
Pagi pun tiba, Sinta telah bangun dari tidurnya. Setelah mandi dan melaksanakan solat subuh, dia langsung mengenakan pakaiannya.
Sinta melihat handphonenya, dan belum ada tanda-tanda Dito telah menghubungi nya.
Akhirnya dia putuskan untuk menelpon Dito.
" Berdering .... "
Seketika ponsel milik Dito pun merespon panggilan Sinta.
" Assalamualaikum, " sapa Sinta mengawali pembicaraan.
" Wa' Alaikum salam, " terdengar suara wanita yang menjawab.
Sinta sungguh terkejut, apakah benar tentang mimpinya semalam? Atau mungkin itu Melly? Tetapi suara Melly sangatlah Sinta kenal. Tetapi suara siapa di ponsel Dito yang menjawab panggilannya?
" Maaf, kamu siapa? " Sinta bertanya dengan nada sinis.
" Aku Sarah, " jawab Sarah yang menjawab panggilan dari Sinta.
Benar mimpinya semalam, kenapa harus suara wanita yang menjawab ponsel milik Dito?
" Maaf, kamu kekasihnya Dito? " Wanita bernama Sarah mengetahui Sinta adalah kekasih Dito.
" Kamu siapa? " Sinta menjawab dengan nada suara yang sinis.
" Aku tidak bisa menjawab ponsel mu, karena ponsel milik Dito terkunci. " Sarah memberikan penjelasan.
" Terus kamu siapa? Kok bisa handphone Dito ada sama kamu? " Suara Sinta terdengar emosi.
" Kamu jangan salah paham, aku hanya teman Dito. Dan aku ingin memberitahu kalau Dito kecelakaan, dan kini sedang di UGD. Sejak tadi pagi dia belum keluar dari kamar operasi. " Sarah menjelaskan tentang keadaan Dito.
" Apa? Dia kecelakaan? " Sinta terkejut, dia merasa bersalah karena telah mencurigai kekasih nya.
" Iya, Kak Melly bersamaku. Dan kini Dito belum juga keluar dari ruang operasi. "
" Baiklah, aku ucapkan terima kasih. Aku akan segera ke sana. " Sinta langsung menutup sambungan teleponnya.
Sinta keluar dari kamar dan menghampiri Sulis.
" Kak, Dito kecelakaan, " ucap Sinta dengan tergesa-gesa.
" Kecelakaan? " Sulis pun terkejut mendengar laporan dari Sinta.
" Iya, dan aku ingin ke sana, " pinta Sinta merengek pada Sulis.
" Sebaiknya kamu sekolah, nanti kakak akan ke sekolah mu dan meminta ijin, " ucap Sulis memberikan saran pada Sinta yang sedang panik.
" Baik Kak, aku akan rapikan buku dulu! " Sinta langsung bergegas menuju kamarnya.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan, mereka pun bergegas menuju sekolah Sinta.
" Kamu tahu Dito kecelakaan dari kakaknya? " tanya Sulis yang sedang menyetir mobil.
" Dari temannya, namanya Sarah, " ucap Sinta.
" Sarah? " Sulis mengernyitkan keningnya, " seperti nama adiknya Hasan? " Sulis nampak berpikir.
" Namanya aja kali yang sama, " ucap Sinta.
" Iya, barangkali. Tapi nanti aku tanya Hasan, mungkin dia mau menjenguk Dito, bareng kita. " Rencana Sulis
" Ish Kakak, jangan ambil kesempatan dalam kesempitan deh! " cebik Sinta.
Sinta berpikir jika kakaknya akan pergi ke Inggris, dengan kekasihnya. Menjenguk Dito hanya alasan agar mereka bisa pergi berdua.
" Jangan negatif thinking, kamu tuh uda mikir yang enggak-enggak aja! " tebak Sulis.
" He, he, he ... " Sinta terkekeh.
Sulis telah memarkir mobilnya di depan sekolah Sinta.
" Kamu masuk sekolah dulu, kakak akan minta ijin untuk hari esok, " ucap Sulis yang telah keluar dari mobil.
Sinta dan Sulis langsung masuk ke dalam sekolah, dan Sulis langsung menuju ruang guru.
Raja belum terlihat di bangkunya, dan Sinta pun segera menghampiri tempat duduk nya.
Terlihat Raja sudah memasuki kelas, dan berjalan menghampiri tempat duduk nya.
" Raja, Dito kecelakaan. " Sinta memberikan kabar pada Raja, padahal Raja baru saja sampai dan belum menempati bangkunya.
