LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
Kemarahan Dito


__ADS_3

Hey guys, jangan lupa untuk selalu tinggalkan tap like untuk karyaku. Jika kamu suka berikan vote dan komentar ya. Dukungan mu sungguh berarti untuk membuat ku semangat update.


Mereka berjalan menyusuri trotoar, yang di pinggiran nya terdapat para pedagang kaki lima.


Dito singgah di depan nenek-nenek, yang sedang berjualan tasbih.


" Berapa, Bu?" Tanya Dito sambil memilih tasbih di keranjang plastik.


" Sepuluh ribu aja, Nak!" Ucapnya dengan suara parau. Kedua mata sang nenek, terlihat bergerak ke kanan dan ke kiri.


Sepertinya sang nenek tidak bisa melihat, segera Dito mengambil lima tasbih.


" Lima berapa, Nek?" Tanya Dito.


" Lima puluh ribu " kata Sang nenek.


Dito mengeluarkannya uang seratus ribu.


Dan memberikan uang lima ratus ribu rupiah kepada sang nenek. Sambil menghitung satu persatu, agar nenek percaya


" Nih nek, satu, dua,.....lima " ujar Dito yang telah memberikan uang nya.


" Terima kasih, ya!" Kata Sang nenek yang tangannya di genggam oleh Dito.


" Iya, nek." Dito langsung pergi meninggalkan sang nenek.


Untuk hal seperti itu, Sinta tak pernah menanyakan kepada Dito.


Karena dia tahu, sang kekasih sangat dermawan.


" Yang kemarin di maksud oleh Raja mungkin Dito. Dia yang menyumbangkan uang 500$, untuk panti milik Raja. Padahal sebelumnya, dia belum kenal dengan Raja. Tapi kenapa dia begitu percaya pada Raja?" Batin Sinta yang bermonolog sendiri.


" Sin, " panggil Dito yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.


Sinta yang berjalan melamun, langsung menabrak tubuh Dito.


" Eh, " kata Sinta yang langsung jatuh ke pelukan Dito.


" Kamu sedang melamun?" Tanya Dito sambil menatap intens Sinta.


" Eh, iya aku lapar." Kelit Sinta, " Aku bingung memilih menu jajanan." Kata Sinta seraya melihat ke kiri dan kanan.


" Iya, kamu bingung. Di sini kan adanya baju daster, mana ada makanan?" Sahut Dito.


" Eh..." Sinta langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan nya.


" Iya udah, kita cari makan. Habis itu langsung ke panti." Kata Dito.


" Memangnya, kamu tahu alamat panti?" Tanya Sinta.


" Raja telah mengirimkan peta nya." Kata Dito.


Mereka pun sampai di lesehan yang menjual gudeg dan krecek. Serta menu sate seperti udang, telur puyuh, ati ampela dan makanan khas Yogyakarta.

__ADS_1


Mereka mengisi perut, makan bersama.


Jam menunjukkan pukul sepuluh, mereka telah selesai makan dan berbelanja.


Mereka telah sampai di hotel, segera Dito dan Sinta menghampiri mobil.


Jarak antara panti dan rumah Sinta tidak begitu jauh. Jadi Dito sekalian mengantarkan Sinta, pulang ke rumah nya.


Sesampainya di panti, Raja telah menyambut nya di depan pintu.


Anak-anak panti, yang berjumlah hampir dua puluh orang pun berjajar rapi.


Dito keluar terlebih dahulu, dan membuka bagasi mobilnya. Mengeluarkan isi belanjaan yang tadi di beli di Malioboro.


Kemudian Sinta menyusul, Dito membawakan buah dan kue


Dito di bantu anak-anak panti, membawakan baju-baju


Saat Sinta sampai di depan pintu, Nindi anak gadis berusia enam tahun menyambut nya ceria


" Kakak, kemana aja? Kok, kakak datangnya sama mas itu, bukan sama mas Raja. Bukannya kakak pacarnya mas Raja?" Celetuk Nindi.


Dito yang awalnya sudah duduk, langsung berdiri. Dito begitu terkejut mendengar penuturan anak gadis, berusia enam tahun itu.


" Maksudnya, apa?" Tanya Dito yang mendekati gadis kecil di hadapan Sinta.


Sinta hanya terlonjak kaget, mendengar penuturan Nindi.


" Nindi, " panggil Raja yang juga terkejut mendengar pernyataan Nindi.


" Bukan seperti itu, Dito. Aku-" ucapan Sinta terhenti karena Dito sudah tersulut emosi


" Oh jadi kalian sudah menjalin kasih, sebelumnya?" Bentak Dito.


