
Dito
Sarah kembali membaca isi surat perjanjian, ternyata dia telah salah menilai Dito.
*P*erjanjian kerjasama
Pihak ke satu : Dito Pratama
Pihak kedua : Sarah Amalia
1. Pihak kedua menyetujui kerjasama dengan pihak pertama mulai besok.
2. Pihak kedua harus profesional melakukan tugasnya, selama kerjasama tidak boleh menggunakan perasaan.
3. Pihak kedua harus menyelesaikan setiap laporan yang diterima dan selesai 1 minggu.
4. Pihak kedua mendapatkan keuntungan 2% dari setiap laporan, yang diselesaikan selama 1 minggu.'
Sarah telah selesai membaca surat perjanjian, dia hanya menggelengkan kepala melihat isi perjanjian yang hanya 4 poin itu.
" Apakah kau, menyetujui persyaratan dari Dito?"
kata Rossi sambil melihat ke arah Sarah yang sedang serius membaca surat perjanjian di tangannya.
" Sepertinya aku harus menyetujuinya, karena aku sangat membutuhkan uang itu." kata Sarah sambil menatap ke arah Rossi.
" Baiklah kalau itu maumu, sekarang kita pulang." Rossi telah melajukan mobilnya meninggalkan cafe milik Dito
" Aku tahu alasan Dito, membuat persyaratan seperti itu. Dia memang lelaki idaman, yang setia kepada pasangannya." batin Sarah yang sedang memikirkan Dito.
" Sarah, bukankah kau sangat menyukai Dito? Dan kau pun butuh pekerjaan itu, bagaimana dengan hatimu?" tanya Rossi sambil fokus menyetir mobil nya.
" Biarlah semua sesuai rencana Tuhan, aku berharap bisa mendapatkan lelaki seperti Dito." kata Sarah yang mulai pasrah dan memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil. Menatap jalanan di sebelahnya.
Sementara Dito di kantor, sedang memeriksa laporan. Wajahnya menjadi ceria, usai menghubungi kekasih hatinya. Dito kembali semangat bekerja setelah beberapa hari tidak mengabari Sinta.
Dito kembali mengecek, semua laporan keuangan yang masuk.
Usai mengerjakan tugas kantor nya, Dito langsung meninggalkan ruangan nya. Karena hari sudah larut malam, besok dia akan mencari tempat magang yang cocok dengan keahlian bidang studinya.
Walaupun dia memiliki kafe sendiri, namun dia mencari tempat magang lain. Karena ingin mencari pengalaman kerja, untuk mengembangkan usahanya.
****
Sinta
Sinta meminta Raja, agar mengantarkannya ke rumah Gendis. Sebenarnya Raja ingin menolak, karena tidak mau terlalu jauh mengurusi masalah Gendis.
__ADS_1
Namun Sinta merengek, ingin mengetahui keadaan Gendis. Terpaksa Raja, mengantarkannya sepulang sekolah.
Mereka sampai di rumah Gendis, dan melihat suasana rumahnya sangat sepi. Raja memarkir motornya di samping rumah Gendis.
Rumah Gendis terlihat cukup besar, dengan pagar yang terbuat dari tanaman. Dan tak ada pagar besi, karena dia tinggal di perumahan.
" Raja motormu berisik sekali, besok ganti knalpot nya ya." protes Sinta di sela pengintaian mereka. Karena Sinta merasa knalpot motor yang di modifikasi oleh Raja, terdengar sangat berisik. Dan bisa mengganggu pengintaian mereka.
Raja hanya memutar kedua bola matanya malas. Karena belum ada satu orang pun, yang melarangnya menggunakan benda kesukaannya. Tetapi kenapa Sinta bisa merubah segalanya, dalam kehidupannya.
Hari-hari Raja kini penuh warna, tidak hitam seperti dulu. Kini dia mempunyai semangat belajar. Ingin menunjukkan prestasinya kepada sang ayah. Serta ingin berbuat baik kepada para guru, yang telah disakitinya.
Raja menatap kagum Sinta, yang terlihat cerewet namun perhatian.
Sinta menjentikkan jarinya, di wajah Raja.
" Kamu ngelamunin apa? Jangan bilang, lagi ngelamunin yang jorok-jorok?" tanya Sinta sambil menyipitkan kedua matanya.
Raja semakin gemas melihat sikap Sinta, yang salah menebak pikiran orang.
Ingin rasanya, Raja mencubit pipi Sinta yang chubby. Namun dia hanya ingin, melakukan dalam khayalan saja.
