
Maaf author yang sering telat update, di karena kan sedang mengawasi anak-anak ulangan daring. Terima kasih untuk kalian yang sudah setia untuk terus membaca karyaku, dan sudah tap like juga berikan vote.
Lanjut!
Dito
Sarah telah membaca satu demi persatu, isi perjanjian yang di berikan oleh Dito. Kemudian dia tidak menyangka, jika Dito adalah seorang milyarder. Semua di luar dugaannya, karena penampilan Dito yang biasa saja. Telah mengecoh kan nya, membuatnya berpikir Dito hanya pemuda biasa.
" Bagaimana, apa kau menyetujui semua persyaratan dariku?" tanya Dito sambil mengangkat kedua alisnya.
Sarah pun terdiam, dia hanya berpikir jika dirinya belum punya pengalaman menjadi konsultan keuangan.
Tapi semua demi melancarkan niatnya, untuk mendekati Dito. Dia harus mengiyakan, walaupun sepenuhnya dia belum membacanya.
" Baiklah, aku setuju." kata Sarah sambil mengulurkan tangannya, dia bermaksud untuk berjabat tangan menandakan dirinya setuju bekerja sama dengan Dito.
" Baiklah, jika kau setuju. Apa kau sudah membaca poin nomor dua?" tanya Dito.
" Poin nomor, dua?" terlihat Sarah mengerlingkan kedua matanya. Sepertinya Dito tahu, kalau Sarah tidak membaca seutuhnya.
' Iya, soal masalah hati. Aku ingin menegaskan jika pekerjaan kita akan berlangsung secara profesional. " kata Dito yang mencantumkan point tentang bekerja secara profesional jika memang hal itu terjadi maka Dito dapat membatalkan perjanjian secara sepihak.
Sarah terkejut ternyata itu bukan perjanjian kontrak perusahaan, melainkan privasi Dito.
" Oh, baiklah." kata Sarah mengiya kan karena dia terpaksa menerima pekerjaan ini walaupun bukan bekerja layaknya orang kantoran, tetapi gajinya besar.
" Mulai besok, aku akan mengirim email tentang laporan keuangan dari anak buah ku. Kau hanya tinggal mengeceknya, jika ada kesalahan silakan laporkan padaku."kata Dito yang menugaskan Sarah.
" Baiklah, aku akan terima persyaratan darimu. Dan terima kasih telah mempercayakan ku." kata Sarah yang langsung menandatangani surat perjanjian
Usai melakukan pertemuan dengan Dito, mereka pun pamit untuk pulang. Sedangkan Dito, masih menetap di dalam kantor nya.
Sarah dan Rossi, keluar dari ruangan kerja Dito.
" Sarah, kenapa Dito membuat perjanjian seperti itu?" tanya Rossi yang berjalan di sebelah Sarah.
" Entahlah, mungkin dia hanya tidak ingin mengecewakan tunangannya." Sarah sambil berpikir, apakah dia bisa menjaga hatinya setelah ditemukan ultimatum.
Mereka pun pergi, meninggalkan cafe milik Dito.
Sementara Dito, di dalam kantor menghubungi Sinta.
" berdering...."
__ADS_1
Dito mencoba menghubungi, ponsel milik Sinta.
" *Halo, assalamualaikum."
" Waalaikumsalam." jawab Sinta dengan suara yang lembut. Dan masih berada di sebelah Raja, karena Sinta akan pulang ke rumahnya.
" Kamu sedang apa?" tanya Dito dari sambungan telepon selulernya.
" Aku habis mengajar privat muridku." kata Sinta sambil melirik ke arah Raja.
Sinta belum memberitahu Dito, jika muridnya adalah Raja.
" Sekarang sudah pulang?"
" Lagi menuju jalan pulang, emang ada apa ya*?" tanya Sinta sambil mengulas senyum karena sudah beberapa hari Dito tidak menghubunginya.
" Aku hanya merindukanmu, maaf baru bisa menghubungi hari ini." kata Dito.
" Oh, jadi rindunya baru hari ini?" Sinta meledek Dito.
Raja merasa cemburu, mendengar kemesraan Antara Sinta Dan Dito. namun lagi-lagi perasaan itu dia tepis, karena dia tidak berhak cemburu. Ha itu akan merusak kerjasamanya antara Dito, dan menjauhkan dirinya dari Sinta. Biarlah perasaan itu dia pendam, sampai menemukan siapa pengganti Sinta di hatinya.
