
" Raja, apa kamu sudah baikan?" Tanya Sinta sambil menatap wajah Raja yang terlihat lebam membiru.
" Memangnya, aku lagi marahan?" Jawab Raja sambil mengompres pipinya yang lebam.
" Ih, garing. Aku pikir kamu tuh orangnya serius." Sindir Sinta sambil membulatkan kedua bola matanya.
" Aku bukan, kerupuk" jawab Raja dengan suara yang datar.
" Ih Raja, gak lucu ah!" Kata Sinta sambil mencebikkan bibirnya.
" Kalau lagi ngambek, lucu juga." Batin Raja sambil mengulas senyum.
" Apa, yang sebenarnya terjadi?" Tanya Sinta yang sudah duduk di hadapan Raja.
Raja tidak mungkin menceritakan, tentang hal pribadinya pada Sinta.
" Sebenarnya-" ucapan Raja terpotong karena ponsel Sinta berbunyi.
" Kring...."
" Tunggu sebentar, " kata Sinta yang langsung mengambil ponselnya di dalam kantong.
" Dito..." Lirih Sinta.
" Dito? Siapa?" Tanya Raja.
" Maaf ya, aku jawab dulu." Kata Sinta yang langsung berjalan ke luar rumah.
Sinta langsung bergegas, menuju ke luar pintu.
Raja penasaran dengan siapa Sinta berbicara, karena terlihat senyum mengembang di bibirnya.
Karena tidak ingin di hujani banyak pertanyaan oleh Sinta, Raja pun bergegas pamit.
Dia mengambil tasnya, lalu menggendongnya.
" Aku, pulang dulu." Kata Raja yang langsung menaiki motornya.
" Hey Raja, apa lukamu sudah membaik?" Tanya Sinta sambil menutup speaker ponselnya agar tidak terdengar oleh Dito.
" Aku sudah sembuh, anak laki harus kuat." Sahutnya yang telah menjalankan motornya.
Sinta kembali meneruskan pembicaraannya pada Dito.
Sebenarnya Raja adalah anak dari seorang pengusaha terkenal. Karena kesibukan kedua orang tuanya, menjadikan Raja menjadi anak yang badung dan nakal, sehingga sulit untuk di atur.
Raja hidup bagai anak sebatang kara, semenjak di tinggal nenek kesayangannya.
" Asalamu'alaikum."
" Wa' alaikumsalam."
" Kamu bicara sama siapa?"
" Oh, itu temanku." Kata Sinta
" Rupanya kamu sudah punya teman, di sana?"
" Kebetulan aja, tadi aku menolongnya." Kata Sinta.
" Memangnya, kenapa harus di tolong?"
" Tadi aku ingin membeli gudeg di persimpangan, tidak sengaja melihat dia di keroyok oleh tiga pemuda. Segera aku minta pertolongan orang-orang. " Kata Sinta.
" Jadi, temanmu laki-laki?" kata Dito dengan nada suara cemburu.
__ADS_1
" Iya." Jawab Sinta.
" Terus, kamu masih sama dia?" cemas Dito.
" Udah pulang, baru aja." Kata Sinta.
" Apa kamu sendiri, di rumah?" Dito menjadi khawatir, karena Sinta telah membawa seorang pemuda yang baru saja di kenal ke rumahnya.
" Iya." jawab Sinta dengan nada santai.
" Syukurlah, kalau dia sudah pulang." ucap Dito lega.
" Aku, bisa jaga diri." balas Sinta dengan suara berbisik.
" Aku, percaya." jawab Dito
" Ya sudah, aku mau beli gudeg dulu. Sudah lapar perutku." kata Sinta yang ingin menyudahi pembicaraan nya.
" Iya, hati-hati ya cantik." jawab Dito.
" Ih, gombal deh."
" Asalamu'alaikum."
" Wa'alaikum salam."
Mereka mengakhiri pembicaraan, dengan mengucapkan salam.
****
Dito telah menutup, sambungan telpon selularnya. Dia pun bersiap untuk berangkat kuliah, karena waktu menunjukkan pukul delapan pagi.
" Kak, mau jalan bareng?" Tanya Dito yang sudah berdiri di depan pintu kamar Melly.
" Kakak, di jemput sama Stefan." Jawab Melly.
" Dit, kemarin teman-teman kakak pada kecewa mendengar kamu sudah tunangan." Panggil Melly.
" Terus, apa hubungannya denganku?" Tanya Dito seraya membalikkan tubuhnya.
" Iya, kakak cuma ngasih tahu aja." Ujar Melly.
