LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
Sinta penasaran dengan Dita


__ADS_3

Sesampainya di kantor polisi, Dito langsung bergegas menuju ruangan Sudirja. Sudah ada Raja yang diminta keterangan oleh anak buah Sudirja.


"Pak Herman, apakah Risma sudah ditemukan?" tanya Dito yang sudah berada di hadapan Herman.


"Belum, kami sedang mencari keberadaan Risma dan juga Gendis." Herman menjawab pertanyaan Dito


Apa sudah menanyakan kepada pak Ferdi?" tanya Dito


"Sudah, tetapi dia tidak mau buka suara."


"Baiklah, kalau dia tidak mau buka suara. Biar aku saja yang bertanya," ucap Sinta menyela pembicaraan Herman dan Dito dengan suara lantang.


Orang-orang yang berada di ruangan Sudirja, semuanya menoleh ke arah Sinta.


"Sinta, kamu jangan terlalu agresif seperti itu," ucap Dito dengan suara pelan sembari melirik ke arah Sinta.


"Aku begitu kesal sama orang itu, bisa-bisa dia menculikku lalu menyekapku di dalam gudang. Kalian tahu gak, saat malam aku digigit nyamuk lalu tidur dengan tangan kebelakang. Apa mungkin dia ingin membuat aku mati?" ucap Sinta dengan gentar, karena dia merasa dendam dengan perlakuan Ferdi kepadanya.


"Sudah, Sin. Sebaiknya kamu istirahat," kata Raja yang mencoba menenangkan Sinta.


Dito langsung menoleh ke arah Raja, dengan pandangan curiga.

__ADS_1


Raja langsung mengalihkan pandangannya saat Dito melihat ke arahnya, lalu dia kembali ke bangkunya.


"Iya, sudah. Itu biar menjadi urusan kepolisian. Setelah mendapatkan tasmu, kita pulang." Dito menuntun tangan Sinta keluar dari ruangan Sudirja.


Sudirja belum sampai ke ruangannya, karena dia masih melakukan penyidikan di tempat kejadian perkara. Walhasil, Sudirja akan naik jabatan jika kasus Ferdi benar-benar terbongkar. Karena banyak atasannya sering mendapatkan salam tempel dari Ferdi untuk melancarkan bisnisnya.


Selang satu jam menunggu di depan ruangan Sudirja, akhirnya Sinta mendapatkan tasnya.


Sudirja membawa tas milik Sinta, karena telah selesai proses penyidikan.


Hujan telah berhenti, Dito memanggil Raja untuk ikut bersamanya kerumah Sinta. Karena motor milik Raja masih berada di rumah Sinta.


Dito mencari keberadaan Raja di dalam ruangan Sudirja.


"Ikut kemana?" tanya Raja seraya menatap gugup Dito. Raja hanya takut jika Dito benar-benar mencurigainya. Raja tidak ingin menjadi perusak hubungan orang.


"Ke rumah Sinta," jawab Dito.


"Untuk apa aku ke rumah Sinta?" tanya Raja dengan wajah terkejut.


"Motormu ada di sana, tidak mungkin aku membawanya pulang ke rumahmu." Dito berucap malas.

__ADS_1


"Ah, iya." Raja menganggukkan kepalanya menandakan dia mengerti maksud Dito.


"Baiklah, kita pulang sekarang." Dito berjalan terlebih dahulu, kemudian disusul Raja dibelakangnya.


Dito menghampiri Sinta yang masih duduk di bangku depan ruangan Sudirja.


"Ayo, pulang." Dito mengajak Sinta seraya mengulurkan tangannya.


Sinta menyambut uluran tangan Dito, kemudian mereka berjalan dengan bergandengan tangan.


Sepanjang perjalanan, Raja begitu iri melihat kemesraan antara Dito dan Sinta.


Pacaran ala Dito dan Sinta hanya sebatas bergandengan tangan. Sinta benar-benar menjaga dirinya agar tidak terjerumus dengan pacaran yang tidak sehat.


"Ja, bagaimana hubunganmu dengan Terry?" tanya Sinta


"Baik," jawab Raja. "Tapi aku belum sempat menghubunginya lagi, karena terlalu sibuk mencarimu dari kemarin." Raja melirik ke arah Dito.


Selama satu minggu ini, Raja begitu sibuk menemani Dito yang berubah menjadi Dita.


"Ah, iya. Apa kamu kenal sama Dita?" tanya Sinta yang membuat Dito dan Raja terkejut.

__ADS_1


Silakan komentar dan like


__ADS_2