" Se**tiap hari aku selalu merindukanmu, namun kegiatanku belakangan ini sangatlah banyak." kata Dito mengisi pembicaraan.
" iya, aku juga sibuk." kata Sinta.
" Aku tuh sibuk mikirin kamu, kenapa nggak nelpon-nelpon." canda Sinta sambil tertawa kecil, dan hal itu dilihat oleh Raja.
Raja semakin gemas, melihat Sinta sedang bercanda dengan Dito.
Sinta masih melanjutkan pembicaraannya dengan Dito. Hal itu berlanjut, sampai Sinta berada di depan rumahnya.
" Udah dulu ya, aku sudah sampai rumah. Nanti kalau aku sudah mandi, kamu hubungi aku lagi." kata cinta yang sudah mengakhiri pembicaraan mereka di saluran telepon.
" Ya boleh dong aku lihat kamu mandi?" canda Dito.
" Hus ngawur aja kamu, udah nanti aku diomelin kak Sulis karena sudah pulang larut malam."
Sinta telah mengakhiri pembicaraan, dan menutup teleponnya.
Terlihat Sulis yang membukakan pintu, dengan ekspresi wajah yang marah.
" Kenapa sama kamu lagi sih, dia harus pulang malam?" ketus Sulis dengan nada emosi dengan menegur Raja.
__ADS_1
" Kak dengarkan aku, dulu tadi-" ucapan Sinta terpotong, karena tangannya langsung ditarik oleh Sulis masuk ke dalam rumah.
" Aku bilang jangan pernah dekat-dekat dengan Sinta, karena dia sudah punya tunangan. Aku harap, kamu bisa menghormati permintaanku." tegur Sulis sambil menatap sinis ke arah Raja.
Raja ingin menjelaskan kepada Sulis, jika Dito telah menitipkan Sinta kepadanya. namun hal itu diurungkan karena hari sudah malam. Pasti tidak akan enak mengganggu, ketentraman warga satu komplek.
" Baik kak, aku pulang dulu." kata Raja yang pamit kepada Sulis. Namun Sulis sudah keburu, menutup pintu.
" Kak, aku dan Raja tidak ada hubungan apa-apa. Dia hanya murid ku, dan kami-" lagi-lagi penjelasan Sinta di potong oleh Sulis.
" Sudah Sin, kakak capek dan besok harus kerja. Jadi sekarang bersihkan tubuh mu, lalu tidur." tekan Sulis yang langsung menuju kamarnya.
Sulis memang keras dalam mendidik adiknya, dia tidak ingin terjadi hal-hal yang merugikan Sinta.
Dan Sulis melihat pergaulan anak jaman sekarang yang kelewat batas.
Karena dia mendapati ada adik temannya, yang hamil di luar nikah. Lalu laki-laki yang menghamilinya tidak bisa bertanggung jawab karena masih bersekolah. Hal itu akan merusak masa depan si gadis.
Dan Sulis tidak mau hal itu menimpa adik perempuan satu-satunya. Dia sangat menyayangi Sinta, dan harus menjaganya.
Malam semakin larut, Sinta telah selesai membersihkan dirinya. Kemudian dia berbaring di atas tempat tidur.
Sinta ingin menghubungi Dito, perihal Sulis yang tidak suka dirinya bersama Raja. Padahal Raja adalah orang suruhan Dito. Tetapi dia urungkan, karena mereka telah bersama sejak pagi. Sinta menjadi pusing dengan masalah yang dia hadapi.
***
Pagi pun tiba, Sulis dan Sinta telah rapi dan siap berangkat.
" Kak, " panggil Sinta yang berada di sebelah Sulis.
" Iya, " jawab Sulis yang sedang fokus menyetir mobil.
" Aku membuat perjanjian dengan temanku " kata Sinta.
" Soal apa?" tanya Sulis, " Apa dengan teman mu yang semalam?" tanya Sulis sambil menoleh ke arah Sinta
" Bu-bukan." jawab Sinta.
" Lalu?" tanya Sulis
" Dengan Gendis, teman seangkatan ku namun beda kelas." kata Sinta.
" Perjanjian apa?" tanya Sulis.
__ADS_1
" Tentang nilai semester, jika nilaiku jelek maka aku akan keluar dari sekolah itu." kata Sinta.
Silakan like dan komentar ya.