" Raja, " panggil Sinta yang melihat Raja masih melamun.
" Iya maaf, aku hanya takut Gendis akan menolakmu." ucap Raja yang tidak ingin melihat Sinta terluka.
Raja pun tersenyum melihat tingkah Sinta, yang jalan mengendap-ngendap sambil menggandeng tangan nya.
" Apa aku, ketuk pintu ya?" tanya Sinta gugup dan melihat ke arah Raja.
" Terserah kamu, bukankah kamu yang ingin bertamu?" kata Raja.
" Ih dasar laki-laki, emang nggak bisa di ajak solusi." gerutu Sinta sambil mengangkat tangannya bermaksud ingin mengetuk pintu.
Namun saat ingin mengetuk pintu, tiba-tiba pintu terbuka.
" Bu Anggi." Sinta gugup saat Anggita membuka pintu.
" Kamu? " Anggita tidak mengenali Sinta, namun saat melihat ke arah Raja, " Raja..." ekspresi wajahnya langsung terkejut.
" Bu." sapa Raja sambil mencium tangan Anggita.
Dibelakang Anggita, ada Cakra buana.
" Ayah?" Raja terkejut dengan kehadiran ayahnya, yang berada di rumah Gendis.
" Raja, ada urusan apa kamu kemari?" tanya Cakra yang langsung menghampiri Raja, " Dan kamu Sinta, mau apa ke sini?" tanya Cakra sambil melihat kearah keduanya.
__ADS_1
" Kami..." jawab Sinta gugup.
" Kami mau menengok Gendis, ayah." Sela Raja yang menjawab pertanyaan Cakra.
" Memang, ada apa dengan Gendis?" tanya Cakra.
" Mmmm... " Sinta dan Raja saling bertukar pandang, dia tidak mungkin menceritakan kejadian kemarin yang menimpa Gendis.
Dan Raja pun tidak yakin, jika Gendis akan bercerita kepada ibunya.
Anggita langsung, menyela pembicaraan mereka. Berpura-pura mengizinkan Raja, masuk ke dalam.
Raja tidak tahu maksud kedatangan ayahnya, ke rumah gendis. Hal itu akan ditanyakan, saat Raja sampai di rumah.
" Ayo Raja masuk, kalian bisa melihat Gendis di dalam." kata Anggita dengan senyum kepura-puraan. Dia takut Cakrabuana mengetahui, skandal cintanya yang kemarin.
" Baiklah aku pulang dulu, karena masih banyak kerjaan yang menungguku." pamit Cakra, kalau dia bergegas menuju mobilnya.
Raja tidak mengenali mobil Cakra, karena mereknya berganti lagi. Ayahnya memang suka gonta-ganti mobil, dalam seminggu. Hal itu karena ayahnya, punya showroom mobil. Dan dia dengan bebas, menggunakan mobil yang mana saja.
Raja dan Sinta dipersilahkan masuk, oleh Anggita.
" Tunggu sebentar, ibu panggilkan Gendis!" kata Anggita yang mempersilahkan mereka duduk, lalu dia menuju ke kamar Gendis.
" Raja, apakah ayah mu tahu soal masalah Gendis?" tanya Sinta sambil berbisik.
" Enggak tahu, aku juga baru tahu sekarang." jawab Raja seadanya, memang dia tidak tahu maksud kedatangan ayahnya.
Gendis pun keluar dari kamarnya, terlihat wajahnya sangat pucat
" Gendis, kau tidak apa-apa?" cemas Sinta, sambil melihat keadaan gendis yang sangat menyedihkan.
" Sinta, aku membatalkan perjanjian bukan berarti aku ingin menjadi temanmu." ucap Gendis yang memulai pembicaraan dengan kalimat yang tidak menyenangkan.
" Gendis, Kau memang tidak tahu berterima kasih." ejek Raja, lalu dia langsung menarik tangan Sinta dan pergi meninggalkan rumah Gendis.
" Aku belum selesai berbicara, dengan Gendis." kata Sinta yang mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Raja.
" Enggak perlu, udah cukup. Dia tak butuh bantuan kita." kesal Raja yang melihat sifat sombong Gendis.
Mereka terdiam, Raja tidak terima jika Gendis memperlakukan Sinta dengan kasar.
" Ayo kita pulang." ajak Raja yang menarik tangan Sinta.
Namun Sinta langsung menepis tangan Raja.
" Aku yakin, Gendis sangat butuh pertolongan kita." kekeh Sinta yang masih ingin bertahan, dan ingin mengetahui keadaan Gendis.
__ADS_1