan matanya ke arah Sinta.
"Tidak, anggap saja aku tidak bicara."
Kemudian Sinta menghentikan pembicaraannya karena pelajaran pak Taufik telah dimulai.
Rinjani telah keluar dari kelasnya, dia mencari keberadaan Dito.
"Kenapa laki-laki tampan itu tidak menghubungi aku, ya?" batin Rinjani sembari melihat keberadaan Dito di depan kelasnya.
"Apa sebaiknya aku cari ke kelasnya?" gumam Rinjani sambil berpikir.
Akhirnya Rinjani memutuskan untuk pergi ke kelas Dito.
Rinjani berjalan ke arah gedung tak jauh dari fakultasnya.
Saat melihat kelas tempat Dito belajar, ternyata seluruh mahasiswa belum selesai belajar. Rinjani menunggu Dito di depan kelas sembari memainkan ponselnya.
Selang beberapa menit kemudian, Dito telah keluar dari kelasnya.
"Hey," sapa Dito yang telah berdiri dihadapan Rinjani.
"Hey, Tampan."
__ADS_1
Rinjani terbelalak kaget melihat kehadiran Dito. Karena dia sempat lupa dengan nama Dito, hingga memanggil dengan sebutan tampan.
"Apa kamu sudah lama menunggu?" tanya Dito.
Rinjani pun bangun dari duduknya, dan langsung berdiri.
"Enggak, sih," jawab Rinjani sambil tersenyum. "Apa kita ngobrol di kantin saja?" tanya Rinjani.
"Baiklah," jawab Dito.
Kemudian mereka berdua pun jalan menuju kantin. Rinjani terlihat gugup saat berjalan beriringan dengan Dito. Seluruh mata memandang ke arahnya.
"Rin, siapa tuh?" celetuk seorang teman sekelas Rinjani yang sedang duduk di kantin.
"Teman," jawab Rinjani dengan wajah tersipu malu.
"Wah, gebetan baru ya, Rin," ledek teman wanita yang lain.
"Hush," gusar Rinjani merasa tidak enak hati kepada Dito.
"Terima kasih," jawab Rinjani.
"Mau pesen apa?" tanya Dito
"Dimsum aja," jawab Rinjani.
"Baik, tunggu sebentar." Dito langsung bergegas menuju kedai dimsum.
Selang beberapa menit kemudian Dito datang membawa sepiring dimsum dan dua gelas es teh manis.
"Maaf, jadi merepotkan mu."
__ADS_1
"Enggak apa-apa, aku justru yang sudah merepotkan mu. Terima kasih kamu sudah mau ikut denganku," ujar Dito.
"Sekarang makanlah," kata Dito mempersilakan Rinjani menikmati dimsum
"Kamu gak makan?" tanya Rinjani.
"Aku belum lapar," jawab Dito seraya menyeruput es teh manis.
"Baiklah, kamu ingin bertanya soal apa?" tanya Rinjani
"Perihal yayasan yang kemarin kamu ceritakan kepada ku," kata Dito.
"Yayasan pak Feri?" tanya Rinjani menegaskan.
"Iya," jawab Dito.
"Aku belum pernah kesana," jawab Rinjani.
Dito terlihat kecewa saat mendengar jawaban Rinjani. Jika saja Rinjani belum ke yayasan itu, bagaimana dia akan mendapatkan informasi tentang Feri?
"Tapi temanku sudah melamar ke yayasan itu," sambung Rinjani.
"Lalu?" tanya Dito penasaran.
"Dia belum kembali sampai saat ini, dan kabarnya sudah membelikan rumah untuk kedua orang tuanya."
"Maksudnya?" tanya Dito yang masih belum paham dengan pernyataan Rinjani.
"Maryani adalah kakak kelas ku, dia pernah bercerita kepada ku jika ingin melamar di yayasan milik pak Feri. Dan itu terjadi setahun yang lalu. Maryani datang ke yayasan, tetapi sampai saat ini dia belum pulang kerumahnya. Kabarnya Maryani hidup sukses di Singapura, lalu dia memberikan foto-foto kepada keluarganya. Rumah orang tuanya pun menjadi bagus, karena selalu mendapatkan kiriman uang dari Maryani."
"Apakah dia pernah menghubungimu?" tanya Dito
__ADS_1
Rinjani menggelengkan kepalanya, menandakan jika Maryani tidak pernah menghubunginya.
Next bab selanjutnya, maaf update agak lama ya guys. Misteri apa lagi?