" Iya sudah, aku jalan." Kata Dito yang langsung berbalik arah dan berjalan meninggalkan kamar Melly.
" Tuan, tidak sarapan?" Tanya Merry yang merupakan asisten rumah tangga Dito.
" Bisa bungkus, untuk aku bawa ke sekolah?" Pinta Dito.
" Baik, Tuan." Jawab Merry yang langsung menuju dapur mencari kotak makan.
" Tuan, ini bekal makanannya." Kata Merry yang sudah membungkus makanan untuk Dito.
" Terima kasih." Jawab Dito seraya menerima bekal makanan dari Merry.
Setelah mendapatkan bekal makanan, Dito langsung menaiki motornya.
Jarak kampusnya hanya lima belas menit, dari rumahnya. Setelah sampai, Dito langsung memarkirkan motornya di tempat biasa.
University of Cambridge adalah universitas riset negeri yang terletak di Kota Cambridge, Inggris. Universitas ini didirikan pada tahun 1209 dan kemudian secara resmi diberikan Piagam Kerajaan oleh Raja Henry III pada tahun 1231.
Untuk dapat masuk ke dalam universitas yang terkenal ketat dalam menyeleksi calon mahasiswanya ini, Dito harus memenuhi beberapa syarat. Syarat-syarat khusus akan bergantung pada college atau divisi yang menaungi jurusan yang akan dia ambil.
Dito mengambil jurusan ekonomi, karena dia sangat membutuhkannya untuk mengembangkan bisnisnya.
Gedung dengan arsitektur kuno, dan halaman rumput yang luas menghampar. Membuat seluruh mahasiswa nyaman untuk belajar.
__ADS_1
Sepuluh menit lagi kelasnya akan di mulai, Dito pun duduk di bangku taman untuk menikmati sarapan yang dibuatkan oleh Merry.
Sandwich tuna dan salad sayur, adalah makanan favoritnya di Inggris. Jangan di tanya kalau di Indonesia, nasi dan tempe goreng menu favoritnya.
Saat akan melahap sandwich, Sarah datang menghampiri Dito.
" Hey, Dit!" Sapa Sarah yang sudah berdiri di hadapannya.
" Hey, " jawab Dito dengan wajah datar.
" Boleh aku, duduk?" Tanya Sarah ragu, karena dia di beritahu oleh kakaknya kalau Dito sudah memiliki tunangan.
" Silakan, " kata Dito langsung menggeser duduknya, memberi ruang untuk Sarah.
" Kau belum sarapan?" Tanya Sarah.
" Belum." Jawab Dito.
" Dit, kelasmu jam berapa?" Tanya Sarah.
" Lima belas menit, lagi." Jawab Dito sambil mengunyah sandwichnya.
" Maaf, bi Merry hanya membawakan satu sandwich." Kata Dito.
" Iya, gak apa-apa. Aku juga uda sarapan di rumah." Kata Sarah.
" Oh." Jawab Dito.
" Aku dengar kau punya kafe?" Tanya Sarah.
" Iya, " jawab Dito singkat.
Sarah merasa tak enak hati, karena Dito sangat dingin berbicara padanya.
" Aku ke kelas dulu, ya!" Pamit Sarah.
" Iya, " jawab Dito tanpa ekspresi.
Kemudian Dito melanjutkan sarapannya, dan dengan cepat menghabiskannya.
Usai menghabiskan makanannya, Dito langsung merapikan kotak makannya dan bergegas ke kelas.
Dari kejauhan, Sarah terus memperhatikan Dito hingga masuk ke kelasnya.
" Hey, " sapa Rosiana Kimberly sahabat Sarah.
" Kau Ros, mengagetkan saja." Kata Sarah sambil mengusap dadanya.
" Lagi ngeliatin siapa sih?" Tanya Rosi.
" Enggak, " jawabnya gugup.
" Pasti anak baru itu, ya?" Tebak Rosi, " Dia tampan, dan pintar." Puji Rosi.
" Sayangnya sudah punya tunangan." Kata Sarah dengan hati yang menciut.
" Kan baru tunangan, belum menjadi suaminya. " Kata Rosi yang memanasi Sarah.
" Tapi-" ucapan Sarah terpotong.
" Tapi kamu punya kesempatan, buat isi hati dia." Ujar Rosi memberikan ide pada Sarah.
" Sudahlah Ros, aku mau masuk kelas." Ucap Sarah malas sambil berjalan menuju kelas dengan langkah gontai.
Rosi hanya menatap iba kepergian temannya. Rosi dan Sarah sudah berteman sejak setahun silam
__ADS_1
- Jangan lupa berikan, poin, Vote dan tap like juga komentarmu ya.