
"Ah, sudahlah." Sinta langsung pergi meninggalkan Raja. Karena dia merasa keceplosan saat mengatakan Terry menyukai Raja.
"Sinta..." Raja memanggil Sinta.
"Ada apalagi?" tanya Sinta yang langsung menoleh ke arah Raja.
"Minta nomor telepon Terry," pinta Raja dengan wajah memohon.
"Berikan ponselmu," perintah Sinta seraya menadahkan tangannya.
Raja pun mengeluarkan ponselnya, dan memberikan pada Sinta. Kemudian Sinta langsung mengeluarkan ponselnya, lalu mengetik nomor ponsel milik Terry.
"Sudah," ucap Sinta yang langsung memberikan ponsel milik Raja.
"Terima kasih," ucap Raja dengan senyum sumringah. Kemudian dia pamit kepada Sinta dan juga Sulis.
"Aku pulang," pamit Raja.
Setelah semua sepi, di rumah hanya ada keluarga Sinta di tambah Hasan. Hasan kini menjadi bagian keluarga baru.
"Sin, kamu tidur sama mama." Ayah Sinta langsung menggelar tikar di depan ruang televisi. Sedangkan Pasha sudah tertidur di sofa.
"Setelah kamu lulus, kita akan mengadakan acara resepsi kakakmu di Jakarta." Mama Sinta memberitahu Sinta sesaat sebelum tidur.
"Iya, Ma!" jawab Sinta.
Pikiran Sinta sedang bercabang, antara memikirkan perkataan Dito yang akan
menikahinya dengan masalah Terry dan Raja.
__ADS_1
"Sinta, kamu kenapa?" tanya mama yang bingung melihat anaknya gelisah.
"Ah enggak, aku gak apa-apa, Ma!" jawab Sinta.
"Iya sudah, sebaiknya kamu tidur. Besok harus mengantar mama ke stasiun."
"Kayaknya aku gak ikut, karena mobil kakak udah gak muat," ucap Sinta.
"Oh iya, sekarang sudah ada Hasan."
"Ma, aku tidur dulu. Karena sudah mengantuk," ucap Sinta yang langsung menaikkan selimut ke arah dadanya.
Suasana rumah mulai sepi, karena semua penghuni sudah memejamkan matanya. Namun tidak di kamar Sulis, mereka memulai jalinan cinta yang selama ini mereka rasakan melalui cinta Long distance.
***
Pagi pun tiba, seluruh keluarga sudah berkumpul di ruang makan. Mereka akan memulai sarapan bersama-sama, dengan kehadiran keluarga baru.
"Iya, Mah!" jawab Sinta seraya memeluk mamanya.
Kemudian mobil yang di kendarai oleh Hasan pun pergi, meninggalkan rumah dinas.
Sinta langsung menutup pintu rumahnya, lalu berjalan menuju ke kamarnya. Dia langsung mengambil ponselnya, lalu menghubungi Terry.
"Halo, Ter..."
"Halo, Sin! Ada apa?"
"Aku mau nanya soal kamu. Kenapa kemarin langsung pulang terburu-buru?"
__ADS_1
"Oh, maaf ya! Aku--" Terry sedang berpikir, dia tidak ingin membohongi sahabat nya.
"Aku kenapa?" tanya Sinta mendesak.
"Kemarin aku di tegur oleh pacarnya Raja, katanya jangan mendekati Raja." Terry menjawab dengan nada suara yang lesu.
"Pacar!" Sinta terkejut dengan pengakuan Terry.
"Iya, aku lupa siapa namanya. Tapi dia mengaku pacarnya Raja, jadi aku merasa gak enak sudah mengganggu hubungan orang."
"Raja gak punya pacar,"
"Apa!" Terry terkejut mendengar penuturan Sinta.
"Iya, justru dia menanyakan kamu, kenapa kamu pulang terburu-buru?"
"Hah! Jadi siapa gadis yang kemarin menegurku?" Suara Terry terdengar lantang di sambungan telepon seluler.
"Eits, jangan bersemangat gitu." Sinta meledek Terry. "Sebaiknya kamu tunggu telpon dari Raja,"
Terry terdiam, sepertinya dia sangat malu telah menyatakan perasaannya pada Sinta.
"Ter, kamu masih hidup?"
"Ish, kamu apaan sih?!" Suara Terry terdengar kesal mendengar candaan Sinta.
"Iya, aku masih bernafas. Ya sudah, kapan-kapan aku akan main ke sana!"
"Iya, aku tunggu ya!"
__ADS_1
Kemudian mereka mengakhiri pembicaraan, melalui sambungan telepon seluler nya.