Raja terdiam tak menyahut, karena dia tidak mungkin panik di depan teman-temannya.
Kemudian dia langsung menuju tempat duduknya. Sinta terlihat kesal, karena Raja telah mengacuhkan nya.
Raja melihat kecemasan di wajah Sinta, dia ingin sekali menegur Sinta. Namun dia urungkan, karena saat ini mereka sedang di sekolah.
Selama pelajaran berlangsung, Sinta tidak konsentrasi dalam menerima pelajaran. Pikiran selalu tertuju pada kekasihnya, yang telah mengalami kecelakaan.
Sinta ingin sekali mengetahui kabar Dito, namun sayangnya hubungan dia dengan Melly kurang akrab.
Terlihat Sinta sedang memainkan pulpen, dengan menggoyangkan nya di sela-sela jarinya.
Raja terus memperhatikan Sinta, sebenarnya dia ingin sekali membantu. Hanya saja saat di sekolah, mereka tidak harus terlihat akrab. Jam pelajaran berakhir, berganti dengan pelajaran berikutnya.
Mereka berganti pakaian olahraga, untuk mata pelajaran ke dua.
Semua siswa berganti pakaian, mereka pergi ke toilet.
__ADS_1
Sinta berjalan dengan gontai, dia tidak bersemangat untuk mata pelajaran penjaskes.
Materi hari ini adalah bermain bola basket, semua siswa sudah berkumpul di lapangan.
Siswa berbaris dengan rapi, dengan arah horizontal.
Satu persatu siswa mempraktekkan materi tentang mendrible bola basket. Lalu memasukkan nya ke dalam ring basket.
Kini giliran Sinta, yang maju untuk mempraktekkan materi yang di sampaikan oleh guru olahraga.
Raja sangat cemas, jika Sinta tidak fokus saat guru menerangkan.
Sinta mulai mendrible bola basket, perlahan kakinya mulai melangkah. Saat akan melompat, tiba-tiba kakinya tersangkut tali sepatu yang terlepas.
" Bugh .... "
Raja segera berlari, menghampiri Sinta yang sudah tergeletak di lapangan beraspal.
" Kamu, enggak apa-apa? " tanya Raja sambil membangunkan Sinta.
" Aku gak apa-apa, " jawab Sinta dengan tatapan kosong. Dia langsung menepis lengan Raja, dan kembali ke barisan.
" Cie, cie, cie .... "
Semua teman-teman nya bersorak-sorai, melihat adegan Raja menolong Sinta.
Wajah Raja terlihat merah di kulit wajahnya yang putih. Dia pun kembali pada barisannya. Sambil sesekali melirik ke arah Sinta, yang nampak mengacuhkan teriakan teman-teman nya.
Dia sangat tahu, jika Sinta sedang memikirkan Dito. Makanya dia tidak memperdulikan sorakan teman-temannya.
Semua siswa telah berbaris, dan menyelesaikan pelajaran hari ini. Waktu nya mereka bermain, menghabiskan jam pelajaran hingga bel istirahat berbunyi.
Sinta langsung kembali ke kelas, dia berjalan sendiri tanpa menegur sapa teman yang lain. Padahal teman-teman nya sedang bergosip tentang hubungan dia dengan Raja. Tapi Sinta memang tidak perduli, dia langsung berjalan menuju kelasnya.
" Sinta, kamu mau kemana? " panggil Ayu dengan berjalan mengikuti langkah Sinta.
" Aku mau ke kelas, " jawab Sinta dengan suara yang datar.
Ayu dan Riska saling menoleh, mereka bingung melihat sikap Sinta yang dingin dan tak ada keceriaan.
" Sinta kenapa, ya? " tanya Ayu pada Riska yang melihat kepergian Sinta.
" Mungkin dia sedang sakit? " Riska menebak
Kemudian Ayu dan Riska kembali ke lapangan, mereka ingin melihat anak laki-laki sedang bermain sepak bola.
Usai jam pelajaran olahraga, memang banyak anak laki-laki yang bermain sepakbola. Anak perempuan biasanya suka memberi dukungan pada anak laki-laki yang mereka idolakan. Termasuk Ayu dan Riska yang memberikan semangat untuk Raka.
Raka sangat di idolakan di sekolah, karena ketampanannya dan juga cerdas. Namun bagi Raka ketampanan nya tak berarti jika di depan Sinta.
__ADS_1
Silakan like dan komen ya