
" Hey, Aina." sapa Sinta sambil mengulurkan tangannya.
" Hey, " jawab Aina sambil tersenyum ramah.
Gadis cantik berkulit putih, dengan gigi ginsul di bagian kanan atas. Menambah manis, saat dia tersenyum.
" Aku Sinta, aku sedang belajar bisnis. Aku harap kamu bisa bantu aku." kata Sinta, " Panggil, Sinta aja ya. Kita seumuran kayaknya." ucap Sinta.
" Iya, Sin. Mari aku perkenalkan dengan pegawai lainnya." ajak Aina yang langsung memeluk lengan Sinta.
" Sigit, Aryo, Galang dan Ratna." Kata Aina memperkenalkan ke empat karyawan yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya.
Sigit bertugas membuat olahan minuman, Aryo sebagai packing, Galang bersih-bersih membantu Ratna. Sedangkan Aina bertugas sebagai kasir.
Sinta begitu senang, berada dalam suasana kerja.
" Apa, kau suka?" tanya Raja yang berdiri di belakang Sinta.
" Iya, seperti nya menyenangkan ikut bekerja." kata Sinta yang duduk di bangku.
Dia mengamati para karyawannya bekerja, semua ramah dalam menyambut pelanggan.
" Seperti nya aku tidak cocok, menjadi atasan mereka." kata Sinta sambil menikmati minuman bubble mango milk.
" Ini baru satu gerai, masih ada lima gerai lagi. Dengan karyawan yang sama berjumlah lima.
" Aku tidak tahu, jika Dito memiliki banyak karyawan." gumam Sinta, " Setahuku, dia hanya memiliki hotel di Yogyakarta, dan kafe di Jakarta." tandas Sinta.
Raja hanya diam, tak berkomentar tentang cerita dari Sinta. Karena dia tahu, jika sikap Sinta sangat sensitif. Jika salah berucap, maka akan panjang urusannya.
" Kamu kenal Dito, dimana?" tanya Sinta sambil menatap Raja.
Walaupun Raja tahu, jika Sinta adalah tunangan dari bosnya. Namun perasaan suka saat sebelum tahu hal itu, membuatnya menjadi gugup ketika Sinta melihatnya dengan intens.
Raja menjadi salah tingkah, dia memalingkan wajahnya agar tidak melihat mata Sinta yang indah.
" Aku kenal setahun yang lalu, saat sedang menawarkan produk franchise minuman. Aku membuat design, untuk para pengusaha muda dan sering mengajukan proposal. Namun hanya Dito lah, yang mau menerima proposal ku. Dan menjadi suatu kebanggaan, saat pemikiran Dito melancarkan usaha menjadi sangat berkembang. Dan banyak yang bertanya padanya, soal design yang aku buat." Kata Raja, yang menceritakan awal mula bertemu dengan Dito.
" Lalu, kenapa kau tidak membuka usaha sendiri?" tanya Sinta.
" Aku sudah nyaman bekerja dengan Dito, dia sangat mempercayai aku untuk memegang usahanya. Jadi sebagai balasan kebaikan nya, aku berusaha menjalankan usahanya. Aku hanya menjual design ku, untuk pengusaha yang tadinya tak menganggap hasil karyaku." kata Raja.
" Wah, kamu sangat menginspirasi. " puji Sinta, " Tapi, apa ini alasan kamu sering bolos sekolah?" tanya Sinta.
__ADS_1
" Iya, " jawab Raja.
" Tapi, ayahmu seperti nya orang terpandang dan banyak duit. " kata Sinta sambil memperhatikan Raja.
" Aku sudah terbiasa hidup sederhana, dan tak bergantung pada ayahku. " kata Raja.
" Jadi, kamu bekerja keras untuk siapa? Padahal sebenarnya tugasmu hanya lah sekolah." kata Sinta.
" Aku suka, dengan pekerjaan ku." kata Raja.
" Tapi, sekolah mu tidak boleh di tinggalkan." kata Sinta.
" Sejak dulu, aku hidup dengan nenekku. Kedua orang tuaku sangat sibuk, sehingga tak pernah memperdulikan keadaan ku. Hingga nenekku meninggal, aku sangat kehilangan. Seperti nya tujuan hidup ku tak lagi ada. Lalu aku menemukan anak-anak di jalanan, dan membuka panti di sana. Semenjak itu, tujuanku hanya bekerja untuk mereka." ungkap Raja.
