
Kemudian Sinta memutuskan menemui Raja di panti asuhan. Dia menghubungi Raja melalui sambungan telepon seluler nya.
Setelah merapikan dirinya, Sinta pun langsung berangkat menuju panti asuhan. Dia berjalan menuju depan kompleknya, lalu memberhentikan angkot.
Selama perjalanan Sinta memikirkan hal yang harus di bahas oleh Raja. Di satu sisi dia tidak ingin menyakiti temannya Terry, di sisi lain Sinta pun merasa tak enak hati pada Gendis.
Sinta tidak bisa memilih, semua keputusan ada di tangan Raja. Sinta hanya ingin menegaskan pada Raja, perihal Terry yang juga menyukainya. Dia teringat saat dulu menjadi Mak comblang untuk Malik dan Puput. Serta Wahyuningsih dan juga Fadli.
"Ah, ternyata aku memang ahli sebagai biro jodoh!" gumam Sinta seraya memutar kedua bola matanya sambil berpikir.
Sinta pun sampai di depan panti asuhan, yang sudah lama tidak di kunjunginya. Setelah membayar ongkos angkot, Sinta langsung berjalan menuju halaman panti.
"Assalamu'alaikum..." Sinta mengucap salam seraya mengetuk pintu.
"Kak Sinta..." jawab Nindi yang merupakan bocah kecil yang sangat akrab dengan Sinta.
"Nin, bagaimana kabarmu?" tanya Sinta seraya membungkukkan badannya dengan mensejajarkannya.
"Baik, Kak! Kok gak pernah datang ke sini?" tanya Nindi dengan raut wajah yang kecewa.
__ADS_1
"Nih, kakak ada di sini!" ucap Sinta seraya mencubit pelan pipi Nindi.
"Ayo Kak, masuk!" ajak Nindi seraya menuntun tangan Sinta.
Sinta membawa plastik berisi bolu dan kue bawaan keluarga Hasan kemarin.
"Wah, kakak banyak banget bawa makanan!" ucap antusias anak gadis yang berusia lima belas tahun. Dialah yang menjadi kakak tertua di panti.
"Kemarin ada acara, dan masih banyak kue yang tidak termakan. Jadi kakak bawa kesini." Sinta meletakkan beberapa bungkus kue bolu serta buah-buahan.
"Terima kasih," ucap salah seorang anak laki-laki yang berada di depan Sinta
"Kakak lagi nungguin kak Raja?" tanya anak gadis yang merupakan kakak tertua di panti bernama Alya.
"Kak, sebenarnya ada hubungan apa kakak sama kak Raja?" tanya Alya.
"Hanya teman, lebih jelasnya teman baik. Dan bukan pacar!" ucap Sinta penuh penekanan, lalu di dengar oleh Raja yang sudah berdiri di depan pintu sejak tadi.
Raja menyadari, jika dirinya bukanlah orang yang spesial di mata Sinta. Namun kini hatinya sudah bisa menerima kondisi seperti itu.
__ADS_1
"Eh, ada kak Raja." Nindi melihat keberadaan Raja
"Raja! Sejak kapan kamu berdiri di situ?" tanya Sinta yang langsung menoleh ke arah Raja.
"Sejak kamu menyatakan pendapatmu, tentang aku di depan anak-anak panti," ucap Raja sendu.
"Maaf, bukan maksud ku--" ucapan Sinta terpotong oleh Raja.
"Aku telah menerima dengan lapang dada, walaupun kenyataannya sangat sulit. Hingga aku harus terus bertempur dengan hatiku. Tetapi kenyataannya, cinta kamu dan Dito sangat kuat. Dan aku gak bisa menembus pertahanan di antara kalian," jawab Raja seraya menundukkan kepalanya.
Sinta menjadi salah tingkah, saat Raja mengungkapkan perasaan nya. Sebenarnya dia sangat tahu jika Raja memang menyukainya. Hanya saja Sinta tak ingin merusak pertemanan mereka.
"Maaf," ucap Sinta lirih.
"Gak usah minta maaf, karena kamu gak salah. Kenyataan akulah yang salah, telah memaksa masuk."
Nindi dan Alya melihat ke arah Sinta dan juga Raja secara bergantian. Mereka tidak suka suasana yang kini canggung.
"Kak, sudah jangan sedih terus," celetuk Nindi.
__ADS_1
"Nindi, siapa yang lagi sedih?" tanya Alya yang menyenggol lengan Nindi untuk mencairkan suasana.
Silakan like dan komentar ya