" Bukan itu, dengarkan penjelasan aku dulu." Kata Sinta sambil menaruh buah dan kue ke atas meja.


" Pantas, saat di kafe wajah kalian begitu aneh. Rupanya kamu sudah akrab dengannya?" Bentak Dito sambil menunjukkan jari telunjuk ke arah Raja.


" Dito, aku bisa jelasin. Semua salah paham." Ujar Sinta yang mulai takut jika Dito akan meninggalkan nya.


" Dit, bukan seperti itu. Dengar dulu penjelasan nya." Kata Raja yang memanggil Dito.


Namun Dito tak menghiraukan panggilan Raja, dia terus melangkah kan kakinya menuju mobilnya.


" Dito..." Panggil Sinta yang coba menghalangi langkah Dito, namun tak berhasil.


" Dit, Dito.... " Sinta setengah berlari mengejar mobil Dito, namun tak berhasil. Sinta terjatuh saat mencoba menahan mobil Dito.


" Sin, kamu enggak apa-apa?" Tanya Raja yang membantu Sinta berdiri.


" Lepasin, " bentak Sinta yang menepis tangan Raja.


Raja pun langsung mundur, dan melihat kepergian Sinta.

__ADS_1


Sinta pun bangkit, dan berjalan seraya menyeka air matanya.


Sinta mencoba menghubungi ponsel Dito, namun belum ada jawaban. Berkali-kali dia mencoba menghubungi nya, namun Dito tidak menjawabnya.


Dari arah belakang, terlihat Raja menghampiri Sinta dengan motor matic nya.


" Sin, ayo naik." Kata Raja yang memberi tawaran pada Sinta untuk menaiki motor nya.


" Tidak, terima kasih." Ketus Sinta menolak tawaran Raja.


" Aku akan membantu mu, menjelaskan semuanya pada Dito." Kata Raja yang langsung turun dari motor nya, dan berdiri di hadapan Sinta.


" Tidak perlu, aku bisa menyelesaikan nya." Kata Sinta yang menyingkirkan tubuh Raja dari hadapan nya.


" Sinta... " Panggil Raja, namun tak di hiraukan oleh Sinta.


Sinta terus berjalan, mencari angkot yang mengarah menuju rumahnya.


" Aduh, aku gak tahu jurusan angkot nya." Keluh Sinta yang bingung melihat banyak angkot yang lalu lalang.


Sinta memutuskan, untuk memesan ojek online. Lima menit menunggu, akhirnya tukang ojek pun tiba di hadapannya.


****


Sesampainya di rumah, Sinta langsung masuk ke kamarnya. Wajah nya terlihat sangat lesu tak bergairah.


" Loh, Dito mana?" Tanya Sulis yang tidak melihat kehadiran Dito.


" Dia, sudah pulang." Jawab Sinta malas.


" Kok, gak keliatan mobil nya?" Tanya Sulis yang melihat Sinta pulang sendiri.


" Kami berpisah di jalan, dan aku pulang naik ojek." Jawab Sinta.


" Apa, terjadi sesuatu sama kalian?" Tebak Sulis.


Sinta hanya terdiam, dia bingung harus menjelaskan dari mana. Karena permasalahan nya, hanya kesalahpahaman. Dan Dito tidak mau, mendengarkan penjelasan nya.


Sinta pun berdiri di depan balkon, yang berada di lantai dua. Dari kejauhan terlihat sepasang mata, yang sedang memperhatikan nya.


Sinta sedang menatap langit yang sudah menghitam, di hiasi cahaya bulan bertabur bintang. Mencoba menenangkan pikirannya, yang sudah mulai penat dengan keadaan.


Biasanya ada Puput ataupun Wahyuningsih, yang menemaninya. Namun kini, dia jauh dari para sahabatnya.


Berulang kali Sinta mencoba menghubungi Dito, namun tak juga diangkat.


" Sepertinya, dia begitu tertekan?" Ucap Raja yang menghubungi seseorang.


Terlihat Raja, sedang memperhatikan Sinta dari kejauhan. Dia begitu cemas dengan wajah Sinta, saat di tinggalkan oleh Dito.


" Apa kau yakin, ingin meneruskan rencana mu?" Tanya Raja melalui sambungan teleponnya.


" Iya sudah, aku akan mengikuti semua rencana mu. " Jawab Raja yang langsung mematikan sambungan telepon nya.

__ADS_1


Setelah Sinta masuk ke dalam rumah nya, Raja pun pergi.


Silakan like dan berikan komentar mu, ya guys.


__ADS_2