" Aku harap, kau mementingkan sekolah." pesan Sinta.
" Apa kau bisa membantuku belajar?" tanya Raja.
" Aku bisa membantu mu, asal kau punya semangat dan tekad untuk pintar. Anak-anak panti juga butuh pemimpin yang cerdas dan pintar. Bukan pemimpin yang selalu mengandalkan materi atau uang." Kata Sinta.
" Terima kasih." kata Raja, " Sudah jam setengah lima, aku antar kau pulang." kata Raja.
" Oh iya, bisa-bisa kamu kena semprot lagi sama kak Sulis." kata Sinta.
" Baiklah."
Raja dan Sinta pun pamit pada karyawan, yang berada di gerai C.
****
Dito
" Jimmy, apa kau sudah tahu di mana apartemen nya?" tanya Dito pada asistennya.
" Tuan, aku sudah menanyakan tentang keberadaan Stefan di dalam apartemen." lapor Jimmy yang kepalanya menunduk ke arah jendela mobil.
" Lalu?" balas Dito.
" Lantai dua, nomor 15." kata Jimmy.
" Baiklah, kita bereskan jika memang ada Kak Melly." kata Dito yang langsung membuka pintu nya.
Dito berjalan mengikuti Jimmy, mereka berjalan menuju lobby. Sebelumnya Dito meminta tolong pada security, untuk melihat rekaman cctv.
__ADS_1
Mereka tidak akan bertindak gegabah, dalam mencari Melly. Setelah mengamati cctv, Dito memperhatikan Stefan dan Melly yang berjalan saling merangkul.
" Kurang ajar, ternyata dia membawa Kak Melly saat pulang dari rumah Sarah. Apa dia akan membuat perhitungan dengan ku?" geram Dito, lalu dia menyuruh Jimmy dan dua orang security, untuk menghampiri apartemen Stefan.
Dengan perasaan emosi, dan wajah yang sudah memerah karena menahan amarahnya.
Pintu lift pun terbuka di lantai dua, segera Dito melangkahkan kakinya menuju apartemen nomor lima belas.
Kedua security pun berdiri di depan pintu, sedangkan Dito dan Jimmy bersandar di dinding kanan dan kiri.
Jam dua malam, security mengetuk pintu apartemen nomor lima belas.
" Tok, tok, tok..."
Seorang satpam mengetuk pintu apartemen Stefan.
Cukup lama, mereka menunggu di depan. Kisaran lima belas menit, mereka berdiri di depan pintu. Kembali security mengetuk pintu, kali ini dengan ketukan yang keras
" Duk, duk, duk..."
Kemudian terdengar suara langkah kaki, dan putaran knop pintu dari arah dalam.
" Ceklek..."
Pintu pun terbuka, terlihat Stefan hanya memunculkan kepala nya dengan pintu setengah terbuka.
" Maaf, ada apa?" tanya Stefan dengan bertelanjang dada, dan hanya mengenakan celana pendek berwarna hitam.
" Maaf Tuan, seperti malam ini kami akan melakukan pemeriksaan. Karena kami mendapatkan laporan tentang seorang gadis yang datang ke apartemen anda." kata Security .
" Siapa yang melapor? Dan memang di apartemen ini ada larangan jika aku membawa seorang gadis?" kata Stefan.
Dito tidak sabar mendengar pengakuan dari Stefan. Dia langsung menghampiri Stefan, lalu mencengkeram lehernya.
" Katakan dimana, Melly?" geram Dito yang tersulut emosi.
" Kau bisa ku tuntut, dengan membuat onar di rumahku." kata Stefan mengancam.
" Tuntut saja, jika aku menemukan bukti kalau Melly di sini akan aku hajar kau." kata Dito yang langsung masuk ke dalam apartemen milik Stefan.
" Hey, kau bisa aku penjarakan karena membuat keonaran." teriak Stefan yang berlari kecil menghampiri Dito.
" Maaf Tuan, jika benar Tuanku membuat onar anda bisa melaporkan nya. Tapi biarkan dia membuktikan tentang keberadaan kakaknya." cegah Jimmy yang menarik tangan Stefan.
__ADS_1
Silakan like dan berikan komentar mu.